Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Tanpa di sadari
Malam itu pesta terasa hidup. Musik, tawa, percakapan—semuanya bercampur jadi satu.
Tapi tidak untuk Gina.
Sejak tadi, senyum manis itu tak pernah lepas dari wajahnya—senyum yang rapi, sopan, dan terlatih. Senyum yang biasa dipakai orang-orang yang terbiasa tampil sempurna di depan siapa pun.
Namun.... hatinnya tidak pernah benar-benar ikut tersenyum.
Gina berdiri sedikit di belakang orang tuanya.
Ia masih bisa merasakan jelas bagaimana dinginnya balasan mereka saat keluarga Siva mencoba menyapa tadi.
Dadanya terasa tidak nyaman.
Sesekali ia melirik ke arah Siva.
Ada rasa takut yang tidak ingin ia akui—
Takut kalau sikap orang tuanya perlahan menciptakan jarak di antara mereka.
Takut persahabatan mereka ikut retak hanya karena sikap orang tuanya.
Pandangan Gina kembali beralih.
Tanpa sengaja, matanya bertemu Dio.
Lelaki itu tidak bicara apa-apa.
Tapi raut wajahnya jelas—tidak suka. Sedikit kesal. Entah pada situasi… atau pada orang tuanya.
Gina langsung menunduk.
Malu.
Bahkan menatap balik pun ia tidak berani.
Di tengah keramaian, Azmi yang sejak tadi berdiri bersama mulai menyadari sesuatu.
Terlihat ujung kuku Gina perlahan menggesek sela-sela jarinya sendiri—gerakan kecil yang nyaris tak terlihat orang lain.
Kebiasaan Lama yang selalu muncul setiap kali ia menahan sesuatu di dalam dirinya.
Ia sempat ragu.
Namun pada akhirnya… tetap melangkah mendekat.
Ia memilih diam—tanpa bertanya, tanpa menyinggung apa pun.
“Ayo… kita ke meja hidangan,” ucapnya santai, tapi cukup jelas untuk didengar semua orang.
Nada suaranya ringan—seolah hanya ajakan biasa.
Padahal maksudnya sederhana: menjauhkan mereka dari suasana yang terlalu kaku.
Dio langsung angkat suara.
“Iya, bener. Dari tadi gue ngincer dessert-nya,” sahut Dio cepat.
“Iya, aku juga belum makan gara-gara Dio ribut mulu,” timpal Siva sambil berjalan.
Diana terkekeh pelan, lalu ikut melangkah bersama mereka.
Ketiganya bergerak menuju meja hidangan, meninggalkan suasana yang tadi terasa kaku di belakang.
Gina menoleh ke arah Azmi.
Ia tidak tahu sejak kapan Azmi bisa membaca keadaannya… bahkan sebelum ia sempat bicara.
Gina lalu melangkah mengikuti Dio, Siva, dan Diana. Azmi berjalan di sampingnya, tanpa banyak kata.
Sepanjang langkah itu, Gina tampak lebih ringan.
Senyumnya kembali muncul, kecil tapi nyata.
Sesekali ia menatap Azmi—lalu buru-buru memalingkan wajah saat Azmi membalas tatapannya.
Hening beberapa detik.
“Terima kasih,” ucap Gina pelan.
Azmi hanya mengangguk singkat, seolah itu hal yang wajar. Bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.
Gina tersenyum tipis, lalu mempercepat langkahnya, menyamakan jarak dengan sahabat-sahabatnya di depan.
...----------------...
Di dekat meja hidangan, suasana terasa lebih ringan.
Musik kembali terdengar jelas. Tawa bercampur dengan suara gelas yang beradu.
Semuanya tampak normal.
Tapi Gina tidak benar-benar ikut di dalamnya. Ia hanya berdiri di sudut ruangan, memperhatikan sahabat-sahabatnya dari jauh tanpa benar-benar bergabung.
Di dalam Kepalanya, kejadian tadi masih terulang.
Nada dingin ayahnya.
Cara ibunya menjawab singkat.
Tatapan orang-orang yang pura-pura tidak melihat.
Semuanya masih tertinggal… dan belum benar-benar pergi.
Dan entah kenapa—
semua itu membuat dada Gina terasa sesak, pikirannya berantakan, dan hatinya sakit tanpa ia tahu harus menyalahkan siapa.
Azmi yang sejak tadi memperhatikan, akhirnya kembali mendekati Gina.
“Kenapa bengong? Nggak nikmatin pestanya kayak yang lain?” tanya Azmi sambil menyenggol pelan lengan Gina dengan sikutnya.
Gina tersenyum tipis, lalu menggeleng.
Ia tetap diam. Pikirannya masih tertinggal di kejadian tadi.
Azmi memperhatikannya sebentar, lalu ikut menatap ke arah keramaian.
“Padahal temen-temen kamu lagi seru loh,” katanya santai.
“Aku aja jadi pengen gabung.”
Mendengar itu, Gina ikut menoleh ke depan.
Di tengah pesta, Dio terlihat menari asal tanpa ritme, satu tangannya sibuk mengemil makanan. Siva tertawa sambil menepuk lengannya, sementara Diana hanya menggeleng pelan, tersenyum melihat tingkahnya.
Pemandangan itu sederhana… tapi hangat.
Senyum Gina pelan-pelan kembali.
"Iya juga… mereka sahabatku.Nggak mungkin mereka ninggalin aku cuma karena hal kayak gitu."
Gina terkekeh kecil tanpa sadar.
Siva yang melihat langsung melambai.
“Ngapain ketawa sendiri? Sini ikutan!”
Dio ikut menimpali, “Jangan cuma nonton doang!”
Gina tersenyum lebih lepas.
“Iya, iya… aku nanti ke sana.”
Namun kakinya tidak langsung bergerak.
Ia masih berdiri di tempat, ragu. Pandangannya sempat jatuh ke arah orang tuanya, lalu kembali ke keramaian. Ada sesuatu yang menahannya—perasaan yang sulit dijelaskan.
Azmi yang berdiri di sampingnya memperhatikan itu.
“Ngapain kamu cemas? Menurutku temen-temenmu peduli banget sama kamu,” ucap Azmi pelan.
Gina menatap ke arah Siva, Diana, dan Dio yang masih bercampur dengan keramaian.
“Entahlah… aku cuma takut aja,” jawabnya lirih.
“Takut suatu saat… aku kehilangan mereka semua.”
Azmi tidak langsung menanggapi. Ia membiarkan beberapa detik berlalu sebelum bicara lagi.
“Soal ayahmu…” katanya hati-hati,
“kenapa kamu nggak pernah coba ngomong jujur ke dia?”
Gina langsung menggeleng kecil.
“Aku nggak berani.”
Azmi menoleh.
“Emang ayahmu suka main tangan?”
“Enggak.”
“Terus… bakal marah besar kalau kamu nggak nurut?”
Gina menggeleng lagi.
“Enggak juga.”
Azmi mengerutkan dahi.
“Lalu… kamu takut apa?”
Gina terdiam.
Pertanyaan itu sederhana, tapi justru bikin kepalanya kosong.
Ia menunduk, jemarinya saling bertaut.
“Entahlah…” gumamnya pelan.
“Mungkin… aku cuma takut dia kecewa.”
Azmi masih menunggu.
“Kecewa karena apa?”
Gina membuka mulut, tapi tidak ada kata yang keluar.
Ia sendiri bingung.
Selama ini ia selalu takut pada ayahnya—takut melawan, takut menolak, takut gagal.
Padahal… ayahnya tidak pernah memukul.
Tidak pernah mengancam.
Tidak pernah benar-benar memarahinya dengan keras.
Lalu sebenarnya… apa yang ia takuti?
Gina menelan ludah pelan.
“Aku… nggak tahu,” bisiknya akhirnya.
Pertanyaan Azmi justru membuatnya sadar—
bahwa mungkin selama ini ia bukan takut pada ayahnya…
melainkan takut tidak lagi jadi kebanggaan satu-satunya orang yang paling ia ingin buat bangga.
Beberapa detik azmi hanya menatap Gina, lalu menghela napas kecil.
“Berarti… yang kamu takutin bukan ayahmu,” ucapnya pelan.
Gina menoleh.
“Tapi kehilangan tempat di hatinya.”
Gina terdiam.
Dadanya terasa sesak, seolah sesuatu yang selama ini ia simpan… akhirnya disebutkan dengan jelas oleh orang lain.
Ia menunduk lagi, suaranya nyaris tak terdengar.
“Iya…”
Tiba-tiba Dio muncul di antara mereka.
“Ngapain sih berduaan mulu?” celetuknya santai, tapi nadanya menusuk.
Gina refleks menjauh setengah langkah dari Azmi.
“Enggak kok…” jawabnya cepat.
Tanpa menunggu apa pun, ia langsung berbalik dan berjalan ke arah Siva.
Meninggalkan Azmi… dan Dio.
Dio memperhatikan punggung Gina yang menjauh. Ada sesuatu yang terasa aneh—cara Gina menghindar, cara Azmi tetap diam.
Namun rasa itu langsung tertutup oleh kesal yang sejak tadi ia tahan.
Kemarin Azmi dekat dengan Rahmalia.
Tadi… juga sama.
Sekarang… Gina.
Tatapan Dio beralih pelan ke arah Azmi.
Menyipit.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
ia benar-benar mulai merasa… tidak suka.
kek nyaman bener
ga mau kasih dia temen Deket cowok atau dia harusnya ada geng cowok
aneh aja kalau dari perspektif cowok 😏
ada sih yang nempel sama geng cewek cuma ehem biasanya rada gemulai (maaaap)
main sama anak cewek itu ga bebas ga bisa gaplok2an yang biasa jadi 'bahasa' persahabatan antar cowok..
ini Dio beda sendiri dan baru kuliat di cerita
penasaran aja apa dia itu punya temen lain selain ngekorin cewek cewek???
kadang anak pertama itu memang didik lebih keras dari kecil, karena tanggung jawab anak pertama itu besar .
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰