NovelToon NovelToon
Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Pesona Pengasuh Anak Dokter Duda Nyebelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Pengasuh
Popularitas:642.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

Krisna Wijaya, seorang dokter berusia 32 tahun, pulang ke kampung halaman setelah perceraian yang menghancurkan hidupnya. Ia membawa luka, kesepian, dan seorang bayi enam bulan yang kini menjadi pusat dunianya. Di desa kecil Yogyakarta itu, Krisna berniat membuka klinik—membangun hidup baru dengan jarak aman dari perasaan.

Raisa, gadis 19 tahun yang keras dan apa adanya, berjuang membantu keluarganya demi bertahan hidup. Ia tidak bermimpi besar, hanya ingin bekerja dan tidak merepotkan orang tuanya. Takdir mempertemukan mereka dalam sebuah insiden di jalan—penuh amarah dan salah paham.

Namun perlahan, bayi kecil bernama Ezio menjadi jembatan yang tak mereka rencanakan. Dalam pelukan Raisa, Ezio menemukan ketenangan. Dalam kehadiran Raisa, Krisna dipaksa menghadapi egonya sendiri.

Ketika kelas sosial, usia, dan luka masa lalu menjadi penghalang, mampukah dua hati yang sama-sama lelah ini menemukan rumah … satu sama lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Bukan Urusanku

Beberapa detik berlalu. Ezio kembali tenang.

Lena menghela napas lega. Ia menoleh pada Krisna dengan senyum puas. “Ezio tidurnya nyenyak, Pak.”

Krisna mengangguk singkat. “Bagus.”

Ia melirik jam tangannya. “Jam kerjamu mulai sekarang. Nanti Bik Sum akan jelaskan rutinitas.”

“Baik, Pak.” Senyum tipis menghiasi wajah Lena.

Krisna berbalik, meninggalkan kamar tamu. Langkahnya mantap, tapi pikirannya sedikit berisik.

Di sisi lain rumah, Raisa berada di dapur belakang, mencuci peralatan makan yang tersisa. Air mengalir deras. Tangannya bergerak cepat—terlalu cepat.

Berpengalaman, batinnya, pahit. Iya, iya. Aku  memang ndak punya pengalaman yang bersertifikasi jadi babysitter.

Ia membilas piring dengan sedikit hentakan. Urat di rahangnya menegang.

Bik Sum mendekat pelan. “Raisa .…”

Raisa menoleh. “Kenapa, Bik?”

“Kamu nggak apa-apa?”

Raisa mengangkat bahu. “Kenapa harus apa-apa?”

Bik Sum menatapnya ragu. “Ya … soalnya sekarang sudah ada pengasuh barunya den Ezio.”

Raisa mengangguk. “Lah, kan, bagus, Bik. Saya di sini hanya gantiin Ibu kerja aja. Lagi pula, saya kan nggak melamar jadi pengasuh, Bik.”

“Kamu jadi—”

“Nanti jam enam saya pulang,” potong Raisa cepat. “Sesuai kesepakatan, Bik.” Nada suaranya tegas. Menutup percakapan

Bik Sum tidak melanjutkan, hanya bisa memperhatikan Raisa yang tampak santai.

Menjelang sore, Lena mulai menata ulang barang-barang Ezio di kamar tamu. Ia memeriksa botol susu, mengganti popok, mengatur jadwal kecil di buku catatan yang ia bawa sendiri. Semua tampak rapi. Terencana. Padahal, sebelumnya, sudah disusun rapi oleh Raisa.

Namun ketika Ezio terbangun—

Tangisan kecil terdengar.

Awalnya pelan. Lalu naik.

Lena menggendongnya cepat, mengayun dengan ritme yang ia hafal. “Ssst … sini sama Mbak.”

Tangisan tidak berhenti.

Ia mencoba lagi. Mengubah posisi. Menepuk punggung. Mengajak bicara.

Ezio justru menangis lebih keras.

“Ck, nih anak malah makin kencang aja nangisnya,” gerutu Lena, pelan.

Krisna yang sedang menandatangani beberapa berkas di ruang kerja mengangkat kepala. Alisnya berkerut.

Tangisan itu terdengar … berbeda.

Ia bangkit, melangkah ke kamar tamu.

“Ezio kenapa?” tanyanya dingin.

Lena terlihat sedikit panik, tapi masih berusaha tersenyum. “Oh ... ini mungkin agak kaget bangun tidurnya, Pak. Biasa terjadi pada anak-anak, Pak. Tidak usah khawatir.”

Ezio menangis makin kencang. Wajahnya merah.

Krisna berdiri di ambang pintu, menatap pemandangan itu. Ada sesuatu yang mengganggu—sesuatu yang mengingatkannya pada malam-malam tanpa tidur.

Dari arah dapur belakang, Raisa menghentikan pekerjaannya.

Ia berdiri diam, mendengar.

Tangisan itu ia kenal. Ia melangkah beberapa langkah ke depan, berhenti di tikungan lorong. Tidak masuk. Hanya mengintip.

Ezio menangis di pelukan Lena. Lena mengayun, tapi ritmenya terlalu cepat. Terlalu teratur.

Raisa menghela napas pendek, nyaris tak terdengar.

Bukan begitu caranya, batinnya. Yang ada, ya bakal nangis terus. Katanya berpengalaman, masa nggak paham.

Namun ia tidak maju. Bukan urusannya lagi.

Krisna mengatupkan rahang. “Ezio sudah minum susu?”

“Belum, Pak. Jadwalnya—”

“Coba kasih susunya,” potong Krisna menutupi rasa kesalnya.

Lena mengangguk cepat. Ia menyiapkan botol, menyodorkannya ke mulut Ezio.

Ezio menolak. Tangisannya semakin melengking.

Krisna mengepalkan tangan di sisi tubuhnya.

Dari lorong, Raisa berbalik. Ia kembali ke dapur belakang, menyelesaikan pekerjaannya dengan kepala tegak.

“Duh kasihan si Dede, tapi bukan urusanku lagi. Nanti kalau aku tiba-tiba nyamperin, disangka cari muka sama tuh dokter nyebelin,” gumamnya pada diri sendiri.

Jam dinding bergerak pelan menuju pukul enam.

Raisa mengelap tangannya, mengambil tas kecilnya. Ia melangkah ke depan rumah, berpamitan singkat pada Bu Lita yang baru turun dari kamar.

“Bu, saya pamit pulang,” katanya.

Bu Lita menoleh, menangkap wajah Raisa yang tampak lebih dingin dari biasanya. “Hati-hati di jalan, makasih banyak ya, Raisa,” katanya sembari memberikan amplop ke tangan Raisa saat mencium punggung tangannya.

“Iya, Bu. Makasih kembali.”

Raisa keluar tanpa menoleh ke kamar tamu. Namun Bik Sum menyusulnya dan menitipkan rantang untuk Raisa bawa Pulang.

Di dalam kamar, tangisan Ezio akhirnya mereda setelah kelelahan.

Krisna berdiri di dekat jendela, menatap halaman yang mulai sepi. Ia melihat Raisa mengayuh sepedanya, punggungnya lurus, tidak menoleh sedikit pun.

Krisna mengembuskan napas panjang.

Dingin.

Arogan.

Dan untuk pertama kalinya hari itu—ia merasa keputusannya mungkin tidak sesederhana yang ia kira.

Karena pengalaman bisa dipelajari. Tapi ketenangan—tidak selalu bisa dipelajari.

***

Setibanya di rumah, Raisa langsung meletakkan sepedanya di samping dinding, lalu melangkah cepat masuk. Bau masakan sederhana menyambutnya—bau rumah, bau aman. Bu Rika duduk di dipan, selimut tipis menyampir di bahu, wajahnya tampak lebih segar dibanding kemarin.

“Assalamualaikum, Mak,” sapa Raisa ceria.

Bu Rika menoleh dan tersenyum. “Waalaikumsalam. Sudah pulang, Nak?”

“Iya.” Raisa mengangkat rantang dari keranjang sepedanya, meletakkannya di meja. “Ini dikasih Bik Sum. Katanya pesan Bu Lita, biar Mak cepat sehat.”

Bu Rika terkejut. “Ya Allah … baik sekali.”

Raisa tersenyum, lalu merogoh tas kecilnya. Tangannya gemetar sedikit saat ia mengeluarkan amplop kecil. Ia duduk di tepi dipan, membuka perlahan.

Matanya membesar.

“Mak,” katanya lirih tapi bergetar, “seratus ribu.”

Bu Rika ikut mencondongkan badan. “Seratus?”

Raisa mengangguk, senyum merekah tanpa bisa ditahan. “Iya. Banyak banget, Mak.”

Ia menatap uang itu seolah takut menguap kalau terlalu lama ditatap. Dada Raisa terasa hangat—rasa yang jarang ia punya. Rasa dihargai. Rasa berhasil.

Bu Rika menghela napas lega. “Alhamdulillah.”

Ia menepuk tangan Raisa lembut. “Tapi ingat, Nak. Kalau punya uang, harus hemat.”

“Iya, Mak,” jawab Raisa cepat. “Itu pasti dong.”

Lalu seolah teringat sesuatu, Raisa menoleh. “Oh iya, Mak. Sekarang di rumah Pak Wijaya sudah ada karyawan baru. Pengasuh cucunya.”

Bu Rika mengernyit. “Pengasuh?”

“Iya. Namanya Mbak Lena. Mak kenal nggak?”

Bu Rika memejamkan mata sebentar, mencoba mengingat. “Lena … Lena …”

“Itu loh, Mak,” Raisa membantu, “orang dari kampung sebelah. Yang sudah punya anak. Orangnya ayu.”

“Oh,” Bu Rika tersenyum kecil. “Yang itu. Mak baru ingat.”

“Iya,” Raisa mengangguk. “Dia jadi pengasuh anaknya Mas Krisna. Tadi siang sudah mulai kerja.”

Ia membuka rantang, aroma masakan menguar. “Tadinya Ezio … aku yang ngurusin pas pagi datang. Soalnya dari semalam rewel.”

Bu Rika menatapnya. “Terus?”

“Pas aku datang,” Raisa mengangkat bahu kecil, “eh Ezionya sudah nggak rewel lagi.”

Bu Rika tersenyum—senyum yang penuh kenangan. “Kamu itu mirip sama almarhumah Mbah Putrimu.”

Raisa berhenti membuka rantang. “Mbah?”

“Iya,” lanjut Bu Rika pelan. “Tangannya adem kalau ngurus anak kecil. Katanya, anak-anak jadi gampang tenang. Ternyata nurun ke kamu.”

Raisa mendengus kecil. “Ah, mungkin kebetulan saja, Mak.”

Ia menutup rantang kembali, lalu berdiri. “Sekarang Mak makan dulu ya. Aku mau mandi.”

“Jangan lama-lama,” pesan Bu Rika.

Raisa mengangguk dan melangkah ke kamar mandi. Air dingin menyentuh kulitnya, menurunkan sisa panas emosi yang tak sempat ia akui. Di bawah guyuran air, wajah-wajah hari itu berlalu cepat: Ezio yang tertawa, Krisna yang dingin, Lena yang lembut. Raisa menggeleng kecil.

Bukan urusanku, katanya pada diri sendiri.

Bersambung ... ✍️

1
Naufal Affiq
Aduh kasihan kamu mas dokter,di tunda dulu ya,karena istri kecilmu masih belum bisa beradaptasi sama pawangnya
Chauli Maulidiah
munduuurrr maneeeehhh...kpn nyobloseee..
Ruwi Yah
yg baca aja tegang apa lagi mas duda,, sabar ya kris maklum istrimu sangatlah polos
Mommy El
lanjut mom
Nar Sih
mesti nunggu lagi mas dokter ,maklum lah msih kecil blm pegalaman jdi mesti bnyk sabarr nya dulu ,dan semoga disaat raisa udah siap ,ezioo jdi penganggu lgi☺️
Aprisya
berbukanya tunda dulu🤣🤣🤣🤣 kasih raisya indukasi tipis2 dong bang🥰🥰🥰
Nar Sih
sabarrr ya papa dokter ,selama enzo blm bobo pasti gk tenang acara menjelang mp nya ,😂😂💪
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
modus nih mas yang tidak lagi duda🤣🤣🤣
call mi
mau un boxing aja lama benerrr 🤭🤭🤭
Rina Rembah
sing sabar mas dokter..hehehe
neng raisa jangan lama2 gantung si mas
si author niee...gong nya..wkwkkk
Sugiharti Rusli
tapi kalo sudah jaman internet gini, seharusnya sih sudah banyak artikel yah dan ringgal di cari saja sih😁😁😁
Sugiharti Rusli
tapi hal" kecil ini bisa jadi bumbu yang bikin suasana jadi romantis yah, memberi kecupan" sebagai awalan yah pak dokter
Sugiharti Rusli
sebetulnya hal itu biasanya akan datang secara alamiah sih, paling karena baru pertama disentuh laki" jadi pasti Raisa masih gugup
Sugiharti Rusli
sebagai orang yang sudah berpengalaman menikah, kamu memang yang harus mengajarinya pelan" yah,,,
Sugiharti Rusli
giliran dah dapat waktunya, eh masih harus kembali bersabar yah Kris, soalnya kan Raisa newbie😅😅😅
vania larasati
lanjut
Nunung Elasari
yaaahhh sekarang aku yang tegang kak....🤭
Teh Euis Tea
sabar ya mas krisna, istrimu itu msh ting ting jd jgn buru2 pemanasan dulu lah 😁
pdhal mas dokter udah jebrlet bgt itu🤣
Wiek Soen
Raisa serasa menjadi ratu bahagia selalu Raisa mas dokter
Siti Jumiati
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!