Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Melarikan diri dari rumah sakit
Zach terkejut mendengar perbincangan itu. Ternyata Dokter Ryan dan Dokter Haris akrab.
"Bagaimana keadaan pasien yang diisolasi itu. Apa masih sering berulah." tanya Dokter Haris setengah berbisik.
"Masih. Dosis obat bius masih diberikan secara berkala. Ada yang aneh, sebenarnya apa yang terjadi dengan anak-anak itu. Kenapa pemerintah tidak mengungkap kasus ini. Apakah mereka ada hubungannya dengan wabah yang mulai melanda kota ini?"
"Ssttt ...! Hati-hati bicara jangan sampai ada yang dengar. Kamu tau, Dokter Faisal sudah dimutasi ke tempat lain. Beliau tidak sedang cuti. Jangan sampai kamu juga kena depak dari rumah sakit ini." Haris memperingatkan.
"Padahal aku sudah buat laporan. Harusnya pemerintah memberi peringatan. Atau menurunkan tim dari pusat untuk meneliti kasus ini." seru Dokter Ryan putus asa.
"Coba kamu periksa sampel darah ini. Bandingkan dengan ini. Darah ketiga remaja itu hampir sama. Tetapi yang ini berbeda. Padahal mereka sama-sama ikut menjadi korban dalam kebakaran itu." Dokter Haris menyerahkan berkas dan sampel darah milik Carol.
"Ini milik siapa?" Dokter Ryan mengamati serius sampel darah itu lewat mikroskop.
"Pasien yang baru masuk malam ini. Katanya perutnya sakit. Tubuhnya lemah saat baru masuk. Setelah sepuluh menit, aku memeriksanya kembali. Keadaannya langsung membaik. Seolah sel tubuhnya mengobati sendiri dari dalam. Aku berikan obat yang sama seperti kepada ketiga remaja itu. Tapi reaksinya sangat jauh berbeda."
"Aku juga sudah angkat tangan. Semua uji coba saya memberikan obat sama sekali tidak berpengaruh. Aku khawatir, keadaan mereka semakin memburuk dan malah menyebarkan bakteri mematikan itu, atau ...." Dokter Ryan tidak melanjutkan ucapannya. Kengerian jelas terpahat di wajah itu.
"Atau apa Ryan?"
"Mengubah mereka menjadi mesin pembunuh!" Dokter Haris terlonjak kaget. Begitu juga Zach yang menguping di luar. "Aku cuma bercanda." kekeh Dokter Ryan akhirnya.
"Astaga, Dokter! Ini bukan waktunya untuk bercanda. Kamu lihat, pasien terus bertambah. Padahal ini masih hari ke lima sejak kebakaran itu." Dokter Haris mengusap wajahnya. Wajah yang tampak begitu lelah karena setiap malam begadang terus.
"Tapi aku tidak bercanda tentang, kalau mereka akan menjadi mesin pembunuh.
Aku punya firasat, kawan. Dan firasat itu jarang melenceng."
Zach diam mematung di balik pintu. Mencoba mencerna maksud pembicaraan itu. Apakah mereka yang terjebak dalam kebakaran itu. Akan berubah jadi monster? Bukankah hanya mereka berlima yang selamat dalam kebakaran itu?
Apakah mereka akan bernasib sama seperti ketiga teman mereka? Dipasung di rumah sakit dan dijadikan bahan percobaan? Zach bergidik ngeri. Atau kalau benar ucapan dokter itu. Bahwa mereka akan berubah jadi monster bagaimana dengan keluarga mereka nanti. Tidakkah mereka dalam bahaya?
Tubuh Zach oleng. Tanpa sengaja menabrak tong sampah dekat pintu. Dokter Ryan dan Dokter Haris terkejut tak kepalang.
"Siapa itu?" teriak Dokter Haris. Secepat bayangan karena panik, Zach melarikan diri.
"Tidak ada siapa-siapa?" gumannya dan melihat tong sampah yang terbalik. Lalu membetulkan letak tong sampah itu.
"Siapa, Ris?" Dokter Haris menggeleng. Kemudian duduk kembali.
"Tidak ada siapa-siapa. Mungkin kucing." Lalu melanjutkan pembahasan mereka yang terjeda. "Kelima ànak yang menjadi korban kebakaran itu, hanya satu orang yang tidak menunjukkan gejala apa-apa. Tapi aku justru curiga kalau dia itu malah lebih unggul dari keempat yang lain."
Dokter Ryan sedikit bingung, "Aku kurang paham apa maksudnya. Apakah ada yang selamat dan tidak terpengaruh apa-apa?"
"Tepatnya, Pak Edward itu mungkin sudah menjadikan murid-muridnya bahan percobaan sebelum kejadian itu terjadi. Aneh kan? Dari ke 28 siswa itu cuma 5 orang yang selamat. Guru dan murid lainnya tewas mengenaskan. Tiga orang sekarat terpapar zat kimia. Satu orang memiliki darah yang aneh. Dan satu lagi sama sekali tidak atau belum bereaksi sama sekali."
"Dimana anak itu sekarang?"
"Dia berada di rumah sakit ini. Menjaga sahabatnya yang tengah sakit. Kenapa?" Dokter Haris heran melihat reaksi rekannya.
"Kita harus amankan anak itu sekarang. Mengambil sampel darahnya dan memeriksa DNAnya. Mungkin dari darah mereka bisa dijadikan vaksin."
"Aku sudah menitipkan pesan pada temannya untuk menemuiku. Aku jadi curiga, jangan-jangan dia tahu sesuatu. Dia menanyakan banyak hal tentang temannya itu. Sebentar, aku periksa dulu."
"Aku ikut." kedua dokter muda itu bergegas keluar dari ruangan. Tapi mereka telah terlambat. Ranjang tempat Carol tadi berbaring sudah kosong.
"Suster, pasien yang disini kemana? Apa sudah dipindahkan ke ruang rawat?"
"Mereka pamit ke toilet, Dokter, lima menit yang lalu."
Dokter Haris menghela nafas lega. "Kita tunggu saja mereka. Jangan membuat mereka curiga."
Dokter Ryan mengangguk setuju. Dia berpura-pura memeriksa cacatan Carol. Tapi lima menit berlalu, Zach dan Carol belum muncul juga. Dokter Ryan tidak sabar lagi menunggu.
"Kita susul saja. Jangan sampai mereka kabur." Tanpa menunggu jawaban rekannya, Dokter Ryan menuju toilet di ruang IGD. Tapi seketika keduanya panik karena tidak ada siapa-siapa disana.
"Mereka kabur? Apa mereka curiga? Jangan-jangan mereka dengar pembicaraan kita. Sialan!" umpat Dokter Ryan seraya mengusap kasar wajahnya.
"Itu artinya mereka tau sesuatu. Aku akan telepon keluarganya siapa tau mereka pulang ke sana." Dokter Haris meraih ponselnya.
"Percuma saja. Jika mereka sudah mengetahui sesuatu, aku yakin saat ini mereka sedang ketakutan dan panik. Tidak seharusnya mereka melarikan diri. Mungkin saja sesuatu sudah terjadi kepada mereka."
Sementara di dalam sebuah taxi. Zach dan Carol menuju luar kota. Keduanya tampak cemas. Terutama Carol.
"Kita mau kemana, Zach? Ini kan bukan jalan menuju rumah kita?"
"Kita mencari tempat yang aman buat sementara, Carol. Kita bersembunyi di villa keluargaku saja dulu. Kita akan aman disana." Zach berusaha menenangkan Carol. Walaupun dia sendiri tengah panik. Apa yang didengarkannya tadi di ruang Dokter Haris membuatnya shock. Sehingga memutuskan mengajak pulang Carol. Sekalipun Carol protes dan kebingungan.
Flash back
"Carol, kira harus pulang sekarang juga!" Zach melepas selang infus dari lengan Carol.
"Kenapa Zach?" seru Carol melihat zach yang panik.
"Nanti saja aku cerita. Ayo cepat! Kita tidak punya banyak waktu."
"Tapi bagaimana caranya. Mereka akan curiga." menunjuk kepada perawat jaga.
"Bilang saja kamu mau ke toilet. Cepatlah, Carol." Zach berkali-kali melihat ke arah ruangan Dokter Haris.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi, Zach. Kenapa kamu tadi panik dan nekad membawaku keluar dari rumah sakit. Ini sudah dini hari." ucapan Carol menyentakkan ingatan Zach saat melarikan diri dari rumah sakit.
"Sebentar lagi kita sampai. Tidak aman cerita disini." bisik Zach lirih. Carol akhirnya diam tidak mendesak lagi. Dipeluknya dirinya sendiri. Udara dingin membuat tubuhnya menggigil.
"Kamu kedinginan ya?" Zach membuka jaketnya. Menyampirkannya ke tubuh Carol.***
"Carol,