Anggika Rosalia, gadis cantik berusia 27 tahun, baru kembali dari Jakarta dan harus menerima kenyataan dijodohkan dengan calon kepala desa. Luka hatinya belum sembuh setelah ditinggal menikah sang kekasih, ditambah gosip kejam yang melabelinya perawan tua. Demi kepentingan masing-masing, Rosalia akhirnya menikah kontrak dengan Mario Langit Pradana, pria tampan yang membutuhkan pasangan untuk maju sebagai lurah. Lalu, bagaimana kelanjutan rumah tangga mereka? Saksikan kisah selengkapnya hanya di sini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman
Mario menatap Anggika dengan tatapan jahil.
“Kamu hobi banget ya ngancem aku, Gi.”
Anggika mendengus pelan sambil menyodorkan sendok.
“Udah, makan yang banyak. Biar cepat sembuh dan nggak drama lagi.”
“Bisa nggak sih kamu lembut dikit? Aku ini pasien,” keluh Mario manja.
“Lembut apanya? Nih udah aku suapin,” balas Anggika ketus.
Mario menghela napas panjang.
“Yang aku maksud tuh nadanya… tatapannya… sentuhannya…”
Anggika langsung memotong.
“Kalau mau yang lembut-lembut, panggil aja tuh Tasya. Dia kan jago banget ngomong manisnya.”
Mario terkekeh pelan.
“Lho, kok bawa-bawa Tasya lagi? Cemburu lagi ya?”
“Ge-er banget sih. Aku cuma nggak mau pasien ini makin manja,” jawab Anggika sambil menyuapkan lagi.
Mario menatapnya lekat-lekat.
“Aku maunya kamu yang suapin. Biar kasar juga nggak apa-apa.”
“Dasar aneh,” gumam Anggika.
“Tapi kamu tetap jagain aku dari semalam,” Mario tersenyum tipis.
“Itu artinya aku spesial buat kamu.”
Anggika berhusaha tetap dingin.
“Jangan salah paham. Aku cuma nggak mau dituduh nggak tanggung jawab.”
Mario mendekat sedikit, suaranya melembut.
“Kalau bukan tanggung jawab, terus apa?”
Anggika terdiam sesaat, lalu menyodorkan gelas.
“Minum dulu. Kebanyakan ngomong bikin kamu kambuh lagi.”
Mario tertawa pelan.
“Galak-galak gini, tapi perhatian. Aku makin susah sembuh kalau kamu kayak gini.”
“Kenapa?”
“Karena tiap lihat kamu, jantungku yang deg-degan, bukan perutku yang sakit.”
“Bisa-bisa aku gumoh denger gombalan kamu,” gerutu Anggika sambil tetap menyuapkan sendok terakhir.
Mario tersenyum lemah.
“Padahal aku ngomong dari hati.”
“Hatimu kebanyakan drama,” balas Anggika cepat. “Udah, habisin dulu.”
Setelah bubur tandas, Anggika mengambil gelas dan obat di atas meja kecil.
“Sekarang minum obatnya.”
Mario melihat tablet di tangannya dengan wajah tersiksa.
“Pahit, Gi…”
“Kamu ini anak kecil apa gimana? Obat memang pahit, yang manis itu permen,” omel Anggika.
“Tapi, Gi… rasanya nggak enak banget,” keluh Mario lagi, setengah manja.
Anggika mendesah panjang.
“Ya sudah, sini.”
Ia mengambil obat itu dari tangan Mario.
“Eh, kamu mau apain?” Mario mengernyit kaget.
Tanpa banyak bicara, Anggika memasukkan obat itu ke mulutnya sendiri.
Mario makin membelalakkan mata.
“Lho? Kenapa kamu yang minum?!”
Belum sempat ia mencerna, Anggika mendekat, menahan bahu Mario agar tidak bergerak.
Seketika ia menempelkan bibirnya ke bibir Mario, memaksanya membuka mulut. Obat itu berpindah, terdorong masuk ke tenggorokan Mario.
Beberapa detik kemudian Anggika menjauh.
Mario terdiam, kaget, menelan refleks.
Anggika menyeka bibirnya dengan punggung tangan.
“Nah, gitu kan cepat.”
Mario masih mematung beberapa detik sebelum akhirnya tersenyum lebar.
“Kalau minum obatnya harus begini, aku rela sakit tiap hari.”
“Coba aja,” tantang Anggika. “Besok aku ganti obatnya kapsul paling gede.”
Mario terkekeh pelan, matanya tak lepas dari wajah Anggika.
“Yang barusan itu bukan pahit lagi, Gi…”
“Terus apa?”
“Manis banget.”
Anggika langsung mendengus.
“Manis apanya? Itu jelas-jelas obat.”
Mario tersenyum miring.
“Obatnya pahit. Tapi caranya… beda.”
“Jangan mulai lagi ya,” ancam Anggika sambil menunjuk wajahnya. “Kamu baru sembuh."
Mario menyandarkan punggung ke bantal.
“Kalau tiap sakit dapat bonus kayak gitu, aku jadi mikir-mikir buat sehat.”
“Coba aja kamu pura-pura sakit lagi,” balas Anggika cepat. “Aku kasih sambel satu baskom.”
Mario tertawa pelan, lalu menatapnya lebih serius.
“Gi.”
“Apa lagi?”
“Semalam kamu nggak tidur nyenyak kan?”
Anggika terdiam sebentar.
“Biasa aja.”
“Kamu duduk sambil tidur di samping ranjang aku.
Tangannya dilipet jadi bantal,” ucap Mario lembut. “Aku lihat.”
Anggika salah tingkah.
“Ya… siapa suruh kamu sakit.”
Mario menatapnya dalam.
“Kalau aku nggak sakit, kamu tetap bakal jagain aku nggak?”
Anggika pura-pura merapikan selimut.
“Tergantung.”
“Tergantung apa?”
“Tergantung kamu berhenti nyebelin atau nggak.”
Mario tersenyum tipis.
“Berarti masih ada kesempatan.”
Anggika meliriknya cepat.
“Kesempatan apa?”
“Buat jadi beneran. Bukan kontrak.”
Suasana mendadak hening.
Anggika menelan ludah.
“Mario…”
“Iya?”
“Kamu jangan ngomong kayak gitu kalau nggak serius.”
Mario tidak bercanda kali ini.
“Aku nggak pernah setengah-setengah soal kamu.”
Jantung Anggika kembali berdetak lebih cepat.
“Udah deh. Kamu banyak omong. Istirahat sana.”
Mario tertawa kecil.
“Kalau kamu gugup, kamu pasti jadi galak.”
“Diam!” Anggika melempar tisu ke arahnya.
Mario menangkapnya sambil tersenyum puas.
“Galak-galak begini kamu tadi cium duluan.”
Pintu kamar terbuka pelan.
Aisyah dan Huda masuk dengan wajah khawatir.
“Mario, gimana keadaan kamu sekarang, Nak?”
suara Aisyah lembut tapi penuh cemas.
Mario Banaspati tersenyum tipis.
“Udah jauh lebih mendingan, Mah. Cuma lemes dikit.”
Aisyah mendekat, mengusap bahu Mario.
“Syukurlah. Kamu bikin Mama panik tadi malam.”
Huda berdiri di ujung ranjang, lalu melirik ke arah Anggika.
“Kalian ini gimana sih? Tadi Tasya di luar mukanya udah kayak anak kecil ngambek.”
Mario menghela napas.
“Dia aja yang terlalu berlebihan, Pah.”
Huda menaikkan alis.
“Berlebihan gimana?”
Anggika menyilangkan tangan.
“Ya dia sendiri yang manja banget. Orang lagi sakit malah dipeluk sampe susah napas.”
Huda menahan senyum.
“Jadi ribut gara-gara Tasya manja sama Mario? Kamu cemburu sama,Tasya?”
Anggika mendengus pelan.
“Siapa juga yang ribut.”
Dalam hati Anggika bergumam,
Ngapain sih diperjelas. Bapak sama anak sama-sama nyebelin.
Aisyah menoleh pada Anggika dengan tatapan hangat.
“Gi, jangan cemburu ya. Tasya sama Mario itu dari kecil memang dekat. Sudah seperti kakak adik.”
Anggika tersenyum tipis, tapi pikirannya bergejolak.
Mana ada kakak adik peluk-pelukan begitu. Tante Aisyah kan sama-sama perempuan, masa nggak ngertiin perasaan aku?
Mario menangkap perubahan ekspresi Anggika.
“Mah, Anggi nggak cemburu.”
“Oh ya?” Huda menahan tawa. “Tadi suaranya tinggi banget loh.”
Anggika langsung membela diri.
“Aku cuma nggak mau pasiennya tambah sesak napas.”
Mario tersenyum miring.
“Pasiennya atau kamu yang sesak?”
“Mario!” Anggika melotot.
Aisyah tertawa kecil.
“Sudah, sudah. Yang penting Mario sembuh dulu. Urusan hati belakangan.”
Huda menepuk bahu Mario pelan, geleng-geleng kepala.
“Kamu ini, ya… bisa-bisanya bikin dua perempuan ribut cuma karena kamu.”
Mario langsung mengangkat kedua tangan seolah menyerah.
“Lho, salah aku di mana, Pah? Aku kan memang ganteng. Wajar kalau jadi rebutan.”
Anggika mendecak kesal.
“Ganteng katanya. Kepercayaan dirinya nggak ketulungan.”
Mario menoleh ke arahnya, tatapannya berubah lebih serius.
“Kalau sama kamu sih aku nggak berani macam-macam. Aku nurut.”
Huda menyeringai, melirik dari satu ke yang lain.
“Nah, itu dia. Anak ini cuma nurut kalau sama pawangnya. Sama kita? Dibilangin apa juga tetap ngeyel.”
Aisyah ikut tertawa kecil.
“Berarti memang sudah ada yang bisa pegang kendali.”
Anggika pura-pura tak peduli, tapi pipinya memerah.
“Siapa juga yang mau jadi pawang dia…”
Mario tersenyum tipis.
“Nyatanya kamu yang paling galak kalau aku bandel.”
Huda menepuk bahu Mario lagi.
“Bagus. Jadi laki-laki itu memang harus ada yang ngingetin.”
Mario mengangguk dramatis.
“Siap, Pah. Demi kedamaian dunia… saya nurut sama pawang.”
Anggika menoleh penasaran.
“Emang di rumah nggak pernah nurut ya, Juragan?”
Aisyah menggeleng sambil tersenyum gemas.
“Iya, Gi. Anak Mama ini keras kepala. Dibilangin suka ngeyel. Makanya kamu harus sering nasehatin dia.”
Mario protes pelan.
“Mah, jangan buka aib dong.”
Aisyah lanjut tanpa peduli.
“Sekalian aja pegang semua uangnya. Biar dia nggak sembarangan.”
Anggika langsung menyambar dengan nada santai tapi penuh percaya diri.
“Siap, Tante. Nanti uang Mario jadi uangku juga.”
Mario membelalak.
“Eh, enak aja!”
Huda tertawa terbahak.
“Wah, itu baru namanya pawang sejati.”
Aisyah menepuk tangan kecil.
“Setuju Mama. Kalau sudah sama Anggika, Mario pasti nggak bisa macam-macam.”
Yang menutupi kaki Mario.
Dalam hatinya ia bergumam pelan.
“Ternyata kalau benar-benar menikah sama Mario… kayaknya nggak seburuk yang aku bayangin.”
Ia cepat-cepat mengusir pikiran itu saat langkah tergesa terdengar dari luar.
Tasya masuk dengan wajah masih kesal.
“Om, Tante… udah dimarahin belum sih cewek jahat itu?”