"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"
Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.
Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.
Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RENCANA SEKOLAH DAN AROGANSI ALEXANDER
Seminggu kemudian, rencana sekolah untuk perempuan mulai berbentuk dengan sangat konkret. Catharina, Putri Seraphina, dan Victoria bertemu di kediaman Elsworth untuk pertemuan final sebelum mereka presentasikan proposal lengkap kepada Raja.
Di ruang kerja Catharina yang luas dan terang, mereka duduk mengelilingi meja besar yang penuh dengan dokumen tebal, peta wilayah, dan sketsa rancangan bangunan.
"Jadi ini adalah draf final proposal kita," ujar Victoria sambil membuka map tebal yang sudah sangat rapi. "Sekolah akan diberi nama 'Akademi Kerajaan untuk Wanita Muda'. Lokasinya di distrik tengah kota, sangat dekat dengan perpustakaan kerajaan yang besar. Bangunannya akan memiliki dua puluh ruang kelas, perpustakaan yang lengkap, laboratorium sains yang modern, ruang seni dan musik, serta ruang olahraga tertutup."
"Kurikulumnya akan mencakup literasi dasar yang kuat, matematika dari tingkat dasar hingga lanjut, berbagai cabang sains, sejarah kerajaan dan dunia, seni visual dan musik, dan yang paling penting adalah manajemen bisnis serta pendidikan kewarganegaraan," tambah Catharina sambil menunjuk pada dokumen kurikulum yang sudah ia susun dengan sangat detail.
Seraphina tersenyum dengan penuh kebanggaan. "Dan yang benar-benar membedakan akademi kita dari sekolah-sekolah lain yang sudah ada adalah, kita akan menerima siswa dari semua lapisan masyarakat tanpa diskriminasi. Enam puluh persen kursi untuk kalangan bangsawan, empat puluh persen untuk rakyat biasa yang berhasil lolos melalui seleksi beasiswa berdasarkan kemampuan mereka."
"Anggaran totalnya berapa?" tanya Catharina sambil melihat dokumen keuangan.
Victoria mengecek lembar perhitungan dengan teliti. "Lima ratus ribu keping emas untuk konstruksi bangunan lengkap dengan semua perabotannya. Seratus ribu keping emas per tahun untuk biaya operasional termasuk gaji semua guru dan staf. Dan lima puluh ribu keping emas per tahun khusus untuk program beasiswa bagi siswa yang kurang mampu."
"Itu angka yang sangat besar," ujar Catharina sambil berpikir keras. "Tapi aku yakin kita bisa mendapatkan pendanaan penuh. Aku akan menginvestasikan seratus ribu keping emas dari keuntungan bisnisku. Seraphina pasti bisa mendapatkan dana hibah dari kerajaan. Dan Victoria, keluargamu pasti juga akan memberikan dukungan finansial."
"Keluargaku sudah berkomitmen memberikan seratus lima puluh ribu keping emas," ujar Victoria dengan yakin. "Dan aku sudah menghubungi beberapa duchess dan countess lain yang sangat tertarik untuk menjadi penyandang dana. Total komitmen yang sudah kita dapatkan mencapai empat ratus ribu keping emas."
"Berarti kita hanya butuh seratus ribu lagi untuk konstruksi awal. Sisanya untuk biaya operasional tahun pertama," hitung Catharina dengan cepat. "Aku bisa menambah investasi hingga lima puluh ribu lagi. Sisanya kita cari penyandang dana tambahan?"
"Atau kita bisa mempresentasikan proposal ini kepada para pedagang kaya," usul Victoria dengan mata berbinar. "Banyak pedagang sukses yang memiliki putri. Mereka pasti akan sangat tertarik memiliki sekolah berkualitas tinggi untuk anak perempuan mereka yang selama ini sulit mendapat pendidikan setara."
"Ide yang sangat cemerlang!" seru Seraphina dengan antusias. "Aku akan mengatur pertemuan dengan Serikat Pedagang minggu depan. Mereka pasti akan menyambut baik rencana ini."
Mereka menghabiskan hampir empat jam penuh untuk menyelesaikan semua detail terakhir. Nama-nama guru yang akan direkrut beserta kualifikasi mereka, sistem penerimaan siswa yang adil dan transparan, struktur organisasi yang jelas, bahkan desain seragam yang akan dipakai oleh para siswa sudah mereka tentukan dengan sangat teliti.
"Baik, aku rasa kita sudah benar-benar siap untuk presentasi kepada Raja," ujar Catharina sambil merapikan semua dokumen dengan hati-hati. "Kapan kita bisa mendapatkan kesempatan berbicara dengannya?"
"Ayahku sedang dalam kondisi yang sangat lemah," jawab Seraphina dengan wajah yang berubah sedih. "Tapi kakakku, Cassian, sudah mulai menangani banyak tugas administratif kerajaan atas permintaan ayah. Aku bisa mengatur pertemuan dengan dia terlebih dahulu. Kalau dia menyetujui, dialah yang akan mempresentasikan rencana ini kepada ayah."
"Cassian pasti akan menyetujuinya," ujar Victoria dengan nada yang sangat yakin. Pipinya sedikit memerah saat menyebut nama Cassian.
Catharina dan Seraphina saling berpandangan dengan senyum yang sangat mengerti dan sedikit jahil.
"Oh? Kenapa kamu begitu yakin Cassian akan menyetujui proposal ini, Victoria?" goda Seraphina dengan nada yang dibuat-buat polos.
"Karena ini adalah proposal yang sangat baik dan bermanfaat! Tentu saja dia akan menyetujui rencana yang jelas-jelas bagus untuk rakyat!" Victoria mencoba membela diri tapi wajahnya semakin memerah sampai ke telinga.
"Atau mungkin karena dia akan menyetujui apa pun yang kamu usulkan dengan senyum manismu itu?" Catharina ikut menggoda dengan mata berbinar.
Victoria melempar bantal sofa kecil ke arah Catharina dengan wajah merah padam. "Kalian berdua benar-benar sangat menyebalkan!"
Mereka bertiga tertawa dengan lepas. Suasana yang tadinya sangat serius dan penuh konsentrasi berubah menjadi santai dan menyenangkan seperti teman-teman lama yang sedang berkumpul.
"Ngomong-ngomong, bagaimana perkembangan hubunganmu dengan Cassian sekarang?" tanya Catharina dengan penuh rasa ingin tahu yang tulus.
Victoria tersenyum tipis, senyum yang sangat berbeda dari biasanya, lebih lembut dan penuh harapan. "Kami sedang mencoba membangun hubungan lagi. Pelan-pelan dan tidak terburu-buru. Kami belajar dari kesalahan besar tiga tahun lalu di mana kami tidak berkomunikasi dengan baik dan jujur satu sama lain."
"Aku sangat senang mendengar itu!" seru Seraphina sambil memeluk Victoria dengan erat sampai wanita itu hampir kehabisan napas. "Aku selalu tahu sejak dulu kalian sangat sempurna bersama-sama!"
"Jangan terlalu bersemangat dulu, Sera. Kami masih menghadapi sangat banyak tantangan. Terutama dengan situasi politik di istana yang semakin rumit sekarang."
"Situasi politik?" Catharina mengerutkan kening. Ini seperti awal dari konflik perebutan tahta yang ada dalam alur cerita asli.
Seraphina mengangguk dengan wajah yang berubah sangat serius. "Ayah kami, Raja Edward, sedang dalam kondisi yang sangat parah. Para dokter terbaik kerajaan sudah mengatakan dengan jelas bahwa mungkin beliau hanya memiliki waktu beberapa bulan lagi. Dan kakak pertama kami, Pangeran Alexander, dia adalah seseorang yang sangat berbahaya."
"Berbahaya dalam artian apa?" tanya Catharina meskipun ia sudah tahu jawabannya.
"Dia seorang penguasa otoriter yang kejam. Dia sangat percaya pada monarki absolut di mana Raja memiliki kekuasaan yang tidak terbatas tanpa ada yang berani menentangnya. Dia ingin menghapuskan parlemen sepenuhnya, membatasi semua kebebasan rakyat secara drastis, dan meningkatkan pajak hingga sangat tinggi untuk memperkaya istana dan keluarga dekatnya saja." Victoria menjelaskan dengan nada yang penuh kekhawatiran mendalam. "Kalau dia yang menjadi Raja, semua kemajuan yang sudah kita perjuangkan selama bertahun-tahun akan hancur dalam sekejap."
"Dan Cassian?" tanya Catharina meski ia sudah bisa menebak jawabannya.
"Cassian sangat percaya pada monarki konstitusional. Raja sebagai simbol persatuan bangsa tapi kekuasaan sesungguhnya ada di tangan parlemen yang dipilih langsung oleh rakyat. Dia ingin melakukan reformasi besar-besaran di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Dia menginginkan kerajaan yang terus maju dan modern tanpa meninggalkan nilai-nilai baik kita."
Catharina mengangguk. Persis seperti yang tertulis dalam cerita asli. Konflik antara Pangeran Alexander yang konservatif dan kejam melawan Pangeran Cassian yang progresif dan peduli rakyat.
"Jadi akan terjadi konflik perebutan tahta yang serius?"
"Kemungkinan besar akan terjadi," jawab Seraphina dengan nada yang sangat sedih dan khawatir. "Dan itulah yang membuat Cassian ragu untuk sepenuhnya berkomitmen dalam hubungan dengan Victoria. Dia sangat takut akan membahayakan Victoria kalau konflik ini berubah menjadi sangat kekerasan."
"Tapi aku sama sekali tidak takut dengan ancaman apa pun," ujar Victoria dengan nada yang sangat tegas dan penuh keyakinan. "Aku akan berdiri tegak di samping Cassian. Apa pun yang akan terjadi nanti. Karena aku sangat percaya bahwa dialah yang akan menjadi Raja yang benar-benar baik untuk seluruh rakyat kerajaan ini."
Catharina merasakan kekaguman yang sangat besar untuk Victoria. Wanita ini kuat, cerdas, dan sangat setia. Pasangan yang sempurna untuk Cassian.
"Kalian bisa mengandalkan aku dan Lucian sepenuhnya," ujar Catharina dengan penuh keyakinan. "Kalau memang terjadi konflik perebutan tahta, kami akan mendukung Cassian dengan segenap kemampuan kami. Keluarga Elsworth dan Ashford memiliki pengaruh yang cukup besar di kalangan bangsawan. Kami akan menggerakkan dukungan sebanyak mungkin untuk Cassian."
"Terima kasih, Catharina," ujar Seraphina dengan mata yang berkaca-kaca karena terharu. "Ini berarti sangat banyak untuk kami semua."
"Kita adalah teman sejati. Dan teman yang sejati selalu saling mendukung di saat sulit."
Victoria mengulurkan tangannya ke tengah meja dengan gerakan yang mantap. "Untuk masa depan yang lebih maju dan adil."
Seraphina meletakkan tangannya tepat di atas tangan Victoria. "Untuk pendidikan yang setara bagi semua."
Catharina meletakkan tangannya paling atas dengan senyum lebar. "Untuk pemberdayaan perempuan di seluruh kerajaan."
Mereka bertiga tersenyum dengan tulus, merasakan ikatan yang sangat kuat terbentuk di antara mereka.
Ini bukan hanya tentang bisnis atau politik semata.
Ini tentang persaudaraan sejati antar wanita.
Tentang wanita-wanita kuat yang bersatu untuk membuat perubahan nyata di dunia mereka.
***
Malam harinya, Catharina menceritakan semua yang terjadi kepada Lucian saat mereka makan malam bersama di kediaman Ashford yang megah.
"Jadi konflik perebutan tahta akan segera terjadi dalam waktu dekat," ujar Lucian sambil berpikir dengan serius. "Dan kita harus memilih di sisi mana kita akan berdiri."
"Bukan memilih sisi. Kita sudah sangat tahu mana sisi yang benar. Pangeran Cassian jelas jauh lebih baik untuk kerajaan ini dibandingkan Pangeran Alexander yang kejam itu."
"Aku sangat setuju denganmu. Tapi kita harus sangat berhati-hati, Catharina. Konflik perebutan tahta bisa menjadi sangat berdarah dan kejam. Banyak keluarga bangsawan yang akan terjepit dan hancur di tengah-tengahnya."
"Aku tahu risikonya dengan jelas. Tapi kita tidak bisa hanya diam dan membiarkan hal buruk terjadi. Kalau Pangeran Alexander yang menjadi Raja, semua yang sudah kita bangun dengan susah payah bisa hancur dalam sekejap. Sekolah untuk perempuan? Dia pasti akan membatalkannya tanpa pikir panjang. Kebebasan berbisnis untuk wanita? Dia pasti akan membatasinya dengan sangat ketat."
Lucian menggenggam tangan Catharina dengan erat dan hangat. "Kamu benar sekali. Kita harus ikut bertarung untuk masa depan yang lebih baik. Tapi berjanji padaku, kamu akan sangat berhati-hati. Jangan sampai kamu membahayakan dirimu sendiri demi hal ini."
"Aku berjanji akan sangat hati-hati. Dan kamu juga harus berjanji hal yang sama padaku."
"Kita menghadapi ini bersama-sama."
"Selalu bersama."
Mereka bertatapan dengan mata yang penuh cinta dan tekad yang sangat kuat.
Badai politik yang besar akan segera datang menerjang.
Tapi mereka sudah siap menghadapinya dengan kepala tegak.
Bersama-sama, apa pun yang akan terjadi.
***
Di istana kerajaan yang megah, Pangeran Cassian duduk sendirian di ruang kerjanya yang luas dengan dokumen proposal sekolah terbuka di depannya. Ia sudah membacanya empat kali dari awal hingga akhir, dan semakin dibaca semakin terkesan dengan setiap detailnya.
"Ini benar-benar luar biasa," gumamnya sambil tersenyum dengan tulus. "Victoria memang seorang jenius sejati."
Tok tok tok.
"Masuk."
Pintu terbuka dan Pangeran Alexander masuk dengan senyum yang tidak pernah mencapai matanya yang dingin. "Cassian, aku mendengar kamu akan menyetujui proposal sekolah khusus untuk perempuan itu?"
Cassian menatap kakaknya dengan penuh kewaspadaan. "Ya, benar. Kenapa? Ada masalah dengan itu?"
"Tidak ada masalah sama sekali. Hanya saja aku merasa itu adalah pemborosan uang kerajaan yang sangat besar. Untuk apa mendidik perempuan setinggi itu? Mereka pada akhirnya hanya akan menjadi istri dan ibu. Mereka tidak membutuhkan pendidikan setingkat universitas."
Cassian merasakan amarahnya mulai naik perlahan, tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang dan terkendali. "Perempuan juga adalah rakyat kerajaan ini, Alexander. Mereka memiliki hak yang persis sama dengan laki-laki untuk mendapatkan pendidikan yang baik."
"Hak?" Alexander tertawa dengan nada yang sangat dingin dan menusuk. "Sejak kapan rakyat memiliki hak? Mereka hanya memiliki privilege yang diberikan dengan murah hati oleh Raja. Dan Raja bisa mencabut privilege itu kapan pun dia mau tanpa alasan apa pun."
"Itu cara berpikir yang sudah sangat ketinggalan zaman dan tidak manusiawi."
"Atau mungkin itu cara berpikir yang realistis dan pragmatis. Kamu terlalu idealis dan naif, Cassian. Terlalu lemah lembut dengan rakyat jelata. Kalau kamu menjadi Raja dengan pola pikir seperti itu, rakyat akan meremehkanmu dan naik ke atas kepalamu. Mereka akan memberontak dan menghancurkan kerajaan."
"Atau mereka akan sangat loyal dan setia karena mereka merasa dihargai dan diperlakukan dengan adil."
Alexander menggelengkan kepalanya dengan ekspresi meremehkan. "Kamu masih sangat naif, adikku yang malang. Tapi tidak apa-apa. Lagipula kamu tidak akan pernah berkesempatan menjadi Raja."
"Apa maksudmu dengan itu?"
Alexander tersenyum dengan sangat licik dan mengerikan. "Ayah sudah terlalu sakit untuk bisa membuat keputusan apa pun yang penting. Dan sebagai putra tertua, secara otomatis akulah yang akan menjadi Raja berikutnya. Itu hukum kerajaan yang sudah berlaku selama berabad-abad lamanya."
"Hukum kerajaan juga dengan jelas menyatakan bahwa kalau putra tertua dianggap tidak layak untuk memerintah, dewan kerajaan bisa memilih putra lain yang lebih layak."
"Dan siapa yang berani mengatakan bahwa aku tidak layak?" Alexander melangkah lebih dekat dengan aura yang sangat mengancam. "Aku memiliki dukungan dari mayoritas anggota dewan. Aku memiliki dukungan penuh dari militer yang kuat. Kau? Kau hanya memiliki dukungan dari segelintir idealis bodoh yang bermimpi tentang demokrasi yang mustahil."
Cassian berdiri dari kursinya, menatap kakaknya dengan tidak kalah intens dan penuh tekad. "Kita akan lihat saja nanti, Alexander. Kita akan lihat siapa yang akhirnya dipilih oleh rakyat yang kamu remehkan itu."
"Rakyat tidak memiliki pilihan apa pun. Mereka akan menerima siapa pun yang ditunjuk sebagai Raja mereka. Atau mereka akan menderita konsekuensi yang sangat berat."
Dengan kata-kata ancaman itu, Alexander berbalik dan keluar dari ruangan dengan langkah yang penuh percaya diri, meninggalkan Cassian dengan amarah yang mendidih di dalam dadanya.
Cassian duduk kembali dengan berat, seolah beban yang sangat besar baru saja ditambahkan di pundaknya.
Konflik sudah benar-benar dimulai sekarang.
Dan dia harus mempersiapkan diri dengan sangat matang.
Untuk Victoria yang ia cintai.
Untuk rakyat yang mengandalkannya.
Untuk masa depan kerajaan yang lebih baik dan adil.
*******
BERSAMBUNG