NovelToon NovelToon
Hanya Wanita Pelarian

Hanya Wanita Pelarian

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Dijodohkan Orang Tua / Pernikahan rahasia / Selingkuh / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.

BLAMM!!

Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.

"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.

Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.

Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.

Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?

Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alasan

Handphone Aya bergetar, menyentak konsentrasinya yang masih menatap layar.

"Assalamu'alaikum bestie.. Kenape? "

"Wa'alaikumsalam..tega kamu ya.. sudah berapa kali aku ke sana kamu selalu pergi nggak ada kabar, " omel Karin dengan nada kesal.

"Maaf.. maaf..bukan bermaksud. Mendadak bestie, aku benar-benar nggak keburu kasih kabar."

"Ya ampun Aya, tinggal kirim chat kan bisa. Aku malu berapa kali zonk, tau!!"

"Nggak kepikiran say, namanya juga di panggil buru-buru gitu. Ya udah, buat tembus kesalahanku, kita nongki sore ini, gimana? aku traktir deh."

"Bener ya!! jam lima aku ke sana. Awas kamu ngilang lagi."

"Oke.. Oke bestie.. janji. Aku tunggu kamu. Ya sudah aku kelarin kerjaan terakhir ku dulu ya, Karin comel??! "

Aya mematikan telpon tanpa menunggu respon Karin. Ia tahu Karin paling tidak suka di panggil dengan sebutan itu. Panggilan yang disematkan ayahnya karena Karin anak perempuan satu-satunya.

Notifikasi pesan masuk kembali mengganggu konsentrasi Aya. Ia mengambil ponsel yang tergeletak di meja.

[Aya, aku tunggu di tempat biasa ya.]

^^^[ Bang, aku ijin nongki sama sahabatku Karin sore ini ya. Dia marah-marah, sudah dua hari dia ke ruangan, tapi nggak sempat ketemu Aku. ]^^^

[ Sampai jam berapa? ]

^^^[Jam delapan malam, boleh? ]^^^

[ Oke, Aku ketemu vendor aja kalau gitu sore ini, nanti aku share brosur digitalnya via chat. Kabari aja nanti kalau sudah mau pulang, biar sekalian aku jemput. Jangan lupa share loc.]

^^^[Oke, Bang. Mamaci🤗]^^^

Tak lama, Karin sudah berdiri di depan mejanya.

"Cepet banget ih, belum juga jam lima, " tegur Aya.

"Nanti, waktu absen pulang pasti sudah jam lima. Hehehe....Buruan ah biar puas kita nongkinya."

Aya cemberut, akhirnya mematikan komputer.

Aya dan Karin berpamitan dengan rekan yang lain, lalu berjalan keluar ruangan menuju lift.

Karin menceritakan kejadian di ruangan pemasaran semenjak di tinggal Rama pergi.

Aya hanya menyimak sambil sesekali ikut tersenyum.

"Segitu banget ya kehilangan. Memang sih tadi sepanjang rapat di sini, pak Rama banyak ngejokes. Ku pikir dia bakal dingin banget kayak pewaris di drama."

"Iya, makanya ruangan ku sekarang terasa hampa, kembali lagi kayak kuburan. Sepiiii banget."

"Mau pulang? " Suara laki-laki menyapa mereka di belakang.

"Eh, pak Rama. Iya, Pak. Ontime kali ini, hehehe. Betewe kapan Pak perpisahan di pemasaran? kita pada tunggu kabar loh? "

"Oh iya, saya sudah janji ya. Besok sore aja gimana? Nanti kabarin ke yang lain. "

"Boleh-boleh, nanti saya info di grup pemasaran. Pak Rama buru-buru banget sih keluar grup? kayak ada yang dikejar aja di departemen umum."

"Memang ada," sahut Rama lalu melirik Aya.

Aya memalingkan wajahnya, khawatir ekspresi salah tingkahnya terbaca.

Karin terpaku beberapa detik.

"Maksudnya, Pak? "

"Nggak kok, cuma bercanda, " sahut Rama lagi.

"Oooh aku pikir bener, Pak. Kan nggak boleh atuh punya hubungan satu kantor."

"Hubungan satu orang aja nggak boleh, apa lagi satu kantor. Playboy dong, " ujar Aya sarkas.

Karin dan Rama tiba-tiba menatap Aya, mencoba mencerna komentarnya. Padahal sejak Rama menghampiri mereka, Aya hanya diam saja.

TING

Pintu lift terbuka Aya menarik tangan Karin yang akhirnya tersadar. Rama pun menyusul masuk ke lift.

"Cahaya lagi sindir Saya? " tanya Rama tiba-tiba menghalau keheningan sesaat tadi.

"Oh, Pak Rama tersindir? Maaf kalau begitu, " sahut Aya cuek.

Karin menyenggol lengan Aya menyuruhnya bersikap baik.

"Nggak tersindir kok, cuma tiba-tiba merasa Cahaya kesal sama Saya. Apa karena tadi saya tanya soal private di ruang rapat? "

"Nggak kesal, biasa aja. Saya maklum kalau ada yang tanya soal private. Saya memang banyak penggemarnya. Mungkin pak Rama penggemar rahasia Saya."

Rama terkekeh, "Bisa aja, Cahaya."

"Maaf ya, Pak Rama. Tumben ini Aya jutek, biasanya nggak gini. Pre mens kali."

"Nggak apa-apa Karin. Saya nggak masukin dalam hati, kok."

TING

Pintu lift terbuka, Aya buru-buru keluar menarik lengan Karin.

"Duluan, Pak Rama, " pamit Karin setengah teriak karena Aya tak memberikannya kesempatan pamit baik-baik.

Rama hanya mengangguk dan tersenyum. Ia menggelengkan kepala tak menyangka secepat itu perubahan mood Aya. Padahal, beberapa menit lalu Aya masih membalas pesannya dengan sikap manis.

Rama keluar lift berjalan menuju parkiran mobil melalui pintu samping.

"Kamu aneh loh, Ya. Tiba-tiba jutek gitu sama pak Rama. Emang tanya apa sih waktu rapat tadi? "

"Tanya umur sama status, " sahut Aya santai.

"Cuma nanya gitu aja kok kesel?" tanya Karin bingung.

"Nggak kesel Karin, cuma itu tadi bisa-bisanya ngomong ada yang dikejar di departemen umum, lebay banget deh."

"Dih, kamunya yang sensi kali. Kan pak Rama tadi bilang becanda. Lagian, perasaan tadi kamu biasa aja deh malah muji nggak nyangka dikira dia bakal dingin. Kenapa tiba-tiba gitu? aneh."

"Udah ah, belain mulu."

"Di mana motormu?" tanya Karin sambil mengambil helmnya yang tergantung di spion motor.

"Aku nggak bawa motor, ikut ya."

Aya duduk santai di jok belakang motor Karin.

"Nggak bawa helm juga? "

Aya menggeleng, " Tadi aku naik taksi ke kantor, " jawab Aya sekenanya.

"Ke kafe deket sini aja yang nggak kelihatan polisi. Kuy Gas." Karin memutar gas meninggalkan ruang parkir.

***

Rama sampai di kantor Vendor setelah mendapat terusan info dari Ricky teman SMA nya yang kebetulan baru saja melangsungkan pernikahan.

"Selamat Sore, Pak. Ada yang bisa Saya bantu? " tanya pegawai di balik meja resepsionis.

"Saya mau lihat penawaran paket untuk acara pernikahan."

"Oh baik, Pak. Mari ikut saya ke dalam. "

Rama mengiringi pegawai itu ke dalam. Rama mengedarkan pandangannya menelusuri ruangan yang di design sangat unik dan mewah.

Vendor ini memang langganan pejabat, pengusaha dan orang kaya lainnya di luar sana.

"Silakan ditunggu, Pak. Saya panggilkan manajer marketing. "

Rama mengangguk lalu duduk dengan patuh.

Ia melihat beberapa katalog di meja, membukanya halaman demi halaman.

"Selamat Sore, Pak, " sapa wanita paruh baya di hadapannya.

"Oh, Selamat Sore, Bu. "

Rama berdiri dan menyambut uluran tangannya untuk berjabat.

"Silahkan duduk, Pak. Ada yang bisa saya bantu."

"Oh iya, Saya mau melangsungkan acara pernikahan tiga minggu lagi. Apa memungkinkan? "

" Tiga minggu lagi ya, Coba saya lihat jadwal kami. Tepatnya di tanggal berapa, Pak? "

"Rencananya tanggal 20 Maret, tepat hari Sabtu."

"Kebetulan kami kosong, Pak. Rencananya untuk paket bagaimana? "

"Kalau ada yang paket lengkap lebih baik. "

"Baik, Pak. Ini yang paket lengkap, tema indoor atau out door untuk dekorasi, ini pilihan menu tradisional atau Western, " jelas wanita itu memperlihatkan layar laptopnya.

Rama mengangguk mengerti.

"Tolong teruskan E-Katalognya ke nomer whatsapp saya ya. Saya bahas dengan istri saya."

"Baik, Pak. Maaf, berarti sudah tidak perlu keperluan untuk akad nikah, Pak?"

"Ah, iya benar. Saya sudah menikah dua minggu yang lalu, jadi tinggal resepsi."

Wanita itu mengangguk sambil tersenyum.

***

"Kamu yakin nggak ada yang mau diceritain, Ya? Kamu agak laen sejak kedatangan tamu waktu itu."

Aya tertegun, "Nggak ada yang perlu dibicarakan, bestie. Perasaan mu aja itu. Kan aku sudah cerita siapa yang lagi dirawat. Tamu yang kamu maksud juga cuma teman lama Aba, karena lama nggak ketemu."

Karin mengangguk, sambil menghabiskan makan malam di hadapannya.

Suara notifikasi pesan masuk ke ponsel Aya. Ia sekilas melirik, lalu menunda membukanya.

"Kenapa nggak dibaca?" tanya Karin heran

"Oh, nanti aja. Nggak penting banget kok. Aku ke toilet dulu, ya. "

Aya bergegas beranjak meninggalkan Karin yang asik makan sambil membuka ponselnya.

Tak lama, ponsel Aya berdering nyaring. Karin tersentak, lalu buru-buru mengambil handphone Aya dan mendekapnya. Suara dering itu mengejutkan pengunjung kafe yang lain.

Karin buru-buru menekan tombol volume bawah agar suaranya mengecil, tapi matanya seketika membelalak melihat nama yang tertulis di layar.

'PakSu Rama'

1
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Retno Harningsih
up
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: masih review ya kak🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
up
Cahaya Tulip: masih direview sistem kak.. ditunggu ya🥰🙏
total 1 replies
Retno Harningsih
lanjut
Cahaya Tulip: siap kak.. on progress🙏😁
total 1 replies
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
waalaikumsalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!