*Update tiap hari*
Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.
Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.
Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.
Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.
Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19 - Arti Sebuah Kemenangan?
Hening yang tiba-tiba terasa memekakkan telinga, begitu pekat hingga menekan gendang telingaku.
Suara pertempuran yang riuh—dentang baton, teriakan amarah, ledakan Crafting—lenyap seketika. Semua itu digantikan oleh simfoni baru yang jauh lebih mengerikan: suara derak api yang menjilat sisa-sisa rumah dengan lapar, dan rintihan pelan para korban.
Udara terasa berat dan menyesakkan. Sebuah ramuan busuk dari bau ozon sisa Electrocraft Urgon, bau debu batu, anyir darah, dan... bau uap panas yang aneh.
Aku mencoba bangkit. Setiap otot di tubuhku menjerit protes. Amarah yang tadi membanjiriku, meninggalkan kekosongan dan rasa sakit tajam di sekujur tubuh.
Aku menatap tanganku, lalu ke arah batonku yang tergeletak tak jauh dariku.
Aku merasakan sisa-sisa Daya di dalam diriku, namun rasanya berbeda. Ada sisa panas yang tidak wajar. Aku teringat desisan jet uap super panas yang keluar dari batonku tadi.
Apa itu tadi? pikirku bingung.
Itu bukan Hydrocraft biasa. Rasanya... salah. Panas, merusak, dan liar. Kekuatan itu lahir dari keinginan untuk menghabisi, bukan untuk mengendalikan.
Namun, sebelum aku sempat menganalisisnya lebih jauh, sebuah jeritan pilu dari arah balai desa menarikku kembali ke realitas.
Suara Fiora...
Dengan sisa tenaga, aku memungut batonku dan berjalan terseok-seok melewati medan pertempuran.
Di sekelilingku, dampak langsung dari "kemenangan" kami terpampang nyata. Warga desa mulai keluar dari persembunyian. Wajah mereka adalah kanvas dari trauma; mata kosong, bergerak lambat seolah masih terjebak dalam mimpi buruk.
Aku melihat seorang pria jatuh berlutut, meraung lega saat memeluk istri dan anaknya. Tak jauh darinya, seorang pedagang menatap nanar tokonya yang hangus sambil mengumpat lirih tentang pemerintah yang terlambat datang.
Di depan balai desa yang porak-poranda, Percy sedang sibuk. Dengan wajah keras dan kaku, ia membuat serangkaian tanda di atas papan kayu hangus menggunakan arang. Setiap kali seorang kadet melapor, Percy membuat goresan. Satu garis untuk yang terluka, dan satu garis tebal untuk yang gugur.
Namun, mataku langsung tertuju ke tengah ruangan.
Di tengah-tengah para korban lain, Fiora sedang berlutut di lantai, memangku kepala ibunya. Ibu Fiora terbaring tak bergerak, Wajahnya pucat pasi, namun matanya masih sedikit terbuka, menatap putrinya dengan pandangan yang mulai meredup.
"Aku di sini, Bu... aku di sini..." bisik Fiora, suaranya serak dan putus asa. Tangannya yang gemetar mencoba menuangkan Elixir ke bibir ibunya, namun cairan itu hanya mengalir turun ke samping, tidak lagi bisa ditelan.
Ibu Fiora menarik napas satu kali—sebuah tarikan pendek yang berat dan berbunyi.
“Ya Fiora...”
Matanya yang lemah lamat-lamat menatap Fiora.
"Ibu tahu..." desisnya nyaris tak terdengar.
Sebuah usaha senyum yang sangat lemah, penuh cinta, terukir di bibirnya.
Tangannya yang berusaha menggenggam jemari Fiora tiba-tiba kehilangan seluruh kekuatannya. Terkulai jatuh ke samping tubuhnya. Matanya perlahan kehilangan cahaya, dan akhirnya meredup selamanya.
Untuk sesaat, Fiora hanya diam, menatap wajah ibunya yang kini damai, seolah menanti dada itu naik turun kembali.
Lalu, kenyataan menghantamnya tanpa kompromi.
Fiora memeluk tubuh lemah ibunya yang kini tak bernyawa, membenamkan wajahnya di dada wanita itu.
Sebuah raungan duka yang dalam dan panjang pecah dari tenggorokannya. Jeritan jiwa yang hancur berkeping-keping. Suara itu begitu pilu hingga membuat seluruh balai desa terkesiap. Bahkan rintihan para korban yang terluka pun seolah berhenti sejenak. Isak tangisnya yang pilu merobek keheningan malam pasca pertempuran.
Aku berdiri terpaku. Lidahku kelu.
Anak laki-laki yang tadi diselamatkan oleh Lena melangkah maju dengan ragu. Wajahnya cemong oleh debu dan air mata. Tanpa sepatah kata pun, ia mengulurkan tangan mungilnya.
Ia meletakkan setangkai bunga liar yang sudah kusam dan tercabik-cabik ke tangan Fiora yang terkulai di samping jasad ibunya.
Setelah itu, ia hanya berdiri menunduk sebelum ibunya yang menangis menariknya ke dalam pelukan. Sebuah gestur kecil dari seorang anak yang kehilangan kata-kata, sebuah ucapan terima kasih dan belasungkawa.
Dadaku terasa sesak melihatnya.
Kemenangan ini terasa hampa, seolah ini adalah sebuah kesalahan...
Harusnya aku hanya orang asing di sini, seorang Tarker yang kebetulan lewat. Tapi setelah menyaksikan pengorbanan Ibu Fiora dan mendengar raung tangis Fiora, sesuatu di dalam diriku yang selama ini telah mengeras seolah melunak kembali.
Tapi kini aku bukan lagi sekadar orang luar. Aku adalah bagian dari tragedi mereka. Dan suka atau tidak, luka Paleside kini telah menjadi bagian dari lukaku juga...
apa di sana gak ada makanan lain gitu thor misal buah atau cemilan lain atau apa gitu
Pas kita lari, dia datang
Mau betumbuk kah mereka?😭