NovelToon NovelToon
Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Miliarder Nyasar Di Kondangan Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Balas Dendam
Popularitas:240
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Pengkhianatan Sang Sekretaris Teladan

Angin gunung yang menusuk tulang terasa semakin menggigit saat Maya melangkah maju. Cahaya bulan yang tertutup awan mendung hanya menyisakan keremangan yang mencekam, tapi kilatan dingin di mata Maya terlihat sangat jelas. Tidak ada lagi Maya yang sopan, yang selalu menyiapkan kopi tepat waktu, atau yang selalu mengingatkan jadwal rapat Arkan. Yang berdiri di depan mereka adalah predator yang telah lama mengintai dari dalam selimut.

"Maya... Jadi selama ini kamu?" Arkan bicara dengan nada yang tidak percaya. Suaranya pecah, ada rasa sakit hati yang dalam karena Maya bukan sekadar karyawan baginya; Maya adalah asisten yang ia percayai selama lima tahun terakhir.

"Wah, gila sih," celetuk Alana, meskipun kakinya gemetar. Ia mencoba menstabilkan napasnya sambil tetap mendekap tas merah marun itu. "Mas Arkan, aku bilang juga apa! Mas itu pinter bisnis tapi bego banget soal milih orang. Ini mah namanya melihara anak macan di dalam brankas!"

Maya tertawa tipis, suara tawanya terdengar seperti denting gelas kristal yang pecah. "Nyonya Alana, mulut Anda memang tidak pernah berubah bahkan di ujung maut. Tapi jangan salahkan Arkan. Saya memang dilatih untuk menjadi sempurna. Sempurna dalam melayani, dan sempurna dalam memanipulasi."

"Siapa kamu sebenarnya?" Arkan menuntut jawaban, tangannya perlahan merayap menuju saku jaketnya.

"Jangan coba-coba, Arkan," Maya mengarahkan pistolnya tepat ke dada Arkan. "Satu gerakan, dan Alana akan menjadi janda sebelum fajar. Siapa saya? Saya adalah putri dari mitra bisnis yang dihancurkan oleh kakekmu sepuluh tahun lalu. Arkananta Group tidak dibangun dengan kerja keras, tapi dengan darah keluarga saya. 'The Board' didirikan oleh ayah saya sebagai bentuk perlawanan, dan saya di sini untuk mengambil alih tahta yang seharusnya menjadi milik saya."

"Terus hubungannya sama kunci ini apa?!" seru Alana. "Kalau mau harta, ya ambil aja perusahaannya! Kenapa harus pakai drama ngejar-ngejar sampai ke desa pemakaman?"

"Karena perusahaan itu sekarang hanyalah cangkang kosong, Alana!" bentak Maya, wajahnya yang cantik mendadak tampak beringas. "Harta asli Arkananta—emas batangan, obligasi luar negeri, dan aset fisik yang tidak bisa dilacak pemerintah—semuanya ada di brankas Swiss yang hanya bisa dibuka dengan kunci fisik di tanganmu itu. Tanpa itu, 'The Board' hanyalah sekumpulan pecundang yang bangkrut."

Situasi semakin kritis. Di bawah lereng, suara tembakan masih terdengar bersahutan, menandakan Larasati dan penduduk desa masih bertarung. Bayu tergeletak pingsan di dekat kaki Maya akibat peluru bius.

"Berikan kuncinya, Alana. Sekarang. Atau suamimu mati," perintah Maya dingin.

Alana menatap Arkan. Mata suaminya memberi isyarat agar ia lari, tapi Alana bukan tipe wanita yang akan meninggalkan orang yang ia cintai. Otak julidnya berputar 180 derajat per detik.

"Oke, oke! Santai dong, Mbak Sekretaris yang Ternyata Bos Mafia," Alana merogoh tasnya. "Aku kasih kuncinya. Tapi aku punya satu pertanyaan terakhir. Biar aku mati dalam keadaan tenang gitu lho, nggak penasaran kayak arwah di bawah sana."

Maya mendengus. "Cepat."

"Itu... lipstik yang Mbak pakai merek apa ya? Warnanya bagus banget, merah darah gitu, cocok buat karakter penjahat. Boleh tahu kodenya?"

Maya tertegun. Di tengah situasi hidup dan mati, Alana justru bertanya soal lipstik. "Kamu... kamu benar-benar gila."

"Eh, serius! Soalnya kalau nanti aku selamat, aku mau beli satu buat kenang-kenangan kalau aku pernah ditodong pistol sama model iklan lipstik paling jahat se-Jakarta," Alana terus mengoceh, tangannya pura-pura merogoh ke dalam tas, padahal ia sedang mencari sesuatu yang lain.

Alana menemukan benda itu: sebuah botol kecil semprotan pembersih layar ponsel yang mengandung alkohol tinggi, yang selalu ia bawa di tasnya.

"Ini kuncinya!" Alana berteriak sambil melempar sebuah benda logam kecil—yang sebenarnya adalah gantungan kunci Mochi yang ia copot paksa—ke arah wajah Maya.

Refleks, Maya mencoba menangkap benda itu. Di saat yang sama, Alana menyemprotkan cairan alkohol itu tepat ke arah mata Maya.

"Aaargh! Mataku!" Maya menjerit, tangannya yang memegang pistol goyah.

"Sekarang, Mas!" teriak Alana.

Arkan tidak membuang sedetik pun. Ia menerjang Maya dengan kecepatan yang luar biasa. Terjadi pergulatan singkat. Arkan berhasil merebut pistol itu dan menendangnya ke arah jurang. Ia memiting tangan Maya ke belakang dan menekannya ke kap mobil jeep.

"Selesai, Maya. Kamu dipecat tanpa pesangon!" geram Arkan.

Alana terengah-engah, ia langsung memungut tasnya dan memeriksa Mochi. "Mochi, kamu gapapa kan? Maaf ya, lonceng kamu aku jadiin tumbal tadi."

Namun, kegembiraan mereka tidak berlangsung lama. Dari arah kegelapan hutan, muncul beberapa pria bersenjata lengkap yang mengenakan seragam taktis. Mereka bukan anak buah Maya, melainkan pasukan khusus Arkananta yang dipimpin oleh... Kakek Arkan.

Kakek muncul dari balik kegelapan dengan kursi roda otomatisnya. Ia tampak tenang, seolah-olah baru saja keluar dari ruang rapat VIP.

"Arkan... Alana... Kalian benar-benar pasangan yang merepotkan," suara Kakek terdengar parau namun berwibawa. "Maya, kamu juga mengecewakanku. Aku tahu kamu pengkhianat sejak tahun ketiga kamu bekerja. Aku membiarkanmu karena kamu berguna untuk memancing Alana keluar."

Alana melongo. "Hah?! Jadi Kakek tahu Maya itu penjahat tapi tetep dipelihara?! Kek, Kakek ini beneran butuh hobi lain deh selain main catur pakai nyawa orang!"

Kakek menatap Alana datar. "Dunia bisnis adalah catur, Alana. Dan pion harus dikorbankan agar Raja tetap tegak. Sekarang, berikan kunci aslinya padaku. Arkan, lepaskan Maya. Dia sudah tidak berguna."

"Nggak akan, Kek," Arkan berdiri tegak di depan Alana. "Kakek sudah membunuh ibu Alana. Kakek menghancurkan hidup Larasati. Dan sekarang Kakek mau harta ini? Langkahi dulu mayatku."

Kakek menghela napas panjang, ia memberi isyarat pada pasukannya. "Aku tidak ingin membunuhmu, Arkan. Kamu adalah satu-satunya Arkananta yang tersisa. Tapi jika kamu memilih gadis ini daripada keluarga... maka aku tidak punya pilihan."

Larasati tiba-tiba muncul dari jalur setapak dengan luka tembak di bahunya, namun ia masih memegang senjatanya. "Berhenti, Waluyo! Kamu sudah kehilangan segalanya malam ini!"

Larasati melemparkan sebuah alat perekam ke tanah. "Seluruh percakapanmu sejak di panti asuhan tadi malam sampai detik ini sudah terkirim ke server internasional. Dunia tahu siapa kamu sekarang. 'The Board' sudah runtuh, dan namamu adalah yang paling dicari di Interpol."

Kakek tertegun. Wajahnya yang kaku perlahan berubah menjadi pucat pasi. "Kamu... kamu tidak mungkin melakukan itu."

"Aku sudah melakukannya dua puluh tahun lalu, Waluyo. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk menekan tombol kirim," ucap Larasati dingin.

Suara sirine helikopter polisi internasional mulai terdengar dari kejauhan. Kali ini, tidak ada lagi pelarian.

Saat polisi mulai turun menggunakan tali dari helikopter, Kakek Arkan tiba-tiba tersenyum lebar yang sangat mengerikan. Ia menekan sebuah tombol di lengan kursi rodanya. "Kalau aku tidak bisa memiliki Arkananta, maka tidak ada yang boleh memilikinya. Selamat tinggal, anak-anakku."

Suara beeping terdengar dari bawah mobil jeep tempat Alana dan Arkan berdiri. Ada bom waktu yang tertanam di sana, dan waktunya tinggal lima detik.

"Mas Arkan! Lompat!" teriak Alana.

1
Sefna Wati
"Nulis bab ini beneran bikin aku putar otak banget biar tetep seru buat kalian. Semoga suka ya! Kalau ada saran atau kritik, langsung tumpahin aja di sini. Aku butuh asupan semangat dari kalian nih! ❤️"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!