Vania Adinata, tanpa sengaja melewatkan malam panasnya dengan seorang CEO terkenal. Putus cinta membuatnya frustasi hingga dia mabuk dan melakukan one night stand tanpa sengaja.
Dikucilkan karena hamil, hingga dijodohkan dengan pria tua. Namun, nasib baik masih berpihak padanya, dia kabur dan tanpa di duga bisa bertemu dengan Ayah biologis bayi yang ada dalam kandungannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? Siapa kira kira CEO terkenal dan nomor satu itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 11 Kebakaran
Keesokan paginya.
Weekend telah berlalu, sekarang waktunya kembali ke rutinitas biasanya. Kejadian tadi malam membuat Vania kurang tidur. Saat ini matanya seperti panda karena begadang. Erlangga yang baru saja sampai di restoran melihat Vania duduk di bangku halaman samping. Dia menghampiri wanita itu, kemudian menepuk pundaknya pelan. Sontak hal tersebut membuat Vania sedikit terjingkat.
"Maaf aku mengangetkanmu." ucap Erlangga sambil menatap wajah Vania yang tidak seperti biasanya. Dia pun duduk di sebelah wanita itu. "Apa ada masalah? Kenapa wajahmu terlihat murung?"
"Aku bingung dan takut, Lang." jawab Vania menceritakan semuanya pada Erlangga.
"Disini ada aku, apa yang membuatmu takut?" tiba-tiba Erlangga menggenggam jemari Vania, mencoba menenangkan wanita itu dari ketakutannya.
"Kau masih ingat dengan Gio?"
"Ya, aku mengingatnya. Pria yang bicara dengan Papamu sewaktu kau ingin pindah ke apartemen kan?"
Vania mengangguk. "Dia sering datang ke apartemen."
"Dia berbuat sesuatu? Aku akan beri dia pelajaran, berani sekali dia mengganggumu." belum selesai Vania bicara, Erlangga sudah tersulut emosi mendengarnya.
"Tunggu dulu, aku belum selesai bicara. Jadi, kemarin pagi dia datang. Lalu, dia bilang kalau aku harus pindah dari apartemen itu karena nyawa janinku dalam bahaya. Dan malamnya ucapan pria itu terbukti. Pukul tiga dini hari, aku mendengar suara benda jatuh tepat di bawah jendela kamarku. Kau tau apa itu? Sebuah kertas yang dalamnya diisi batu, dilemparkan melalui jendela."
"Sebuah kertas?" tanya Erlangga mengulangi. Vania pun mengangguk.
"Kertas itu berisikan ancaman, tertuliskan kau harus ma*ti. Aku takut terjadi sesuatu pada kandunganku, Lang. Apa yang harus ku lakukan? Apa aku turuti saja ucapan Gio?"
Erlangga berpikir keras. "Jangan-jangan itu semua ulah Gio. Aku yakin dia sudah merencanakan semuanya, mulai dari meminta pindah, agar dia bisa dekat denganmu."
"Pikiranmu itu terlalu jauh. Kalau memang Gio yang melakukannya, lalu kenapa dia meminta orang untuk berjaga di sekitar apartemen?"
"Berjaga?"
"Ya! Ada empat orang yang berjaga malam dan tidak tidur. Aku merasa ucapan Gio ada benarnya,"
'Entah kenapa aku juga merasa punya ikatan yang kuat dengan Gio. Tapi apa?' batin Vania benar-benar pusing memikirkan hal itu.
"Jadi apa keputusanmu?" tanya Erlangga membuyarkan lamunan Vania.
Sebelum menjawab, Vania menghela napas panjang. "Huft, aku bertekad untuk kembali ke rumah Adinata. Itu keputusanku dan sudah final. Aku tidak punya pilihan lain, Lang. Jika aku tetap bertahan disini, bisa jadi nyawaku juga ikut melayang. Memang bahaya bisa datang kapan saja, tapi dirumah orangtuaku, setidaknya akan sedikit aman." pikirnya panjang.
"Kau yakin?"
"Hm." jawabnya singkat.
"Lalu bagaimana dengan aku?" Erlangga menatap Vania sangat dalam. Dia takut kehilangan wanita itu untuk yang kedua kalinya. "Perasaanku padamu masih sama seperti dulu, Vania. Aku mencintaimu, dan tak pernah berubah. Setelah sekian lama kita berpisah dan akhirnya bertemu kembali. Aku berharap semuanya bisa jauh lebih baik dari yang sebelumnya."
Vania merasa terharu, jauh di lubuk hatinya dia juga masih memiliki perasaan pada Erlangga. Namun, untuk sekarang dia tidak memikirkan tentang pernikahan atau lain sebagainya. Vania hanya ingin membangun hidup yang bahagia bersama calon anaknya.
"Elang, kau itu pria yang sangat baik. Di luaran sana masih banyak wanita yang lebih dariku. Aku yakin kau pasti bisa mendapatkannya." Vania menggenggam tangan Erlangga. "Lupakan aku, dan lanjutkan hidupmu. Aku sangat berterima kasih padamu, karena kau selalu ada disaat aku sedang kesusahan. Tapi maaf aku tidak bisa membalas perasaanmu. Maaf," ujarnya untuk yang terakhir. Kemudian Vania melangkah pergi dari sana, sudut matanya mengeluarkan air dan dia menyekanya dengan cepat. Ada perasaan sedih tapi ada juga perasaan lega.
Erlangga hanya mampu menatap kepergian Vania, dia tidak ingin memaksa wanita itu untuk membalas cintanya. Jika mereka berjodoh, maka suatu hari nanti pasti akan kembali berjumpa.
"Aku menerima keputusanmu, Vania. Tapi perlu kau ingat, selagi kau masih sendiri dan belum punya pasangan, aku juga tidak akan menikah. Semoga kau selalu bahagia." gumam Erlangga melihat punggung Vania yang sudah menghilang di balik pintu keluar restorannya.
............................
Pukul satu dini hari.
Vania yang tertidur pulas tiba-tiba terbangun karena merasakan usapan lembut di bagian kepalanya. Saat membuka kelopak mata, rasa bahagia dan sedih bercampur menjadi satu. Bagaimana tidak, sosok yang ia rindukan selama ini ada di depan matanya. Vania langsung menghambur ke dalam pelukan sang Mama, air matanya pun menetes tiada henti.
"Mama," gumam Vania merasakan pelukan hangat Ibunya. Namun, sangat di herankan, sang Mama hanya diam saja dan tidak bicara sepatah katapun.
"Ajak Vania pergi bersama Mama. Semenjak kepergian Mama, hidup Vani berubah. Tak ada yang bisa mengerti dan memahami Vania."
Sosok Mama Vania yang saat ini memakai jubah putih dengan rambut panjang yang indah di gerai begitu saja, ia hanya menatap putrinya yang tengah menangis, sesekali menghapus jejak air mata di pipi chubby Vania. Tiba-tiba angin berhembus sangat kencang, semuanya menjadi berkabut, bahkan tangan Vania sudah tidak bisa merasakan genggaman Mamanya lagi.
"Ma! Mama!" teriak Vania mencari sosok ibunya yang telah hilang dibalik kabut.
"Mama!" teriaknya lagi, tetapi kali ini Vania baru saja terbangun dari tidurnya. Ternyata dia cuma mimpi bertemu dengan sang Mama.
Vania mengusap wajah, keringat dingin membasahi dahinya. Ia menajamkan indera penciumannya.
"Bau terbakar." gumamnya bergegas turun dari ranjang, memeriksa keadaan diluar kamar.
Asap sudah mengepul, Vania panik dan berlari keluar dari kamar, melihat api sudah membakar sebagian besar apartemennya. Dia mencoba mencari jalan keluar, tapi asap tebal membuatnya sulit bernapas dan terbatuk-batuk.
"Tolong!" Teriak Vania sekencang mungkin. Dia tidak bisa melihat apa pun karena api semakin membesar.
'Ya Tuhan, jika hari ini aku harus tiada bersama dengan calon bayiku, aku rela. Tapi kenapa harus seperti ini? Bahkan masih banyak mimpi dan rencana yang belum terwujudkan.' batin Vania memikirkan keselamatan mereka.
Vania yang panik tetap mencoba mencari jalan keluar, dia berlari menuju ke dapur, membuka jendela. Naas, gorden yang ada di jendela dapur terbakar, dengan cepat Vania memundurkan tubuhnya. Ia tidak merasakan luka yang ada di tangan serta kakinya. Napas Vania mulai terasa sesak karena asap semakin banyak, dia tidak bisa menahannya dan terjatuh di lantai.
*****
"Apa?" Gio bangkit dari ranjangnya dan langsung berganti pakaian. Dia berlari keluar dari kamar menuju ke mobil. Pria itu mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
"Bagaimana bisa? Aku menyuruh kalian untuk menjaga Vania dan calon anakku, tapi kenapa bisa jadi seperti ini? Aku membayar kalian, bukan gratis! Dasar tidak becus! Jika terjadi sesuatu pada mereka, akan ku habisi kalian berempat." kesalnya memutuskan panggilan telepon. Gio mendapat kabar jika apartemen Vania mengalami kebakaran. Dan yang lebih parahnya, para penjaga tertidur diluar sana saat ada yang memberikan sekotak pizza pada mereka. Pengantar pizza itu mengatakan jika Vania yang memesannya.
Cit!
Pemadam kebakaran belum juga sampai, sementara si jago merah semakin menyala. Apartemen itu sudah tidak berbentuk bangunan lagi, sebagiannya sudah habis terbakar. Tanpa berpikir panjang, Gio berlari mendekati pintu apartment. Banyak yang mencegahnya, tetapi tidak membuat pria itu gentar untuk menyelamatkan Vania dan calon bayinya.
Brak!
Sekali tendangan mampu merubuhkan pintu masuk apartemen. Gio tidak bisa melihat karena asap sudah memenuhi seisi rumah mewah itu.
"Vania!" Teriak Gio memanggil karena dia tidak melihat siapapun di dalam sana. Langkah Gio membawanya menjauh, menuju ke kamar Vania.
"Vania! Kau dimana?" teriaknya untuk yang kedua kali. Sementara Vania yang masih setengah sadar, mendengar suara Gio. Dia hapal betul suara itu.
"Gio!" panggilnya sangat kencang dengan terbatuk-batuk karena banyak memakan asap.
'Itu seperti suara Vania.'
Gio berlari ke sumber suara, tak jauh dari dapur, dia melihat sosok wanita yang dicarinya tergeletak disana. Kayu-kayu yang menjadi penopang bangunan itu mulai berjatuhan. Api semakin besar menyambar kesana-kemari.
"Van, Vania bangun!" Gio menepuk pelan kedua pipi Vania yang sedikit menghitam karena terkena semburan api.
Tidak berpikir panjang, Gio mengangkat tubuh Vania dan menggendong wanita itu ala bride style. Matanya seperti elang yang mencari mangsa, Gio menemukan jalan yang mungkin bisa membawa mereka keluar dari sana. Pria itu memeluk tubuh Vania dengan erat, takut terjatuh dari gendongannya. Dia melewati api besar dan kayu yang berjatuhan.
Brugh!
Tubuh mereka jatuh bersamaan padahal sebentar lagi sampai di jalan keluar itu. Suara remukan papan terdengar, Gio melihat ke atas dan dia memasang badan untuk menyelamatkan Vania. Punggungnya tertimpa papan panas. Namun, Gio masih sanggup melanjutkan perjalanan mereka agar bisa secepatnya keluar dari apartemen tersebut.
Napas Gio terlihat naik-turun, bahkan pakaian dan wajahnya kini sudah berubah menjadi hitam dan robek karena api. Dia tidak memikirkan kondisinya, yang ada dipikiran Gio saat ini hanyalah keselamatan Vania dan calon bayi mereka.
....
BERSAMBUNG
HARI INI OTHOR HANYA UPDATE 1BAB SAJA YA 🙏 JANGAN LUPA SELALU BERIKAN DUKUNG AGAR OTHOR SEMANGAT UPDATENYA 🤗