Sinopsis:
Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.
Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JEJAK YANG MENGARAH KE SELATAN
Pagi datang dengan udara yang lembap. Kabut tipis masih menggantung di atas atap-atap tanah liat, seolah enggan beranjak dari kota kecil yang menjadi persinggahan sementara Liang Chen. Ia bangun lebih awal dari biasanya, bukan karena nyenyak, melainkan karena pikirannya terus berputar sepanjang malam.
Kitab yang kini disimpan di dalam lipatan bajunya terasa lebih berat dari sebelumnya. Bukan berat karena kertasnya, melainkan karena bayangan konsekuensi yang menyertainya.
Ia duduk di tepi ranjang kayu, mengikat kembali sepatu usangnya. Gerakannya pelan, terukur. Tidak ada lagi sikap santai seperti seorang pengembara biasa. Setelah pertemuannya dengan pria berwajah pucat malam sebelumnya, Liang Chen mulai sadar bahwa dunia persilatan sudah benar-benar mengincarnya.
Di luar, suara langkah kaki orang-orang mulai terdengar. Pedagang membuka lapak. Penarik gerobak lewat sambil bersiul. Dunia biasa berjalan seperti biasanya, tanpa mengetahui betapa dekatnya mereka dengan arus konflik yang tak terlihat.
Liang Chen turun dari penginapan tanpa sarapan. Ia hanya meminta segelas air hangat dari penjaga penginapan, lalu berjalan keluar ke jalan utama.
Ia tidak berjalan tanpa tujuan.
Ia mencari seseorang.
Pria berwajah pucat itu sempat menyebut satu nama sebelum pergi. Bukan nama orang, melainkan nama tempat.
Lembah Angin Selatan.
Tempat itu terdengar seperti nama yang tidak asing, tetapi juga tidak jelas letaknya. Liang Chen pernah mendengar para pengembara menyebutnya di warung-warung makan, tetapi tidak pernah benar-benar memperhatikan.
Sekarang, tempat itu mungkin menjadi satu-satunya petunjuk.
Liang Chen memasuki sebuah warung bubur kecil di sudut jalan. Warung itu sederhana, hanya terdiri dari meja-meja kayu pendek dan bangku tanpa sandaran. Namun dari aroma yang keluar, tampaknya cukup terkenal di kalangan pekerja.
Ia duduk di sudut, memesan semangkuk bubur hangat. Setelah itu, ia menunggu.
Beberapa saat kemudian, seorang pria tua duduk di meja yang sama tanpa permisi. Wajahnya keriput, pakaiannya compang-camping, tetapi matanya tajam seperti burung pemangsa.
Liang Chen tidak langsung menoleh.
Pria itu mengambil sumpit, mencicipi bubur Liang Chen tanpa meminta izin.
“Buburnya terlalu encer,” katanya.
Liang Chen tetap tenang. “Kalau kau tidak suka, pesan sendiri.”
Pria itu tertawa kecil. “Anak muda zaman sekarang tidak punya rasa hormat.”
“Orang tua zaman sekarang juga tidak tahu sopan santun.”
Pria tua itu berhenti tertawa. Ia menatap Liang Chen dengan mata menyipit.
“Kau bukan orang kota ini.”
“Benar.”
“Kau juga bukan pedagang, bukan pengawal, dan jelas bukan petani.”
Liang Chen mengangkat bahu. “Aku hanya pengembara.”
Pria tua itu mengangguk pelan, seolah jawaban itu sudah ia duga.
“Kau mencari sesuatu,” katanya.
Liang Chen akhirnya menoleh. “Apa semua orang tua di kota ini suka menebak-nebak?”
“Tidak. Hanya mereka yang sudah terlalu lama hidup.”
Liang Chen menghela napas pendek. Ia tidak punya waktu untuk permainan kata.
“Pernah dengar Lembah Angin Selatan?” tanyanya langsung.
Ekspresi pria tua itu berubah sedikit. Bukan kaget, melainkan waspada.
“Kau kenapa mencari tempat itu?”
“Ada urusan.”
“Urusan macam apa?”
“Urusan yang tidak perlu kau tahu.”
Pria tua itu tersenyum tipis. “Jawaban yang buruk.”
Liang Chen menatapnya datar. “Aku tidak datang untuk membuatmu senang.”
Beberapa saat mereka saling menatap tanpa kata.
Akhirnya pria tua itu menghela napas panjang.
“Lembah Angin Selatan bukan tempat untuk pengembara biasa,” katanya. “Tempat itu penuh dengan orang-orang yang tidak punya nama baik.”
“Penjahat?”
“Tidak selalu. Kadang hanya orang yang tidak ingin ditemukan.”
Liang Chen diam.
“Kenapa kau ingin ke sana?” tanya pria tua itu lagi.
Liang Chen berpikir sejenak, lalu berkata, “Karena seseorang menyuruhku ke sana.”
“Siapa?”
“Orang yang hampir membunuhku.”
Pria tua itu mengangguk perlahan, seolah itu jawaban yang masuk akal.
“Kalau begitu, kau memang harus pergi ke sana,” katanya. “Kalau tidak, mereka akan terus mencarimu.”
Liang Chen mengerutkan kening. “Mereka?”
Pria tua itu tidak menjawab. Ia hanya menaruh sumpit di atas mangkuk, lalu berdiri.
“Keluar dari kota lewat gerbang selatan. Ikuti jalan tanah sampai kau melihat pohon pinus yang tumbuh miring ke barat. Dari sana, ada jalur sempit ke lembah.”
Ia mulai berjalan pergi, lalu berhenti sejenak.
“Oh ya,” katanya tanpa menoleh. “Kalau kau masih ingin hidup, jangan percaya siapa pun di sana.”
Liang Chen meninggalkan warung beberapa saat kemudian.
Langkahnya ringan, tetapi pikirannya berat.
Ia tidak tahu apakah pria tua itu bisa dipercaya. Namun setidaknya, ia punya arah.
Ia kembali ke penginapan, mengambil barang-barangnya yang tidak seberapa: satu kantong pakaian, sebotol air, dan pedang pendek yang sudah menemaninya selama bertahun-tahun.
Sebelum pergi, penjaga penginapan memanggilnya.
“Kau pergi jauh?” tanya pria itu.
“Mungkin.”
“Tidak kembali?”
“Kalau hidup, mungkin kembali.”
Penjaga itu tertawa kecil, mengira itu lelucon. Liang Chen tidak ikut tertawa.
Gerbang selatan kota tidak terlalu ramai. Beberapa pedagang keluar-masuk, membawa gerobak penuh barang. Para penjaga hanya memeriksa sekilas, tanpa banyak tanya.
Liang Chen melewati mereka tanpa kesulitan.
Begitu keluar dari kota, jalan berubah menjadi tanah merah yang memanjang di antara ladang-ladang. Udara terasa lebih segar, tetapi juga lebih sepi.
Ia berjalan tanpa tergesa.
Setiap beberapa langkah, ia menoleh ke belakang. Bukan karena takut, melainkan karena kebiasaan. Dunia persilatan mengajarkannya satu hal: orang yang tidak waspada biasanya tidak hidup lama.
Setelah hampir satu jam berjalan, ia melihat pohon pinus yang dimaksud.
Batangnya condong ke barat, seolah pernah diterpa angin kencang selama bertahun-tahun.
Di belakangnya, ada jalur sempit yang hampir tertutup semak.
Liang Chen berhenti sejenak.
Ia menarik napas panjang, lalu melangkah masuk ke jalur itu.
Jalur itu semakin sempit, berliku di antara bebatuan dan semak berduri. Tanahnya tidak rata, membuat langkah harus lebih hati-hati.
Suara burung tidak terdengar. Bahkan serangga pun hampir tidak ada.
Kesunyian itu terasa aneh.
Setelah berjalan cukup jauh, jalur itu terbuka ke sebuah lembah sempit yang diapit dua dinding batu tinggi. Di tengah lembah, ada beberapa bangunan kayu sederhana.
Asap tipis naik dari salah satu atapnya.
Tempat itu tidak terlihat seperti sarang penjahat. Lebih mirip permukiman orang-orang yang ingin hidup tenang.
Namun justru itu yang membuatnya terasa berbahaya.
Liang Chen melangkah pelan memasuki lembah.
Beberapa orang yang berada di sana langsung menoleh. Tatapan mereka tajam, penuh kecurigaan. Tidak ada yang tersenyum. Tidak ada yang menyapa.
Seorang pria bertubuh besar berdiri di tengah jalan, menghalangi langkahnya.
“Kau siapa?” tanyanya.
“Pengembara.”
“Pengembara tidak datang ke tempat ini tanpa alasan.”
Liang Chen menatapnya lurus. “Aku mencari seseorang.”
“Siapa?”
Liang Chen teringat wajah pria pucat malam itu.
“Aku tidak tahu namanya,” katanya. “Tapi dia menyuruhku datang ke sini.”
Pria bertubuh besar itu menyipitkan mata. “Ciri-cirinya?”
“Wajah pucat. Gerakannya cepat. Pedangnya tipis seperti jarum.”
Ekspresi pria itu berubah sedikit.
Ia menoleh ke salah satu bangunan, lalu berteriak, “Hei! Ada tamu untukmu!”
Beberapa detik kemudian, pintu bangunan itu terbuka.
Seorang pria keluar dengan langkah tenang.
Wajahnya pucat.
Matanya dingin seperti malam tanpa bulan.
Liang Chen langsung mengenalinya.
Pria itu tersenyum tipis.
“Kau benar-benar datang,” katanya.
Liang Chen tidak menjawab.
Tangannya perlahan turun ke gagang pedang.
Di lembah sunyi itu, angin mulai berhembus pelan.
Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di kota kecil itu, Liang Chen merasa bahwa langkahnya kini benar-benar memasuki dunia yang tidak bisa ia hindari lagi.