Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.
Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.
Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab27
Rina menguap kecil, rasa lelah akibat ketegangan seharian dan cedera kakinya mulai terasa berat di pelupuk mata. Ia menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Gus Azkar, mencari posisi ternyaman.
"Mas... aku ngantuk," gumam Rina dengan suara yang nyaris tenggelam. Sebelum matanya benar-benar terpejam, ia teringat sesuatu dan memberikan peringatan kecil, "Tapi Mas jangan buka galeri aku lagi ya... awas aja."
Gus Azkar hanya tersenyum simpul, mengelus rambut istrinya hingga napas Rina menjadi teratur dan masuk ke alam mimpi. Namun, peringatan itu justru menjadi bumerang. Rasa penasaran Gus Azkar sebagai seorang laki-laki dan suami malah memuncak
Setelah memastikan Rina benar-benar terlelap di pangkuannya, Gus Azkar meraih ponsel istrinya yang tergeletak di atas nakas. Dengan perasaan sedikit bersalah namun penasaran, ia membuka galeri foto.
Gus Azkar tertegun sejenak. Video-video seksual yang sempat ia lihat tempo hari ternyata sudah benar-benar dihapus bersih. Namun, matanya membelalak saat melihat folder tersembunyi yang berisi ribuan video lainnya.
Ia membuka salah satunya. Di sana, tampak Rina—tanpa cadar, hanya mengenakan pakaian rumah yang sangat minim—sedang asyik bergoyang mengikuti irama musik DJ yang kencang. Pinggulnya bergoyang dengan sangat lincah, gerakannya luwes, menunjukkan bahwa istrinya ini memang bakat terpendam dalam urusan menari. Ada hampir seribu video dengan berbagai macam lagu.
"Masya Allah... ternyata kamu sepintar ini goyang, Sayang," bisik Gus Azkar sambil menelan ludah.
Ia terus menggeser layar, dan kini ia menemukan koleksi foto. Napas Gus Azkar mendadak terasa sesak. Di foto-foto itu, Rina mengenakan berbagai baju seksi yang menonjolkan bentuk tubuhnya yang "fakta" itu. Ada foto Rina sedang berpose manja, menggigit bibir bawahnya seolah menggoda, dengan jari telunjuk menyentuh bibir mungilnya.
Bentuk payudara Rina yang besar dan padat terpampang jelas di balik kain-kain tipis koleksinya, membuat Gus Azkar berulang kali menelan ludah gusar. Istrinya benar-benar montok, jauh lebih menggoda di foto-foto ini daripada yang pernah ia bayangkan selama ini.
Tiba-tiba, layar ponsel itu bergetar. Notifikasi WhatsApp masuk bertubi-tubi. Gus Azkar mengernyitkan dahi. Ia melihat angka yang fantastis: puluhan ribu pesan masuk!
Kebanyakan berasal dari nomor laki-laki yang tidak dikenal.
"Rina, kenalan dong..."
"Cantik banget sih, mau nggak jadi pacar aku?"
"Berapa nomor rekeningmu? Aku mau kasih hadiah."
Ada sekitar 20.000 pesan dari laki-laki yang mencoba mendekati istrinya. Gus Azkar merasakan rahangnya mengeras. Ada rasa cemburu yang membakar dadanya, namun di sisi lain ia merasa lega melihat semua pesan itu hanya dibiarkan menumpuk, tak satu pun yang dibalas oleh Rina.
Gus Azkar menunduk, menatap wajah polos Rina yang sedang tertidur di pangkuannya. Ia mengusap pipi istrinya dengan jempolnya, sambil terus menatap foto Rina yang sedang menggigit bibir di ponsel.
"Ternyata Mas punya saingan sebanyak ini," gumam Gus Azkar dengan suara rendah yang posesif. "Beruntung sekali Mas yang mendapatkanmu secara halal. Kamu memang berlian yang tersembunyi, Rina. Dan Mas tidak akan membiarkan satu pun dari dua puluh ribu laki-laki ini menyentuh atau bahkan melihatmu lagi seperti ini."
Gus Azkar mematikan ponsel itu, lalu ia mendekap tubuh Rina lebih erat, seolah takut ada yang akan merebutnya. Pikirannya sekarang melayang pada rumah di pojok sawah besok; ia harus segera memindahkan Rina ke sana agar ia bisa menikmati semua "goyangan" dan "pose" itu sendirian, tanpa gangguan siapa pun.