NovelToon NovelToon
Mawar Di Jalan Bunga

Mawar Di Jalan Bunga

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Lari Saat Hamil / Beda Usia
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Meymei

Di usia delapan belas tahun, saat gadis-gadis seusianya sibuk mengejar mimpi dan bangku perkuliahan, Gisella Amanda memilih jalan yang tak lazim: menjadi istri Arlan Bramantyo sekaligus ibu tiri bagi Keira Zivanna.
Baginya, Arlan bukan sekadar suami, melainkan pelindung dan tempatnya pulang. Namun, angan-angan tentang rumah tangga yang hangat perlahan luruh. Gisel justru terjebak dalam perang dingin melawan bayang-bayang masa lalu dan tumpukan kesalahpahaman yang tak kunjung usai.

Tanpa pamit, Gisel melangkah pergi membawa luka yang menganga. Ia mengubur identitas gadis ceria yang dulu dicintai Arlan, lalu membangun dinding kokoh di hatinya.
Kini, mampukah Arlan mengejar jejak yang sengaja dihilangkan? Dan ketika maaf terucap, apakah ia masih sanggup meruntuhkan dinding yang telah Gisel bangun dengan rasa kecewa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meymei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terror

Perjalanan sejauh empat jam itu terasa seperti melintasi dua dunia yang berbeda.

Di kursi belakang, Keira tertidur pulas dengan kepala bersandar nyaman di pangkuan Gisel. Napas halus bocah itu menjadi satu-satunya melodi yang menenangkan di tengah sunyinya kabin mobil.

Di balik kemudi, Arlan fokus menatap aspal, merasakan beban di pundaknya sedikit terangkat setelah percakapannya dengan Gisel semalam.

Kota Fauna menyambut mereka dengan udara yang sedikit panas dibandingkan Kota Flora yang sejuk, meski begitu deretan pepohonan hijau yang tertata simetris di sepanjang jalan protokol memberikan kesan aman yang semu.

SUV hitam Arlan akhirnya berbelok memasuki sebuah kompleks perumahan elit. Sistem keamanan yang ketat dan pagar besi hitam yang menjulang tinggi di rumah minimalis modern milik Arlan, seharusnya cukup untuk membuat siapa pun merasa terlindungi.

"Kita sudah sampai," ucap Arlan lembut saat menghentikan mobil di depan gerbang.

Gisel menatap bangunan di depannya dengan perasaan campur aduk. Inilah istana barunya, tempat ia akan belajar menjadi seorang istri dan seorang ibu. Namun, baru saja Arlan melangkah turun untuk membukakan gerbang, tubuh pria itu mendadak kaku. Langkahnya terhenti secara paksa.

Tepat di tengah jalan masuk, sebuah kotak kayu panjang berwarna hitam pekat tergeletak begitu saja. Kotak itu diikat dengan pita sutra berwarna merah darah yang kontras dengan kebersihan lantai marmer di bawahnya. Tidak ada nama pengirim, tidak ada kartu ucapan. Hanya sebuah kotak dingin yang tampak sangat mengancam.

"Om, ada apa?" tanya Gisel saat melihat punggung Arlan yang menegang.

"Tetap di dalam mobil, Gisel. Jangan turun!" Perintah Arlan dengan nada otoriter yang tak bisa dibantah.

Getaran dalam suaranya menandakan kewaspadaan tingkat tinggi.

Arlan mendekati kotak itu seolah sedang mendekati bom waktu. Dengan tangan sedikit gemetar, ia menarik pita merah tersebut dan membuka tutup kotak perlahan.

Di dalamnya, tergeletak sebuah gaun sutra berwarna merah mawar yang sangat indah, namun modelnya terlalu berani, potongan rendah di dada dan belahan tinggi di paha, ciri khas busana yang biasa dikenakan oleh para wanita yang "bekerja" di kelab malam kelas atas.

Di atas kain sutra itu, terselip selembar kartu kecil. Tulisan tangannya rapi, namun setiap goresan tintanya terasa setajam belati.

"Mawar tetaplah mawar. Di mana pun ia ditanam, harumnya akan tetap membawa ia kembali ke asalnya. Selamat atas 'pelarian' sementaramu, Gisella. — AS"

Darah Arlan mendidih seketika. Tanpa perlu bertanya, ia tahu siapa yang dimaksud sebagai “mawar” dan "kembali ke asalnya". Namun, inisial AS itu membuatnya bertanya-tanya. Siapa dia? Dan... bagaimana mungkin orang ini tahu alamat pribadinya?

Arlan selalu menjaga privasinya dengan sangat ketat, bahkan kolega kantornya jarang ada yang tahu lokasi rumah ini. Ini bukan sekadar kiriman; ini adalah pernyataan perang. Sebuah pesan bahwa tembok setinggi apa pun yang dibangun Arlan bisa dilompati dengan mudah oleh sang predator.

“Mungkin aku harus bertanya kepada Om Arman,” gumam Arlan geram.

Ia menutup kotak itu dengan kasar dan melemparkannya ke dalam bagasi seolah benda itu adalah najis. Ia tidak ingin Gisel melihat simbol penghinaan tersebut. Namun, saat kembali ke kursi kemudi, ia menemukan mata jeli Gisel menatapnya penuh selidik.

"Apa itu dari Om Arman?" tanya Gisel, teringat pada kotak kayu misterius pemberian Tante Ira yang masih tersimpan di tasnya.

"Bukan. Hanya kiriman salah alamat," bohong Arlan, yang kemudian memasukkan mobil ke dalam garasi dengan gerakan terburu-buru.

Suasana rumah yang seharusnya hangat karena kepulangan mereka seketika berubah mencekam. Arlan bergerak seperti orang paranoid; ia memeriksa setiap sudut ruangan, memastikan semua kunci jendela berfungsi, dan langsung menghubungi pihak keamanan kompleks untuk meningkatkan patroli.

Gisel, yang sedang menidurkan Keira di kamar, bisa merasakan kegelisahan yang memancar dari luar kamar. Saat ia keluar, ia mendapati Arlan berdiri di ruang tamu, menatap kegelapan di balik jendela dengan tatapan tajam yang seolah ingin menembus malam.

"Om, jujurlah padaku. Apa isi kotak itu?" tanya Gisel, kali ini suaranya lebih tegas.

Arlan menghela napas panjang, pundaknya merosot sesaat. Ia berbalik menghadapi istrinya.

"Gisel, aku tidak ingin kamu takut. Tapi sepertinya mereka mengincarmu."

Gisel terduduk lemas di sofa. Ketakutan yang ia kira sudah tertinggal di debu Jalan Bunga kini merayap kembali, mencekik lehernya.

"Dia tidak akan melepaskanku, kan? Apa pernikahan ini... tidak ada gunanya bagi orang seperti dia?"

“Siapa ‘dia’?” tanya Arlan, alisnya bertaut.

“Aldi Sanjaya. Salah satu alasan Om Arman menikahkanku denganmu,” lirih Gisel.

Ia pun menceritakan potongan-potongan informasi yang pernah didengarnya dari Om Arman tentang obsesi gila pria bernama Aldi Sanjaya itu terhadapnya.

Arlan mendengarkan dengan rahang mengeras. Kini ia mengerti maksud Om Arman yang sebenarnya. Pernikahan ini bukan hanya soal status sosial, tapi sebuah perisai hukum untuk melindungi Gisel dari predator kelas kakap. Arlan berlutut di depan Gisel, menggenggam kedua tangan gadis itu yang terasa sedingin es.

"Pernikahan ini sudah sah secara agama, dan esok, aku akan memastikan semuanya sah secara hukum di mata negara. Selama kamu bersamaku, dia tidak bisa menyentuhmu tanpa berurusan dengan hukum. Aku akan memasang sistem keamanan tambahan esok hari. Kamu tidak boleh keluar rumah sendirian, mengerti?" Gisel menatap Arlan dengan mata berkaca-kaca.

"Lalu bagaimana dengan sekolahku? Aku harus tetap sekolah, Om."

Arlan terdiam. Keinginannya adalah mengunci Gisel di dalam rumah demi keselamatannya, tapi ia teringat janjinya yang akan menjamin pendidikan Gisel.

"Aku akan mengantar dan menjemputmu sendiri. Pastikan kamu tidak pernah sendirian, bahkan di area sekolah sekalipun."

Malam itu menjadi malam yang panjang dan menyiksa. Gisel berbaring di samping Keira, namun telinganya tetap tajam menangkap setiap suara; gesekan daun, suara angin, hingga detak jam dinding terasa seperti langkah kaki.

Di ruang kerja, Arlan terjaga di depan laptop, mencoba melacak jejak pengirim kotak melalui rekaman CCTV kompleks yang buram.

Gisel ingin menghubungi Om Arman, namun rasa canggung karena pergi tanpa pamit menahannya. Tiba-tiba, ponsel di atas nakas bergetar kuat. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal muncul di layar.

+628552xxxx: Warna merah sangat cocok untuk kulitmu yang putih, Gisel. Pakailah saat kita bertemu nanti malam di mimpimu.

Tangan Gisel gemetar hebat. Ia tersentak, dan tanpa sengaja tangannya menyenggol gelas kaca di nakas hingga jatuh berdentang di lantai.

Prang!

Gelas itu hancur berkeping-keping. Suara pecahan itu memicu adrenalin Arlan. Ia berlari kencang dari ruang kerjanya dan mendobrak pintu kamar, sampai membuat Keira menggeliat karena merasa terusik.

"Gisel! Ada apa?!"

Gisel tidak sanggup bicara. Ia hanya bisa menunjuk ke arah ponselnya dengan wajah pucat. Arlan menyambar ponsel itu, membaca pesannya, dan seketika kemarahan yang luar biasa meledak di dadanya.

Aldi Sanjaya bukan hanya tahu alamatnya, mereka bahkan telah masuk ke dalam ruang pribadi Gisel.

"Aku di sini, Gisel. Aku di sini," bisik Arlan spontan merengkuh Gisel ke dalam pelukannya.

Ia mencoba memberikan kehangatan dan rasa aman yang ia sendiri pun mulai meragukan kekuatannya.

Di tengah pelukan itu, Gisel menyadari satu hal yang menyakitkan. Ia mungkin sudah meninggalkan Jalan Bunga secara fisik, namun ia membawa "bayangan" tempat itu bersamanya.

Di dunia megah Kota Fauna ini, ia menyadari bahwa masa lalunya bukan sekadar ingatan, melainkan rantai yang masih terikat kuat pada kaki-kakinya, siap ditarik kembali oleh sang predator kapan saja.

.

.

.

.

.

Hallooo semuanya... Hari ini author up 3 bab karena besok libur. Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang sudah mulai hari ini dan selamat juga untuk yang mulai besok. Semoga kita selalu mendapatkan berkah di bulan yang suci ini. Aamiin...

1
Ai Umana sari
ikan cucut, Lanjut🌻
Suci Maulana
bagus banget plisss update truss😍😍😍
Meymei: diusahakan up 1 bab setiap hari kak 🙏🥰
total 1 replies
snow Dzero
selamat menjalankan ibadah puasa
snow Dzero
bagus dan menarik
snow Dzero
semangat Thor cerita nya bagus
snow Dzero
awalan cerita yang menarik,semoga penulisan dan karakter setiap peran konsisten 💪
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meymei: belum sanggup kek nya kak 🤭
total 1 replies
indy
Rumit juga masa lalu Arlan. Ternyata Keira bukan anaknya Arlan.
indy
sempat bingung kakak😄
Meymei: maaf ya kak🤭entahlah ini sistemnya 😅
total 1 replies
dini Risayatmi
assalamualaikum kak,
maaf kak,
kayaknya bab nya terbalik ya🙏🙏
Meymei: iya kak, maaf ya saya revisi 🙏
total 1 replies
indy
wah nggantung😄
indy
kasihan gisel
Meymei: iya kak, author jg gak tega
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲
lanjut thor...
𝐈𝐬𝐭𝐲
fakta bgt emang kalo yg ekonominya bagus selalu di bela tanpa memilah dlu mana yg benar mana yg salah
𝐈𝐬𝐭𝐲
aku mampir thor...
indy
hadir kakak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!