NovelToon NovelToon
Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Sistem / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: TAWARAN BERBAHAYA

#

Pria gemuk itu menarik lengan Bayu keluar dari ring. Penonton masih bersorak, masih ngerumutin, masih nunjuk-nunjuk nggak percaya. Big Joe diseret keluar oleh dua orang. Masih pingsan. Darah masih ngalir dari telinganya yang robek.

"Ayo, ikut gue," kata pria gemuk itu sambil jalan duluan.

Bayu ngikutin. Tubuhnya masih gemetar dari adrenalin. Tinju-tinjunya masih ngilu. Tapi dia tetap jalan.

Mereka masuk ke bagian belakang arena. Lorong sempit dengan dinding beton telanjang. Bau apek campur darah. Lampu bohlam redup bergoyang-goyang. Di ujung lorong, ada pintu besi berkarat.

Pria gemuk itu buka pintunya. "Masuk."

Bayu masuk. Ruangan kecil. Nggak mewah. Tapi lebih bersih dari arena luar. Ada sofa kulit robek, meja kayu yang udah pada ngelupas cat-nya, kulkas mini di sudut, sama tumpukan kardus di mana-mana. Di dinding, foto-foto petarung yang udah nggak jelas lagi wajahnya karena terlalu lama.

"Duduk," perintah pria itu sambil ambil dua botol bir dari kulkas. Dia lempar satu ke Bayu.

Bayu tangkap. Nggak langsung minum. Cuma megang aja.

Pria itu duduk di sofa, buka birnya, teguk langsung setengah botol. "Gue Pak Guntur. Pemilik arena ini."

Bayu cuma ngangguk.

"Lu... siapa sebenernya?" Pak Guntur menatap tajam. "Big Joe itu juara lima kali berturut. Lu ngalahin dia dalam tiga puluh detik. Dengan gerakan jalanan yang brutal. Lu bukan petarung amatiran."

Bayu diam sebentar. Mikir harus jawab apa.

"Dulu gue bertarung di arena underground. Beda kota."

Nggak sepenuhnya bohong. Bayu Samudra dulu emang petarung jalanan.

Pak Guntur mengangguk pelan. "Pantesan. Lu punya naluri pembunuh. Gue lihat di mata lu. Lu nggak takut mati."

Dia minum lagi. Lalu meletakkan botolnya keras di meja.

"Gue butuh lu."

Bayu menatapnya. Menunggu.

"Arena gue mulai sepi. Orang-orang bosen sama petarung yang itu-itu aja. Mereka butuh sesuatu yang baru. Yang... brutal." Pak Guntur menyeringai. "Lu... lu itu yang gue cari."

Dia condong ke depan. "Gue mau lu jadi petarung tetap. Setiap weekend, lu tarung. Gue yang atur lawan. Lu menang, gue bayar lu."

"Berapa?" tanya Bayu langsung.

Pak Guntur mengangkat alis. "To the point, ya? Gue suka." Dia nyalain rokok, hisap dalam-dalam. "Lima juta per tarung. Menang atau kalah."

Bayu menggeleng. "Nggak cukup."

"Apa?" Pak Guntur hampir keselek asap rokok.

"Gue mau tiga puluh persen dari total taruhan. Bukan gaji tetap."

Pak Guntur tertawa. Tawa keras yang bergema di ruangan kecil itu. "Lu gila? Tiga puluh persen? Lu pikir lu siapa?"

"Lu bilang sendiri, lu butuh gue." Bayu menatapnya tanpa berkedip. "Kalau penonton balik lagi gara-gara gue, taruhan bakal naik. Mungkin puluhan juta tiap malam. Tiga puluh persen dari itu... masih untung buat lu."

Pak Guntur berhenti ketawa. Menatap Bayu lama. Matanya menyipit. Asap rokok keluar dari hidungnya.

"Lu... nggak sesederhana yang lu keliatan, ya?"

Bayu nggak jawab. Cuma menatap balik.

Pak Guntur menghela napas panjang. "Oke. Dua puluh persen."

"Tiga puluh."

"Dua puluh lima. Final."

Bayu mikir sebentar. Lalu ngangguk. "Deal. Tapi gue punya syarat lain."

"Syarat lagi?" Pak Guntur menggaruk kepalanya yang botak. "Lu mau apa lagi? Mobil? Cewe?"

"Tempat tinggal."

Pak Guntur mengernyit. "Tempat tinggal?"

"Gue nggak punya rumah. Gue butuh tempat buat tidur. Aman. Nggak usah bagus. Asal ada atap dan kunci pintu."

Pak Guntur terdiam. Menatap Bayu dari atas ke bawah. Baru sadar Bayu emang kelihatan kayak gelandangan. Baju lusuh. Penuh darah. Luka di mana-mana.

"Lu... diusir keluarga?"

Bayu nggak jawab. Tapi diam-nya udah jadi jawaban.

Pak Guntur menghela napas lagi. "Oke. Di atas arena ada kamar kecil. Dulu buat penjaga malam. Sekarang nggak kepake. Lu bisa tinggal di sana. Gratis."

"Terima kasih."

"Belum selesai. Syarat lain?"

Bayu condong ke depan. Suaranya pelan tapi tegas. "Gue butuh koneksi. Informasi jalanan. Siapa yang jual apa. Siapa yang korup. Siapa yang punya masalah sama siapa."

Pak Guntur menatapnya curiga. "Lu mau jadi intel? Atau... lu mau balas dendam?"

Bayu tersenyum tipis. Senyum yang dingin. "Bukan urusan lu."

Pak Guntur terdiam lama. Rokok di tangannya udah hampir habis. Dia matiin di asbak, lalu nyalain yang baru.

"Lu... bahaya, anak muda. Tapi gue suka yang bahaya." Dia nyengir. "Oke. Gue punya banyak orang di jalanan. Polisi korup, rentenir, bandar narkoba, makelar tanah ilegal, lu sebut aja. Gue kasih lu kontak mereka. Tapi lu jaga nama gue. Jangan buat masalah yang nyeret gue."

"Gue nggak akan buat masalah buat lu. Janji."

"Bagus." Pak Guntur berdiri, ulurin tangan. "Deal?"

Bayu berdiri. Jabat tangannya. Keras. "Deal."

Mereka lepas jabatan tangan.

Pak Guntur berjalan ke pintu, buka, lalu berbalik. "Oh iya. Besok malam, lu tarung lagi."

Bayu mengangguk. "Oke."

"Lawan lu adalah juara bertahan arena sebelah. Brutal Benny."

Bayu mengernyit. "Brutal Benny?"

"Iya. Dia udah menang dua puluh pertandingan berturut-turut. Belum pernah kalah. Pernah bunuh tiga orang di ring." Pak Guntur tersenyum tipis. "Lu yakin bisa?"

Bayu menatapnya datar. "Gue akan menang."

Pak Guntur tertawa. "Gue suka kepercayaan diri lu. Tapi jangan sampe mati, ya. Gue udah invest di lu."

Dia keluar. Pintu ditutup.

Bayu berdiri sendirian di ruangan itu. Napas panjang keluar. Tubuhnya lemas tiba-tiba. Adrenalin udah turun. Rasa sakit muncul semua.

Lengannya ngilu. Rusuknya berdenyut. Kepalanya pusing.

Dia duduk di sofa robek. Membuka botol bir yang tadi dikasih. Minum. Rasanya pahit. Dingin. Tapi entah kenapa... enak.

Atau mungkin dia cuma terlalu haus.

Bayu menatap lantai beton retak di depannya. Pikiran-pikirannya kacau.

Brutal Benny.

Juara dua puluh kali.

Pernah bunuh orang di ring.

"Harusnya gue takut, ya..."

Gumaman itu keluar pelan.

Tapi dia nggak merasa takut.

Entah karena dia udah mati sekali. Atau karena dia udah nggak punya apa-apa lagi buat hilang.

Mungkin keduanya.

Dia angkat botol birnya. Menatapnya sebentar. Lalu tersenyum tipis.

"Buat lu, Kenzo. Gue akan balikin semuanya. Janji gue."

Dia minum sampai habis.

Lalu berdiri. Tubuhnya goyah. Tapi dia tetap jalan keluar.

Pak Guntur udah nunggu di luar. "Ayo, gue anterin lu ke kamar."

Mereka naik tangga besi sempit di sudut arena. Tangga-nya berkarat. Berbunyi setiap dilangkahin.

Di lantai dua, ada lorong pendek dengan tiga pintu. Pak Guntur buka pintu paling ujung.

"Ini."

Bayu masuk. Kamar kecil. Mungkin empat kali empat meter. Ada kasur tipis di sudut, meja kayu kecil, lemari plastik, sama jendela kecil yang kacanya udah retak.

Tapi... bersih. Lebih bersih dari kamar Kenzo di mansion.

Dan yang paling penting... aman.

"Kunci lu." Pak Guntur kasih kunci kecil berkarat. "Kamar mandi di ujung lorong. Lu pakai bareng sama orang-orang gue yang jaga malam. Jangan berantem."

Bayu nerima kuncinya. "Terima kasih."

Pak Guntur ngangguk. "Istirahat. Besok malam lu butuh tenaga penuh." Dia berbalik mau pergi, tapi berhenti. "Oh iya. Jangan lupa sembahyangin dewa keberuntungan lu. Lu bakal butuh itu."

Dia pergi. Langkah kakinya menggema di tangga besi.

Bayu menutup pintu. Ngunci dari dalam. Bersandar di pintu.

Napas panjang keluar.

Akhirnya... tempat tinggal.

Nggak bagus. Tapi cukup.

Dia berjalan ke kasur. Duduk. Pegas-nya berbunyi keras. Tapi lebih empuk dari kardus di bawah jembatan.

Bayu berbaring. Menatap langit-langit yang penuh noda air.

Besok malam... Brutal Benny.

Harus menang.

Harus.

Matanya perlahan menutup. Kelelahan menariknya masuk ke kegelapan.

Tapi sebelum dia tidur sepenuhnya...

Suara sistem muncul.

**[MISI HARIAN AKTIF]**

**[KALAHKAN BRUTAL BENNY]**

**[HADIAH: KEMAMPUAN REGENERASI CEPAT TINGKAT 1 + 1000 POIN]**

**[KEGAGALAN: KEMATIAN PERMANEN]**

Bayu membuka mata sebentar. Lalu tersenyum pahit.

"Kematian permanen... kayak gue masih punya pilihan."

Dia menutup matanya lagi.

Dan malam itu... dia tidur. Pertama kalinya sejak diusir.

Tidur tanpa takut dibunuh.

Tidur dengan satu tekad di kepala.

Menang.

Atau mati.

1
REY ASMODEUS
mantap
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!