NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Gadis Polos

Transmigrasi Si Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lyly little

Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.

Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17 **Ulangan dadakan demi hp baru**

"Iya, Sayang. Bunda beneran digigit nyamuk," ucap Zeline lembut, mencoba memasang wajah paling meyakinkan agar kebohongan putih itu sukses besar.

Ila akhirnya menganggukkan kepalanya dengan gaya yang sangat lucu, seolah ia baru saja menerima sebuah laporan intelijen yang sangat rahasia.

"Tapi Ila tetap marah sama Ayah! Soalnya Ayah udah makan bibir Bunda, walaupun gak sempat habis karena Ila keburu datang dan selamatin bibir Bunda," cerocosnya dengan nada bangga, merasa dirinya adalah pahlawan yang berhasil menggagalkan aksi "kanibalisme" sang Ayah.

Lagi dan lagi, seisi ruangan dibuat gemas setengah mati. Bryan mengusap wajahnya, antara ingin tertawa dan malu karena sisa bibir istrinya disebut "gak sempat habis".

"Ila mau apa? Ayah beliin semua yang Ila mau, apa pun itu, yang penting Ila maafin Ayah, ya?" bujuk Bryan mulai mengeluarkan jurus sogokan maut.

Ila tampak langsung tergiur. Matanya yang bulat berbinar terang mendengar tawaran tak terbatas dari sang Ayah. Ia mengetuk-ngetukkan jari mungilnya di dagu, bergaya seperti CEO yang sedang menimbang-nimbang kontrak kerja sama bernilai triliunan.

"Apapun?" tanya Ila memastikan dengan nada menantang. Bryan mengangguk antusias, merasa di atas angin.

Di sisi lain, Elzion sudah mulai was-was. Ia takut adik kecilnya itu meminta yang aneh-aneh.

"Mmm... Ila mau HP!" ucap Ila dengan suara lantang dan wajah penuh kemenangan.

Zeline yang mendengar permintaan itu langsung menggeleng kuat. "Tidak. Ila gak boleh punya HP. Ila masih kecil," tegasnya.

Ila seketika cemberut, bibirnya maju beberapa senti. "Tapi Abang punya HP! Abang El punya, Abang Alzian juga punya!" protesnya tidak terima.

"Abang udah besar, Sayang. Ila kan masih kecil," jelas Zeline penuh kesabaran.

"Ila besar, Bundaaaa!" sahut Ila dengan nada tinggi yang menggemaskan.

"Masih kecil, Sayang."

"Liat Bunda, Ila besar dan tinggi!"

Ila kemudian berusaha berdiri tegak di depan bundanya. Ia berjinjit setinggi mungkin dengan kaki kecilnya dan menggembungkan pipi chubby-nya agar wajahnya terlihat "lebar dan besar". Ia sungguh-sungguh ingin meyakinkan semua orang bahwa ia sudah cukup dewasa untuk memiliki sebuah smartphone.

Zeline, Bryan, Alzian, dan Elzion yang melihat pemandangan itu meledak dalam tawa gemas. Sungguh, si bungsu keluarga Weylin ini adalah sumber hiburan nomor satu bagi mereka.

Meskipun keluarga Weylin adalah keluarga terpandang yang sangat kaya, rumah mereka terasa sangat hangat dan "hidup". Hal ini karena Zeline sendiri yang meminta agar tidak ada asisten rumah tangga (ART). Ia ingin mengurus suami dan anak-anaknya dengan tangannya sendiri. Satu-satunya pekerja yang mereka miliki hanyalah seorang pria paruh baya yang bertugas sebagai satpam di pos depan untuk menjaga keamanan.

"Kalau berjinjit gitu malah makin kelihatan kecil, dek," goda Alzian sambil mencubit gemas pipi adiknya yang masih menggembung itu.

"Tetap kecil, Sayang. Masih terlalu mungil untuk pegang HP," ujar Zeline sambil mencubit gemas dagu putrinya yang masih berusaha berjinjit itu.

Ila langsung melipat tangannya di dada, bibirnya semakin maju. "Tapi Ila mau punya HP!" tuntutnya dengan nada merajuk yang kental.

Zeline menghela napas, ia merasa kasihan juga melihat keinginan tuan putrinya. Ia pun memutar otak untuk memberikan tantangan yang mendidik. "Gini deh, kalau nanti Ila ada ulangan harian terus nilai Ila tinggi, Bunda sendiri yang akan belikan Ila HP. Gimana? Setuju?" tawar Zeline.

Wajah Ila yang tadinya mendung seketika berubah cerah benderang. Matanya berbinar penuh semangat. "Oke! Ila akan buktiin ke Bunda kalau Ila bisa dapatin nilai tinggi, gak seperti Abang El!" ucapnya dengan suara lantang dan penuh kemenangan.

Seketika, suasana di ruang tamu mendadak hening. Elzion yang sedang duduk santai langsung melotot kaget. Jantungnya serasa mau copot. Pasalnya, Zeline memang belum tahu kalau nilai ulangannya kemarin sangat hancur.

'Hedeh bocil... tamat riwayat gue,' batin Elzion meratapi kepolosan adiknya yang baru saja melemparkannya ke dalam "kandang singa".

Alis Zeline terangkat tinggi, matanya yang tajam langsung beralih fokus. "Nilai Abang El kecil?" tanya Zeline dengan nada rendah yang mengintimidasi.

Ila mengangguk polos tanpa dosa. "Iya Bunda, kecil banget!"

"Elzion..." panggil Zeline pelan namun tajam, menatap sengit ke arah putra keduanya itu.

Elzion meneguk ludah dengan susah payah. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya saat melihat tatapan "maut" sang ibu. Baginya, amarah seorang ibu jauh lebih berbahaya daripada ancaman psikopat mana pun. Jika disuruh memilih antara berhadapan dengan penjahat kelas kakap atau Zeline yang sedang marah, Elzion mungkin akan memilih lari ke hutan—tapi sayangnya, dia sudah terkunci di ruang tamu sekarang.

"I-iya, Bun?" sahut Elzion terbata-bata, nyalinya menciut seketika.

Ila yang melihat perubahan ekspresi kakaknya malah menatap bingung. "Abang kenapa?" tanya Ila polos. Belum pernah ia melihat abangnya yang biasanya petakilan itu mendadak jadi segugup ini.

'Ni bocil pake nanya kenapa? Ini semua gara-gara lo, Cil! Arghhh!' Elzion ingin sekali berteriak di depan wajah Ila, tapi ia tahu ada Bryan dan Alzian yang siap menerjangnya jika ia menyentuh seujung kuku Ila. Alhasil, ia hanya bisa berteriak frustrasi di dalam batinnya.

"M-mau buang air besar, Cil!" alibi Elzion asal sebut demi menghindari interogasi lebih lanjut dari ibundanya.

Ila manggut-manggut mengerti, lalu menatap Zeline dengan serius. "Bunda mau bicara sama Abang El ya?" tanya Ila yang diangguki singkat oleh Zeline yang masih menahan geram.

"Nanti aja Bunda bicaranya, kasian Abang mau buang air besar. Kalau Bunda ajak Abang El bicara sekarang, nanti eek-nya keluar di sini gimana? Bau nanti rumah kita," lanjut Ila dengan tampang paling polos sedunia, seolah ia sedang mengkhawatirkan higienitas rumah mereka.

Mendengar itu, Bryan dan Alzian langsung menutup mulut menahan tawa, sementara wajah Elzion sudah tidak tahu lagi harus ditaruh di mana. Dia baru saja dihina secara tidak langsung oleh adiknya sendiri di depan seluruh anggota keluarga.

Bryan, Zeline, dan Alzian serentak terkekeh mendengar kekhawatiran Ila tentang "bau rumah" akibat alibi konyol Elzion. Sementara itu, Elzion hanya bisa mengumpat habis-habisan di dalam hati, merutuki nasibnya yang dijadikan bahan lelucon oleh adik bungsunya sendiri.

"Iya Sayang, nanti aja Bunda bicara sama Abangnya kalau urusannya sudah selesai," ucap Zeline sambil menahan senyum penuh arti ke arah Elzion.

Ila tersenyum puas, merasa sudah memberikan saran yang sangat bijak. "Bang, cepat ke toilet!" titah Ila dengan nada memerintah yang imut.

Tanpa menunggu komando kedua, Elzion segera beranjak dari sofa dan melesat pergi secepat kilat menuju kamar mandi. 'Gak apa-apa deh dianggap mau eek sembarangan, yang penting gue selamat dari amukan Macan untuk sementara!' batin Elzion merasa lega luar biasa karena merasa mendapatkan "kartu bebas" sesaat.

Bryan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kepolosan putrinya yang sudah mulai di luar batas normal, namun tetap terasa sangat menggemaskan dan menghibur.

"Memangnya nilai Abang El berapa, Sayang?" tanya Zeline penasaran, mencoba menggali informasi lebih dalam selagi Elzion tidak ada.

"Kecil... hihihi," Ila kembali terkikik geli saat mengingat angka yang tertera di kertas ulangan abangnya itu.

Sebenarnya, Ila tidak bermaksud sombong. Di balik tubuh mungilnya ini, ia memiliki ingatan dan kecerdasan dari kehidupan sebelumnya. Dulu, setiap kali guru homeschooling-nya memberikan tugas seberat apa pun, ia selalu melahapnya dengan mudah dan mendapat nilai sempurna meski memang terbilang tidak terlalu memperhatikan setiap pembelajaran tetapi karena memang otaknya yang pintar Ila memang selalu dapat nilai tinggi. Meski sekarang ia terjebak dalam tubuh Aqila, otak Ila tetaplah jenius.

Alzian yang gemas melihat adiknya tertawa misterius langsung mengacak rambut Ila pelan. "Berapa memangnya nilainya? Sebutin dong angkanya," pancing Alzian agar Ila memberikan nominal yang pasti.

"Tiga puluh! Hihihi..." sahut Ila jujur sambil menutup mulutnya dengan tangan mungilnya.

Zeline tidak jadi marah. Ia justru terkekeh melihat cara Ila menertawakan kemalangan abangnya. Jika Alzian yang melapor bahwa nilai Elzion hanya 30, mungkin Zeline sudah akan memberikan ceramah panjang lebar atau hukuman fisik ringan. Tapi karena yang melaporkan adalah si kecil Ila dengan gaya yang lucu, rasa marah itu menguap begitu saja. Elzion benar-benar harus berterima kasih pada adiknya karena telah menyelamatkan nyawanya secara tidak langsung.

"Ila harus rajin belajar ya, agar nilainya gak kecil seperti Abang," nasihat Zeline lembut sambil merapikan poni Ila.

"Ila rajin kok! Ila akan bawa nilai besar besok!" ucap Ila dengan penuh percaya diri dan semangat yang membara. "Bunda dan Ayah harus janji ya, beliin Ila HP kalau nilai Ila besar nanti!"

Bryan segera mendekat ke arah putri kecilnya, hatinya luluh melihat semangat juang Ila. "Jika nilai Ila benar-benar besar dan membanggakan, Ayah janji akan bawa Ila langsung ke toko ponsel paling besar untuk pilih sendiri. Gimana?" tantang Bryan.

"Yeayyy! Sayang Ayah banyak-banyak!" girang Ila. Ia langsung menghambur dan memeluk leher ayahnya dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di dada Bryan.

Zeline dan Alzian yang menyaksikan momen itu hanya bisa tersenyum tulus. Rumah mewah itu kini terasa jauh lebih hangat hanya karena kehadiran dan celotehan polos seorang Ila.

...****************...

Senin pagi adalah waktu yang paling dihindari oleh hampir semua orang. Bagi para pelajar, Senin berarti harus menghadapi upacara bendera yang membosankan di bawah terik matahari, mendengarkan pidato panjang lebar, dan yang paling parah: bertemu dengan pelajaran Matematika.

"Huh, lelahnya... Habis ini Matematika lagi, bisa pecah kepala gue. Habis panas-panasan di luar, sekarang harus panas-panasan di dalam otak lagi," gerutu Susi dengan wajah ditekuk.

Saat ini mereka sudah berada di dalam kelas setelah upacara selesai. Ila sebenarnya tidak terlalu merasa kepanasan tadi. Karena tubuhnya yang mungil, ia otomatis terlindungi oleh bayangan kakak-kakak kelasnya yang tinggi. Ditambah lagi, murid-murid kelas X sengaja mengerumuni si bocil kesayangan mereka agar kulit halusnya tidak tersengat matahari.

"Susi kenapa?" tanya Ila sambil memiringkan kepalanya bingung.

"Kepanasan gue, Cil," sahut Susi singkat. Ila hanya ber-oh ria, tidak menyadari penderitaan sahabatnya itu.

Tak lama kemudian, seorang guru pria masuk ke kelas XI IPA 2. "Selamat pagi, anak-anak," sapa sang guru matematika dengan nada tegas.

"Pagi, Pak..." jawab murid-murid dengan nada lemas dan tidak bersemangat. Hanya Ila yang tampak berbinar-binar. Ia bahkan sampai bertepuk tangan kecil saat guru itu meletakkan buku di meja.

"Susi, Pak Guru sudah datang! Yeayyyy!" seru Ila penuh semangat.

Semua murid di kelas menatap Ila dengan tatapan heran. Biasanya si bocil memang ceria, tapi semangatnya kali ini terasa sangat tidak biasa—bahkan cenderung mencurigakan.

"Baik, sekarang kita lanjutkan materi kemarin tentang Aljabar," ucap Pak Guru sambil membuka buku paket. Seluruh murid pun mengikuti dengan gerakan malas-malasan.

"Pak!" Ila tiba-tiba mengangkat tangan tinggi-tinggi sebelum penjelasan dimulai.

"Iya, ada apa Ila?" tanya sang guru lembut.

"Kita jangan belajar dulu, Pak," ucap Ila yang seketika membuat seisi kelas bersorak dalam hati. Mereka pikir sang pahlawan kecil akan menyelamatkan mereka dari materi yang rumit.

Pak Guru mengernyit bingung. "Lho, kenapa?"

"Kita ulangan harian aja, Pak!" seru Ila lantang dengan wajah tanpa dosa.

Seketika, suasana kelas yang tadinya sunyi berubah menjadi horor. Murid-murid kelas XI itu antara ingin geram tapi juga gemas melihat tingkah bocil mereka yang satu ini.

Pak Guru tersenyum sumringah. "Baiklah, kalau itu yang kalian mau. Bapak juga sudah menyiapkan soalnya."

"Astaga, Cil! Kenapa ulangan sih?!"

"Aduhhh, si bocil bener-bener ya..."

"Bocilll, aaa! Gue belum belajar!"

Kelas pun menjadi heboh dan gaduh karena usul mendadak Ila disetujui. Sementara itu, sang penyebab keributan hanya tersenyum bahagia. Ia membayangkan sebuah ponsel baru sudah ada di depan matanya.

Susi menyumpah serapahi Ila dalam hatinya. 'Kalau bukan karena lo adeknya si kembar ganteng sekaligus teman gue, udah gue sleding lo, Cil!' gerutu Susi dalam hati.

Pak Guru mulai membagikan lembar soal. Ini benar-benar ulangan dadakan yang mematikan bagi banyak orang. Namun, bagi Ila, ini adalah makanan sehari-hari. Ila dengan sangat lincah menggoreskan pensilnya, menjawab soal-soal Aljabar yang ternyata adalah salah satu materi favoritnya. Ia harus dapat nilai tinggi demi janji Ayah Bryan!

Di sisi lain, murid-murid kelas X yang lain rasanya ingin jungkir balik. Ada yang memijat pelipis, ada yang menatap langit-langit mencari jawaban, dan ada yang pusing tujuh keliling.

"Hahhh... BOCILLLL!" keluh mereka serempak saat melihat Ila sudah hampir selesai dengan santainya.

Ila hanya memberikan senyum termanisnya tanpa merasa bersalah sedikit pun. Sang guru pun hanya bisa tertawa kecil melihat betapa berbedanya aura si jenius kecil ini dibandingkan dengan murid-muridnya yang lain yang tampak hampir menyerah.

1
Marsya
lupa namanya,tapi itu ketua dari abg2 ila klau gx slah,ampun dech bisa2nya lupa namanya🤣🤣🤣🤣
Little Girl ୭ৎ 。⁠*⁠♡.
maaf KA aku salah nulis tokoh harusnya Zeline bukan Radella.
Dewiendahsetiowati
Radella ini siapa Thor?
Dewiendahsetiowati
dapat ganti keluarga yang menyayangi
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!