Seorang Pria sederhana yang berprofesi sebagai Driver Ojol, ingin Berpoligami karena melihat teman SMA nya berhasil dalam poligami.
Namun Ia-Arman tidak mendapatkan restu dari Istrinya.
Berhasil kah Arman si Driver Ojol memperjuangkan Poligami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas Aspal
Jakarta sore itu berselimut kabut asap dan terik yang lembap. Di sebuah emperan toko besi yang sudah tutup, di bilangan Palmerah, lima motor warna-warni berjejak di trotoar.
Para penunggangnya, dengan jaket berlogo berbagai aplikasi, duduk bersila di atas kardus bekas, membentuk lingkaran tidak sempurna. Inilah tempat nongkrong favorit mereka, posko darurat di sela-sela mengejar setoran.
Arman, 35 tahun, menyandarkan tubuhnya di tembok, menyeruput kopi bungkus terakhir yang masih hangat. Jaketnya berwarna hijau terang, sudah kusam di bagian siku, dengan helm putih polos tergantung di stang motornya.
Wajahnya yang biasa-biasa saja, dengan sedikit kumis yang tak rapi, terlihat lebih lelah dari usia sebenarnya. Matanya menyipit menatap lalu-lalang kendaraan.
“Gue tadi dapet penumpang, Bang,” ujar Juki, yang jaket hijaunya sudah pudar, sambil mengunyah kacang rebus.
“Dari Sudirman ke Pondok Indah. Cantik, modis, tas mahal. Eh, pas sampe, bayarnya pake uang receh digeletakin di jok. Kayak bayar tukang sate. Udah gitu, nilainya kurang seribu perak.”
Tawa riuh menggemuruh.
Bayu, yang badannya tambun dan jaketnya paling baru, menambahkan, “Itu mending. Gue semalem nganter bule, mau ke klub malam. Minta ngebut, sambil teriak ‘YOLO! YOLO!’ Aduh, gue kira dia marah-marah. Ternyata itu artinya ‘You Only Live Once’. Untung dia kasih tip lumayan.”
Arman cuma tersenyum tipis, ikut menggeleng. “Gue mah mending yang biasa aja. Yang penting bayar pas, gak minta aneh-aneh, gak muntah di motor."
"Baru tadi pagi, ada yang minta anterin barang doang, sepasang sepatu high heels. Dari Kemang ke Kebayoran. Hati-hati banget disuruhnya. Pas sampe, yang nerima cewek juga, mukanya merah padam, langsung lempar sepatu itu ke dalem rumah. Kayaknya lagi ribut sama pacarnya.”
“Wah, jadi kurir cinta lo, Man!” sahut Dimas, si paling muda di antara mereka, sambil terkekeh.
Obrolan pun mengalir bak macet di jalan tol. Dari politik (“Katanya harga BBM naik lagi nih, bensin kita ini mahal, setoran aplikasi makin ngepres aja!”),
bencana (“Banjarnegara longsor lagi, kasihan ya, kita masih bisa cari duit di sini”), sampai keluhan paling sepele (“Ini aplikasi baru aja nih, tombol ‘online’-nya suka ilang tiba-tiba.
Dikira kita main kucing-kucingan?”).
Ada canda, sindiran, dan gelak tawa yang mengusir lelah sejenak. Dalam lingkaran ini, status mereka sama: prajurit aspal dengan target setoran harian sebagai komandonya.
Di tengah obrolan seru itu, ponsel Arman di saku celana jeansnya yang sudah lapuk bergetar berkali-kali. Ia mengeluarkannya.
Layar yang sedikit retak di sudutnya menampilkan notifikasi dari grup WhatsApp “SMA 57 Bersatu FOREVER”. Ratusan pesan sudah menumpuk. Ia membuka sekilas.
Matanya terpaku pada satu pengumuman yang disematkan admin:
[PENGUMUMAN REUNI TAHUNAN ANGKATAN 2005]
Hari/Tgl: Sabtu, 27 Oktober
Tempat: Resto ‘Sawah’ Kemang
DP: Rp 150.000/orang
Dress code: Casual Elegant
Jantung Arman berdebar tidak karuan. Casual Elegant. Ia melihat dirinya. Jaket ojek online Hijau yang belepotan keringat dan debu.
Sandal jepit yang nyaman untuk narik seharian. Ia membayangkan teman-teman seangkatannya. Pasti ada yang jadi manager, pengusaha, PNS. Mobil, jam tangan mahal, obrolan tentang investasi dan liburan ke luar negeri.
“Ada apa, Man? Wajah lo jadi kayak habit ditinggal penumpang,” goda Bayu.
“Ah, gak ada. Grup alumni aja. Ada reuni,” jawab Arman singkat, mematikan layar ponselnya.
“Dateng dong! Siapa tau ketemu kenalan yang butuh supir pribadi, atau ada bisnis sampingan,” saran Juki polos.
“Iya, siapa tau ketemu mantan. Eh, tapi lo udah nikah sih ya,” seloroh Dimas.
Arman memaksakan tawa. Dalam hati, rasa malu dan gengsi bergolak. Menjadi seorang driver ojek online adalah pilihan hidup yang ia jalani dengan ikhlas demi menghidupi keluarga, tapi di hadapan teman-teman SMA-nya dulu, itu terasa seperti lencana kegagalan.
Namun, kata-kata Juki mengenai ‘relasi’ dan ‘peluang’ menyentuh sisi pragmatisnya.
Mungkin benar. Mungkin ini jalan. Akhirnya, dengan nafas berat, ia membuka kembali grup itu dan mengetik: “Arman – hadir.” Ia kemudian transfer DP-nya, uang yang seharusnya untuk membeli seragam baru anaknya.
Sabtu sore, Arman berdiri di depan restoran ‘Sawah’ yang bergaya rustic namun terlihat mahal. Ia memakai kemeja lengan panjang polos warna biru muda, hasil diskonan di pasar, dan celana chino hitam yang agak longgar.
Sepatu kulitnya terasa mengganjal, tidak seperti sandal yang ia kenakan sehari-hari. Dari luar, ia bisa melihat keramaian di dalam.
Suara tawa dan musik jazz yang soft mengalun. Ia menarik nafas dalam-dalam, mengusir rasa minder, lalu masuk.
Suasana langsung menyergapnya. Wangi parfum mahal, cahaya lampu temaram, dan sekelompok orang dengan pakaian bagus yang saling menyapa hangat. Beberapa wajah masih bisa dikenali, meski kebanyakan sudah lebih gemuk, lebih beruban, atau lebih glamor.
Arman mencoba menyelusup, mengambil segelas jus di meja prasmanan, berusaha terlihat biasa saja.
“Arman? Arman, betul kan?”
Ia menoleh. Seorang pria dengan kemeja batik premium, arloji besar di pergelangan tangan, dan senyum lebar menghampirinya. Wajahnya familiar.
“Budi… Budi Santoso?” tanya Arman ragu.
“Iya, betul! Wah, lama banget gak ketemu!” Budi menyambut dengan berpelukan hangat.
“Gimana kabar?”
“Alhamdulillah… biasa aja. Lo ganti nama jadi Budi Wijaya?” tanya Arman melihat name tag yang dikenakan Budi.
Budi tertawa. “Bukan. Itu nama perusahaan gue. Wijaya Furnitur. Eh, tapi lo gimana? Kerja di mana sekarang?”
Seketika itu juga, Arman merasa jaket ojek-nya yang hijau itu seolah-olah masih melekat di tubuhnya. “Ane… freelance, di transportasi,” jawabnya berbelit, berharap Budi tak bertanya lebih lanjut.
“Ooh, bagus tuh. Usaha sendiri ya,” kata Budi sambil mengangguk, tapi matanya sudah melirik ke arah seorang kenalan lainnya.
“Eh, lu masih di Bekasi? Gue juga, nih. Sering ke arah Tangerang buat urusan.”
Obrolan pun berlanjut ringan. Budi bercerita tentang bisnis furnitur yang ‘lumayan’, tentang punya dua showroom. Arman mendengarkan sambil sesekali mengangguk, merasa jarak di antara mereka semakin jelas terasa. Tiba-tiba, Budi melihat ke arah arlojinya.
“Waduh, maaf ya Man, gue harus pamit duluan. Istri pertama gue janjian mau dinner sama keluarga besar malam ini. Besok pagi ada acara anak dari istri kedua di sekolahnya. Ribet sih, tapi alhamdulillah dijalani aja,” ucap Budi santai, seperti membicarakan jadwal meeting biasa.
Arman terkesiap. “Istri… kedua?”
“Iya. Poligami, Man. Allahuakbar. Awalnya berat juga, tapi kalo dijalani dengan ikhlas dan adil, ternanya memberkahkan rezeki,” jelas Budi dengan wajah sumringah. Ia menepuk pundak Arman.
“Kapan-kapan kita ngopi ya. Gue ada kenalan yang butuh jasa pengiriman barang rutin, mungkin bisa kerjasama. Keep in touch!”
Budi pun pergi, menyisakan Arman yang berdiri terpaku. Poligami? Dua istri? Dan dia terlihat… bahagia? Pikirannya kacau.
Benak yang tadinya dipenuhi rasa malu dan inferioritas, kini dipenuhi oleh rasa penasaran yang membara. Bagaimana mungkin? Secara finansial? Secara emosional? Bagaimana cara mengaturnya? Ia ingin mengejar Budi, menginterogasinya dengan segudang pertanyaan, tapi kakinya terpaku. Rasa takut dianggap tidak sopan atau terlalu ikut campur mengurungnya.
Sisa acara reuni itu dilaluinya dengan setengah hati. Pikirannya melayang-layang, membandingkan keadaan dirinya yang hanya punya satu istri, hidup pas-pasan, dengan Budi yang punya dua, bisnisnya lancar, dan penuh senyum. Ia menyadari, yang ia cemburui bukan lagi pada mobil atau jam tangan teman-temannya, tapi pada keberanian dan kelapangan yang dipancarkan Budi.
Sepanjang hari-hari berikutnya, saat menunggu orderan di pinggir jalan, atau istirahat sebentar sambil minum teh botol, Arman tak bisa berhenti memikirkan Budi.
Ponselnya yang biasa ia gunakan untuk cek orderan, kini lebih sering ia gunakan untuk membuka Instagram. Ia mencari akun @budiwijayafurniture, dan kemudian akun pribadi Budi.
Benar. Di sana, tersebar bukti yang bagi Arman terlihat seperti potongan kehidupan ideal. Ada foto Budi dengan seorang perempuan berhijab, tersenyum di depan rumah baru.
“Syukur, istri pertama tersayang meresmikan rumah impian kami,” tulisnya. Lalu di foto lain, Budi sedang memeluk perempuan berbeda, dengan gaya lebih modern, di sebuah kafe.
“Istri kedua yang cantik, partner diskusi bisnis terbaik,” tulisnya. Ada juga foto mereka bertiga—Budi di tengah, diapit kedua perempuan itu—di sebuah taman. Mereka semua tersenyum. Terlihat akur.
Arman mengamati setiap detail latar belakang foto: mobil yang bagus, interior rumah yang mewah, pakaian mereka yang modis. Ia melihat bukan dengan mata yang kritis, tapi dengan mata seorang yang haus akan sebuah formula rahasia, sebuah jalan keluar dari kehidupan monotonnya.
Mungkin poligami bukan sekadar soal nafsu, tapi tentang dukungan. Dua istri, berarti dua sumber semangat, dua orang yang bisa saling membantu. Ia membayangkan, jika ada satu istri lagi yang mungkin lebih paham tentang keinginannya, yang bisa membantunya membuka usaha, yang tidak selalu menuntut…
Getaran ponselnya menyadarkannya dari lamunan. Bukan notifikasi order, tapi pesan dari Rani, istrinya.
[Rani - Istri] : Man, pulang jangan lupa beliin Susu Bendera 1 kotak buat Aldi. Yang 800 gram ya. Udah mau habis.
[Rani - Istri] : Oh iya, besok paling akhir bayar SPP TK nya Aldi. Masih kurang 150 ribu.
Jangan pulang sebelum dapet yah. Aku disini lagi cariin recehan buat kembalian warung.
Pesan itu seperti tamparan. Ia kembali ke realitasnya. Susu formula. SPP TK. Recehan di warung. Foto-foto bahagia Budi di layar ponselnya tiba-tiba terasa sangat jauh, seperti sebuah film yang tak bisa ia sentuh.
Di satu sisi, ia penasaran dan terpikat oleh kemungkinan yang ditawarkan konsep itu. Di sisi lain, tanggung jawabnya yang sekarang saja terasa begitu berat, mengikatnya erat di tanah yang keras.
Arman menatap layar ponselnya, beralih antara galeri foto Instagram Budi yang penuh senyum dan chat dari Rani yang berisi tuntutan kebutuhan dasar.
Di aspal panas Jakarta, di atas motornya, Arman merasa terjepit di antara sebuah khayalan yang menggiurkan dan sebuah realitas yang tak bisa ia elakkan.
Perjalanan itu baru saja dimulai, dan sebuah benih bernama “andai saja” mulai bertunas di dalam benaknya, tumbuh di antara retak-retak kehidupan sehari-hari yang ia jalani.
arman makin blangsak hidup nya.
kl cerai ya cerai kl bgini hub bgaimana aneh.
lihat podcast Densu dng mama dedeh barusan.
Kl gk mau cerai ya terima poligami nya aman artinya hidup berdampingan.
Kl gk mau dampingan ya cerai bkn hub menggantung kayak gini.
yg Ada mupuk dosa.
Kl Arman gk masalah dng Nadia krn nikah siri gk perlu izin istri pertama.
kl posisi rani sebagai istri pertama hnya 2 pilihan kl lanjut pernikahan hrs terima poligami kl gk mau berdampingan ya cerai. aneh bnget. kyak gk ngerti agama saja.
mnding urus cerai drpd hidup hub di gantung status jelas mlh gk nambah dosa kita kn.