NovelToon NovelToon
Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Menikah Dengan Om Dingin Dan Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: muliyana setia reza

Bagi Putra Mahesa Aditama 30 tahun, menikahi Citra Anindya 20 tahun, pramusaji muda yang cengeng dan centil, adalah kesalahan fatal. Ia bersikap dingin, kasar, dan tak menganggap Citra ada.

Namun, Citra tak menyerah. Dengan tingkah manja dan kesabaran seluas samudra, ia terus berusaha meluluhkan hati beku sang suami, meski seringkali harus menyeka air mata akibat ucapan pedas Putra yang merendahkannya setiap waktu.

Mampukah ketulusan Citra meruntuhkan arogansi Putra, ataukah pernikahan ini hanya akan berakhir dengan luka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Keesokan paginya, Citra terbangun bukan karena dering alarm yang memekakkan telinga, dan jelas bukan karena bentakan kasar bernada jijik dari suaminya. Ia terbangun secara alami oleh belaian hangat sinar matahari pagi yang menyusup malu-malu melalui celah gorden sutra tebal di kamar utama.

Citra membuka matanya perlahan, mengerjapkan bulu matanya yang lentik. Hal pertama yang ia sadari adalah suhu ruangan yang tidak lagi membekukan tulang. Mesin pendingin ruangan yang biasanya disetel di angka enam belas derajat itu telah dimatikan. Ia menoleh ke sisi kanan ranjang king size tersebut dan mendapatinya kosong melompong. Seprai mahalnya sudah rapi tanpa kerutan, dan tidak ada jejak pria arogan itu di dalam kamar mandi maupun di walk-in closet.

Sambil mengikat rambut panjangnya asal dengan jepit badai, Citra berjalan keluar kamar dan menuruni tangga pualam yang melingkar elegan. Suasana Mansion Aditama pagi ini terasa sangat berbeda. Sangat sunyi, namun anehnya luar biasa menenangkan. Tidak ada ketukan hak sepatu tinggi yang beradu angkuh dengan lantai marmer, tidak ada bau parfum Baccarat yang menyengat bikin pusing, dan yang paling penting, tidak ada aura dingin dan dominan yang selalu mencekik leher Citra setiap kali ia bernapas.

Di dapur bersih yang luasnya mengalahkan rumah kontrakan ibunya, Bibi sedang sibuk memotong buah-buahan segar sambil bersenandung kecil tembang lawas.

"Pagi, Bi," sapa Citra dengan senyum tulus yang membuat wajah pucatnya terlihat jauh lebih segar hari ini. Ia mengenakan salah satu gaun rumahan berbahan linen berwarna peach lembut yang baru ia beli kemarin. Gaun sederhana tanpa merek mencolok itu jatuh pas di tubuh rampingnya, membuatnya terlihat anggun tanpa berlebihan.

"Eh, pagi, Non Citra. Ya ampun, makin cantik aja Non pakai baju baru. Wajahnya juga udah nggak sepucat kemarin-kemarin," puji Bibi dengan mata berbinar tulus, menghentikan irisan apelnya. "Mau Bibi buatkan teh hangat atau susu murni, Non? Sarapannya juga udah siap."

"Teh hangat saja, Bi. Oh ya, Mas Putra... sudah berangkat?" tanya Citra sambil menarik kursi pantry kursi empuk yang biasanya pantang ia duduki jika ada adik-adik iparnya di rumah.

Bibi mengangguk sambil meletakkan secangkir teh chamomile yang asapnya masih mengepul harum di hadapan Citra. "Tuan Muda sudah berangkat dari jam enam pagi tadi, Non. Katanya ada rapat direksi dadakan di kantor pusat. Oh iya, tadi Tuan Muda juga pesan ke sopir, katanya hari ini bakal lembur sampai larut malam karena banyak berkas laporan kuartal yang harus diselesaikan segera."

Mendengar deretan kata "lembur sampai larut malam", mata bulat Citra sedikit membesar sebelum akhirnya binar kelegaan yang amat luar biasa memancar dari sana. Urat-urat di bahu dan lehernya yang selalu tegang kini mengendur sempurna.

Lembur. Satu kata ajaib itu terdengar seperti melodi simfoni paling indah di telinga Citra pagi ini.

"Kalau Non Putri sama Non Kinan... belum ada kabar mau pulang cepat kan, Bi?" pancing Citra, memegang cangkir hangat itu dengan kedua tangannya, sekadar ingin memastikan bahwa surga kecilnya hari ini tidak akan direbut secara tiba-tiba.

Bibi tertawa kecil, melambaikan tangannya. "Boro-boro pulang cepat, Non. Tadi malam Non Kinan update status lagi pesta kembang api di pinggir pantai. Kan jadwalnya mereka di Bali lima hari, ini baru masuk hari ketiga. Masih lama mereka puas-puasin buang uang di sana. Nggak mungkin mau pulang ke Jakarta secepat ini."

Citra menyesap teh hangatnya perlahan dengan mata terpejam. Cairan manis dan beraroma bunga itu mengalir membasahi tenggorokannya, membawa sensasi rileks yang luar biasa ke seluruh saraf-saraf tubuhnya yang selama ini dipaksa siaga penuh.

Beban batu raksasa di pundaknya menguap begitu saja. Pak Aditama pagi ini juga sedang pergi ke rumah sakit untuk jadwal check-up jantung rutin ditemani asisten pribadinya, yang berarti... hari ini, detik ini, Citra benar-benar menguasai rumah raksasa senilai ratusan miliar ini sendirian.

Tidak ada Putra yang harus ia siapkan air mandinya dengan tangan gemetar. Tidak ada tatapan merendahkan yang menelanjanginya seolah ia kotoran. Tidak ada ocehan tajam Putri dan Kinan yang selalu mengkritik masakannya meski rasanya sudah setara restoran bintang lima.

Hari itu, untuk pertama kalinya sejak ia menyandang status ironis sebagai Nyonya Aditama, Citra benar-benar merasakan esensi dari kata kedamaian.

Setelah menikmati sarapan santai tanpa harus terburu-buru menelan makanannya, Citra menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan di taman belakang. Ia duduk di pinggir kolam, membiarkan kakinya menjuntai, lalu memberi makan puluhan ikan koi impor mahal tanpa takut dihardik karena dianggap membuang-buang waktu. Ia menikmati hembusan angin yang memainkan anak rambutnya.

Puas di taman, ia melangkah masuk ke perpustakaan pribadi keluarga Aditama yang luasnya menyamai toko buku di mal. Ia menghirup aroma kertas tua dan kayu mahoni yang menenangkan. Citra mengambil sebuah novel fiksi roman klasik terjemahan, duduk bersandar di kursi goyang berlapis beludru dekat jendela besar, dan membaca berjam-jam dalam keheningan yang hanya diselingi kicau burung dari luar kaca.

Luka bakar di punggung tangannya kini sudah mengering seutuhnya, tak lagi berdenyut menyakitkan saat tersentuh kain. Lebam tak kasat mata di batinnya pun sejenak mendapat kompres dingin dari ketenangan hari ini.

Siang harinya, Citra makan dengan sangat lahap di meja makan utama. Ia tidak perlu menahan lapar atau makan sisa lauk di dapur karena takut dikomentari rakus. Ia mengunyah pelan, selayaknya pemilik sah rumah ini, menikmati setiap suapan gurame asam manis buatan Bibi.

Menjelang sore hari yang mulai mendung, ia kembali naik ke kamar utama. Citra menatap hamparan kasur king size itu. Dengan sedikit keberanian yang meronta-ronta, Citra merebahkan tubuhnya tepat di tengah-tengah kasur empuk itu melanggar telak batas imajiner mematikan yang dibuat Putra. Toh pria itu tidak ada di sana untuk menampar atau memarahinya.

Ia menarik selimut goose down mahal yang biasanya dimonopoli suaminya hingga sebatas dada. Ia menyalakan televisi layar datar raksasa di kamar, menonton acara hiburan komedi yang selama ini tak pernah berani ia sentuh remote-nya, dan pada akhirnya, membiarkan dirinya tertidur pulas di sore hari yang sangat damai tanpa rasa takut.

Di balik tembok kokoh sangkar emas yang dingin ini, Citra sedang mengisi ulang tenaga dan kewarasannya hingga penuh. Ia sadar betul bahwa kedamaian ini hanyalah ilusi fatamorgana yang sangat sementara. Besok atau lusa, badai pasti akan kembali menerjang tanpa ampun saat kedua adik iparnya pulang membawa masalah, dan suaminya kembali dari kesibukan kantor membawa keangkuhannya.

Namun untuk hari ini, hanya untuk hari ini, biarlah Citra menjadi manusia merdeka. Ia memeluk erat momen ketenangan langka ini, menjadikannya perisai batin terbaik untuk menghadapi kekejaman nyata yang telah menantinya di hari-hari esok.

Mohon klik suka sebelum lanjut baca 🙏🙏 thank's orang baik 🥰

1
partini
lanjut Thor makin penasaran happy ending atau sad ending
atau happy bersama lelaki lain
Rani Manik: semangat thour💪
total 1 replies
Rani Manik
good, tapi buat karakter perempuan nya lebih tanguh lagi for independent women, both in terms of intelligence and revenge
partini
Morgan hemmm
Rani Manik: kiw morgan
total 1 replies
Lenty Fallo
😍😍😍💪
Lenty Fallo
mntap citra saya salut sama kamu, perthankn sifatmu itu. buat putra mnyesal dgn kelakuannya selama ini. bila perlu pergi mninggalkn laki yg sombong dan arogan itu. 💪❤️
Rani Manik
lanjut thour
partini
give coffee
partini
lanjut Thor 👍👍👍👍
partini
bermain cantik itu lebih baik
partini
very good 👍👍👍👍
partini
jangan lama" citra masa harus ad uang buanyakkk baru kabur
partini
good story
partini
nanggung put Siksa Ampe sekarat terus methong kamu jadi bebas
partini
betul"nyesek ini cerita , berakhir luka aja lah Thor pergi jauh mulai dari nol become strong woman and sukses
suaminya bikin dia menyesal kalau bisa sih
Yani Cuhayanih
belum ada pencerahan jangan buat lama lama citra tertindas nanti di ambil orang..begitulah lagu cici paramida...asyickk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!