NovelToon NovelToon
Cinta Dari Perjodohan

Cinta Dari Perjodohan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Romansa
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Cumi kecil

Khayla Atmaja, gadis 21 tahun yang ceria dan berani, harus menerima kenyataan dijodohkan dengan Revan Darmawangsa, pria 32 tahun yang dingin dan sibuk dengan pekerjaannya. Perjodohan yang diatur oleh Kakek Darius itu mempertemukan dua pribadi yang bertolak belakang. Khay yang hangat dan blak-blakan, serta Revan yang tertutup dan irit bicara. Awalnya pernikahan ini hanya dianggap kewajiban, namun seiring waktu, kebersamaan perlahan menumbuhkan perasaan yang tak terduga, mengubah perjodohan menjadi cinta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 DAPAT SARAPAN SPESIAL.

Mereka tertawa bersama.

Khay menarik napas panjang. Di sinilah dunianya yang lama berada. Tempat di mana ia bisa jadi dirinya sendiri tanpa beban status, tanpa panggilan nyonya, tanpa tatapan penuh ekspektasi.

“Duduk, duduk,” kata Rika. “Ceritain dong, pulang ngapain aja?”

Khay mengambil botol minum dari tasnya, meneguk sedikit, lalu mengangkat bahu. “Acara keluarga.”

“Acara keluarga doang sampai dianter mobil sultan?” Vani menyeringai.

“Van,” Rika menegur. “Jangan maksa.”

Vani mendengus, tapi matanya tetap berbinar penuh rasa ingin tahu. “Ya kan penasaran.”

Khay tersenyum kecil. “Nanti kalau waktunya tepat, gue cerita.”

Sinta mengangguk pelan. “Yang penting kamu baik-baik saja.”

Kalimat itu membuat Khay terdiam sesaat. Ia memang baik-baik saja… atau setidaknya berusaha terlihat begitu.

Sore menjelang, kamar asrama kembali dipenuhi suara. Rika sibuk melipat baju, Sinta membaca modul, Vani tiduran sambil main ponsel, sementara Khay duduk di kasurnya sendiri, menatap layar ponsel yang menyala.

Satu pesan masuk.

Revan: Sudah sampai?

Khay menatap nama itu cukup lama sebelum membalas.

Khay: Sudah, Mas.

Tak sampai satu menit, balasan datang.

Revan: Jangan lupa makan malam. Kalau capek, istirahat.

Khay menggigit bibir. Perhatian kecil seperti itu terasa… asing. Hangat. Ia mengetik pelan.

Khay: Iya. Mas juga.

Ia meletakkan ponsel di samping bantal, tapi senyum kecil masih bertahan di wajahnya.

“Heh,” Vani tiba-tiba duduk. “Lo senyum-senyum sendiri. Jangan bilang_”

“Vani,” potong Khay cepat.

Vani mengangkat kedua tangan. “Oke, oke. Gue diem.”

Namun dalam hati, Vani sudah menyusun puluhan teori.

Khay merebahkan tubuh, menatap langit-langit kamar asrama yang penuh noda bekas bocor. Jauh berbeda dengan plafon tinggi berlampu kristal di rumah Revan. Dua dunia yang sangat kontras dan entah bagaimana, ia berada di tengah-tengahnya.

Ia mengingat kata-kata Revan pagi tadi.

Aku ingin kita memulainya dari awal.

Khay menghembuskan napas pelan. “Awal yang aneh,” gumamnya lirih.

Namun untuk pertama kalinya, ia tidak merasa ingin lari.

Malam itu, di kamar asrama sederhana, di antara tawa teman-temannya dan bunyi kipas angin tua, Khay menutup mata dengan perasaan yang belum pernah ia kenal sebelumnya perasaan bahwa hidupnya benar-benar sedang bergerak ke arah yang baru.

PAGI HARI.

Pagi datang dengan cara yang sangat akrab bagi Khay.

Jam dinding di kamar asrama belum menunjukkan pukul enam ketika matanya perlahan terbuka. Cahaya matahari menyelinap malu-malu dari sela tirai tipis, menyentuh wajahnya yang masih setengah mengantuk. Suara napas teratur terdengar dari tiga arah berbeda Vani, Rika, dan Sinta masih terlelap dalam dunia mimpi masing-masing.

Khay mengangkat tubuhnya perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara. Ia melirik ke arah jam tangan di pergelangan tangannya, lalu tersenyum kecil.

Masih sempat jogging.

Rutinitas ini sudah ia jalani sejak awal masuk kampus. Bukan karena ingin tubuh ideal atau sekadar ikut tren hidup sehat, tapi karena jogging pagi membuat kepalanya lebih jernih. Seolah semua beban bisa ditinggal sementara di lintasan lari.

Ia mengambil handuk kecil, botol minum, dan sepatu olahraga. Dengan cekatan, Khay mengganti pakaian, mengikat rambutnya tinggi-tinggi, lalu keluar kamar dengan langkah ringan.

Udara pagi kampus terasa segar. Embun masih menempel di rerumputan, dan langit biru pucat terlihat bersih tanpa awan. Beberapa mahasiswa sudah terlihat berjalan cepat menuju gedung fakultas, sementara sebagian lain duduk di bangku taman dengan wajah setengah sadar.

Khay mulai berlari kecil, memutari lapangan kampus yang luas. Napasnya teratur, langkahnya ringan. Musik dari earphone mengalun pelan, menemani gerak tubuhnya yang luwes.

Sudah hampir satu putaran penuh ketika keringat mulai membasahi pelipis dan lehernya. Ia memperlambat langkah, lalu berhenti sejenak di pinggir lapangan. Handuk kecil langsung ia gunakan untuk mengusap dahi dan tengkuknya.

“Nona.”

Khay menoleh. Seorang sekuriti kampus berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan seragam cokelat tua dengan topi yang sedikit miring.

“Iya, Pak?” jawab Khay ramah.

“Ini ada titipan,” kata pria itu sambil mengulurkan sebuah paper bag cokelat. “Katanya untuk nona.”

Khay mengerutkan kening. “Buat aku?”

“Iya,” jawab sekuriti itu mantap.

Khay menerima paper bag tersebut dengan raut bingung. Kantong itu terlihat rapi, bersih, dan jelas bukan makanan dari kantin kampus.

“Dari siapa, Pak?” tanya Khay jujur. “Soalnya aku gak pesan makanan.”

Sekuriti itu tersenyum kecil. “Saya cuma disuruh nganterin, Nona. Katanya sarapan.”

Khay menunduk, menatap paper bag di tangannya. Di bagian samping, ia melihat selembar kertas kecil yang diselipkan rapi. Dengan jari yang masih sedikit gemetar karena lelah berlari, ia mengambil kertas itu.

Tulisan tangan yang tegas namun rapi langsung menyambut matanya.

Untuk istriku. Selamat sarapan. Jangan telat makan. – R

Khay terpaku.

Detik itu juga, bibirnya melengkung membentuk senyum kecil yang sulit ia tahan. Ada rasa hangat yang menjalar pelan dari dadanya, membuat langkah kakinya terasa lebih ringan dari sebelumnya.

Istriku.

Kata itu masih terdengar asing, tapi entah kenapa tidak lagi membuatnya ingin menolak. “Terima kasih ya, Pak,” ucap Khay akhirnya.

“Sama-sama, Nona,” jawab sekuriti itu sambil mengangguk lalu pergi.

Khay berdiri beberapa saat, menatap paper bag di tangannya seolah itu benda paling berharga di dunia. Gadis yang biasanya bar-bar, ceplas-ceplos, dan tidak gampang baper itu kini tersenyum sendiri seperti orang bodoh.

“Hadeh, Revan…” gumamnya pelan.

Ia membuka sedikit isi paper bag itu. Aroma makanan hangat langsung menyeruak nasi, lauk, dan buah yang tertata rapi. Jelas bukan sarapan asal-asalan.

Tanpa menunda lagi, Khay memutuskan kembali ke asrama. Ia berjalan cepat, nyaris melompat kecil saking senangnya.

Begitu sampai kamar, pemandangan masih sama. Tiga temannya masih terlelap, bahkan Vani terlihat berguling sambil memeluk bantal.

Khay meletakkan paper bag di atas meja kecil, lalu mengambil ponselnya dari dekat bantal. Layar menyala, menunjukkan tidak ada pesan baru sejak semalam.

Ia membuka aplikasi pesan, mencari satu nama yang kini terasa sangat berbeda maknanya.

Revan.

Jarum jam seolah berhenti berputar ketika Khay mulai mengetik.

Khay: Mas…

Ia berhenti sejenak, lalu menghapus. Menarik napas, mengetik ulang.

Khay: Mas Revan, aku baru selesai jogging.

Beberapa detik kemudian, tanda typing… muncul.

Revan: Pagi. Kamu sudah lari pagi?

Khay tersenyum.

Khay: Iya. Terus aku dapat titipan sarapan.

Tak sampai satu menit.

Revan: Sudah sampai ke kamu?

Khay: Iya.

Khay menggigit bibir, lalu menambahkan.

Khay: Makasih… aku gak nyangka.

Balasan Revan datang lebih lama dari sebelumnya, seolah ia memilih kata dengan hati-hati.

Revan: Aku cuma gak mau kamu telat makan. Kamu capek setelah lari.

Khay menatap layar ponsel, jantungnya berdegup lebih cepat.

Khay: Mas tau aja.

Revan: Aku belajar.

Khay terkekeh pelan.

Khay: Tulisannya lebay, tau gak?

Revan: Yang mana?

Khay: “Untuk istriku.”

Ia menunggu. Satu detik. Dua detik.

Revan: Kamu keberatan?

Khay terdiam cukup lama kali ini. Ia melirik ke arah teman-temannya yang masih tidur, lalu kembali menatap ponsel.

Khay: Enggak.

Satu kata itu terasa berat, tapi juga jujur.

Revan: Baik.

Khay bisa membayangkan senyum kecil di wajah Revan saat membaca pesan itu.

Khay: Aku makan ya.

Revan: Makan yang banyak. Nanti masuk kelas.

Khay: Iya, Mas.

Khay meletakkan ponsel, lalu duduk di tepi kasur sambil menatap paper bag itu lagi. Ia menggeleng pelan, masih tidak percaya hidupnya berubah sejauh ini dalam waktu singkat.

Saat ia mulai membuka makanan, Vani tiba-tiba berguling dan membuka mata.

“Bau apa itu?” gumamnya setengah sadar.

Khay refleks menoleh. “Pagi.”

Vani mengucek mata, lalu duduk. Pandangannya langsung tertuju pada makanan di meja. “Wih… sarapan sultan?”

Rika dan Sinta ikut terbangun karena suara Vani.

“Khay?” Rika menguap. “Itu dari mana?”

Khay menutup paper bag setengah. “Titipan.”

“Titipan siapa?” Vani mendekat dengan mata berbinar.

Khay menyuapkan satu sendok makanan ke mulutnya, lalu menjawab santai, “Orang baik.”

Vani mendengus. “Curiga gue.”

Namun Khay hanya tersenyum sambil makan dengan lahap. Di dalam hatinya, ada perasaan aneh bahagia, canggung, sekaligus hangat.

Ia masih Khay yang sama. Mahasiswi asrama, cewek bar-bar yang suka lari pagi. Tapi sekarang, ada seseorang di luar sana yang mengingatkannya untuk makan, yang mengirim sarapan dengan selembar kertas kecil penuh makna.

1
erma irsyad
lanjutt thor
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
siapa yang ngawasin..harusnya Khay terus terang saja kalau udah nikah,kan jadi fitnahan nantinya
Drama Queen
Lanjut kak💪
Drama Queen
apa yang kamu pegang khay🤣🤣🤣
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Khay mulai ada perasaan sama suaminya 🥰🥰
erma irsyad
dtunggu Up selnjutnya🥰
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Jaga suamimu Khay jangan ada valak kor diantara kalian
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
🤣🤣🤣🤣🤣
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
Revan cemburu🥰🥰🥰
erma irsyad
thor Up ny jgn lama2 😄
Bungatiem: lanjutkan lagi Doong
total 2 replies
Bungatiem
lanjutkan
Bungatiem
di dunia nyata ada suamiku ga pernah bangunin aku walopun aku tidur sampai siang 😍 Alhamdulillah pernikahan kami sudah berjalan 26 thn 😍
Marchel: Alhamdulillah.. Semoga pernikahannya bahagia terus ya kak 🤗😍
total 1 replies
HjRosdiana Arsyam
Luar biasa
Marchel: Terimakasih kak
total 1 replies
Drama Queen
Revan perhatian banget sih ama istri kecilnya.. 😍😍😍
Drama Queen
lanjut💪
Drama Queen
Revan sangat perhatian ama istri kecil nya😍😍😍
Drama Queen
khay jangan banyak alasan bilang aja kamu takut tidurmu kebablasan dan peluk-peluk suamimu. tenang khay kalian sudah sah jadi bebas 🤣🤣
Drama Queen
gak sabar nunggu mereka malam pertama😄
Drama Queen
kenapa khay setiap bangun pasti kamu kaget dan menjerit 🤣🤣
Drama Queen
Revan sabar ya.. kalian masih masa perbekalan dan pendekatan jadi malam pengantinnya di undur sampai kalian benar-benar dekat🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!