"Duduk di sini." ujarnya sembari menepuk paha kanannya.
Gadis itu tak salah dengar. Pria itu menepuk suatu tempat yakni pahanya sendiri. Dengan ekspresi datar seolah itu tak mengagetkan dan sudah menjadi kebiasaan di sana. Orang-orang di sekelilingnya pun tampak sama. Tak bereaksi, seolah itu hanya salah satu hal biasa dari serangkaian acara. Namun, tidak bagi gadis itu. Bisa-bisanya pria itu bertindak tidak tahu malu seperti ini di hadapan semua orang? Ia benar-benar tak habis pikir!
"Tidak mau."
Reaksi semua orang yang ada di sana sangat terkejut. Semua berbisik, tetapi tidak ada yang berbicara langsung seolah segan dengan sosok yang duduk di kursi paling mewah seperti seorang raja itu.
Pedang mulai mengarah ke leher gadis itu. Bukan dari pria itu, tetapi dari orang-orang yang seperti prajurit ini.
"Beraninya kau." ujar pria itu penuh amarah seolah ini adalah penghinaan terbesar terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman yang diputuskan
Saat ini, Bai Ruoxue tengah berlutut.
Berlutut di depan paviliun selir, tepat di halaman batu yang dingin dan keras. Lututnya menekan permukaan yang kasar, membuat rasa nyeri menjalar perlahan ke tulang. Namun ia tidak bergerak. Tidak sedikit pun.
Itu adalah hukumannya.
Hukuman yang dijatuhkan langsung oleh permaisuri.
Tidak ada yang berani menyuruhnya berdiri. Tidak seorang pun. Bahkan pelayan yang lalu lalang hanya berani melirik sekilas, lalu menundukkan kepala dan mempercepat langkah. Di istana ini, perintah permaisuri adalah mutlak. Melanggarnya berarti mencari mati.
Waktu berjalan perlahan. Terlalu perlahan.
Langit mulai gelap, awan mendung menggantung rendah seolah menekan bumi. Udara dingin menyusup melalui kain hanfu yang dikenakannya, menembus kulit, menyentuh tulang. Tak jarang angin menerbangkan rambutnya yang terurai panjang yang kini menyentuh tanah itu.
“Nona…”
Suara itu terdengar lagi.
Bai Ruoxue mengenalnya tanpa perlu menoleh. Lembut, penuh rasa takut.
Shuang Shuang.
Gadis pelayannya kembali datang, seperti sebelumnya. Seperti kemarin. Seperti hari-hari lain ketika Bai Ruoxue jatuh ke dalam masalah. Di tangannya, terdapat wadah kecil berisi makanan yang masih mengepul hangat. Berharap bahwa majikannya itu akan makan di tengah perutnya yang kosong sedari tadi.
Shuang Shuang berjongkok di hadapannya, menahan tangis yang sudah sejak tadi ia pendam.
“Mengapa sekarang anda mudah sekali terkena masalah?” suara gadis itu bergetar. Air mata jatuh satu per satu ke tanah. “Padahal dulu… dulu anda selalu tenang. Selalu berhati-hati…”
Tangisnya pecah.
Bai Ruoxue menatap lurus ke depan. Wajahnya tetap datar, tetapi dadanya terasa sesak.
Ia heran.
Bukankah yang dihukum adalah dirinya? Bukankah yang berlutut di sini, menahan dingin dan rasa sakit, adalah dirinya?
Lalu mengapa Shuang Shuang yang terlihat begitu menderita?
“Anda harus menjaga diri baik-baik di dalam istana ini…” Shuang Shuang menangis semakin keras. “Istana ini kejam, nona. Terlalu kejam…”
Kata-kata itu menusuk. Jatuh tepat di dalam hati gadis itu.
Bai Ruoxue terdiam.
Untuk pertama kalinya sejak ia tiba di dunia ini, pikirannya benar-benar jernih. Ia menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan—bahwa istana ini bukanlah drama yang ia tonton dari layar. Bukan pula kisah yang bisa diulang jika salah langkah.
Ini nyata.
Ini hidup dan mati.
Di dunia asalnya, ia bisa berbicara sesuka hati. Bisa melawan. Bisa memilih pergi. Namun di sini… satu kesalahan kecil saja bisa menghancurkan segalanya. Bukan hanya dirinya, tetapi orang-orang di sekitarnya.
Keberanian tanpa perhitungan hanyalah kebodohan.
Dan kebodohan tidak akan membuatnya bertahan hidup.
Ia harus pintar.
Cerdik.
Licik bila perlu.
Bukan untuk menyerang, tetapi untuk bertahan.
Ia harus belajar.
Belajar dari kesalahan-kesalahannya selama ini. Dari tatapan dingin permaisuri. Dari bisikan para selir. Dari ketakutan yang terus mengintai.
“Shuang Shuang.”
Suara Bai Ruoxue tenang. Terlalu tenang hingga membuat Shuang Shuang terkejut.
Gadis itu mengangkat wajahnya yang sembab, menatap nonanya dengan mata merah dan bengkak.
“Pergilah ke kamarku,” ucap Bai Ruoxue perlahan. “Bersihkan. Jaga supaya tidak kotor lagi.”
“Apa?” Shuang Shuang menggeleng cepat. “Tidak! Saya tidak akan meninggalkan anda di sini sendirian!”
“Aku tidak apa-apa.”
“Tapi, nona—”
“Shuang Shuang.” Suaranya sedikit mengeras. Tidak marah, tetapi tegas. “Pergilah.”
Ada sesuatu di mata Bai Ruoxue. Sesuatu yang membuat Shuang Shuang terdiam. Bukan kelemahan, bukan keputusasaan. Melainkan keteguhan yang dingin.
Akhirnya, dengan langkah berat dan hati yang remuk, Shuang Shuang bangkit dan berjalan pergi. Sesekali ia menoleh, seolah takut melihat nonanya tumbang kapan saja.
Namun Bai Ruoxue tetap berlutut.
Sendiri.
Ia mendongak, menatap langit yang semakin gelap. Awan hitam menggulung perlahan, lalu…
Hujan turun.
Deras.
Butiran air menghantam tanah, atap, dan tubuhnya tanpa ampun. Rambutnya basah dalam hitungan detik. Hanfunya menempel di kulit, berat dan dingin. Air mengalir dari pelipisnya, melewati pipi, jatuh ke tanah.
Petir menggelegar di kejauhan.
Namun Bai Ruoxue tidak bergeming.
Ia tetap berlutut dengan punggung tegak, seolah hujan hanyalah ilusi. Seolah dingin tidak mampu menyentuhnya.
Ternyata kehidupan istana seperti ini.
Penuh masalah.
Penuh jebakan.
Dan sangat berbahaya.
Sejak kapan ia terakhir kali merasa tenang?
Ia mencoba mengingat. Hari-hari setelah terbangun di dunia ini dipenuhi keterkejutan, ketakutan, dan intrik. Tidak ada kedamaian. Tidak ada rasa aman.
Takdir apa yang menunggunya di masa depan?
Ia bahkan mulai ragu—apakah dirinya bisa bertahan hidup lebih lama di istana ini?
Tubuhnya lelah.
Hatinya lebih lelah lagi.
“Selir Xue?”
Suara itu datang tiba-tiba.
Sebuah bayangan menutupi kepalanya. Hujan yang tadinya menghantam langsung kini terhalang sesuatu. Kepalanya tidak merasakan rintik hujan lagi. Tubuhnya tak merasakan air mengalir lagi.
Payung.
Bai Ruoxue perlahan menengadah. Sebuah benda kini terbentang di atas kepalanya. Melindungi dirinya dari hujan yang sangat deras ini. Lalu, seseorang terlihat.
Kaisar.
Li Chenghan berdiri di hadapannya, memegang payung di atas kepalanya. Hujan membasahi sisi bahu pria itu, namun wajahnya tetap tenang, sulit dibaca.
Pria yang kemarin menatapnya dengan dingin.
Pria yang bertanya tentang bekas cekikan di lehernya dengan nada tanpa emosi. Penuh amarah.
Namun kini… pria itu melindunginya dari hujan.
Ironis.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Li Chenghan.
“Berlutut,” jawab Bai Ruoxue jujur. Tatapannya kembali ke arah depan, dengan wajah yang teguh seperti sejak awal. Ia tak ingin mendapat kasihan di sini.
“Mengapa?”
“Hamba membuat kesalahan.”
Li Chenghan terdiam. Ada kilatan keterkejutan di matanya, namun segera digantikan oleh sesuatu yang lebih dalam—seolah ia sudah menduga ini akan terjadi.
“Hujan sangat deras,” ucapnya kemudian. “Berteduhlah.”
Tidak ada jawaban.
Tidak ada gerakan.
Bai Ruoxue tetap berlutut, pandangannya lurus ke depan.
“Selir Xue,” suara Li Chenghan sedikit lebih berat. “Kau mendengar perintahku?”
“Maafkan hamba, Yang Mulia,” ucap Bai Ruoxue pelan. “Hamba tidak bisa berdiri tanpa izin dari permaisuri.”
“Tidak perlu.” Nada suara pria itu berubah tegas. “Sekarang kau mematuhi perintahku.”
“Maafkan hamba, Yang Mulia.” Suaranya tidak bergetar. “Hamba tidak bisa.”
Alis Li Chenghan berkerut. Ada rasa kesal yang mulai muncul. Ia kembali berpikir, sisi baru wanita itu yang mulai muncul di benaknya.
“Ternyata kau keras kepala.”
“Cepat berteduh,” perintahnya. “Ini perintah.”
"Kau bisa mati." ujarnya merasakan hujan yang sangat deras dan dingin. Lama dan tidak ada tanda akan berhenti.
Namun tetap tidak ada gerakan.
Air hujan terus mengalir, membasahi pakaian Bai Ruoxue, menyatu dengan tanah dan air mata yang tak ia biarkan jatuh.
“Maafkan hamba, Yang Mulia,” ucapnya sekali lagi. “Hanya ucapan dari permaisuri yang bisa mengizinkan hamba berdiri.”
Hening.
Hujan.
Petir.
Dan dua orang yang terjebak di antara kekuasaan, aturan, dan takdir yang perlahan saling berbenturan.
sedangkan sang raja menaruh hati,yg tak bisa dia ungkapkan karna rasa gengsi