Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22 : Irama Rumah.
Aku terbangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena tangisanku sendiri, atau perutku yang lapar, tapi karena rumah ini berubah iramanya.
Langkah kaki Ibu cepat dan tegas, suara pintu dan lantai yang diketuknya lebih singkat dari biasanya.
Udara terasa ditarik, seolah setiap tarikan napas di rumah ini memiliki urgensi sendiri.
“Kita akan pergi,” kata Ibu pada Yu Yan, nadanya cepat tapi tenang. “Hari ini. Bawa barang-barang pentingmu.”
“Pergi?” Yu Yan terdengar terkejut. Suaranya tinggi dan nyaris retak. “Ke mana?”
“Tempat yang lebih aman.” Ibu tidak menjelaskan lebih jauh. Ada sesuatu di matanya yang kaku, namun lembut, yang tidak memintaku memahami. “Percayalah padaku.”
Yu Yan menatapnya beberapa detik ke wajah orang dewasa yang sudah mengambil keputusan dan tidak berniat menjelaskannya. Lalu, dia mengangguk.
“Aku percaya.”
Kepercayaan anak-anak selalu langsung. Tanpa syarat. Dan entah kenapa, dunia selalu merasa pantas untuk mengujinya.
Aku sedikit bersedih, melihat gadis belia itu harus meninggalkan orang tuanya yang hidup di desa Qingyun yang kecil ini.
Namun, semua ini demi kebaikan Yu Yan serta orang tuanya sendiri.
Sementara mereka bersiap, aku digendong Ibu. Dari balik bahunya, mataku yang masih kecil menangkap hal-hal yang seharusnya tidak bisa kulihat. Di hutan utara, titik kacau Qi masih ada, berputar dan bergetar dengan riak yang kasar.
Tapi ada sesuatu yang lain sekarang. Aura perak, tajam, terkendali. Pedang berdiri tegak, diam tapi menuntut.
Siapa itu? Tak ada aura permusuhan darinya.
Lebih jauh lagi, getaran lain muncul. Banyak. Tidak beraturan. Seperti sarang lebah yang diganggu tongkat.
Aku diam. Tidak menunjuk. Tidak bersuara. Tidak semua hal harus diterjemahkan ke bahasa bayi.
Ibu mengikuti arah pandanganku. Wajahnya mengeras sesaat, lalu melembut.
“Iya, Nak,” katanya pelan. “Mereka datang. Tapi kita akan pergi sebelum mereka tiba.”
Dia menekankan dahiku dengan bibirnya. Hangat. Terlalu hangat untuk seseorang yang seharusnya sedang melarikan diri. Tapi mungkin itu caranya bertahan.
“Tidurlah sekarang,” bisiknya. “Perjalanan akan panjang.”
Aku tidak ingin tidur. Aku ingin tetap terjaga. Menghitung ancaman, mengingat arah, menganalisis kemungkinan. Tapi tubuh bayi ini tidak peduli pada ambisi mental.
Detak jantung Ibu stabil di telingaku. Kehangatan dadanya menekan pelan. Ritme suaranya rendah dan menenangkan. Terlalu efektif.
Aku menyerah. Mataku terpejam.
Sebelum benar-benar tertidur, satu pikiran muncul, setengah sinis, setengah jujur. Hidup sebagai bayi kultivator ternyata jauh lebih sibuk dari yang kubayangkan. Dan aku bahkan belum bisa merangkak.
Jauh dari sini, di tempat yang bahkan belum punya nama di peta kecil hidupku, sepasang mata tua terbuka setelah tidur panjang.
“Biji Cahaya Klan Ling,” gumam suara itu, keriput tapi penuh kekuatan. “Akhirnya muncul lagi.”
Aku tidak mendengar. Tapi dunia mendengar. Aku tahu, hidupku takkan pernah sama lagi seperti saat di Beijing.
Aku seperti merasakan.
Tangan keriput terangkat. Ruangan di puncak menara tertinggi dari kerajaan kultivasi terkuat bergetar.
“Bawa dia padaku.”
Perintah itu merambat ke mana-mana, melewati gulungan kuno, jaringan mata-mata, sumpah lama, dan ambisi yang tidak pernah mati.
Perburuan resmi dimulai.
Aku, Shen Yu, bayi lima bulan yang tidak tahu hidupku baru saja ditarik masuk ke permainan yang sudah berjalan ribuan tahun.
Untuk saat ini, aku hanya tidur. Dalam dekapan Ibu.
Kesanku berubah, mengingat dunia ini tak lagi sama dengan donghua yang pernah kutonton saat di Beijing.
Di dekatku, Yu Yan membungkus barang-barangnya. Tangannya gemetar, tapi setiap gerakan penuh tekad. Cahaya perak samar berdenyut di dadanya. Bahkan, rambutnya yang hitam panjang itu belum sempat dirapikan olehnya.
Perjalanan baru akan dimulai. Dan aku akan mengalaminya dari sudut pandang seseorang yang terlalu sadar untuk ukuran bayi, tapi terlalu kecil untuk melawan dunia, setidaknya, untuk sekarang.