"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tidak akan kulepaskan!...
Mobil sedan mewah itu berhenti dengan presisi di depan sebuah gedung megah bergaya barok yang pilar-pilarnya menjulang tinggi ke langit malam.
Deretan mobil limosin dan kendaraan eksotis lainnya berjejer rapi di sepanjang lobi, berkilauan di bawah sorotan lampu kristal. Pintu mobil terbuka, dan Margarette melangkah keluar dengan keanggunan...
Gadis itu telah mengganti pakaiannya dengan gaun malam yang memeluk tubuh. Sementara di sisinya, Andersen berdiri kaku dalam balutan kemeja putih dan jas hitam pemberian Margarette.
Jas itu tampak sempurna di tubuh Andersen, namun sorot matanya yang waspada tetap menunjukkan bahwa ia adalah seorang prajurit di tengah kumpulan serigala bergaun mewah.
Kehadiran mereka seketika menjadi magnet perhatian. Bisik-bisik mulai menjalar di antara para tamu.
Margarette, sang putri bangsawan Inggris yang dikenal dingin dan pemilih, kini muncul dengan tangan yang melingkar di lengan kanan seorang pria asing.
Dengan langkah yang anggun namun terasa “berat” karena otoritas yang ia bawa, Margarette menuntun Andersen melewati karpet merah menuju pintu masuk utama tempat itu.
Begitu memasuki aula utama, kemegahan pesta itu menyambut mereka dengan denting gelas sampanye dan alunan musik orkestra yang halus.
Belum sempat Andersen menyesuaikan diri, beberapa wanita muda dengan busana yang tak kalah mewah menghampiri mereka. orang orang itu adalah saudari-saudari Margarette, lingkaran inti dari keluarga bangsawan tersebut.
“Margarette, akhirnya kamu muncul,” ucap salah satu saudarinya dengan nada yang manis namun, matanya tidak lepas dari sosok Andersen.
Lampu gantung kristal di atas mereka membiaskan cahaya redup yang menciptakan bayangan dramatis pada wajah-wajah cantik namun mematikan di hadapan Andersen.
Saudari tertua Margarette melangkah maju, memutar gelas sampanyenya dengan gerakan anggun sebelum tatapannya yang tajam memindai tubuh Andersen dari ujung kaki hingga kepala.
“Jadi, apakah pria didepanku ini benar-benar kekasihmu, Mar?” tanyanya dengan nada suara yang penuh selidik. “Kau akhirnya menyerah pada status lajangmu demi... seorang yang tidak kukenal... ini?”
Ia kemudian beralih menatap Andersen, memberikan senyum yang tampak manis namun miliki niat licik.
“Kau mungkin belum tahu, Tuan. Wanita di sampingmu ini adalah permata yang paling ‘alot’ di keluarga kami. Standarnya setinggi langit, dan ia tidak pernah membiarkan sembarang pria menyentuh bahkan ujung jemarinya..."
"Margarette bukan gadis yang bisa ditaklukkan hanya dengan kata-kata manis.”
Suasana mendadak menjadi cukup memanas dan ketika salah satu saudari lainnya yang sejak tadi, hanya mengamati mendekat dengan langkah yang berani.
Gadis itu membiarkan aroma parfum Vanilla yang kuat menginvasi ruang pribadi Andersen. Tanpa memedulikan tatapan Margarette, gadis itu mengulurkan tangan yang, lalu menyentuh dada bidang Andersen.
“Aku benar-benar penasaran,” bisik gadis itu dengan nada yang sangat nakal, ujung jarinya menelusuri kancing kemeja sutra Andersen dengan perlahan. “Sihir apa yang kau gunakan sampai bisa menjinakkan Margarette? Atau... apakah kau memiliki keahlian luar biasa dalam... aktivitas khusus?..”
Pertanyaan itu meluncur begitu saja di tengah keriuhan pesta, membuat suasana di lingkaran kecil mereka mendadak membeku namun membara.
Melihat jemari gadis itu mulai menari provokatif di atas dada Andersen, Margarette segera menarik satu langkah mundur. Ia mempererat kuncian tangannya pada lengan Andersen, seolah sedang menarik hartanya menjauh dari jangkauan pencuri.
“Apa yang sedang kau coba lakukan, Laviel?” desis Margarette dengan nada yang tajam namun penuh peringatan.
Gadis itu terlihat menatap saudarinya dengan mata yang berkilat, menjaga jarak antara saudarinya itu dengan Andersen.
“Jangan dengarkan sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, Andersen. Jika kau lengah sedikit saja, kau akan berakhir di tempat tidurnya sebelum malam berakhir. Gadis ini adalah musuh bagi setiap wanita di ruangan ini.”
Laviel tidak sama sekali tersindir, gadis itu justru tertawa renyah, sebuah suara yang terdengar seperti denting kristal yang berbahaya. Ia sama sekali tidak merasa terancam... Laviel terlihat menikmati kecemburuan saudarinya.
“Sungguh lucu melihatmu bersikap seprotektif ini, Mar,” ucap Laviel sambil melangkah maju lagi, memangkas jarak yang baru saja diciptakan Margarette.
“Padahal kau biasanya kaku seperti patung es, meski kita berdua tahu kau punya sisi nakal yang tersembunyi. Ataukah... aku sebaiknya meminta izin langsung pada pria tampanmu ini?..”
Laviel memajukan wajahnya hingga hanya terpaut beberapa inci dari wajah Andersen. Dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh provokasi, ia membasahi bibirnya dengan ujung lidahnya, menatap Andersen dengan pandangan yang mampu melelehkan pria mana pun.
“Laviel! Hentikan ini sekarang juga!” seru Margarette, wajahnya mulai menegang saat ia mencoba menarik tubuh Andersen menjauh untuk kedua kalinya.
Namun, sebelum suasana semakin kacau, Andersen angkat bicara. Suaranya rendah, stabil, dan memiliki ketegasan yang menghentikan tawa Laviel.
"Maafkan saya, Nona," ucap Andersen, matanya menatap lurus ke arah gadis itu tanpa sedikit pun rasa gentar atau tergoda. "Saya tidak bisa memberikan izin apa pun. Sebab... saya adalah milik Nona Margarette sepenuhnya."
Suasana di aula itu mendadak sunyi sejenak. Margarette yang biasanya selalu memegang kendali atas segalanya, kini mematung.
Kata-kata "milik dirinya ini dan sepenuhnya" menghantamnya dengan cara yang tak terduga. Rasa bangga, terkejut, dan emosi yang meluap seketika mewarnai kulit pucatnya.
Dalam sekejap, wajah Margarette memerah sepenuhnya, dari pipi hingga ke ujung telinganya... merah padam menyerupai buah cherry yang matang.
Suasana aula yang tadinya tegang seketika pecah oleh suara tawa tertahan. Laviel dan kedua saudarinya saling bertukar lirik, bibir mereka melengkung membentuk senyuman penuh arti saat melihat rona merah yang menjalar di wajah Margarette.
Mereka belum pernah melihat sang putri angkuh itu kehilangan ketenangannya hanya karena pengakuan satu orang pria... terlebih pria yang identitasnya masih menjadi misteri besar bagi mereka.
“Semakin menarik saja...” bisik Scarlette, matanya yang tajam menatap Andersen untuk terakhir kalinya dengan binar penyesalan yang dibuat-buat. “Sayang sekali kita tidak bertemu lebih cepat.
Tanpa menunggu balasan, Laviel memutar tubuhnya dengan anggun, diikuti oleh kedua saudarinya yang masih terkikik pelan.
Saat melewati Margarette, mereka sengaja berbisik dengan nada menggoda yang sengaja diperlambat, “Selamat malam... Mar... Ga... Rette.
Nikmati malammu bersama ‘milikmu’ itu.”
Kepergian mereka meninggalkan kekosongan yang canggung di antara Andersen dan Margarette.
Harum parfum Vanilla Laviel yang memuakkan perlahan memudar...
“Sepertinya,” gumam Andersen pelan, memecah kesunyian di antara mereka, “saudari-saudarimu jauh lebih ganas dibandingkan dirimu, Margarette.”
Haisshh!
Andersen meringis pelan saat sebuah cubitan tajam mendarat di lengan bawahnya. Margarette, dengan wajah yang masih merah padam namun mata yang kini menatapnya tajam, mencubit pria itu seolah ingin menyalurkan rasa malunya.
“Diamlah, Andersen,” desis Margarette, meskipun genggamannya pada lengan pria itu justru tidak mengendur sama sekali.
“Jangan pernah berpikir untuk membandingkanku dengan mereka. Dan jangan pernah berani berkata seperti itu lagi di depan umum jika kau tidak ingin aku benar-benar menjadikannya kenyataan.”
Andersen tersenyum tipis, menyadari bahwa di balik kemewahan gaun dan gelar bangsawan itu, Margarette tetaplah seorang gadis yang bisa merasa terpojok oleh kesetiaan yang ia paksa sendiri.
“Andersen, ingatlah ini... utangmu padaku baru saja bertambah,” bisik Margarette, suaranya terdengar seperti janji yang manis namun mengikat.