NovelToon NovelToon
Lumpuh

Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen Angst / Romantis / Cintapertama
Popularitas:700
Nilai: 5
Nama Author: Vermilion Indiee

Dibunuh berkali - kali tapi tidak mati.

Itulah kehidupan Alexa. Terlahir dari keluarga yang tidak benar - benar utuh, Alexa tumbuh dengan luka yang terlalu dini. Ia bahkan menyaksikan sendiri saat ayahnya, dalam keadaan mab*k, memb*nuh Ibunya.
Steven—orang asing yang kebetulan ada di tempat kejadian kala itu, justru menambah tekanan hidup Alexa karena melibatkannya dengan polisi.
Alexa pikir, dia akan membenci Steven. Namun yang terjadi sebaliknya.
Peran Steven di kehidupan Alexa menjadi begitu penting. Harapan untuk sembuh dari luka dan trauma masa lalunya cukup besar dengan kehadiran Steven.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vermilion Indiee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 10 - Nol - Nol

Alexa masuk ke kantor polisi dengan tubuh sempoyongan seperti kehilangan setengah kesadarannya. Pandangannya buram tapi bisa merasakan ada banyak orang di sana yang juga sepertinya juga sedang mengunjungi keluarga mereka yang ada di lapas.

Kebingungan, Alexa berputar - putar seperti orang linglung—mencari petugas atau orang yang bisa dia tanyai mengenai ayahnya. Pikirannya sudha terlalu kacau.

"Ayah? Siapa pun, bisa tolong pertemukan aku dengan ayahku?" Alexa berbicara menepuk pundak seseorang yang tidak dikenalnya.

Semua pasang mata tertuju padanya—tapi tidak dia pedulikan.

"Bisa tolong panggilkan ayahku?" Lagi - lagi Alexa mengganggu narapidana lain yang sedang bertemu dengan keluarga mereka.

Saat itu dia pikir, semua orang yang mengenakan baju lapas mengenal ayahnya dan bisa membantunya bertemu dengan ayahnya. Keributan mulai terjadi. Semua orang berbisik - bisik membicarakan Alexa.

"Pak, Anda mengenal Ayah saya? Tolong panggilkan beliau." Alexa memohon di depan pria paruh baya yang tengah makan dari kotak bekal yang dibawakan oleh keluarganya.

Belum mendapat tanggapan dari orang itu, tiba - tiba tubuhnya ditarik menjauh dari sana oleh seseorang—dengan cukup kasar membuat Alexa sempat jatuh ke lantai, tapi langsung bangkit.

Dia mendapati seorang wanita dengan pakaian seragam polisi yang menariknya menuju ke sebuah kursi.

"Tolong jangan ganggu ketenangan orang - orang," katanya memperingatkan.

Alexa mengangguk kecil dan menatap mata Polwan itu meskipun tidak begitu jelas wajahnya.

"S - saya mau bertemu ayah saya," katanya parau.

"Katakan, siapa nama ayahmu?" Petugas lain yang duduk di depan Alexa turut menimpali.

Alexa mengganti posisi duduknya kini menghadap ke petugas pria yang menatap layar komputernya dengan serius.

"Pak Alex. Alex Wijaya Putra," jawab Alexa.

Petugas itu langsung mengangkat wajahnya menatap Alexa beberapa saat sebelum bertatapan dengan petugas polisi yang berdiri di samping Alexa. Mereka seperti sedang bicara dadi hati ke hati.

"Apa kamu putri kandungnya?" tanya Petugas itu.

Alexa mengangguk mantap. Dia tidak malu mengakuinya. Sejahat apa pun ayahnya, itu tidak akan menghapus status bahwa mereka memiliki hubungan darah yang erat.

Kedua petugas itu saling berbisik membuat Alexa langsung menundukkan kepalanya berharap dia bisa bertemu dengan ayahnya paling tidak sekali untuk terakhir kalinya jika memang hukuman ayahnya tidak bisa mendapatkan keringanan.

"Pak Alex, telah dibawa keluar untuk dipindahkan," jelas Sang Petugas.

"Apa Ayah saya akan dihukum m4ti?"

"Benar."

"Tapi saat kejadian itu, Ayah dalam kondisi m4buk. Itu bukan p3mbunuhan berencana. Ayah saya melakukan itu tanpa sadar." Alexa berusaha menjelaskan.

Dia tahu itu tidak akan ada gunanya. Persidangan sudah usai—palu sudah diketok. Tak ada yang bisa mengubah keputusan itu. Tapi Alexa hanya ingin memberitahu semua orang bahwa ayahnya tidak merencanakan p3mbunuhan itu.

"Kamu salah kalau berpikir kami bisa membatalkan hukuman ayah kamu karena kamu membelanya didepan kami." Polwan itu memandang Alexa iba.

"Kamu seharusnya membela ayahmu di pengadilan. Dan yang membuatnya mendapatkan hukuman m4ti bukan karena dia m3mbunuh ibumu. Ada korban lain." Petugas Pria menambahkan.

Dunia Alexa benar - benar runtuh seruntuh - runtuhnya mendapatkan pernyataan yang tak pernah di sangkanya itu.

Tenggorokannya seperti dicekik membuatnya kesulitan bernafas. Tapi tak ada lagi tangis yang bisa dia luapkan. Bahkan seakan... mati rasa karena terlalu hancur.

"Ada tiga korban yang meninggal karena Pak Alex. Keluarga mereka menuntutnya."

Alexa tak pernah tahu soal itu. Dia merasa semakin bersalah karena tidak pernah benar - benar mengenal ayahnya, tak pernah tahu apa yang membuat ayahnya menjadi p3mbunuh.

"Pak!" Petugas lain datang menghampiri petugas pria yang sedang berbicara dengan Alexa dan membisikkan sesuatu.

"APA?!" pekiknya tiba - tiba membuat Alexa terkejut.

"Pak Alex kabur di tengah perjalanan." Petugas pria itu memberitahu pada Polwan.

Pikiran Alexa masih mencerna apa yang sedang dibicarakan pada petugas itu. Dan entah kenapa, ketika dia menangkap maksud dari itu, Alexa tertawa.

Dia terbahak - bahak membuat semua memandangnya dengan wajah kebingungan. Bahkan beberapa orang bangkit karena merasa takut.

"Kenapa kamu tertawa?!" bentak Polwan.

"Ayah tidak jadi mati, kan?" balas Alexa di tengah - tengah tawanya.

"Jangan bilang... kamu bersekongkol dengan ayahmu!" tuduh Polwan.

Alexa masih tak bisa menahan tawanya sambil menggeleng menyangkal tuduhan petugas. Dia tidak bertemu dengan ayahnya sejak kejadian itu. Tidak mungkin dia bersekongkol dengan ayahnya.

Para petugas langsung meringkus Alexa karena berpegang pada kesimpulan asal mereka.

"Saya tidak dekat dengan ayah saya. Bagaimana bisa saya membantunya kabur?" ucap Alexa memberontak.

"Lalu kenapa kamu tertawa?!" Dua petugas menggenggam tangannya ke belakang agar tidak bisa melakukan perlawanan.

"Apa salah hanya karena saya tertawa?"

"Itu mencurigakan."

"AKU HANYA GILA!" teriak Alexa—kali ini menangis.

Tubuhnya lemas dan dia terduduk di lantai—sesegukan. Terlalu banyak yang terjadi, terlalu banyak luka, terlalu banyak trauma sampai Alexa tak tahu lagi harus menunjukkan ekspresi apa untuk menunjukkan emosinya.

Sesaat mati rasa, sesaat menjadi begitu sakit kemudian seperti kehilangan kewarasan. Alexa tak lagi memiliki apa pun bahkan tujuan untuk hidup.

Tangannya dilepas ketika dia meraung - raung di kantor polisi, menjadi tontonan petugas, narapidana dan benyak orang.

"Bawa dia pergi untuk menenangkan diri," ucap salah satu petugas pada Polwan.

Alexa yang mendengar itu bangkit meski masih terisak kemudian berjalan keluar tanpa mengatakan apa pun. Tak peduli apa kata orang, sepanjang jalan dia tetap terisak karena tak lagi bisa menahannya.

Kakinya membawanya kembali ke rumahnya yang sudah dia kosongi berhari - hari. Dia yang awalnya berniat tidak kembali ke sana, akhirnya memutuskan untuk menengok.

"Alexa?" Para tetangga terkejut melihat Alexa yang berjalan sambil menangis.

"Alexa, ayahmu—"

"Aku tahu, Bu," potong Alexa cepat.

"Kamu tahu ayah kamu pulang ke rumah?"

Langkah Alexa langsung berhenti mendengar itu. Dia berpikir kalau dia hanya salah dengar dan memandang wanita pemilik warung yang ada di ujung gang masuk ke arah rumahnya.

Tatapannya seolah bertanya, "Ayah pulang?"

"Ayah kamu sedang mengamuk di rumah."

Saat itu juga, Alexa berlari kencang menuju rumahnya. Kakinya yang sempat lemas menjadi kuat lagi begitu inginnya bertemu dengan ayahnya.

Dia melihat ada banyak sekali orang di depan rumahnya dan juga mendengar keributan dari dalam rumahnya.

Kaki Alexa melangkah memelan.

"Ayah," gumamnya pelan.

Seketika itu juga, suasana menjadi hening. Orang - orang minggir memberikan jalan pada Alexa masuk ke dalam rumah.

Baru masuk, Alexa langsung melihat ayahnya yang sudah babak belur dengan dua tangan dan kaki diikat dengan kursi yang dia duduki. Kain menyumpal mulut dan melingkar menutup matanya.

"Ayah," panggil Alexa dengan suara terputus—nyaris hilang.

Tubuh Alex yang sempat bergerak memberontak seketika membatu karena samar - samar mendengar suara putrinya.

Alexa mendekat, tangannya terulur membuka kain yang menutup mata ayahnya—gemetaran.

Mata mereka akhirnya bertemu. Air mata langsung menetes dari mata Alex melihat putrinya berdiri di hadapannya dengan tubuh kurusnya. Bibirnya pucat dan matanya sembab.

"Aku minta maaf, Ayah," ungkap Alexa mengambil kain yang menyumpal mulut Alex.

"Alexa, ayah—"

"Kenapa Ayah lari? Laki - laki harus bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya 'kan?" sela Alexa cepat. Suaranya tak begitu jelas karena tenggorokannya tercekat.

"Ayah ingin bertemu kamu sebelum Ayah m4ti," aku Alex.

Ucapan Alex berhasil membuat Alexa tertegun. Paling tidak, dia tahu kalau ayahnya bukan kabur dari hukumannya. Dia hanya menunda sedikit waktu hukumannya tiba untuk menemuinya.

"Ayah minta maaf..." Alex menunduk—menangis.

"Aku tidak benci Ayah. Aku tidak benci orang yang memutuskan hukuman Ayah. Aku ikhlas karena Ayah menerima hukuman itu," kata Alexa.

"Maaf karena selama ini menyakiti kamu. Maaf... maaf..." Alex terus meminta maaf.

"Jadi, kita nol - nol ya, Yah." Alexa mengacungkan jempolnya di hadapan ayahnya.

Alex kembali mengangkat wajahnya dan mendapati Alexa tersenyum lebar. Bukan hanya senyum di bibirnya tapi juga di matanya.

Orang yang ada di belakang Alex pun melepas ikatan di tangan Alex. Saat itu, Alex langsung menyatukan jempolnya dengan jempol putrinya.

Sama seperti saat mereka saling berbaikan dulu waktu mereka masih dekat. [ ]

1
Irnawati Asnawi
😍😍😍
Irnawati Asnawi
setiven yang ngomong aku yang dek dekan, 😍😍😍
Vermilion Indiee: Wkwk... aku juga🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!