NovelToon NovelToon
Istri Kesayangan Mafia

Istri Kesayangan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Karir / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rifqi Ardiasyah

Alya tak pernah menyangka hidupnya akan terikat pada haruka— pria dingin, tenang dan berbahaya, seseorang dari kalangan atas yang lebih tertarik dengan hidup di dunia mafia.
hubungan mereka bermula dari sebuah kontrak tanpa perasaan, namun jarak itu perlahan runtuh oleh kebiasaan kecil dan perlindungan tanpa kata.

Saat alya mulai masuk ke dunia haruka—kekuasaan, kekayaan dan rahasia kelam.
ia sadar bahwa mencintai seorang mafia berarti hidup di antara kelembutan dan bahaya.

Karena di dunia haruka, menjadi istri kesayangan bukan hanya soal cinta..
tapi juga bertahan hidup.

Thx udah mampir🙏

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rifqi Ardiasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21. kalah tanpa perlawanan

Film masih berjalan, tapi entah sejak kapan aku berhenti benar-benar memperhatikannya. Cahaya dari layar menari samar di dinding, sesekali memantul di wajah Haruka yang masih bersembunyi di balik punggungku. Tangannya tetap melingkar di pinggangku, kini lebih santai—bukan menahan, tapi menerima.

Aku menarik napas pelan.

“Pak…” panggilku lirih, setengah bercanda, setengah sungguh.

Tidak ada jawaban. Hanya hembusan napas hangat yang menyentuh tengkukku.

Aku tersenyum kecil. “Kalau terus begini, nanti leherku pegal loh.”

Gerakan kecil terasa. Haruka menggeser wajahnya sedikit, tidak lagi sepenuhnya bersembunyi, tapi juga belum berani menatapku. Dagunya bertumpu ringan di bahuku. Diam. Pasrah. Seolah semua perlawanan yang biasa ia bangun rapi… runtuh malam ini.

Film menampilkan adegan tegang, musiknya meninggi. Aku refleks menyandarkan tubuhku lebih erat ke dadanya. Kali ini, Haruka tidak kaget. Tidak menegang. Justru lengannya mengencang sedikit, memelukku lebih pasti.

“Takut?” suaranya akhirnya terdengar. Rendah. Hati-hati.

Aku menggeleng kecil. “Enggak.”

Lalu menambahkan pelan, “Selama begini.”

Haruka terdiam. Aku tahu, kalimat itu menang telak.

Beberapa detik berlalu dalam hening yang nyaman. Tidak ada godaan, tidak ada ejekan. Hanya dua orang yang sama-sama lelah menjaga jarak, kini memilih diam bersama.

“Alya,” katanya lagi, lebih pelan dari sebelumnya.

“Hmm?”

“Kamu itu…”

Kalimatnya menggantung. Tidak dilanjutkan.

Aku tidak memaksa. Hanya tersenyum dan tetap di sana, di pangkuannya, di dalam lingkar lengannya. Kadang, diam adalah jawaban yang paling aman.

Tiba-tiba, tangannya naik sedikit, mengusap rambutku sekali—singkat, kikuk, tapi nyata. Aku hampir tertawa karena itu, tapi kutahan. Aku tahu, sentuhan sekecil itu adalah bentuk kekalahan terbesarnya.

Film akhirnya masuk ke bagian akhir. Musiknya melembut.

Dan di tengah semua itu, Haruka bersandar ke belakang sofa, menarikku lebih dekat ke dadanya.

Aku menguap kecil tanpa sadar, kepalaku makin berat.

“Pak…” suaraku serak, setengah mengantuk.

“Hmm?”

“Aku ngantuk. Mau tidur.”

Haruka menunduk sedikit, menatapku dari atas. Tatapannya tidak lagi waspada—hanya lelah, dan hangat. Ia mengangguk pelan.

“Aku antar.”

Ia mematikan televisi, lalu berdiri sambil tetap menahanku agar aku tidak terhuyung. Tangannya menopang punggungku saat kami berjalan ke kamar. Lampu dinyalakan redup. Dunia terasa menyempit, tinggal langkah kami berdua.

Sesampainya di kasur, Haruka membantuku duduk, lalu perlahan merebahkanku. Selimut ditarik sampai dada. Gerakannya rapi, hati-hati—seperti takut membangunkanku sepenuhnya.

“Tidur,” katanya pelan.

Ia berbalik.

Tanganku langsung bergerak, menarik ujung bajunya.

“Pak.”

Ia berhenti, menoleh. “Kenapa?”

Aku menatapnya dengan mata setengah terpejam tapi senyum masih nakal.

“Cium dulu dong. Jangan langsung pergi.”

Lalu kutambahkan, lirih tapi jelas,

“Kalau nggak dicium… nggak boleh pergi.”

Haruka membeku.

Benar-benar berhenti bergerak.

“Alya…” katanya pelan, nyaris mengeluh.

Aku memiringkan kepala di bantal. “Sekali aja. Aturannya dari aku.”

Beberapa detik berlalu. Sunyi.

Lalu ia menghela napas panjang—napas orang yang tahu ia kalah, dan memilih tidak melawan.

Ia mendekat. Duduk di tepi kasur. Tangannya ragu-ragu, lalu menopang tubuhnya sendiri. Wajahnya turun sedikit.

Ciumannya singkat. Lembut. Nyaris seperti sentuhan angin di kening—atau sudut rambutku. Tidak terburu-buru. Tidak menuntut apa pun.

Tapi cukup.

“Sudah,” katanya cepat, jelas ingin pergi sebelum wajahnya betraktir lebih jauh.

Aku tersenyum puas, menarik selimut lebih tinggi.

“Selamat malam, Pak.”

Ia tidak langsung menjawab.

Hanya berdiri, membetulkan jaketnya, lalu sebelum keluar kamar berkata pelan, hampir tak terdengar,

“Selamat tidur, Alya.”

Lampu dimatikan. Pintu ditutup perlahan.

Dan malam itu, aku tertidur dengan senyum kecil—

bukan karena filmnya,

tapi karena seseorang akhirnya belajar tinggal… walau sebentar.

Entah berapa lama aku tidur, tenggorokanku terasa kering.

Aku membuka mata pelan, menatap langit-langit kamar yang temaram.

Haus.

Dengan langkah hati-hati, aku turun dari kasur. Lantai dingin menyentuh telapak kakiku saat aku keluar kamar. Lampu ruang tamu masih menyala redup.

Dan di sanalah dia.

Haruka duduk di sofa, laptop terbuka di pangkuannya. Kacamata bertengger di hidungnya, rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya serius—terlalu serius untuk jam segini. Jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard, tapi bahunya rileks, seperti seseorang yang tidak sedang berjaga… hanya berpikir.

Aku berdiri beberapa detik, memperhatikannya.

Ternyata, dia belum tidur.

Aku mengambil air minum di dapur, meneguknya perlahan. Setelah itu, aku melirik ke arah ruang tamu lagi.

Dia masih fokus. Tidak melihatku.

Dan di situlah ide itu muncul.

Aku menaruh gelas pelan-pelan. Langkah kakiku kutahan agar tidak berbunyi. Aku berjalan menyusuri sisi sofa, mendekat dari belakang. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat—seperti anak kecil yang akan melakukan kenakalan kecil.

Satu langkah lagi.

Aku berjinjit. Mendekatkan wajahku ke sampingnya.

Lalu—

aku mencium pipinya.

Cepat. Singkat. Hangat.

“—!”

Haruka tersentak. Tangannya berhenti di keyboard. Kepalanya menoleh setengah, matanya membesar sesaat.

Tapi aku sudah berlari.

Aku tertawa pelan sambil berlari kembali ke kamar, menutup pintu dengan hati-hati, lalu menyelinap kembali ke bawah selimut. Dadaku naik turun, bukan karena capek—tapi karena senang.

Aku memejamkan mata, senyumku belum hilang.

Beberapa detik berlalu.

Dari luar kamar, terdengar langkah pelan. Berhenti tepat di depan pintuku. Tidak ada ketukan. Tidak ada suara.

Hanya keheningan.

Aku tahu dia di sana.

Lalu langkah itu menjauh.

Aku menarik selimut lebih tinggi, memeluk bantal, senyumku makin lebar.

Malam itu,

aku tidur dengan rasa puas kecil di dada—

karena aku tahu,

di ruang tamu sana,

seseorang sedang duduk dengan pipi yang masih hangat…

dan hati yang sedikit kacau karenaku.

1
Jingle☘️
kamu harus bisa meluluhkan agar kamu bisa punya benteng untuk hidupmu sendiri
Jingle☘️
tuh kan benar huh/Panic/
yanzzzdck: nikmatin aja nanti juga paham alurnya, dan trimakasih sudah mampir🙏
total 1 replies
Jingle☘️
punya masalah bau baunya mau menjual anaknya dalam konsfirasi pasti🤔
Salsabilla Kim
💪💜🌸
yanzzzdck
bagus
Tati Hartati
Makasih banget ya tadi jempolnya dan masyaallah kamu luar biasa lho bikin dua novel dan selalu konsisten. Semangat terus ya buat Kita sesama penulis baru ,salam kenal ya 🙏💪🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!