NovelToon NovelToon
Penjara Cinta

Penjara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Dark Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Patriciaaaa

​"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."

​Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.

​Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.

​Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?

​"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 - Lukisan Arfan

Di tengah keheningan galerinya yang luas, Arfan berdiri dengan napas yang berat. Lampu sorot hanya mengarah pada satu kanvas besar di tengah ruangan. Di sekelilingnya, ratusan lukisan Aura yang sedang tersenyum seolah-olah sedang menghakiminya. Namun malam ini, Arfan tidak ingin melihat senyuman itu.

Tangannya yang masih gemetar mulai menggerakkan kuas, menggoreskan warna-warna dingin ke atas kanvas. Ia tidak lagi melukis binar bahagia di mata Aura. Kali ini, ia melukis mata yang sembab, kelopak mata yang kemerahan karena terlalu lama meneteskan air mata, dan bahu yang tampak rapuh seolah sedang memikul beban seluruh dunia.

Arfan melukis Aura yang sedang menangis.

Setiap goresan kuasnya seakan-akan merekam kembali isak tangis Aura yang ia dengar di koridor rumah sakit tadi. Ia melukis butiran air mata yang jatuh di pipi pualam Aura dengan begitu detail, seolah-olah air mata itu nyata dan bisa ia usap dengan jarinya sendiri.

"Maafkan aku, Ra... saya telah membuat permata ini jatuh," bisiknya sambil terisak pelan.

Arfan menangis tersedu-sedu di depan karyanya. Ia merasa sangat hancur melihat sosok Aura yang begitu menderita dalam lukisannya sendiri. Namun di saat yang sama, ada kepuasan aneh yang merayap di hatinya. Ia merasa hanya dialah yang bisa memahami rasa sakit Aura, dan hanya dialah yang berhak mengabadikan kesedihan itu.

Bagi Arfan, Aura yang menangis terlihat jauh lebih indah karena saat itulah Aura terlihat sangat membutuhkannya. Ia terus memoles lukisan itu hingga tampak hidup, sosok Aura yang sedang patah hati, termenung sendirian, dan hancur karena perbuatannya.

"Menangislah, Sayang... tumpahkan semuanya padaku," gumam Arfan sambil membelai permukaan lukisan yang masih basah itu dengan tatapan kosong. "Biarkan dunia menyakitimu, agar kamu tahu bahwa hanya pelukan saya yang paling aman untukmu pulang."

Suara pintu galeri yang terbanting keras mengejutkan Arfan. Ia menoleh dengan cepat, kuas di tangannya masih menyisakan cat biru yang basah. Di ambang pintu, Mawar berdiri dengan napas memburu. Matanya yang biasa teduh kini menyala oleh amarah yang tidak bisa lagi ia bendung.

Langkah Mawar berderap masuk, melewati puluhan lukisan Aura yang memenuhi ruangan itu. Matanya terpaku pada kanvas di depan Arfan, lukisan Aura yang sedang menangis tersedu-sedu.

"Cukup, Kak! Sudah cukup!" teriak Mawar. Suaranya bergema, menghancurkan kesunyian galeri yang terasa sesak itu.

Arfan hanya diam, ia menatap Mawar dengan ekspresi datar yang sangat tenang. "Apa yang kamu lakukan di sini, Mawar? Ini wilayah pribadi saya."

"Wilayah pribadi?" Mawar tertawa getir, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Selama ini aku diam karena aku menghargaimu. Aku sudah menganggapmu sebagai kakakku sendiri, Kak Arfan! Aku bangga punya kakak yang sholeh, yang menjaga pandangannya, yang mengerti agama. Tapi sekarang... lihat kamu! Kamu bukan kakak yang aku kenal."

Mawar melangkah lebih dekat, menunjuk ke arah lukisan Aura yang sedang hancur itu. "Kenapa kamu jadi segila ini? Kamu bilang mencintainya, tapi kamu malah melukis kehancurannya? Kamu menerornya, Kak! Kamu membuat hidup Aura seperti neraka!"

Arfan perlahan meletakkan paletnya. Ia menatap Mawar dengan tatapan yang sulit diartikan. "Saya tidak menghancurkannya, Mawar. Saya sedang menjaganya. Dunia ini terlalu kasar untuk gadis selembut Aura. Hanya saya yang bisa memahaminya, bahkan dalam tangisnya sekalipun."

"Agama yang kamu pelajari itu untuk menjaga hati, Kak, bukan untuk dijadikan alasan membenarkan obsesi gilamu!" potong Mawar dengan suara bergetar. "Kalau kamu benar-benar menganggapku adik, tolong... berhenti sebelum kamu benar-benar menghancurkan segalanya."

Arfan tidak membalas lagi. Ia kembali berbalik menghadap lukisannya, seolah keberadaan Mawar tidak lagi penting. "Saya tahu apa yang saya lakukan, Mawar. Lebih baik kamu pulang. Jangan biarkan kemarahanmu membuatmu lupa cara bersikap sopan pada yang lebih tua."

Mawar terpaku. Dinginnya jawaban Arfan membuatnya sadar bahwa pria di depannya ini sudah benar-benar kehilangan kewarasannya di balik topeng kesopanan itu.

Arfan masih membelakangi Mawar, tangannya bergerak sangat tenang mengusap noda cat di jemarinya menggunakan kain putih.

"Mawar," ucap Arfan, perlahan ia menoleh dan menatap Mawar dengan senyum tipis yang penuh rahasia. "Saya rasa, kamu terlalu sibuk mengurusi hidup saya, sampai kamu lupa memperhatikan urusan hatimu sendiri."

Mawar terdiam, napasnya yang tadi memburu mendadak tertahan.

"Bima sepertinya sangat mencintaimu, bukan?" lanjut Arfan. Ia melangkah mendekati Mawar, membuat gadis itu refleks mundur satu langkah. "Saya bisa melihat bagaimana cara dia menatapmu. Sangat protektif, sangat tulus. Bukankah lebih baik kamu fokus saja pada Bima? Jaga dia baik-baik, pastikan dia tetap berada di jalan yang benar."

Mawar menggeleng, mencoba menepis pengalihan isu itu. "Kak, jangan bawa-bawa Kak Bima ke masalah ini—"

"Kenapa tidak?" potong Arfan cepat. Tatapannya kini mengunci mata Mawar. "Saya hanya ingin kamu bahagia, Mawar. Sebagaimana saya yang hanya ingin membahagiakan Aura dengan cara saya. Fokuslah pada laki-laki yang mengharapkanmu itu, dan jangan lagi mencampuri urusan saya. Itu akan jauh lebih aman untuk semua orang."

Ada nada ancaman yang tersirat di balik kalimat lebih aman tersebut. Arfan seolah memberi peringatan, jika kamu tetap menggangguku, maka Bima orang yang kamu cintai, bisa saja menjadi targetku selanjutnya.

"Pulanglah," perintah Arfan dengan nada final yang dingin. "Saya masih harus menyelesaikan lukisan ini. Aura sedang menunggu saya untuk mengabadikan kesedihannya."

Mawar terpaku di tempatnya. Ia merasa lidahnya kelu. Arfan baru saja menyandera perasaannya pada Bima untuk membungkam mulutnya. Dengan perasaan campur aduk antara marah dan takut, Mawar akhirnya berbalik dan melangkah pergi, sementara di belakangnya, Arfan kembali membelai kanvas itu dengan tatapan yang kosong namun penuh obsesi.

Mawar kembali teringat, kejadian saat ia bertemu dengan Mawar di sekolah tadi, Arfan yang sedang menyamar menjadi perawat di UKS.

​"Kita perlu bicara, Kak!" tegas Mawar. Suaranya yang biasanya lembut kini terdengar tajam dan bergetar karena emosi yang tertahan.

​Arfan hanya menatapnya, tidak ada guratan panik sedikit pun di wajahnya. "Mawar, saya sedang sibuk, saya disini hanya menjalankan tugas."

​"Tugas apa, Kak? Menipu?" potong Mawar cepat. Ia melangkah mendekat, matanya menatap seragam perawat yang dikenakan Arfan dengan tatapan jijik. "Sejak kapan Kak Arfan jadi petugas medis? Kakak menyelinap ke sini, kan? Kakak menyamar supaya bisa masuk ke UKS dan mendekati Aura!"

​Arfan menghela napas pendek, suaranya tetap rendah dan tertata. "Mawar, dengarkan saya. Saya melakukan ini demi kebaikan Aura. Anak-anak di sekolah ini ceroboh, mereka tidak tahu cara menangani Aura yang sedang lemah. Hanya saya yang mengerti apa yang dia butuhkan sekarang."

​"Ini salah, Kak! Ini benar-benar salah!" Mawar menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Kakak bicara soal agama, soal adab, tapi Kakak masuk ke sini dengan kebohongan. Kakak membuntuti Aura sampai ke UKS! Bagaimana kalau ada guru yang tahu? Bagaimana kalau Kak Bima tahu?"

​Mendengar nama Bima, sorot mata Arfan sedikit berubah, namun suaranya tetap datar. "Saya benar, Mawar. Benar di mata saya adalah memastikan Aura aman. Jika saya harus memakai seragam ini untuk menjaganya dari orang-orang yang tidak kompeten, maka saya akan melakukannya. Saya tidak sedang berbuat jahat, saya sedang melindungi permata yang sedang terluka."

​"Melindungi tidak dengan cara menerornya, Kak!" seru Mawar frustrasi.

​Arfan justru menatap Mawar dengan tatapan seolah Mawar lah yang tidak mengerti apa-apa. "Kamu masih terlalu muda untuk memahami bentuk perlindungan saya. Sekarang, biarkan saya pergi. Jangan sampai suara kerasmu ini menarik perhatian orang lain dan malah membuat Aura semakin tertekan."

​Arfan berbalik, melangkah pergi dengan langkah tegap yang sangat tenang, meninggalkan Mawar yang terpaku di lorong sekolah. Mawar merasa seluruh tubuhnya lemas, ia sadar bahwa Arfan sudah menutup telinganya dari segala kebenaran. Pria itu sudah menciptakan dunianya sendiri, di mana dia adalah pahlawan bagi Aura, meskipun cara yang digunakannya sangatlah mengerikan.

Bersambung......

1
Mawar
😍
Mawar
up terusss
Cahaya_Mentari
akhirnya😍
Mawar
lah kenapa tiba tiba Arfan berubah, bukannya kemarin dukung Aura ke London?
Cahaya_Mentari
Next Chapter😍
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
mawar ma arfan uda nganu ya Thor hmm. tidur bareng gt
My Name Cia: emmm, engga yaa🤭
total 1 replies
Mawar
Kok kayaknya Bima cemburu ya
Cahaya_Mentari
Alah, Arfan caper itu sama Bunda
Cahaya_Mentari
jadi keinget hy adik berkerudung putih, gtu ga sih🤭
Mawar
lanjut terusss
Mawar
baru awal udah di bikin penasaran
Cahaya_Mentari
kayaknya ceritanya bagus nih
Cahaya_Mentari
kok gtu banget sih Bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!