Lastri menjadi janda paling dibicarakan di desa setelah membongkar aib suaminya, seorang Kepala Desa ke internet.
Kejujurannya membuatnya diceraikan dan dikucilkan, namun ia memilih tetap tinggal, mengolah ladang milik orang tuanya dengan kepala tegak.
Kehadiran Malvin, pria pendiam yang sering datang ke desa perlahan mengubah hidup Lastri. Tak banyak yang tahu, Malvin adalah seorang Presiden Direktur perusahaan besar yang sedang menyamar untuk proyek desa.
Di antara hamparan sawah, dan gosip warga, tumbuh perasaan yang pelan tapi dalam. Tentang perempuan yang dilukai, dan pria yang jatuh cinta pada ketegaran sang janda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter²⁸ — Caritahu, Siapa Malvin!
Pagi itu, rumah sakit masih terasa dingin meski matahari sudah naik.
Lastri baru saja keluar dari ruang ICU. Matanya sembab, wajahnya pucat. Ia menatap lantai lorong seolah takut kalau ia mengangkat kepala, air matanya akan jatuh lagi.
Sinta masih kritis. Dan bayi itu… masih bertahan di dalam inkubator, dan hanya bergantung pada doa.
Malvin berjalan di samping Lastri tanpa banyak bicara. Namun langkah pria itu tegas, seperti seseorang yang sudah mengambil keputusan besar.
Lalu ia berkata pada Kalvin dan Alya. “Situasi di sini tidak aman, kalian berdua pulang ke kota. Nanti saat kasus ini masuk ranah hukum, kalian akan dipanggil sebagai saksi.”
Alya menatap abang tertuanya. Ia tahu, petualangannya di desa harus berhenti sampai di sini. Situasinya sudah terlalu berbahaya untuk tetap bertahan.
“Kalvin, bawa adikmu pulang. Aku harus fokus pada kasus ini, aku juga harus melindungi Lastri. Kalian menjauh dulu untuk sementara, supir akan mengantar kalian pulang ke rumah.”
Lastri terkejut. Tatapannya terkunci pada Malvin, penuh pertanyaan yang tak sempat keluar.
Malvin seolah membaca itu, ia hanya tersenyum tipis. “Mereka sebenarnya adik-adikku, mereka datang ke sini karena penasaran padamu. Maaf kalau mereka sempat merepotkan mu.”
Lastri semula tak menangkap maksud ucapan Malvin. Namun, barulah ia mengerti. Kalvin dan Alya, mempunyai hubungan saudara dengan Malvin. Kecurigaannya selama ini, bahwa mereka bukan sekadar mahasiswa biasa—akhirnya terbukti. Hanya saja, Lastri tak pernah menyangka… keduanya adalah adik Malvin.
Lastri menghela napas pelan. “Teteh nggak marah kalian berdua bohong. Soal itu… kita bicarakan lain kali.”
Ia menatap Kalvin dan Alya bergantian. “Abang kalian benar, kalian harus pulang ke kota, karena disini nggak aman. Kalau situasinya sudah lebih baik, kalian boleh kembali. Nanti… teteh akan menjamu kalian.”
Alya tampak tak rela berpisah. Matanya menatap Lastri lama, seolah ingin menahan waktu. “Janji ya, Teh… kita ketemu lagi nanti. Aku sebenarnya masih betah di sini. Tapi aku nggak mau jadi beban, apalagi pas Teteh lagi banyak masalah.”
Lastri langsung memeluknya. “Kamu itu sudah Teteh anggap adik, bahkan sebelum Teteh tahu kamu adiknya Bang Malvin.”
Ia mengusap punggung Alya singkat. “Nanti kita tetap bisa komunikasi.”
Alya mengangguk pelan, lalu menatap Lastri dengan wajah serius. “Jaga diri ya, Teh. Aku yakin Bang Malvin bakal jaga Teteh baik-baik.”
Kalvin maju setelahnya, ia menyodorkan tangan pada Lastri.
“Makasih, Teh... buat semuanya. Sampai jumpa lagi, semoga Teteh baik-baik saja.”
Lastri menatap uluran tangan itu beberapa detik. Lalu alih-alih menyambutnya, ia berdiri dan memeluk Kalvin lebih dulu.
Tubuh Kalvin kaku.
Meski Kalvin setahun lebih tua darinya, Lastri sudah menganggapnya seperti adik—sama seperti Alya. “Jaga adikmu, semoga kita bisa ketemu lagi.”
Perpisahan itu hanya untuk sementara, tak lama keduanya sudah pergi dengan mobil.
Setelah kedua adiknya pergi, Malvin tak lagi menyembunyikan dirinya. Satu jam kemudian, ia sudah berada di ruang administrasi rumah sakit, duduk tenang dengan laptop terbuka di hadapannya.
Denis datang tergesa-gesa, membawa map tebal dan flashdisk. “Tuan, semua dokumen proyek sudah saya siapkan.”
Malvin mengangguk. “Bagus.”
Denis menatap Lastri sebentar, lalu menunduk hormat. Kini ia tahu posisi Lastri di hati Bos-nya, meski Malvin belum mengatakannya secara gamblang.
Malvin membuka laptop, tangannya bergerak cepat menekan nomor. Ia menelpon melalui laptop, panggilan tersambung.
“Pak Arman."
Suara di seberang terdengar langsung tegang. “T-Tuan Malvin… ada yang bisa saya bantu?”
Malvin menatap layar laptop, lalu berkata tanpa basa-basi. “Saya minta rekening proyek desa itu dibekukan sementara.”
Lastri yang berdiri di sampingnya langsung terkejut.
“Bang…?” bisiknya.
Malvin tidak menoleh, tapi tangannya meraih tangan Lastri dan menggenggamnya erat. Seolah memberi isyarat 'tenang, ini untuk melindungimu.'
Suara Pak Arman terdengar gugup. “Dibekukan, Tuan? Tapi… itu rekening operasional proyek.”
“Saya tahu, dan justru karena itu saya bekukan.”
Denis ikut bicara, “Ada indikasi upaya fitnah dan manipulasi laporan. Jika rekening tetap berjalan, mereka bisa menyusupkan transaksi palsu.”
Pak Arman terdiam, lalu terdengar napas berat. “Saya mengerti, Tuan.”
Malvin melanjutkan, suaranya dingin seperti pisau. “Mulai sekarang, semua transaksi hanya bisa lewat persetujuan tertulis saya. Tidak ada penarikan, bahkan tidak boleh ada dana keluar.”
“Baik, Tuan.”
Malvin memutus panggilan.
“Bang… kalau rekening dibekukan, nanti warga gimana? Proyek gimana?” tanya Lastri.
Malvin menatap Lastri lembut. “Lastri, aku tidak membekukan supaya proyek mati. Aku membekukan dana, supaya fitnah itu tidak punya celah untuk menyerangmu.”
Lastri menelan ludah.
“Karena kalau mereka berhasil bikin transaksi palsu… kamu yang akan masuk penjara.” Lanjut Malvin.
Lastri membeku, ia tidak pernah berpikir sejauh itu. Tapi Malvin… sudah memikirkan semuanya.
Malvin kembali menekan nomor lain, kali ini lebih panjang. Ketika tersambung, Malvin berkata singkat. “Saya mau audit independen.”
Suara di seberang terdengar profesional. “Audit untuk proyek apa, Pak?”
“Proyek pembangunan desa di Kabupaten ini. Nama desanya Dermaga, Kabupaten Sukabumi—Jawa barat.”
“Mulai kapan?”
“Mulai hari ini.”
Denis menambahkan, “Kami akan kirim seluruh data transaksi, invoice, kontrak vendor, dan catatan lapangan.”
“Baik, akan segera saya laksanakan Tuan."
Sementara itu…
Di kantor DPRD, Hadi baru saja menaruh ponsel ketika seorang staf datang dengan wajah tegang.
“Pak Hadi…”
Hadi mengangkat alis. “Kenapa?”
Staf itu menelan ludah. “Rekening proyek desa… dibekukan.”
Hadi terdiam.
“Dibekukan?” ulangnya, suaranya turun.
Staf itu mengangguk cepat. “Dan ada kabar audit independen masuk.”
Wajah Hadi berubah, senyumnya hilang.
Ia berdiri perlahan. “Siapa yang berani?”
Staf itu ragu, lalu menjawab pelan.
“Pak… kabarnya… orang itu, Malvin Mahardika.”
Hadi membeku, saat ini wajah politisi itu tidak lagi santai.
Matanya menyipit tajam.
“Mahardika…?” gumamnya.
Ia berjalan mondar-mandir, lalu ia menendang kursi kecil di dekat meja. “Brengsek!”
Hadi menatap stafnya.
“Cari tahu, siapa Malvin itu sebenarnya!“ Perintahnya dingin
Staf itu mengangguk cepat, lalu pergi.
Di sisi lain desa, Fahira keluar dari mobilnya dan berjalan untuk mencari rumah Malvin. Sepatu hak tingginya menghentak tanah. Satu langkah saja sudah membuatnya ingin mengumpat, karena jalanan desa itu becek.
Ia menepuk-nepuk dress yang terkena percikan lumpur, wajahnya terlihat masam. Matanya menyapu rumah-rumah sederhana.
“Sialan! Kampung apaan sih ini! Malvin beneran tinggal di sini?”
Fahira mendengus. “Kalau iya… aku harus lihat perempuan macam apa yang bikin dia betah tinggal disini.”
Ia berhenti di dekat warung kecil.
Di situ ada beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak yang sedang duduk, tertawa pelan sambil minum kopi. Begitu melihat Fahira, mereka saling pandang karena pakaian Fahira mencolok.
Fahira mendekat dengan gaya seperti ratu.
“Hei,” panggilnya, tanpa senyum. “Aku mau tanya.”
Salah satu ibu-ibu menatapnya. “Nanya apa, Neng?”
Fahira menaikkan dagu. “Rumahnya Malvin, yang mengurus proyek itu… di mana?”
Ibu-ibu itu saling pandang. Ada yang menahan senyum, dan ada yang memalingkan wajah.
Fahira melipat tangan dengan wajah congkak. “Cepat jawab! Aku nggak punya waktu.”
Salah satu bapak-bapak tersenyum tipis. “Oh… rumah Pak Malvin, ya?”
“Iya.”
Bapak itu menunjuk ke arah jalan kecil. “Lurus aja, Neng. Nanti ada belokan, ambil yang kiri. Tapi itu jalan kecil, kesana harus jalan kaki.”
Ibu-ibu di sampingnya langsung menahan tawa.
Fahira tidak peduli, Ia langsung berjalan pergi tanpa mengucapkan terimakasih. Dengan percaya diri, dan kesombongan yang tebal. Dan tanpa tahu… bahwa bapak itu baru saja menunjukkan arah yang salah.
Fahira berjalan hampir satu jam, berputar-putar tanpa arah yang jelas. Mobilnya ia tinggalkan di tempat tadi bersama sopirnya, sementara ia hanya menenteng tas mewah miliknya. Dan semakin ia berjalan, semakin rumah-rumah terlihat makin jauh.
Bahkan jalan mulai berubah, bukan lagi jalan desa yang biasa ia lihat. Itu sudah seperti jalan ke arah kebun luas.
Fahira berhenti, keringat mulai muncul di dahinya. “Ini… ini jalan ke mana sih?!”
Ia menoleh kanan-kiri, tidak ada orang. Bahkan tidak ada kendaraan, meski sekedar motor. Hanya suara angin, dan suara kicauan burung. Bahkan ada suara jangkrik, dan… tidak ada sinyal.
Fahira menelan ludah, rasa takut mulai muncul pelan-pelan. Namun kesombongannya masih bertahan.
“Pasti ini cuma jalur pintas,” gumamnya.
Ia melanjutkan, tapi lima belas menit kemudian… ia benar-benar sampai di papan kecil yang bertuliskan.
“SELAMAT DATANG DI DESA CIBATU”
Fahira membeku. “Apa?!”
Ia menatap papan itu, lalu menatap sekeliling.
“DESA CIBATU?! Bukannya nama desa tadi, Dermaga! Ini… bukan desa yang tadi!”
Fahira menjerit frustasi. “Kalian! Kalian berani menipuku!”
Tapi tidak ada siapa pun, ia mulai panik. Fahira merogoh ponsel, benar-benar tidak ada sinyal. Ia mencoba menghubungi sopir, dan tidak bisa. Ia menatap jalan, dan untuk pertama kalinya... Fahira, wanita kota yang selalu merasa dirinya paling hebat, merasa benar-benar kecil dan sendirian.
Di warung tadi, ibu-ibu masih tertawa pelan.
“Kasihan ya si Neng itu,” kata salah satu ibu.
“Kasihan apanya? Dia aja songong! Nggak ada sopan-sopannya!”
Bapak-bapak yang tadi memberi jalan salah pada Fahira, menyeruput kopi dengan santai. “Biarin aja, biar kapok. Orang sombong begitu memang harus diajarin tata krama kalau datang ke tempat orang.”
Ia mendengus, lalu menambahkan sambil tertawa kecil. “Lagian, perempuan model begitu datang-datang cari Pak Malvin. Padahal kita ini sudah mau ngejodohin Pak Malvin sama Neng Lastri, enak aja mau ikut rebutan.”
“Hahaha…” Mereka tertawa terbahak-bahak.
mereka emang pantes di bui