"Aku tidak membelimu untuk dicintai. Aku membelimu untuk menghancurkan ayahmu."
Aria Vane hanyalah tumbal. Dijual oleh ayahnya sendiri untuk melunasi utang darah kepada Dante Moretti, pria paling kejam yang pernah memimpin sindikat Milan.
Dante tidak butuh istri. Dia butuh senjata.
Aria tidak butuh perlindungan. Dia butuh balas dendam.
Di atas ranjang yang sama, mereka saling mengincar nyawa. Namun, saat rahasia masa lalu mulai terkuak, Aria menyadari bahwa sang Iblis yang menikahinya adalah satu-satunya peluru yang ia miliki untuk bertahan hidup.
Satu pernikahan. Dua pengkhianatan. Ribuan peluru yang mengintai.
Di dunia Moretti, hanya ada satu aturan: Jangan jatuh cinta, atau kau akan menjadi orang pertama yang mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Coldmaniac, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Cahaya di Ujung Belati
AROMA antiseptik yang tajam dan bunyi ritmis dari monitor detak jantung menjadi satu-satunya melodi yang menemani kesadaran Aria saat ia perlahan membuka mata. Cahaya lampu neon di atasnya terasa seperti tusukan jarum di matanya, memaksanya untuk mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya ia bisa melihat sosok pria yang duduk di samping tempat tidurnya.
Dante.
Pria itu tampak hancur, namun tetap terlihat seperti gunung karang yang tak tergoyahkan. Bahunya dibalut perban putih yang kini sedikit merembeskan noda merah, dan wajahnya dipenuhi luka gores yang baru saja dibersihkan. Namun, yang paling menarik perhatian Aria adalah mata abu-abu itu—mata yang biasanya menyimpan badai es, kini tampak sangat letih namun dipenuhi oleh api determinasi yang baru.
"Kau bangun," bisik Dante, suaranya parau dan dalam. Ia menggenggam tangan Aria, mencium buku jarinya dengan kelembutan yang menyakitkan.
"Bayi kita..." suara Aria hampir tak terdengar, tenggorokannya terasa kering seperti gurun pasir.
"Dia selamat, Aria. Dia adalah pejuang, persis sepertimu," Dante meletakkan tangan Aria kembali ke perutnya. "Agostino bilang kau butuh istirahat total. Tapi kita tidak punya banyak waktu."
Aria mencoba duduk, rasa sakit di perutnya masih terasa seperti denyutan samar, namun rasa cemasnya jauh lebih kuat. "Marco memberitahuku tentang pesan Valerio. Dia akan mengekspos kita?"
Dante mengangguk, rahangnya mengeras. "Dia tidak ingin hanya membunuh kita, Aria. Dia ingin menghapus martabat Moretti. Dia ingin menjadikanmu sebagai skandal nasional—istri buronan internasional yang hamil hasil hubungan gelap. Dia ingin polisi Italia, Interpol, dan rakyat biasa memburu kita hingga kita tidak punya tempat lagi untuk bernapas."
"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Aria, matanya mencari kepastian. "Kita tidak bisa lari lagi dengan kondisiku seperti ini."
Dante menarik napas panjang, lalu ia menatap langsung ke dalam mata Aria—sebuah tatapan yang membuat jantung Aria seolah berhenti berdetak. "Aku akan pergi ke Roma. Aku akan melakukan wawancara langsung dengan jurnalis investigasi paling berpengaruh di negara ini. Aku akan membuka semuanya, Aria. Semua tentang The Circle, tentang Valerio, tentang keterlibatan para politisi dalam Project Phoenix... dan tentang semua dosaku."
Aria terperangah. Ia menarik tangannya dari genggaman Dante. "Kau gila?! Itu bunuh diri, Dante! Begitu kau mengakui itu di depan kamera, kau akan langsung ditahan. Kau akan menghabiskan sisa hidupmu di penjara, atau lebih buruk, mereka akan membunuhmu sebelum kau sempat keluar dari gedung stasiun TV!"
"Aku tahu," sahut Dante dengan tenang—ketenangan yang justru membuat Aria ketakutan. "Tapi itu adalah satu-satunya cara untuk memberimu dan anak kita 'Kekebalan Saksi'. Jika aku menyerahkan diriku dan semua data Phoenix sebagai bukti kunci, aku bisa menegosiasikan perlindungan saksi penuh untukmu. Kau akan mendapatkan identitas baru yang legal, perlindungan dari kepolisian federal, dan aset-aset kita yang sudah dicuci bersih akan menjadi milikmu sepenuhnya. Kau akan bebas, Aria. Benar-benar bebas."
"Bebas tanpa kau?" air mata Aria mulai mengalir, membasahi pipinya yang pucat. "Aku tidak melakukan semua ini, aku tidak membunuh di Sisilia, aku tidak lari ke Roma hanya untuk melihatmu membusuk di sel besi! Kita adalah tim, Dante! Kita berjanji untuk jatuh bersama!"
Dante berdiri, ia berjalan menuju jendela, menatap fajar yang kini telah sepenuhnya menyinari kota Ragusa. "Dulu aku berpikir jatuh bersama adalah hal yang romantis, Aria. Tapi sekarang, ada nyawa lain di dalam dirimu. Aku bisa hidup dengan kenyataan bahwa aku berada di balik jeruji besi, asalkan aku tahu anakku tumbuh melihat sinar matahari tanpa harus menyembunyikan nama belakangnya. Aku adalah monster dalam cerita ini, Aria. Dan monster harus dikurung agar pahlawan bisa hidup tenang."
Debat emosional itu berlangsung berjam-jam. Aria menggunakan seluruh kemampuan hukumnya untuk mencari celah lain—pengadilan internasional, suaka politik di negara ketiga, atau pemalsuan kematian sekali lagi. Namun, Dante tetap pada pendiriannya. Valerio memiliki koneksi di setiap pelabuhan dan bandara. Lari hanya akan membuat mereka terus menjadi sasaran tembak.
"Valerio ingin menggunakan cahaya publik untuk membakar kita," ucap Dante sambil mengemasi beberapa dokumen ke dalam tas tas taktis. "Maka aku akan menggunakan cahaya itu untuk membakarnya kembali. Jika aku menjadi saksi utama negara, Valerio tidak akan bisa menyentuhku tanpa menarik perhatian seluruh dunia. Aku akan lebih aman di penjara dengan pengamanan maksimal daripada di rumah aman mana pun di dunia ini."
Marco masuk ke ruangan dengan wajah yang sangat serius. "Bos, helikopter sudah siap di titik koordinat rahasia. Kita harus berangkat sebelum tim Sombra menyisir rumah sakit ini. Valerio sudah mulai menyebarkan 'potongan' foto kehamilan Nyonya ke media sosial."
Aria menatap monitor di sampingnya. Ia melihat pantulan dirinya yang hancur. Ia menyadari bahwa Dante sedang mencoba memberikan pengorbanan tertinggi. Seorang pria mafia yang menyerahkan seluruh kekuasaannya demi cinta—sebuah konsep yang hampir mustahil di duniaku.
"Baiklah," ucap Aria, suaranya kini stabil meski penuh dengan kesedihan. "Jika kau ingin melakukan ini, maka kau akan melakukannya dengan caraku. Aku adalah pengacaramu, Dante. Bukan hanya istrimu."
Dante menoleh, sedikit terkejut. "Aria, kau harus tetap di sini—"
"Tidak," Aria memotong dengan tegas. "Aku ikut ke Roma. Aku akan berada di balik layar. Aku yang akan menyusun draft kesepakatan perlindungan saksi sebelum kau mengucapkan satu kata pun di depan kamera. Jika kau ingin menyerahkan dirimu, kau akan menyerah dengan syarat yang aku buat, bukan syarat yang polisi tawarkan."
Dante menatap istrinya, dan sebuah senyuman bangga yang tipis muncul di wajahnya yang terluka. "Kau benar-benar tidak akan membiarkan aku melakukan ini dengan mudah, bukan?"
"Tidak pernah, Dante Moretti. Tidak pernah."
Perjalanan Menuju Roma: Pukul 14.00 siang
Helikopter medis pribadi terbang rendah di atas laut Tyrrhenian, menghindari radar penerbangan komersial. Di dalamnya, suasana sangat tegang. Agostino terus memantau infus Aria, sementara Marco berkoordinasi dengan jaringan bawah tanah di Roma yang masih setia kepada Dante.
Dante duduk di kursi taktis, sedang membersihkan pistolnya untuk terakhir kalinya. Ini adalah senjata yang telah menemaninya selama sepuluh tahun, senjata yang telah merenggut nyawa musuh-musuhnya dan melindungi orang-orang yang ia cintai. Malam ini, ia harus melepaskannya.
"Marco, sudah kau hubungi jurnalis itu?" tanya Dante.
"Sudah, Bos. Francesca Bianchi dari L'Espresso. Dia dikenal tidak bisa disuap oleh The Circle. Dia sudah setuju untuk melakukan wawancara langsung di lokasi yang akan kita tentukan tiga puluh menit sebelum mulai," jawab Marco.
"Bagus. Dan pastikan Jaksa Agung dihubungi secara anonim. Berikan mereka koordinat setelah sepuluh menit wawancara dimulai. Kita butuh media sebagai perisai sebelum polisi datang menjemput."
Aria, yang berbaring di tempat tidur gantung helikopter, mendengarkan setiap detail rencana itu. Otaknya bekerja seperti mesin komputer, menyusun argumen hukum yang akan ia gunakan untuk menekan pemerintah Italia agar memberikan pengampunan penuh bagi dirinya dan anaknya.
"Dante," panggil Aria.
Dante mendekat dan berlutut di sampingnya. "Ya?"
"Daftar Phoenix... aku sudah menyalinnya ke sebuah drive yang terenkripsi dan otomatis akan dikirim ke server tiga kantor berita internasional jika aku tidak memasukkan kode konfirmasi setiap dua puluh empat jam. Itu adalah jaminan nyawamu di dalam penjara nanti. Jika mereka membunuhmu, seluruh Eropa akan terbakar."
Dante tertawa pelan, mencium dahi Aria. "Kau benar-benar kejam dalam hal negosiasi, Aria. Aku sangat senang kau berada di pihakku."
Roma: Pukul 20.00 malam
Kota Abadi itu diselimuti oleh kabut tipis dan hujan gerimis saat helikopter mereka mendarat di atap sebuah gedung perkantoran tua di dekat Trastevere. Dari sana, mereka dipindahkan ke mobil SUV yang berbeda untuk menuju lokasi wawancara: sebuah teater tua yang sudah tidak terpakai, tepat di jantung kota.
Lokasi itu dipilih karena memiliki banyak jalur keluar dan struktur bangunan yang tebal, menyulitkan tim penembak jitu Valerio untuk mendapatkan posisi yang jelas.
Aria duduk di sebuah ruangan kecil di balik panggung teater, dikelilingi oleh monitor dan peralatan komunikasi Marco. Ia sudah berganti pakaian dengan blazer hitam yang elegan, mencoba menutupi rasa sakit fisik yang masih ia rasakan.
"Dante, mikrofonmu aktif. Kamera akan mulai dalam lima menit," suara Marco terdengar melalui earpiece.
Dante berdiri di tengah panggung yang remang-remang, di depan satu set kursi dan meja kayu sederhana. Francesca Bianchi, seorang wanita paruh baya dengan tatapan mata yang tajam seperti pisau, duduk di seberangnya. Ia tampak gugup, namun ambisi jurnalisnya mengalahkan rasa takutnya.
"Apakah kau benar-benar akan melakukan ini, Tuan Moretti?" tanya Francesca, suaranya sedikit gemetar saat ia menyalakan perekamnya. "Kau tahu begitu ini disiarkan, tidak ada jalan kembali bagimu."
Dante menatap lensa kamera yang mulai menyala merah. Ia melihat bayangan dirinya sendiri—pria yang selama ini ditakuti sebagai monster, kini berdiri di ambang kejatuhannya yang paling mulia.
"Jalan kembali sudah tertutup sejak lama, Nona Bianchi," sahut Dante datar. "Malam ini, kita hanya akan membicarakan tentang kebenaran yang selama ini kalian tutup-tutupi."
Aria menahan napas di balik layar monitor. Ia melihat wajah Dante di layar—tegas, tak gentar, dan sangat tampan di bawah cahaya lampu panggung.
"Kamera siap... Tiga... dua... satu... ON AIR."
Suara Francesca terdengar ke seluruh penjuru Italia melalui jaringan satelit yang telah diretas oleh Marco agar masuk ke semua frekuensi utama. "Selamat malam, Italia. Saya Francesca Bianchi, dan malam ini, kita berada di sebuah lokasi rahasia bersama pria yang paling dicari di Eropa. Dante Moretti. Ia hadir di sini bukan untuk membela diri, melainkan untuk memberikan pengakuan yang akan mengubah sejarah negara kita selamanya."
Dante menatap kamera, matanya seolah menembus jutaan layar di seluruh negeri.
"Nama saya Dante Moretti," Dante memulai dengan suara yang tenang namun memiliki getaran otoritas yang menakutkan. "Selama sepuluh tahun, saya adalah pemimpin dari klan yang kalian sebut mafia. Saya telah melakukan hal-hal yang tidak bisa dimaafkan. Namun, saya bukan satu-satunya monster di negara ini. Malam ini, saya akan menunjukkan kepada kalian siapa yang sebenarnya duduk di kursi kekuasaan di Roma. Saya akan membicarakan tentang The Circle dan Project Phoenix."
Di sebuah hotel mewah di pusat Roma, Valerio Moretti membanting gelas sampanyenya ke layar televisi. Wajahnya memerah karena murka. "Bajingan itu! Dia benar-benar melakukannya! Dia membakar semuanya!"
"Tuan, polisi sedang menuju ke sana! Jika Dante menyerahkan data itu, kita semua akan tamat!" teriak salah satu pengawalnya.
"Siapkan tim Scorpion! Serbu teater itu sekarang! Aku tidak peduli jika harus membunuh semua orang di sana, termasuk jurnalis itu! Dante Moretti tidak boleh keluar dari gedung itu hidup-hidup!"
Kembali di teater, Dante terus bicara. Ia menyebutkan nama-nama menteri, hakim, dan jenderal satu per satu. Ia menunjukkan dokumen-dokumen yang selama ini disimpan di bawah bayang-bayang malaikat. Jutaan orang di rumah mereka masing-masing terdiam, terpaku melihat runtuhnya topeng-topeng kekuasaan yang selama ini mereka hormati.
Aria melihat melalui radar Marco. "Dante, mereka datang! Tim Scorpion Valerio sudah berada di radius satu kilometer! Polisi juga tinggal tiga menit lagi!"
Dante tidak berhenti. Ia justru mempercepat penjelasannya tentang bagaimana Valerio mencoba mengambil alih kekuasaan dengan bantuan kartel luar negeri.
"Dan untuk istri saya, Aria Moretti," suara Dante tiba-tiba melembut, matanya menatap kamera dengan penuh emosi. "Dia adalah korban dari sistem yang busuk ini. Dia adalah alasan mengapa saya berdiri di sini. Segala tuduhan yang diarahkan kepadanya adalah palsu, sebuah skema yang dibuat oleh Valerio untuk menekan saya. Dia memiliki bukti-bukti yang sah yang telah diserahkan kepada Jaksa Agung. Dia adalah pahlawan yang sebenarnya dalam cerita yang gelap ini."
Aria menutup mulutnya dengan tangan, air mata kembali mengalir. Dante sedang menghapus semua dosanya di depan umum, menanggung semua beban itu sendirian.
Tiba-tiba, suara ledakan terdengar dari arah pintu depan teater.
BOOOOM!
"Mereka di sini!" teriak Marco melalui radio. "Tim Scorpion masuk! Semua pengawal, posisi bertahan!"
Suara tembakan mulai menggema di dalam teater yang luas itu. Francesca Bianchi berteriak dan merunduk di bawah meja. Namun, Dante tetap duduk di kursinya. Ia tetap menatap kamera yang masih menyala.
"Wawancara ini belum selesai," ucap Dante tenang di tengah suara desingan peluru. "Kalian ingin melihat akhir dari Dante Moretti? Maka jangan alihkan pandangan kalian."
Dante mengeluarkan pistolnya, bukan untuk menyerang jurnalis itu, melainkan untuk memberikan perlindungan terakhir. Ia berdiri dan menendang meja kayu besar itu untuk menjadi perlindungan bagi Francesca.
"Aria! Masuk ke jalur evakuasi bawah tanah! Sekarang!" perintah Dante melalui interkom.
"Tidak tanpa kau!" teriak Aria. Ia mengambil pistol Berettanya dan keluar dari ruang monitor. Rasa sakit di perutnya ia abaikan. Kekuatannya kembali saat ia melihat suaminya dalam bahaya.
Aria berlari ke arah panggung tepat saat pintu samping meledak dan tiga orang pengawal Valerio masuk dengan senapan serbu.
RAT-TAT-TAT-TAT!
Aria melepaskan tembakan beruntun dari posisinya yang tersembunyi, mengenai salah satu penyerang. Dante membalas dari arah panggung, menumbangkan dua lainnya.
"Kau harus pergi, Aria! Polisi akan sampai dalam hitungan detik! Jika mereka menemukanmu di sini dengan senjata, kesepakatan perlindungan saksimu akan hancur!" Dante berlari mendekati Aria, memegang bahunya dengan kuat.
"Aku tidak peduli tentang kesepakatan itu jika aku kehilanganmu!"
Tiba-tiba, suara sirene polisi yang sangat keras memenuhi area luar teater. Lampu sorot biru dan merah mulai menyinari jendela-jendela tinggi gedung tersebut. Melalui pengeras suara, suara polisi terdengar memerintahkan semua orang untuk meletakkan senjata.
"Ini akhirnya, Aria," bisik Dante. Ia mengambil pistol dari tangan Aria dengan lembut dan menyembunyikannya di bawah puing-panggung. "Dengar, kau harus menyelinap keluar lewat jalur Marco sekarang. Begitu kau sampai di titik aman, hubungi Jaksa Agung. Tunjukkan rekaman wawancara ini sebagai bukti awal."
Dante mencium bibir Aria untuk terakhir kalinya—sebuah ciuman yang beraroma debu, darah, dan cinta yang abadi. "Jaga anak kita. Berikan dia nama yang bermartabat. Katakan padanya bahwa ayahnya adalah seorang Moretti yang terakhir, dan dia adalah Moretti yang pertama yang akan hidup dalam kebenaran."
Dante mendorong Aria ke arah Marco yang sudah menunggu di lubang palka bawah panggung. "Bawa dia pergi, Marco! Itu perintah!"
Marco menarik Aria masuk. Aria meronta, namun tenaga Marco jauh lebih kuat. Saat palka tertutup, Aria melihat pemandangan terakhir: Dante Moretti berdiri tegak di tengah panggung yang hancur, mengangkat kedua tangannya ke atas saat pasukan khusus kepolisian Italia (GIS) mendobrak masuk melalui pintu utama dengan senjata terarah.
"Dante Moretti! Jangan bergerak! Kau ditahan!"
Dante tersenyum miring—sebuah senyuman yang akan menjadi legenda di seluruh Italia keesokan harinya. Ia menundukkan kepalanya sedikit, bukan karena takut, melainkan sebagai tanda bahwa misinya telah selesai.
Di bawah tanah, di dalam terowongan yang gelap, Aria Moretti menangis dalam diam saat ia ditarik menjauh dari cahaya. Ia merasakan gerakan kecil di dalam perutnya, sebuah tanda kehidupan baru di tengah kehancuran.
Malam itu, Dante Moretti menjadi narapidana paling terkenal dalam sejarah Italia. Namun di mata Aria, dia adalah pria yang paling merdeka yang pernah ia kenal.