Sekar memutuskan untuk pulang ke ibukota Jakarta setelah mendengar berita tentang pertunangan kakak angkatnya Rahman Hakim Wijaya. Ada gejolak rasa yang tidak bisa ia jelaskan timbul di hatinya. Entah itu rasa sayang, cinta, atau hanya sekedar rasa peduli sebagai keluarga yang berbahagia mendengar berita tersebut, tiada yang tahu.
Awalnya semuanya baik-baik saja. Sampai kabar lama itu menyebar luas, dan menghancurkan segalanya. Karirnya, harapannya, atau bahkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baby.Scorpio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.14 Katedral yang dingin
Hujan es mulai turun di atas langit Hamburg, mengubah permukaan Sungai Elbe menjadi hamparan perak yang kejam.
Speedboat yang membawa Sekar, Lukas, dan Alvin membelah ombak dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kilatan lampu merah dari fasilitas Von Hess di kejauhan.
Sekar memeluk tubuh Lukas yang menggigil di bawah selimut termal, mencoba memberikan kehangatan dari tubuhnya sendiri yang sebenarnya juga sudah mati rasa karena kedinginan.
"Kita harus segera ke dermaga umum, Alvin! Kondisi Lukas memburuk. Saturasi oksigennya turun, dia butuh ventilator!" teriak Sekar di tengah deru mesin kapal.
Alvin, yang berdiri di kemudi, tidak menoleh. Wajahnya yang biasanya penuh sarkasme kini mengeras seperti batu karang. "Kita tidak akan ke dermaga umum, Sekar. Itu terlalu berisiko. Orang-orang Von Hess sudah menutup semua akses keluar kota."
"Lalu ke mana kita? Anak ini bisa mati!"
"Kita ke tempat di mana dia akan aman sebagai 'barang bukti'," sahut Alvin dingin.
Sekar tertegun. Kata 'barang bukti' terasa lebih dingin daripada air sungai yang memercik ke wajahnya. "Barang bukti? Apa maksudmu, Alvin?"
Alvin memutar kemudi dengan kasar, mengarahkan kapal ke sebuah dermaga kayu yang tersembunyi di balik reruntuhan gudang tua.
Ia mematikan mesin, dan seketika kesunyian yang mencekam menyelimuti mereka. Alvin berbalik, menatap Sekar dengan pandangan yang tidak lagi memiliki empati.
"Dengarkan aku, Sekar. Kamu pikir aku melakukan semua ini karena aku peduli pada reuni ibu dan anak?" Alvin tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan logam.
Alvin berjalan mendekat. Membuat Sekar menjadi waspada terhadap pria itu. Insting seorang ibu membuatnya spontan memeluk erat Lucas.
Wajah Alvin semakin datar. Pria itu kembali berbicara dengan suara yang dingin, "Keluarga Pratama butuh Lukas hidup-hidup sebagai subjek yang membawa residu serum Von Hess di tubuhnya. Dengan anak ini, kami bisa menghancurkan kontrak monopoli farmasi mereka di pengadilan internasional. Dia adalah kunci untuk menjatuhkan Von Hess dan Wijaya sekaligus."
Sekar bangkit berdiri, meskipun kakinya gemetar. Ia mendekap Lukas lebih erat, seolah-olah ingin memasukkan anak itu kembali ke dalam rahimnya agar aman. "Dia adalah manusia, Alvin! Dia bukan spesimen laboratorium! Kamu bilang kamu ingin menyelamatkannya!"
"Menyelamatkan nyawanya adalah bonus, Sekar. Tapi menyelamatkan bisnis keluargaku adalah prioritas," Alvin mengeluarkan sebuah ponsel satelit. Sembari menunjuk ke arah Sekar sebagai peringatan supaya wanita itu tidak melakukan apapun.
"Tim medis keluargaku akan menjemputnya di sini. Kamu bisa ikut sebagai dokternya, tapi jangan harap bisa membawanya lari lagi," imbuhnya.
Sekar menyadari bahwa ia baru saja pindah dari satu kandang singa ke kandang singa lainnya. Ia melihat ke sekeliling. Di balik gudang tua itu, terdapat sebuah gereja tua bergaya Gotik yang terbengkalai, menara loncengnya menjulang seperti jari hitam yang menunjuk ke langit yang marah.
Di saat Alvin sibuk berbicara di telepon, Sekar melihat celah.
Ia tahu Alvin tidak akan berani menembaknya karena ia adalah satu-satunya dokter yang bisa menjaga Lukas tetap hidup saat ini.
Dengan sisa tenaganya, Sekar menyambar tas medisnya, melompat dari kapal ke dermaga kayu yang licin, dan berlari menuju gereja tua itu.
"Sekar! Berhenti! Kembali!" teriak Alvin.
Sekar tidak menoleh. Ia berlari menembus semak berduri, masuk ke dalam gereja melalui pintu samping yang rusak.
Di dalam gereja, udara berbau debu tua dan kemenyan yang sudah lama menguap. Cahaya bulan yang pucat masuk melalui jendela kaca patri yang pecah, memberikan penerangan remang-remang pada altar kayu yang sudah lapuk.
Sekar membaringkan Lukas di atas sebuah bangku panjang di depan altar. Napas Lukas terdengar seperti gesekan amplas Stridor. Jalan napasnya mulai menyempit karena edema.
"Lukas... Lukas, lihat Ibu," bisik Sekar, tangannya yang gemetar membuka tas medisnya.
Ia mengeluarkan lampu kepala dan memasangnya. Di bawah cahaya yang terfokus, ia melihat pemandangan yang menghancurkan hatinya.
Pembuluh darah di leher Lukas menonjol, berwarna kebiruan yang tidak alami—efek samping dari serum biru yang kini mulai meracuni sistem sarafnya.
"Sakit... Ibu... sesak..." Lukas merintih, air mata kecil mengalir dari sudut matanya yang sayu.
Sekar tahu ia tidak punya banyak waktu. Jika ia menunggu tim medis Alvin atau orang-orang Von Hess, Lukas mungkin sudah tidak bernyawa.
Ia harus melakukan prosedur darurat untuk membuang cairan yang menekan paru-parunya, meskipun tanpa peralatan steril yang memadai.
"Ibu di sini, Lukas. Ibu akan menyembuhkanmu. Tidurlah sebentar, Sayang," Sekar menyuntikkan anestesi lokal dan penenang ringan yang ia ambil dari gudang RS Wijaya.
Dengan tangan yang kini dipaksa untuk stabil, Sekar mulai bekerja. Ia menggunakan pisau bedah nomor 11 untuk membuat sayatan kecil di antara sela iga Lukas. Darah merembes keluar, merah pekat dan berbusa.
Ia memasukkan kateter darurat untuk mengeluarkan udara dan cairan yang terjebak di rongga pleura.
Sreeet...
Suara cairan yang tersedot keluar terdengar di kesunyian gereja.
Sekar bekerja seperti kesurupan. Ia tidak memedulikan suara langkah kaki yang mulai mendekat di luar gereja.
Ia tidak memedulikan badai yang semakin mengamuk. Fokusnya hanya pada garis hidup yang sangat tipis pada nadi leher Lukas.
"Tahan, Sayang... satu jahitan lagi," gumamnya, suaranya parau oleh tangis yang ia tahan di tenggorokan.
Tiba-tiba, pintu besar gereja terbuka dengan dentuman keras. Sinar lampu senter yang kuat membelah kegelapan, menyapu altar dan mengenai wajah Sekar yang berlumuran darah.
Bukan Alvin. Bukan Rahman.
Itu adalah sekelompok pria berseragam hitam dengan lambang Von Hess, dan di tengah-tengah mereka berdiri Viona.
Viona melangkah maju dengan sepatu hak tingginya yang berdentang keras di lantai batu gereja. Ia mengenakan mantel bulu putih, tampak sangat kontras di tempat yang kusam dan suci itu.
Meskipun wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa pucat pasca-operasi, matanya memancarkan kepuasan yang luar biasa.
"Pemandangan yang sangat religius, Dokter Sekar," suara Viona bergema di langit-langit katedral yang tinggi. "Seorang ibu yang berdosa, mencoba menyelamatkan anak haramnya di depan altar Tuhan. Kamu benar-benar dramatis."
Sekar tidak berhenti menjahit luka di dada Lukas. Ia bahkan tidak menoleh. "Keluar, Viona. Tempat ini terlalu suci untuk orang sepertimu."
Viona tertawa, tawa yang terdengar sangat mengerikan di tengah kesunyian malam. "Suci? Lihatlah dirimu. Kamu adalah penculik internasional sekarang. Aku sudah memastikan semua media di Jakarta dan Jerman mendapatkan rekaman CCTV saat kamu membawa lari Lukas dari fasilitas medis resmi."
Langkah kaki Viona semakin terdengar nyaring. Senyum sumringah kepuasan terlihat jelas diwajahnya. "Kamu bukan lagi pahlawan, Sekar. Kamu adalah monster yang membahayakan nyawa anak angkat keluarga terhormat," ejeknya.
"Dia bukan anak angkat mereka! Dia subjek eksperimen!" bentak Sekar, akhirnya menoleh dengan mata yang menyala karena kebencian.
"Dunia tidak akan peduli pada serum biru itu jika anak itu mati di tanganmu malam ini," Viona memberi isyarat kepada para penjaga. "Tangkap dia. Dan pastikan anak itu 'tidak tertolong' dalam perjalanan kembali. Kita tidak butuh bukti yang masih bisa bicara."
Penjaga itu melangkah maju, namun Sekar berdiri di depan Lukas, memegang pisau bedahnya seperti senjata. "Sentuh dia, dan aku akan memastikan arteri karotis kalian putus sebelum kalian sempat menarik pelatuk!"
Di tengah ketegangan itu, sebuah suara lemah terdengar dari bangku gereja.
"Ibu..."
Sekar segera berbalik. Lukas membuka matanya. Namun, bukan warna hitam yang biasanya ada di sana, melainkan selaput kebiruan yang mulai menutupi pupilnya. Tubuh kecil itu tiba-tiba mengejang hebat. Kejang tonik-klonik.
"Lukas! Tidak!" Sekar menjatuhkan pisau bedahnya dan memegang tubuh Lukas agar tidak jatuh dari bangku. "Diazepam! Aku butuh diazepam!"
Ia meraba tasnya dengan panik, namun tangannya ditarik paksa oleh salah satu penjaga. Sekar meronta, menendang, dan menggigit, namun ia kalah tenaga. Ia dipaksa berlutut di lantai yang dingin sementara Viona mendekati Lukas yang masih mengejang.
"Lihatlah, Sekar," bisik Viona sambil menatap Lukas dengan jijik. "Ini adalah akhir dari ambisimu. Anak ini akan mati, Rahman akan kembali padaku karena rasa bersalahnya, dan kamu... kamu akan membusuk di penjara Jerman tanpa identitas."
Sekar menatap Lukas yang kini mulai diam. Napas anak itu berhenti. Dadanya tidak lagi bergerak.
"Lukas... Lukas!" jerit Sekar, sebuah teriakan yang membelah keheningan katedral, sebuah teriakan yang seolah-olah mampu meruntuhkan pilar-pilar batu di sekeliling mereka.
Tepat pada saat itu, dari arah menara lonceng, terdengar suara tembakan. Salah satu penjaga yang memegangi Sekar tumbang. Kegelapan gereja kembali pecah oleh kekacauan baru.
Namun bagi Sekar, dunia sudah menjadi sunyi. Ia hanya melihat wajah Lukas yang mulai membiru di bawah cahaya bulan. Ia menyadari bahwa meskipun ia adalah dokter terbaik, ia tidak bisa membedah takdir yang telah dituliskan dengan tinta darah oleh keluarga Wijaya dan Von Hess.