Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 Yang Diperhatikan, Yang Diabaikan
Pertandingan hari itu akhirnya berakhir.
Peluit panjang menutup segalanya—keringat, sorak-sorai, dan hasil yang tak terbantahkan.
Timnya menang. Tepuk tangan menggema, riuh dan penuh euforia.
Namun Azmi tidak langsung ikut larut.
Di seberang lapangan, dekat gawang, Dio masih berdiri menunduk. Bahunya naik turun, napasnya berat. Beberapa rekan setim menepuk punggungnya, berusaha menghibur. Azmi menangkap pemandangan itu—dan untuk sesaat, rasa menangnya terasa… sunyi.
Ia menghela napas pelan.
Lalu, tanpa sadar, pandangannya bergerak ke bangku penonton.
Rahmalia.
Siva.
Gina.
Mereka turun dari tribun, berjalan mendekat ke lapangan.
“Semua, ayo minum dulu!” seru salah satu rekan setimnya sambil membuka coolbox.
Azmi mengangguk singkat, tapi matanya tidak benar-benar mengikuti suara itu. Ia melihat Rahmalia melangkah ke arah coolbox.
“Boleh aku ambil dua?” tanya Rahmalia.
“Tentu, Kak.”
Dua botol.
Azmi tidak tahu kenapa dadanya menghangat kecil—harapan yang muncul tanpa izin. Ia menertawakan dirinya sendiri dalam hati. Konyol. Tapi ia tetap membiarkan harapan itu bertahan sepersekian detik.
Langkah Rahmalia terhenti.
Gina datang dari belakang.
“Sini satu, Ca,” kata Gina santai. “Biar aku kasih ke Azmi.”
Azmi melihat Rahmalia mengangguk kecil.
“Iya, boleh.”
Dan Rahmalia berbalik.
Bukan ke arahnya.
Ke arah Dio.
Senyum Azmi tertahan—tidak runtuh, tapi tidak juga utuh. Untuk sesaat, ia sadar… ternyata ia benar-benar berharap. Ia berdiri di sana, menerima kenyataan kecil itu tanpa perlu siapa pun tahu.
Gina sudah berdiri di depannya.
“Nih, Mi. Pasti kamu haus.”
Azmi menerima botol itu.
“Terima kasih,” katanya.
Ia membuka tutup botol. Air dingin mengalir ke tenggorokannya, menyegarkan, tapi tidak sepenuhnya menghapus rasa yang mengganjal. Pandangannya kembali melayang—ke Rahmalia yang menyerahkan botol pada Dio. Dio menerima, terkejut, lalu mengangguk kecil.
Azmi menatap lapangan.
Lalu tersenyum kecil, nyaris menertawakan dirinya sendiri.
“Kamu jago banget main bola,” kata Gina.
Azmi berhenti minum. “Iya,” jawabnya ringan. “Dari kecil aku suka bola. Ayah sering sewa pelatih dari luar negeri.”
“Pantes,” sahut Gina. “Profesional.”
“Oh ya,” lanjut Gina ragu, “kamu nggak kecapean? Main bola, malamnya ngadain pesta.”
“Enggak,” jawab Azmi. “Aku biasa jaga kondisi.”
Gina tersenyum. Hendak bertanya lagi.
Azmi sudah melangkah.
Bukan karena tidak peduli—melainkan karena ia tahu, jika ia bertahan satu detik lagi, matanya akan kembali mencari satu nama yang sama.
Ia menghampiri mereka.
“Gimana?” tanyanya santai. “Masih mau tanding ulang?” tanya Azmi.
Dio mengusap wajah, lalu menatapnya sambil senyum lebar.
“Enggak hari ini.”
“Paru-paru gue udah minta pensiun.”
Ia menunjuk Azmi.
“Tapi dengerin, Mi.”
“Hari ini gue kalah bola.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada main-main tapi serius di mata—
“Tapi gue belum tentu kalah di hal lain.”
Azmi terkekeh kecil.
Dio membalasnya dengan senyum santai—terlalu santai untuk orang yang baru saja kebobolan belasan gol.
“Ah udahlah,” sela Siva tiba-tiba.
“Lu juga payah banget, Yo. Masa kemasukan sampe belasan kali.”
Dio langsung menoleh.
Alisnya terangkat, matanya menatap Siva tajam—jelas kaget, setengah tersinggung, setengah nggak nyangka.
“Woi,” katanya pelan, datar, tapi berbahaya.
“Gue lagi recovery mental, tau.”
Gina tertawa kecil, mencoba meredakan suasana.
“Lagian ngapain sih tanding bola segala,” katanya ringan.
“Ini jam istirahat. Harusnya ya istirahat.”
Rahmalia ikut mengangguk, lalu menoleh ke arah Azmi.
“Iya,” katanya lembut.
“Apalagi kamu, Mi. Nggak kecapean nanti malam? Kan ada pesta.”
Azmi tersenyum.
Pertanyaan itu sederhana—bahkan wajar.
Tapi entah kenapa, ia merasa diperhatikan dengan cara yang berbeda.
“Aman kok,” jawabnya santai.
“Lagipula ini cuma fun game. Senang-senang aja.”
“Syukurlah kalau begitu,” gumam Rahmalia pelan.
Kalimat itu nyaris tenggelam di antara suara sekitar—
tapi Azmi mendengarnya dengan jelas.
Tanpa benar-benar berpikir panjang, Azmi sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Rahmalia.
Jarak mereka mendadak terlalu dekat untuk sekadar obrolan biasa.
“Kenapa,” tanyanya ringan, tapi matanya menatap lurus,
“kamu khawatirin aku?”
Rahmalia membeku.
Untuk sesaat, ia tidak tahu harus menjawab apa.
Ada rasa yang terasa salah—bukan karena pertanyaannya, tapi karena cara Azmi mengatakannya. Terlalu langsung. Terlalu dekat.
Di samping mereka, Gina memperhatikannya dengan sorot mata yang berubah. Senyumnya menghilang, digantikan ekspresi tipis yang sulit dibaca.
Siva mengernyit.
Dan Dio—jelas tidak suka.
Tanpa banyak pikir, Dio melangkah maju dan mendorong bahu Azmi ringan, tapi cukup tegas untuk memisahkan jarak itu.
“Woi,” katanya datar.
“Jangan deket-deket. Bau keringet.”
Nada suaranya terdengar bercanda, tapi matanya serius.
Azmi terhuyung setengah langkah ke belakang, lalu berhenti.
Ia menatap Dio sejenak.
Tidak marah.
Tidak membalas.
Hanya tersenyum kecil—senyum orang yang sadar dirinya sedang ditekan, tapi memilih tidak bereaksi.
Namun di dalam dadanya, Azmi tahu—Itu bukan sekadar dorongan bercanda.
Bel sekolah tiba-tiba berbunyi, memotong sisa-sisa obrolan di lapangan.
Tanda jam pelajaran berikutnya akan dimulai.
Siva langsung berdiri, menepuk-nepuk tangannya.
“Bel udah bunyi. Ayo, semuanya masuk kelas,” katanya tegas.
Ia menoleh ke Dio.
“Dio, kamu cepet ganti baju. Jam pelajaran mau mulai.”
“Waduh,” Dio menggaruk tengkuknya.
“Cepet banget. Ngerasa belum puas kalahnya.”
Azmi terkekeh kecil.
“Kalau gitu aku pamit dulu,” ujarnya.
“Mau langsung ke kelas.”
Mereka semua mengangguk.
Namun baru beberapa langkah Azmi menjauh—
“Tunggu, Azmi.”
Suara Gina menghentikannya.
Azmi berhenti dan menoleh.
“Ada apa?” tanyanya.
Gina melangkah setengah maju, nada suaranya terdengar santai, tapi matanya tidak sepenuhnya demikian.
“Nanti pulangnya kamu anterin aku ke rumah, kan?”
Kalimat itu jatuh begitu saja.
Siva dan Dio langsung saling melirik—jelas kepo, jelas menangkap ada sesuatu di situ.
Rahmalia tidak ikut bereaksi. Ia hanya diam, memperhatikan tanpa ekspresi yang jelas.
Azmi tidak ragu.
“Tentu,” jawabnya singkat.
Gina tersenyum puas.
“Oke. Kalau gitu aku tunggu di gerbang sekolah, ya.”
“Iya,” balas Azmi.
“Baik.”
Ia lalu melanjutkan langkahnya menuju kelas.
Begitu Azmi menjauh, Siva langsung menoleh ke Gina.
“Kamu mau semobil lagi sama dia?” tanyanya, nadanya sedikit kesal.
Gina terdiam sepersekian detik.
Ada rasa panik kecil—takut ketahuan.
Takut terlalu terlihat.
Ia segera memasang ekspresi santai.
“Iya dong,” katanya cepat.
“Dia yang pagi-pagi ngotot nganterin aku, jadi aku nggak bawa mobil sendiri.”
“Berarti dia harus tanggung jawab dong nganterin aku pulang juga.”
Siva mengangguk setuju.
“Bener. Emang harus bertanggung jawab dia,” katanya.
“Udah nyusahin kamu.”
Gina tersenyum kecil, lega.
“Yaudah,” ucap Rahmalia akhirnya.
“Kita masuk kelas aja. Keburu guru datang.”
Mereka pun mulai berjalan ke arah gedung kelas.
Namun saat Rahmalia melangkah, pandangannya sempat tertahan—
ke arah punggung Azmi yang sudah menjauh.
Dan entah kenapa, ada perasaan aneh yang menyelinap pelan di dadanya.
Bukan marah.
Tapi sesuatu yang membuatnya berpikir—
kenapa kalimat sederhana itu terdengar lebih berat dari seharusnya.
Dan Rahmalia tidak tahu,
bahwa sore nanti,
satu keputusan kecil di gerbang sekolah
akan mengubah dinamika mereka
lebih dari yang ia bayangkan.
kadang anak pertama itu memang didik lebih keras dari kecil, karena tanggung jawab anak pertama itu besar .
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat
cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔