NovelToon NovelToon
Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Teen / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: bg.Hunk

Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 Tanpa di sadari

Malam itu pesta terasa hidup. Musik, tawa, percakapan—semuanya bercampur jadi satu.

Tapi tidak untuk Gina.

Sejak tadi, senyum manis itu tak pernah lepas dari wajahnya—senyum yang rapi, sopan, dan terlatih. Senyum yang biasa dipakai orang-orang yang terbiasa tampil sempurna di depan siapa pun.

Namun.... hatinnya tidak pernah benar-benar ikut tersenyum.

Gina berdiri sedikit di belakang orang tuanya.

Ia masih bisa merasakan jelas bagaimana dinginnya balasan mereka saat keluarga Siva mencoba menyapa tadi.

Dadanya terasa tidak nyaman.

Sesekali ia melirik ke arah Siva.

Ada rasa takut yang tidak ingin ia akui—

Takut kalau sikap orang tuanya perlahan menciptakan jarak di antara mereka.

Takut persahabatan mereka ikut retak hanya karena sikap orang tuanya.

Pandangan Gina kembali beralih.

Tanpa sengaja, matanya bertemu Dio.

Lelaki itu tidak bicara apa-apa.

Tapi raut wajahnya jelas—tidak suka. Sedikit kesal. Entah pada situasi… atau pada orang tuanya.

Gina langsung menunduk.

Malu.

Bahkan menatap balik pun ia tidak berani.

Di tengah keramaian, Azmi yang sejak tadi berdiri bersama mulai menyadari sesuatu.

Terlihat ujung kuku Gina perlahan menggesek sela-sela jarinya sendiri—gerakan kecil yang nyaris tak terlihat orang lain.

Kebiasaan Lama yang selalu muncul setiap kali ia menahan sesuatu di dalam dirinya.

Ia sempat ragu.

Namun pada akhirnya… tetap melangkah mendekat.

Ia memilih diam—tanpa bertanya, tanpa menyinggung apa pun.

“Ayo… kita ke meja hidangan,” ucapnya santai, tapi cukup jelas untuk didengar semua orang.

Nada suaranya ringan—seolah hanya ajakan biasa.

Padahal maksudnya sederhana: menjauhkan mereka dari suasana yang terlalu kaku.

Dio langsung angkat suara.

“Iya, bener. Dari tadi gue ngincer dessert-nya,” sahut Dio cepat.

“Iya, aku juga belum makan gara-gara Dio ribut mulu,” timpal Siva sambil berjalan.

Diana terkekeh pelan, lalu ikut melangkah bersama mereka.

Ketiganya bergerak menuju meja hidangan, meninggalkan suasana yang tadi terasa kaku di belakang.

Gina menoleh ke arah Azmi.

Ia tidak tahu sejak kapan Azmi bisa membaca keadaannya… bahkan sebelum ia sempat bicara.

Gina lalu melangkah mengikuti Dio, Siva, dan Diana. Azmi berjalan di sampingnya, tanpa banyak kata.

Sepanjang langkah itu, Gina tampak lebih ringan.

Senyumnya kembali muncul, kecil tapi nyata.

Sesekali ia menatap Azmi—lalu buru-buru memalingkan wajah saat Azmi membalas tatapannya.

Hening beberapa detik.

“Terima kasih,” ucap Gina pelan.

Azmi hanya mengangguk singkat, seolah itu hal yang wajar. Bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.

Gina tersenyum tipis, lalu mempercepat langkahnya, menyamakan jarak dengan sahabat-sahabatnya di depan.

...----------------...

Di dekat meja hidangan, suasana terasa lebih ringan.

Musik kembali terdengar jelas. Tawa bercampur dengan suara gelas yang beradu.

Semuanya tampak normal.

Tapi Gina tidak benar-benar ikut di dalamnya. Ia hanya berdiri di sudut ruangan, memperhatikan sahabat-sahabatnya dari jauh tanpa benar-benar bergabung.

Di dalam Kepalanya, kejadian tadi masih terulang.

Nada dingin ayahnya.

Cara ibunya menjawab singkat.

Tatapan orang-orang yang pura-pura tidak melihat.

Semuanya masih tertinggal… dan belum benar-benar pergi.

Dan entah kenapa—

semua itu membuat dada Gina terasa sesak, pikirannya berantakan, dan hatinya sakit tanpa ia tahu harus menyalahkan siapa.

Azmi yang sejak tadi memperhatikan, akhirnya kembali mendekati Gina.

“Kenapa bengong? Nggak nikmatin pestanya kayak yang lain?” tanya Azmi sambil menyenggol pelan lengan Gina dengan sikutnya.

Gina tersenyum tipis, lalu menggeleng.

Ia tetap diam. Pikirannya masih tertinggal di kejadian tadi.

Azmi memperhatikannya sebentar, lalu ikut menatap ke arah keramaian.

“Padahal temen-temen kamu lagi seru loh,” katanya santai.

“Aku aja jadi pengen gabung.”

Mendengar itu, Gina ikut menoleh ke depan.

Di tengah pesta, Dio terlihat menari asal tanpa ritme, satu tangannya sibuk mengemil makanan. Siva tertawa sambil menepuk lengannya, sementara Diana hanya menggeleng pelan, tersenyum melihat tingkahnya.

Pemandangan itu sederhana… tapi hangat.

Senyum Gina pelan-pelan kembali.

"Iya juga… mereka sahabatku.Nggak mungkin mereka ninggalin aku cuma karena hal kayak gitu."

Gina terkekeh kecil tanpa sadar.

Siva yang melihat langsung melambai.

“Ngapain ketawa sendiri? Sini ikutan!”

Dio ikut menimpali, “Jangan cuma nonton doang!”

Gina tersenyum lebih lepas.

“Iya, iya… aku nanti ke sana.”

Namun kakinya tidak langsung bergerak.

Ia masih berdiri di tempat, ragu. Pandangannya sempat jatuh ke arah orang tuanya, lalu kembali ke keramaian. Ada sesuatu yang menahannya—perasaan yang sulit dijelaskan.

Azmi yang berdiri di sampingnya memperhatikan itu.

“Ngapain kamu cemas? Menurutku temen-temenmu peduli banget sama kamu,” ucap Azmi pelan.

Gina menatap ke arah Siva, Diana, dan Dio yang masih bercampur dengan keramaian.

“Entahlah… aku cuma takut aja,” jawabnya lirih.

“Takut suatu saat… aku kehilangan mereka semua.”

Azmi tidak langsung menanggapi. Ia membiarkan beberapa detik berlalu sebelum bicara lagi.

“Soal ayahmu…” katanya hati-hati,

“kenapa kamu nggak pernah coba ngomong jujur ke dia?”

Gina langsung menggeleng kecil.

“Aku nggak berani.”

Azmi menoleh.

“Emang ayahmu suka main tangan?”

“Enggak.”

“Terus… bakal marah besar kalau kamu nggak nurut?”

Gina menggeleng lagi.

“Enggak juga.”

Azmi mengerutkan dahi.

“Lalu… kamu takut apa?”

Gina terdiam.

Pertanyaan itu sederhana, tapi justru bikin kepalanya kosong.

Ia menunduk, jemarinya saling bertaut.

“Entahlah…” gumamnya pelan.

“Mungkin… aku cuma takut dia kecewa.”

Azmi masih menunggu.

“Kecewa karena apa?”

Gina membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.

Ia sendiri bingung.

Selama ini ia selalu takut pada ayahnya—takut melawan, takut menolak, takut gagal.

Padahal… ayahnya tidak pernah memukul.

Tidak pernah mengancam.

Tidak pernah benar-benar memarahinya dengan keras.

Lalu sebenarnya… apa yang ia takuti?

Gina menelan ludah pelan.

“Aku… nggak tahu,” bisiknya akhirnya.

Pertanyaan Azmi justru membuatnya sadar—

bahwa mungkin selama ini ia bukan takut pada ayahnya…

melainkan takut tidak lagi jadi kebanggaan satu-satunya orang yang paling ia ingin buat bangga.

Beberapa detik azmi hanya menatap Gina, lalu menghela napas kecil.

“Berarti… yang kamu takutin bukan ayahmu,” ucapnya pelan.

Gina menoleh.

“Tapi kehilangan tempat di hatinya.”

Gina terdiam.

Dadanya terasa sesak, seolah sesuatu yang selama ini ia simpan… akhirnya disebutkan dengan jelas oleh orang lain.

Ia menunduk lagi, suaranya nyaris tak terdengar.

“Iya…”

Tiba-tiba Dio muncul di antara mereka.

“Ngapain sih berduaan mulu?” celetuknya santai, tapi nadanya menusuk.

Gina refleks menjauh setengah langkah dari Azmi.

“Enggak kok…” jawabnya cepat.

Tanpa menunggu apa pun, ia langsung berbalik dan berjalan ke arah Siva.

Meninggalkan Azmi… dan Dio.

Dio memperhatikan punggung Gina yang menjauh. Ada sesuatu yang terasa aneh—cara Gina menghindar, cara Azmi tetap diam.

Namun rasa itu langsung tertutup oleh kesal yang sejak tadi ia tahan.

Kemarin Azmi dekat dengan Rahmalia.

Tadi… juga sama.

Sekarang… Gina.

Tatapan Dio beralih pelan ke arah Azmi.

Menyipit.

Dan untuk pertama kalinya malam itu—

ia benar-benar mulai merasa… tidak suka.

1
Choco Syam
good girl... kmu punya sahabat yg tepat ginaaa..😊
proud of you.. keep smilee nanti kamu jadi panutanmu..
Choco Syam
maaf bang, tpi aku klo di posisi gina jg bkal mikir sperti itu sihh hehe... kliatan dangkal namun, menyakitkann.. proud of you gina..
maaf yaa nangis sedikittt
Choco Syam: yahh.. berusaha tegarr itu kita harus benar" kuatt..
total 2 replies
Choco Syam
Aku adalah gina di cerita ini. entah kapan kbruntungan itu datang. bukan anak sukung namun, anak harapan yg bahkan kerja kerasnya tidak pernah di lirik sma sekali. bhkan ketika jatuh hanya cemoohan yg di dpat. Gin prgi tenangin diri lo. semakin kamu bersandiwara semakin sakit. dan kamu bisa menghancurkan dirimu sendiri.
Hunk: Karakter Gina mungkin merasa sendirian disini, tapi percayalah… anak harapan yang tak pernah dilirik bukan berarti tak berharga. Kadang semesta memang menunda keberuntungan, bukan menolaknya. Jangan berhenti ya, karena kerja keras yang hari ini tak terlihat, suatu saat akan jadi alasan orang lain menoleh. Tetap kuat, kak. Kamu lebih hebat dari yang kamu kira 🤍✨
total 1 replies
APRILAH
"Tunggu bentar, ca." kata Dio, membuat Gina pun menghentikan langkah kakinya, "res sleting mu terbuka, aku bantu benerin, ya." sambung Dio, menawarkan bantuan.

keknya lebih cocok gitu sih, kak. 🙏
APRILAH: tapi gak tau sih, aku biasa gitu kalo dialog aksi.
tapi gak tau kalo di genre lain
total 2 replies
Panda
cuma mau bilang deskripsi sama percakapan bisa lebih padet

di sini alur belum maju lagi 🤔
Panda
dari kalimat ini sampai beberapa paragraf ke bawah sebelum percakapan itu bisa dipadatkan sebenarnya

jadi awal chapter gak terkesan slow Pace karena ceritamu susah bertipe slow burn

perhatikan dinamis Pace
Hunk: Makasih banget masukannya, Kak panda. Aku paham maksudnya, bagian awal memang masih agak kepanjangan. Ke depannya bakal aku evaluasi biar pacing-nya lebih enak.

Maaf kan diriku yang masih banyak ke kurangan🙏/Cry/
total 1 replies
Serena Khanza
payungnya kek punya ponakan aku 😂😂😂
baby shark doo dooo doo
Kaka's
telat mulu.. 🤣🤣
Kaka's
jadi tukang servis nih 🤭
Kaka's
enak gak.. 🤭
Sean Sensei
/CoolGuy/ : ada yang punya nomor teleponnya?
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Gina sama Azmi pagi" udah bikin sekolah heboh aja /Facepalm/
Panda
bagian akhirnya rada mellow ye e

chapter ini cukup menarik

slow burn yang cukup oke antara Gina dan Azmi 👍
Hunk: Makasih banyak kak🤭 Aku harap bisa bawain chapter yang lebih mellow nanti.
total 1 replies
APRILAH
songong emang kalo banyak duit mah
Hunk: Hahaha kapan ya aku bisa sombong kaya gitu pamer uang🤣. Makasih kak sudah membaca🙏
total 1 replies
Kaka's
coba baca dengan gaya.. menirukan adegan film film, 🤭🤭
Serena Khanza
apa ini apa ini🤔
azmi sama siapa sih mau mu.. gina apa rahmalian 😏
𓆩🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴬᴸᶻ Ⓥⓘⓥⓘⓐⓝ𓆪
Apa sebenarnya rencana kedua orang tua mereka ya 🤔
kayak mau deketin Azmi sama gina
Val07
busyet tangannya ringan bener, main tarik rambut anak orang 🤣
Hunk: gpp dio emang pingin botak katanya.
makasih kak sudah membaca🤭🤭/Heart/🙏
total 1 replies
Serena Khanza
duuh kata kata nya jleb banget lagi 🥹
Serena Khanza: sama sama kak 🤭
total 2 replies
Panda
serius ini Dio nempel banget sama cewek cewek

kek nyaman bener

ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok

aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏

ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)

main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..

ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita

penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???
Panda: nahhh kannn beneran ini harusnya Uda ada di lebih awal chapterrr biar Dio gak jadi sus 😏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!