NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / One Night Stand / Cintapertama
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: erma _roviko

Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.

Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.

“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”

Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

“Tanda tangani ini, Alisha. Jangan biarkan egomu menghancurkan masa depan anak kita.”

Damian Sagara tidak menoleh saat mengucapkan kalimat itu. Ia berdiri membelakangi jendela kaca raksasa di lantai lima puluh lima. 

Cahaya matahari sore Jakarta yang berwarna jingga pekat membingkai siluet tubuhnya yang tegak dan kaku. 

Di atas meja kerja dari kayu jati hitam yang dipoles mengkilap, tergeletak sebuah map kulit berwarna biru tua. Map itu terbuka, menampakkan lembaran kertas putih dengan kop surat firma hukum paling bergengsi di negeri ini.

Alisha melangkah mendekat dengan ragu. Sepatu hak tingginya tidak mengeluarkan suara di atas karpet tebal yang empuk. Ia menunduk dan membaca judul dokumen itu. 

Pengakuan Anak dan Perjanjian Hak Asuh Bersama. Matanya dengan cepat memindai deretan pasal yang tersusun rapi dan dingin.

“Kau ingin mengubah namanya?” tanya Alisha dengan suara yang bergetar.

“Arka butuh nama Sagara untuk mendapatkan perlindungan hukum yang mutlak,” jawab Damian. Ia berbalik dan menatap Alisha dengan mata yang tidak terbaca. “Dia tidak bisa selamanya menggunakan nama belakang ibunya jika dia ingin memimpin kerajaan ini suatu hari nanti.”

“Dan pasal tujuh ini?” Alisha menunjuk sebuah paragraf dengan ujung jarinya yang gemetar. “Pihak kedua wajib menetap di kediaman pihak pertama selama sepuluh tahun tanpa interupsi?”

“Itu adalah syarat mutlak,” sahut Damian dingin. “Aku tidak ingin Arka tumbuh dalam ketidakpastian. Dia butuh stabilitas. Dia butuh ayahnya dan ibunya di bawah satu atap yang sama.”

Alisha mundur satu langkah seolah baru saja ditampar. Ia menatap pria di depannya dengan rasa tidak percaya yang mendalam. Damian tampak sangat asing dalam balutan jas tiga potongnya yang sempurna. Tidak ada jejak kelembutan dari pria yang dulu pernah memeluknya di bawah siraman air hujan enam tahun lalu.

“Sepuluh tahun,” bisik Alisha. “Kau ingin memenjarakanku selama sepuluh tahun hanya agar kau bisa memiliki Arka sebagai aset perusahanmu?”

Damian mengerutkan kening. “Ini bukan tentang aset. Ini tentang masa depan pewaris Sagara Group.”

“Bohong!” seru Alisha. Suaranya bergema di ruangan yang luas itu. 

“Kau tidak peduli pada perasaan Arka. Kau hanya peduli pada bagaimana publik melihatmu. Kau butuh pewaris yang sah untuk menenangkan dewan direksi setelah skandal dengan Clarissa meledak.”

Damian melangkah maju dengan cepat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Alisha bisa mencium aroma kayu cendana dan kopi hitam yang maskulin. Aura dominasi Damian begitu kuat hingga Alisha merasa sesak.

“Jangan pernah ragukan kasih sayangku pada putraku sendiri,” desis Damian.

“Kasih sayang?” Alisha tertawa pahit. 

“Kasih sayang tidak membutuhkan kontrak hukum yang mengikat ibunya seperti budak. Kau tidak menghargaiku sebagai ibu. Kau hanya melihatku sebagai inkubator yang secara tidak sengaja menghasilkan produk yang sangat kau butuhkan sekarang.”

“Jaga bicaramu, Alisha!” Damian memukul permukaan meja dengan telapak tangannya. Suara benturan itu membuat Alisha tersentak.

“Kenapa? Tersinggung karena kebenaran itu menyakitkan?” tantang Alisha. “Kau ingin membeliku dengan fasilitas mewah. Kau ingin Arka tumbuh di sangkar emas ini agar kau bisa membentuknya menjadi replikamu. Tapi kau lupa satu hal. Arka bukan mesin. Dia punya hati.”

“Dan hatinya membutuhkan fasilitas terbaik yang hanya bisa diberikan oleh seorang Sagara!” balas Damian. 

“Apa yang bisa kau berikan di desa itu? Sekolah yang atapnya bocor? Masa depan sebagai nelayan?”

“Aku memberinya kebahagiaan!” teriak Alisha. “Aku memberinya kebebasan untuk menjadi siapa pun yang dia mau. Di sini, dia hanya menjadi angka di laporan tahunanmu.”

Damian terdiam. Rahangnya mengeras. Ia menatap Alisha dengan kemarahan yang meluap-luap. Namun di balik kemarahan itu, ada kilatan luka yang berusaha ia sembunyikan. 

Keheningan yang menyesakkan menyelimuti mereka selama beberapa saat. Suara detak jam dinding mewah terdengar seperti vonis mati.

Tiba-tiba, suara interkom di meja Damian berbunyi. Suara pengasuh Arka terdengar panik dan terputus-putus.

“Tuan Damian! Mohon maaf mengganggu. Den Arka... Den Arka pingsan di kamar bermain!”

Dunia seolah berhenti berputar bagi Alisha. Ia tidak menunggu reaksi Damian dan langsung berlari keluar dari ruang kerja menuju lift pribadi. 

Damian mengikuti dari belakang dengan langkah besar yang penuh kecemasan. Mereka tidak saling bicara di dalam lift yang meluncur cepat menuju lantai bawah. Alisha mencengkeram jemarinya sendiri hingga memutih.

Saat pintu lift terbuka di area kediaman, mereka menemukan Arka terbaring di sofa besar di ruang tengah. Wajah bocah itu sangat pucat. Keringat dingin membasahi dahinya yang kecil. Nafasnya terdengar pendek dan berat.

Alisha langsung berlutut di samping Arka. Ia menyentuh dahi putranya dan tersentak. “Panas sekali. Dia demam tinggi.”

“Arka? Sayang, dengar Ibu?” Alisha memanggil dengan suara serak.

Bocah itu hanya mengerang pelan. Matanya tidak terbuka. Damian berjongkok di sisi lain sofa. Ia menyentuh pergelangan tangan Arka dan merasakan denyut nadi yang cepat.

“Siapkan mobil sekarang!” perintah Damian pada kepala pelayan yang berdiri di dekat mereka. 

“Bawa ke rumah sakit keluarga Sagara. Panggil tim dokter terbaik.”

Damian mengangkat tubuh kecil Arka ke dalam pelukannya. Alisha mengikuti dengan langkah terhuyung. 

Di dalam mobil yang melaju membelah kemacetan dengan sirine pengawal, Alisha terus memegang tangan Arka yang lemas. Ia tidak bisa berhenti menangis.

“Ini salahku,” bisik Alisha di tengah isak tangisnya. “Dia stres. Dia tidak pernah sakit seperti ini di desa. Lingkungan ini membunuhnya.”

Damian tidak membantah. Ia memeluk Arka dengan erat. Wajahnya yang biasanya dingin kini tampak hancur. Ia menatap wajah putranya dengan rasa bersalah yang tidak bisa disembunyikan. Untuk pertama kalinya, Damian menyadari bahwa uang dan kekuasaannya tidak bisa membeli kesehatan anaknya.

Sesampainya di rumah sakit, Arka langsung dilarikan ke ruang instalasi gawat darurat. Dokter dan perawat bergerak cepat melakukan pemeriksaan. Alisha dan Damian dipaksa menunggu di luar ruangan. 

Koridor rumah sakit yang putih dan steril itu terasa sangat dingin.

Alisha duduk di kursi tunggu dengan kepala tertunduk di antara kedua lututnya. Bahunya berguncang hebat. Damian berdiri beberapa meter darinya, menatap pintu kaca yang tertutup rapat. Ia ingin mendekati Alisha, namun ia merasa tidak berhak.

Setelah satu jam yang terasa seperti selamanya, dokter keluar dengan wajah yang sedikit lebih tenang.

“Bagaimana keadaan putraku?” Damian bertanya dengan suara yang pecah.

“Demamnya disebabkan oleh kelelahan ekstrim dan stres psikologis,” jelas dokter itu. 

“Sepertinya dia mengalami syok budaya dan tekanan emosional yang berat. Tubuhnya bereaksi dengan cara menurunkan sistem imun secara drastis.”

“Apakah dia akan baik-baik saja?” tanya Alisha sambil menghapus air matanya.

“Kami sudah memberikan cairan infus dan penurun panas,” jawab dokter. “Dia butuh istirahat total dan lingkungan yang membuatnya merasa aman. Kehadiran kedua orang tuanya secara bersamaan akan sangat membantu proses pemulihannya.”

Dokter mengizinkan mereka masuk ke ruang perawatan VIP. Arka sudah tertidur lelap dengan selang infus di tangannya. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar suara ritmis dari mesin monitor jantung. Cahaya lampu temaram memberikan kesan yang tenang.

Alisha duduk di sisi kiri tempat tidur. Ia menggenggam tangan Arka yang mungil. Damian berdiri di sisi kanan. Mereka terpisah oleh tempat tidur anak mereka. Dalam keheningan itu, kemarahan yang tadi meledak di kantor seolah menguap, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa.

“Maafkan aku,” ujar Damian pelan. Suaranya hampir tenggelam dalam kesunyian ruangan.

Alisha mendongak. Ia melihat Damian menatap Arka dengan tatapan yang sangat lembut. Tatapan itu mengingatkan Alisha pada malam enam tahun lalu di Jakarta. Saat itu, Damian menatapnya dengan cara yang sama sebelum segalanya menjadi rumit.

“Aku terlalu egois,” lanjut Damian tanpa menatap Alisha. “Aku pikir aku bisa mengatur segalanya dengan kontrak. Aku lupa bahwa dia hanya seorang anak kecil yang merindukan dunianya yang lama.”

Alisha menghela nafas panjang. “Dia sangat menyayangimu, Damian. Meskipun dia jarang menunjukkannya. Dia selalu bertanya tentang ayahnya setiap kali melihat bintang di laut.”

Damian tertegun. Ia menoleh menatap Alisha. “Benarkah?”

“Ya.” Alisha tersenyum tipis dan sedih. “Dia bilang ayahnya pasti sehebat kapten kapal yang bisa menaklukkan ombak paling besar. Dia sangat bangga padamu, bahkan sebelum dia bertemu denganmu.”

Mata Damian berkaca-kaca. Ia meraih tangan Arka yang satunya dan menciumnya dengan lembut. 

“Aku tidak ingin kehilangan dia, Alisha. Tapi aku juga tidak tahu cara menjadi ayah yang baik tanpa menggunakan kekuatanku.”

“Menjadi ayah tidak butuh kekuatan, Damian,” kata Alisha lembut. “Hanya butuh kehadiran. Hanya butuh cinta yang tulus tanpa syarat.”

Malam semakin larut. Arka mulai bergerak sedikit dalam tidurnya. Suhu tubuhnya perlahan turun. Damian bergerak mengambil selimut tambahan dan menyampirkannya ke bahu Alisha yang tampak kedinginan. Sentuhan itu singkat, namun mengirimkan getaran emosi yang sudah lama tidak mereka rasakan.

“Tidurlah sebentar,” bisik Damian. 

“Aku akan menjaganya.”

“Aku tidak bisa tidur,” jawab Alisha.

“Aku di sini,” kata Damian lagi. 

Kalimat itu terdengar seperti janji, bukan perintah.

Alisha menatap mata Damian. Untuk sesaat, dinding pertahanan di antara mereka runtuh. Di ruang sakit yang sunyi itu, mereka bukan lagi CEO Sagara Group dan asisten penjahit yang melarikan diri. Mereka hanyalah sepasang orang tua yang ketakutan akan kehilangan harta paling berharga dalam hidup mereka.

Percikan emosi dari masa lalu mulai merayap kembali. Ingatan tentang sentuhan, aroma, dan bisikan di malam itu muncul tanpa diundang. Alisha menyadari bahwa meskipun ia membenci metode Damian, ia tidak pernah benar-benar bisa membenci pria itu.

“Damian,” panggil Alisha lirih.

“Ya?”

“Mari kita simpan dulu kontrak itu,” ujar Alisha. “Jangan paksa aku atau Arka. Biarkan Arka yang memutuskan kapan dia siap menjadi seorang Sagara.”

Damian terdiam cukup lama. Ia menatap wajah Arka yang mulai kembali merona. Ia menyadari bahwa memaksa Alisha hanya akan menjauhkan putranya.

“Baiklah,” jawab Damian akhirnya. 

“Kita lakukan dengan caramu. Untuk saat ini.”

Alisha merasakan beban berat terangkat dari dadanya. Ia menyandarkan kepalanya di tepi tempat tidur Arka. Damian tetap berdiri di sana, menjaga mereka berdua hingga fajar tiba di ufuk timur Jakarta. Di balik jendela rumah sakit, kota mulai terbangun, namun di dalam ruangan itu, sebuah awal yang baru baru saja dimulai dengan cara yang paling rapuh.

1
Diana_Restu
ceritanya seru sekarang mulai satset ga terlalu muter.makasih author.love sekebon🥰
Ranita Rani
bingung bingung q memikirnya,,,,
Imas Atiah
bacanya bikin deg degan tegang
Lianty Itha Olivia
knp cerita ini semakin dibaca kedlm isinya hya perdebatan yg itu2 saja, seolah mengikuti konferensi meja bundar isinya muter2 spt mejanya
Lianty Itha Olivia: ya bgtu baguslah Thor keluar dari zona yg semakin rumit dan bikin pusing 💪💪
total 2 replies
tia
sekian bab masih belom tau siapa lawan dn siapa temen 🤭
Sri Muryati
seru banget...😍
Imas Atiah
susah ye nenek lampir
tia
ternyata biang kerok selama ini rania,,,
Imas Atiah
Alisha kamu bilang Damian jng smpe kamu kena jebakan clarisa
Sunaryati
Jangan terjebak dengan Clarissa
Ranita Rani
poseng + tegang
Imas Atiah
damian knp kamu duku tak bertanggungjawab mlh mengawasi dari jauh kirain beneran peduli yah ini sih bikin alisha dan arka membencimu
Diana_Restu
terlalu lama teka tekinya jadi jenuh bacanya soalnya masih blm ada titik terang.konfliknya alot.
erma _roviko: Hehe maaf ya kak, aku koreksi kok
total 1 replies
tia
masih abu abu , siapa teman dan siapa lawan 😭
Bonny Liberty
damang hujan lagi ngomongin cinta tapi lagi kasih tau cara dia melindungi orang yg paling penting dalam hidupnya😒
𝐈𝐬𝐭𝐲
alisha terlalu keras kepala...
Imas Atiah
nurut aja alisha ,damian takut kehilanganmu dan arka
Sunaryati
Ah seperti pertarungan mafia, padahal cuma Clarrisa menginginkannya Damian, namun Damian yang tidak bersedia.
Naufal Affiq
lanjut kak
tia
lanjut Thor udah sabar 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!