Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
It's me. Luca!
Enjoy gays....
Mengantar Aurora ke kampus setiap hari sepertinya akan menjadi kegiatan baru untuk Luca yang dinanti setiap kali dia tidak memiliki jadwal kuliah dan harus bekerja seperti hari ini.
"Pulang jam berapa?" Tanya Luca setelah menghentikan mobilnya di depan gedung kampus Aurora.
"Jam 2." Melepas seatbelt yang di pakainya, Aurora bersiap untuk turun.
"Oke. Nanti gue jemput."
"Hm. Bye bye Luca." Tak lupa mengambil tasnya yang ada di kursi belakang, Aurora pun turun dari mobil.
"Bye Ara. Semangat belajarnya." Tersenyum manis, Luca mengepalkan tangannya memberi Aurora semangat.
"Lo juga. Semangat kerjanya. Jangan telat makan siangnya." Juga memberi semangat, Aurora tak lupa mengingatkan Luca untuk menjaga kesehatannya.
"Siap komandan." Berlagak seperti seorang prajurit yang tengah memberi hormat, Luca berhasil membuat Aurora tersenyum karena tingkah konyolnya.
Merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan, Aurora pun menutup mobilnya dan membiarkan Luca pergi. Setelahnya, barulah dia melangkah masuk ke dalam gedung untuk menuju kelasnya.
***
Bagi sebagian orang menjalani rutinitas pekerjaan adalah sebuah rutinitas berkedok kewajiban yang jika tidak di lakukan maka tidak bisa hidup di lain hari.
Tapi bagi Lucu, mindset seperti itu tak pernah terlintas di dalam benaknya. Karena dia bekerja dengan sepenuh hati dan menjalaninya dengan perasaan happy. Terlebih lagi, saat ini ada seseorang yang selalu memberinya semangat setiap pagi. Ya, siapa lagi kalau bukan sang istri.
Menandatangani berkas terakhir yang ada di atas meja, Luca tersenyum seraya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Mengingat kembali pertemuan pertamanya dengan Aurora yang tak di sengaja hingga kini akhirnya keduanya bisa menikah dan resmi menjadi sepasang suami-istri. Luca terkadang masih tak menyangka jika perjalanan cerita cintanya akan seindah ini. Sungguh, perasaannya benar-benar happy.
Pekerjaan hari ini sudah selesai dan jam makan siang juga sebentar lagi tiba. Tak punya tujuan kemana-mana atau memiliki janji dengan siapa, apa dia hampiri saja Aurora lalu mengajaknya makan siang bersama? Pikir Luca. Sepertinya itu ide yang bagus.
Tanpa berlama-lama, Luca langsung menyambar kunci mobil dan handphonenya yang ada di atas meja lalu bangkit dari kursi kebesarannya dan melangkah pergi meninggalkan ruang kerjanya.
***
Beberapa menit yang lalu Aurora baru saja menyelesaikan kelasnya. Sekarang, dia tengah berjalan menyusuri koridor kampus untuk menuju kantin karena sudah ada janji bersama teman-temannya untuk makan siang bersama.
Namun di tengah langkah, Kenzo yang datang entah darimana tiba-tiba menyeret Aurora begitu saja. Aurora yang terkejut pun tak sempat melakukan perlawanan.
***
Tiba di area kampus, Luca langsung memarkirkan mobilnya bersama mobil-mobil yang lain. Tak lupa memastikan semuanya aman sebelum turun, Luca berniat menghubungi Aurora terlebih dulu untuk memastikan keberadaannya. Tak mungkin kan dia mencari Aurora ke seluruh gedung kampus hanya untuk menemuinya? Itu sangat merepotkan dan membuang banyak waktu juga tenaga.
Namun, baru akan menekan tombol ikon panggilan di layar ponselnya, Luca menangkap sosok Aurora yang tengah di bawa paksa oleh Kenzo melintas di hadapannya tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
Tak tinggal diam, Luca langsung menyimpan kembali handphonenya di saku celana dan berlari menghampiri Aurora sebelum Kenzo berhasil membawa Aurora pergi.
"Lepasin tangan lo dari istri gue!!" Marah Luca tegas seraya menarik tangan Kenzo dengan keras dari tangan Aurora.
"Lo?" Kaget Kenzo.
"Apa? Kaget lo liat gue?" Tanya Luca nyolot.
Jika biasanya Luca bisa bersikap santai menghadapi Kenzo, tapi kali ini sepertinya tidak. Mungkin karena sekarang Aurora adalah istrinya yang perlu dia jaga dan lindungi sepenuh jiwa. Bukan lagi sekedar teman yang perlu Luca bantu keselamatannya.
"Minggir! Gue gak ada urusan sama lo." Mendorong tubuh Luca dengan bahunya agak keras, Kenzo berniat untuk membawa Aurora kembali ke dalam genggamannya.
"Apapun yang berkaitan sama Aurora, itu jadi tanggungjawab gue. Dia istri gue sekarang. Ngerti lo!" Ucap Luca tegas dengan tatapan tajam seraya mencekal tangan Kenzo yang hendak menyentuh Aurora.
Tak terima karena selalu di halang-halangi oleh Luca, Kenzo dengan berani dan tanpa rasa takut serta kesombongannya, membalas tatapan Luca tak kalah tajam dan mengerikan.
Cukup lama keduanya beradu pandang, sampai akhirnya Kenzo yang lebih dulu mengalihkan pandangan ke arah tangan yang belum mau Luca lepaskan.
Menatap genggaman itu dengan penuh kebencian dan kemarahan, hati Kenzo semakin terbakar. Hingga tiba-tiba...
"Brengsek!!" Umpat Kenzo emosi yang tanpa aba-aba langsung meninju wajah Luca hingga terhuyung karena tak siap dan secara tidak langsung membuat tangan keduanya terlepas.
"Luca?" Kaget Aurora. Dia benar terkejut sekaligus tak menyangka jika Kenzo akan melakukan itu pada Luca.
Karena rasa khawatir, Aurora hendak memastikan keadaan Luca baik-baik saja atau tidak, tapi Kenzo sudah lebih dulu menarik tubuhnya untuk menjauh dari Luca.
"Lo dengerin baik-baik! Aurora cuma milik gue. Dan yang berhak buat dapetin dia cuma gue. Ngerti lo!" Peringat Kenzo tegas sekaligus memberi ancaman.
Alih-alih merasa takut atau membalas perlakuan Kenzo barusan, Luca justru tersenyum seraya mengusap sudut bibirnya yang berdarah dengan ibu jari. Benar-benar ekspresi yang menjengkelkan.
"Gue gak mau ribut sama lo. Jadi lepasin dia sekarang." Pinta Luca dengan wajah santainya dan masih bisa-bisanya sempat tersenyum. Ya, meskipun itu sebenarnya senyum ledekan untuk Kenzo.
"Kalo gue gak mau, lo mau apa?" Tantang Kenzo balas tersenyum miring meremehkan.
Rupanya, berkali-kali berhadapan dengan Luca membuat Kenzo masih juga belum sadar siapa sebenarnya orang yang tengah dihadapinya sekarang.
"Haaa....." Menghembuskan nafasnya panjang, Luca tertunduk menatap bayangan dirinya. Meyakinkan hatinya jika apa yang akan dia lakukan saat ini memang sudah seharusnya terjadi.
Menatap sekilas wajah Kenzo yang masih tersenyum dan begitu menjengkelkan, Luca tiba-tiba bergerak dan dengan cepat langsung merebut Aurora secara paksa dari tangan Kenzo. Lalu setelahnya, dia mencengkram tangan Kenzo di belakang badan yang membuat Kenzo meronta kesakitan dan minta di lepaskan karena tak sempat melakukan perlawanan apalagi menghindar.
"Sorry karena gue terpaksa lakuin ini." Ucap Luca berbisik di telinga Kenzo. Dan sepersekian detik kemudian bunyi sesuatu yang patah dibarengi teriakan histeris Kenzo terdengar.
Aurora yang dikejutkan dengan hal itu pun spontan menutup telinga juga matanya karena tak ingin mendengar dan melihat apa yang terjadi di depannya.
Puas melampiaskan kemarahan yang selama ini terpendam, Luca akhirnya melepas cengkraman tangannya di tangan Kenzo seraya mendorong tubuh Kenzo menjauh darinya.
Kenzo yang tak menyangka jika tangannya bisa dengan mudah dipatahkan oleh Luca pun hanya bisa menatap Luca penuh kebencian dan rasa dendam seraya merintih kesakitan meratapi tangan kirinya.
Memasukkan kedua tangannya di saku celana, Luca tersenyum datar menatap Kenzo yang kesakitan. Seolah tak memiliki rasa bersalah apalagi penyesalan karena telah mematahkan tangan Kenzo seenaknya. Benar-benar menggambarkan sisi lain seorang Luca yang belum pernah terlihat sebelumnya. Mengerikan sekaligus menakutkan.
"Saat ini mungkin tangan lo yang jadi korban, tapi nanti-nanti, gue gak jamin tubuh lo bakalan aman. So, jauhin Ara dan jangan pernah gangguin dia lagi. Sebelum gue bener-bener buat sisa hidup lo di dunia ini gak akan ada artinya lagi." Ancam Luca memberi peringatan dengan ekspresi datar namun mematikan yang diakhiri senyum miring sebelum pergi.
Tak main-main, Luca kali ini memperkenalkan dirinya dengan benar dan sungguh-sungguh di hadapan Kenzo. Berbeda dari sebelum-sebelumnya yang lebih terlihat santai dan tanpa tampang menakutkan. Sungguh menggambarkan layaknya seorang pembunuh bayaran berdarah dingin yang bisa dengan mudah menghabisi korbannya kapanpun dia mau.
Berbalik arah, Luca menghampiri Aurora dengan ekspresi yang sangat berbeda. Memperlihatkan senyum terbaiknya.
"Ayo Ra." Ajak Luca seraya menggandeng tangan Aurora dengan lembut untuk pergi dari sana.
Jangan tanya bagaimana marahnya Kenzo saat ini ketika melihat dia orang itu pergi. Entah apa yang dia pikirkan saat ini, tapi yang jelas itu tak akan membuat hidup Luca dan Aurora tenang serta aman begitu saja.
***
"Thanks." Ucap Luca tersenyum manis saat Aurora selesai dengan pekerjaannya. Mengobati luka kecil yang ada di sudut bibirnya.
Keduanya kini tengah ada di ruang kesehatan kampus.
Bukan tujuan Luca ke sana sebenarnya, tapi Aurora yang tiba-tiba merubah arah di tengah langkah mereka.
"Hm." Gumam Aurora seraya membereskan perlengkapan yang dipakainya lalu mengembalikannya ke tempat semula.
"Lo kenapa? Kok diem aja? Gue bikin salah sama lo?" Tanya Luca akhirnya karena tak tahan dengan kediaman Aurora.
Ayolah... Meskipun Aurora cenderung dingin dan irit bicara, tapi sikapnya ini sangat berbeda dari biasanya. Dan Luca, jelas menyadari hal itu sekarang.
"Gue cuma masih agak syok aja liat lo kayak tadi." Jawab Aurora yang entah kenapa begitu mudahnya mengungkapkan isi hatinya pada Luca. Padahal, dia sadar jika dirinya bukan orang yang seperti itu sebenarnya. Entah bersama teman-temannya ataupun kedua orang tuanya sekalipun.
Kembali duduk di sebelah Luca, Aurora lagi-lagi terdiam karena bingung dengan perasaannya.
Meraih tangan Aurora untuk di genggam dan meletakkannya di atas pahanya, Luca tersenyum dan menatap Aurora dengan intens saat Aurora juga memalingkan wajah dan menatapnya.
"Sorry kalo cara gue tadi berlebihan dan buat lo takut." Ucap Luca setulus hati.
"Gak papa. Tapi next time jangan lakuin itu lagi." Aurora tak marah, dia mengerti kenapa Luca berbuat seperti itu tadi. Tapi, caranya yang terlalu kasar yang membuat Aurora merasa ketakutan setengah mati.
"Gue usahain."
Kali pertama dalam situasi sedekat ini, membuat keduanya sama-sama terpaku dengan tatapan satu sama lain untuk beberapa saat. Sampai akhirnya....
suara dering handphone menyadarkan mereka dan mengembalikan keduanya ke dunia nyata.
Lebih dulu memalingkan wajahnya dari Luca, Aurora langsung melepas genggaman tangan mereka untuk mengambil benda pipih itu di dalam tasnya.
"Woi Aurora! Kemana lo? Kita semua sampe lumutan nih nungguin lo dari tadi gak muncul-muncul." Teriakan kekesalan dari seseorang di ujung sana langsung menyambut telinga Aurora saat handphonenya dia letakkan di samping telinga.
Aurora yang terkejut pun spontan menjauhkan benda itu kembali dari telinganya seraya memejamkan mata agar.
^^^"Gak usah treak bisa kali Alexa. Gue gak budeg." Ucap Aurora ikutan kesal. ^^^
"Salah lo sendiri! Mampir kemana aja sih lo? Ke planet mars?? Lama benget timbang ke kantin doang." Tak mau mengalah, Alexa justru semakin memperdengarkan kekesalannya yang membuat Aurora hanya bisa menghala nafas panjang memperpanjang kesabaran.
Alexa kalau sudah marah memang benar-benar menguji kesabaran. Bahkan mengalahkan Aline yang cenderung menyeramkan jika tengah marah.
^^^"Iya sorry.... Gue ke sana sekarang." Tak ingin membuat perdebatan, Aurora memilih mengalah. ^^^
Bukan salah Alexa juga jika kini dia marah-marah dengannya, karena nyatanya Aurora yang tak kunjung datang ke sana yang membuat Alexa dan teman-temannya jadi marah karena terlalu lama menunggu.
"Buruan. Tuh Aline bentar lagi jadi zombie karena kelaperan nungguin lo doang."
^^^"Iya...."^^^
"Gue ada janji makan siang sama temen-temen. Lo mau ikut bareng gak?" Tanya Aurora memberi tawaran setelah Alexa mematikan panggilan mereka dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
"Boleh, yuk." Dengan senang hati menerima, Luca sama sekali tak keberatan jika rencananya makan siang berdua bersama Aurora harus gagal. Lagipula, itu masih bisa dia lakukan di lain hari. Sekarang pun, dia juga sudah sangat kelaparan. Jadi tak ada gunanya untuk menolak dan meminta Aurora makan siang bersamanya saja.
Memastikan semuanya tak ada yang tertinggal, keduanya pun pergi meninggalkan ruangan itu.
***
"Luca?" Panggil Aurora di tengah langkah mereka.
Jarak antara ruang kesehatan dan kantin kampus terpaut dengan satu gedung, jadi daripada mengisinya dengan keheningan, Aurora berniat untuk membuat obrolan. Apa salahnya bukan? Terlebih, tak adil rasanya jika mereka tengah berdua seperti ini selalu Luca yang terus-menerus memulai obrolan diantara mereka untuk membuat suasana.
"Hm?"
"Thanks ya udah nolongin gue dari si Kenzo." Tak hanya untuk sekedar basa-basi, tapi Aurora memang lupa mengucapkan hal itu sejak tadi.
"Sama-sama."
"Lo kok bisa tiba-tiba ada di sini? Emang gak kerja?" Tanya Aurora untuk membuka obrolan yang lebih panjang.
"Kerjaan gue udah selesai. Niatnya gue mau ajakin lo makan siang bareng, eh, pas gue turun dari mobil gue gak sengaja liat Kenzo nyeret lo."
"Kenapa selalu kebetulan kayak gitu? Setiap kali Kenzo gangguin gue, lo pasti muncul di waktu yang tepat."
"Itu namanya takdir dan jodoh. Takdir karena Tuhan ngirim gue buat lindungin lo. Dan jodoh lo itu emang gue." Kekeh Luca penuh rasa percaya diri.
"Pd banget lo."
"Harus dong.... Kan udah nikah."
Candaan sederhana Luca yang di padukan dengan sifat konyol serta super pdnya nyatanya berhasil membuat Aurora tersenyum dengan sendirinya.
Aurora sendiri juga tak tahu, kenapa dia bisa begitu mudah tersenyum seperti ini saat bersama Luca. Padahal, dia bukanlah orang yang mudah tersenyum sementara teman-temannya adalah orang-orang yang super lucu dan selalu banyak tingkah lebih dari Luca. Apakah ini yang di namakan jatuh cinta? Entahlah. Aurora masih belum menemukan jawabannya.