Cinta mempertemukan kembali batas antara dua dunia, kehilangan, keajaiban yang terlahir dari luka.
Antara masa lalu dan masa depan, dua wanita, hidup dan mati.
Kinan hanya satu pilihan bertahan di "ruang masa " atau turun untuk cinta terakhirnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datang Dan Pergi
Raka duduk di lantai keramik ruang jenazah rumah sakit. Ruangan kecil, bau kapur barus dan air zam-zam, AC terlalu dingin seperti ingin mematikan segala rasa. Di depannya, Kinan terbaring di atas keranda sederhana—tubuhnya sudah dibungkus kain kafan putih, hanya wajahnya yang terbuka, seolah masih memberi kesempatan terakhir untuk melihat, untuk mengucapkan selamat tinggal.
Kini kain itu melilit tubuhnya, putih, bersih, terlalu bersih untuk tubuh yang pernah penuh warna—warna kemeja favoritnya kuning, warna lipstik merah yang ia pakai saat pernikahan mereka, warna hidup yang kini sudah menjadi kenangan.
Wajah itu tenang, terlalu tenang, tidak seperti Kinan yang selalu bergerak, selalu bicara, selalu hidup. Tapi tetap Kinan. Masih Kinan. Raka tidak bisa berhenti menatap.
"Raka."
Ia mengangkat kepala. Maya berdiri di depannya, mengenakan gamis hitam tidak ia kenali—mungkin pinjam, mungkin baru dibeli untuk ini. Wajahnya bengkak, matanya merah. Di tangannya, sebungkus nasi bungkus yang sudah dingin.
"Lo belum makan," katanya serak bukan pertanyaan.
Ia menggeleng tidak ingat kapan terakhir kali makan. Tidak ingat apakah ia pernah lapar sejak 03.47 WIB tadi pagi. Waktunya kini terbagi menjadi dua: sebelum Kinan pergi, dan sesudah. Sebelumnya ada rasa lapar, ada rasa haus, ada rasa apa pun. Sesudahnya hanya ada ini—kekosongan fisik menelan segalanya.
Maya duduk di sebelahnya menatap Kinan dalam sunyi tidak pernah ia bagi sebelumnya—sunyi antara yang ditinggalkan, tapi dengan cara berbeda. Maya kehilangan sahabat sejak SMP, teman curhat, teman berbagi rahasia
"Gue nggak nyangka," Maya akhirnya bicara, suaranya hampir tak terdengar. "Dua hari lalu gue chat dia. Dia bilang lagi enak, nunggu sup ayam jamur."
Raka menutup mata. Dua hari lalu. Kinan masih bisa chat. Masih bisa berharap dunia yang sama dengannya, masih bisa—masih bisa apa pun.
"Maaf," bisik Maya. "Gue harusnya datang lebih cepat. Gue harusnya..."
"Lo udah cukup," Raka memotong "Lo udah cukup, May. Kita semua udah cukup."
Maya menangis diam-diam, seperti Kinan dulu—menangis tanpa suara, tanpa drama, hanya air mata mengalir terus-menerus seperti sungai kecil tidak mengenal surut. Raka ingin menghibur, tapi tangannya terasa mati di pangkuan, kata-katanya terasa asing di lidah.
Pintu ruangan terbuka. Ibu Rini masuk—ibunya Raka datang dengan bus malam dari kampung setelah ia menelepon. Wanita berusia lima puluh lima tahun itu terlihat tua tiba-tiba, rambutnya memperlihatkan uban di akar, wajah yang biasanya tegas kini hancur. Ia membawa tas berisi perlengkapan—sajadah, mukena, Al-Qur'an kecil selalu ia bawa saat bepergian.
"Nak," Ia berlutut di depan mencengkeram tangan putranya. "Nak, ibu di sini. Ibu di sini."
Raka menatap ibunya. Matanya kering—air matanya habis, entah di mana, entah kapan. Ia ingin menangis di pangkuan seperti dulu, saat ayahnya pergi.Tapi tubuhnya kaku,
"Kenapa Kinan duluan, Bu? Kenapa bukan Raka? Kinan baik, dia lebih baik dari Raka, kenapa..."
Ibu Rini tidak menjawab menarik tubuhnya ke dalam pelukan dan ia membiarkan—meski tubuhnya kaku, meski hatinya sedang digergaji, meskipun ia tahu pelukan ini tidak akan mengembalikan apa pun.
"Yang hidup itu yang ditinggalkan, Nak," bisik perempuan itu pelan. "Yang mati tenang. Yang hidup yang harus kuat. Kamu harus kuat, Ra untuk Kinan."
Untuk Kinan. Kata-kata yang selalu ia dengar, ia ucapkan pada diri sendiri selama tiga tahun. Untuk Kinan, ia kerja dua shift. Untuk Kinan, ia jual Mobil. Untuk Kinan, ia lakukan apa pun.
Kini untuk Kinan, ia harus hidup tanpa Kinan.
\=\=\=\=
Keluarga Kinan datang siang itu.
Ayahnya, Pak Tono, pria berusia enam puluh tahun tampak seperti tujuh puluhan, berjalan dengan tongkat tidak ia butuhkan sebelumnya. Ibunya, Bu Sari, dituntun oleh adiknya Putri, karena matanya terlalu bengkak untuk melihat jalan. Mereka membawa keranjang berisi makanan—nasi, lauk, buah-buahan untuk orang yang datang berduka, seolah kematian bisa dijamu, duka bisa disuguhi.
Mereka berhenti di depan keranda. Pak Tono menatap putrinya—anak perempuan satu-satunya, yang dulu ia gendong ke pasar malam, ia antar ke sekolah dengan motor tua, yang ia banggakan di setiap pertemuan keluarga karena menikahi pria baik meskipun sederhana
"Nak," suara Pak Tono pecah. Hanya satu suku kata, panggilan yang tidak akan pernah dijawab lagi.
Bu Sari menangis terisak-isak, tangisan seorang ibu yang kehilangan anaknya, datang dari rahim, dari tempat Kinan dulu tumbuh dan berkembang dan dijanjikan masa depan panjang dan bahagia.
"Kinan, Nak, bangun," Bu Sari meraih wajah putrinya, ditahan oleh Putri. "Mama bawa klepon kesukaanmu. Mama bawa... mama bawa..."
Raka berdiri lututnya gemetar menghampiri mertuanya—mantan mertuanya, kata itu menusuk—dan berlutut di lantai keramik yang dingin."Maaf, Pak. Maaf, Bu, Raka gagal jagain dia, Raka gagal. Raka.."
Pak Tono menatapnya redup, tidak ada rasa amarah di sana—hanya kelelahan tak terhingga, kehancuran yang sama Raka rasakan."Kamu sudah cukup, Nak."
Bu Sari memeluknya. "Terima kasih, Ra," bisiknya patah . "Terima kasih udah sayang Kinan. Terima kasih udah jagain dia. Terima kasih..."
Raka ingin menangis. Tapi air matanya sudah kering, napasnya tersengal-sengal, perasaan hancur yang tidak bisa lagi diekspresikan dengan cara normal.
Sore itu, sebelum wajah Kinan ditutup, mereka diberi waktu terakhir.
Imam masjid yang juga bertugas sebagai pengurus jenazah berdiri di sudut, memberi ruang—tapi juga mengingatkan bahwa waktu tidak menunggu, bahwa tubuh harus segera dikubur, bahwa kematian adalah urusan yang tidak boleh ditunda.
Orang-orang di luar, memberi jarak—seperti memberi ruang pada cinta terpaksa berpisah.
Raka berdiri di samping keranda menatap wajah untuk terakhir kalinya. Memorinya mengukir setiap inci tubuhnya. Ia tahu ini akan pudar, akan berubah, akan menjadi versi yang salah dari yang sebenarnya. Tapi untuk sekarang, untuk detik ini, ia ingin melihat. Benar-benar melihat.
Bintik hitam di pipi kiri, di tutup dengan bedak tipis dan ia selalu menggoda sebagai "tahi lalat cinta." Bekas jerawat di dagu iseng digaruk saat cemas. Dan Kinan akan membalas memukulnya dengan bantal tertawa terkekeh.
Semua itu masih ada tapi tidak lagi ada dan bukan lagi miliknya.
"Maaf, Sayang" bisiknya "Maaf Mas sering marah kalau kamu bandel minum obat. Maaf Mas pernah ngeluh capek. Mas... kadang pengen nyerah. Tapi Mas nggak pernah, Nan. Mas nggak pernah nyerah sayang sama kamu."
Sunyi. Tidak ada jawaban. Tidak akan pernah ada jawaban lagi.
"Mas nggak tahu gimana caranya hidup," lanjutnya, " Mas nggak tahu bangun pagi buat apa, nggak tahu kerja buat siapa. Mas nggak tahu... apa gunanya Mas?"
Ia membungkuk, mencium kening untuk terakhir kalinya. Bibirnya bergetar di kulit yang sudah dingin, membisikkan sesuatu yang hanya mereka berdua yang tahu. Sesuatu yang selalu mereka ucapkan sebelum tidur, sebelum berpisah ke kantor, sebelum apa pun.
Sesuatu yang dimulai saat mereka masih remaja bodoh di bangku SMA, saat Raka masih malu-malu mengutarakan perasaan dan Kinan yang berani menciumnya duluan di perpustakaan sekolah.
"I love you to the moon and back," bisiknya.
Dan untuk terakhir kalinya, ia menyelesaikan sendiri—"And back to the moon again. And again. And again."
Imam mendekat. "Maaf, Pak. Waktunya."
Raka mengangguk. Ia mundur selangkah, dua langkah, tiga. Melihat Imam menutup wajah Kinan dengan kain kafan lain—putih, bersih, menutupi selamanya wajah yang paling ia cintai.
Kain itu turun perlahan. Menutupi dahi, menutupi mata, menutupi hidung, menutupi bibir yang pernah tersenyum, pernah tertawa, pernah menciumnya.
Hanya tiga lapis kain. Itu saja yang memisahkan mereka sekarang. Tiga lapis kain dan selamanya.
mampir 🤭