Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.
Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.
Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.
"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Om?"
Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
"Tidak, tidak! Dia itu hanya seorang bocah! Apa iya aku menyukai seorang bocah yang bahkan miliknya saja belum terbentuk sempurna?" gumam Luca sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia masih berdiri di lorong luar ruang kerja ibunya, berusaha mengenyahkan bisikan maut Ava soal jodoh yang membuatnya merinding
"Milik siapa yang belum terbentuk sempurna, Luca?"
Luca hampir melompat ke langit-langit saat sebuah suara cempreng nan tajam mengagetkannya. Ia menoleh dengan perlahan dan mendapati Queen sudah berdiri tepat di hadapannya.
Bocah itu mengenakan gaun pink seperti biasa, kedua tangan mungilnya berkacak pinggang, dan matanya yang bulat menatap Luca dengan penuh selidik.
"K–kau... sejak kapan kau ada di situ?!" Luca kelabakan.
Wajahnya yang biasanya sedingin es kini berubah warna menjadi merah tomat. Gawat, apa dia mendengar semua ocehan Mama tadi? pikirnya.
"Baru saja. Dan Queen dengar Luca bicara soal milik yang belum terbentuk. Milik siapa? Apa boneka kelinciku?" tanya Queen sambil memiringkan kepalanya, memberikan tatapan polos yang sebenarnya mematikan bagi kewarasan Luca.
"Bukan! Bukan apa-apa! Itu soal strategi bisnis! Kau tidak akan mengerti!" Luca berusaha memasang kembali topeng mafianya, meski bicaranya sedikit terbata-bata. "Kenapa kau ada di sini? Bukankah aku menyuruhmu menunggu saja di kamar?"
Queen mendengus, pipinya menggembung maksimal. "Queen lapar, Luca! Kenapa Luca lama sekali? Menyebalkan! Dengar ini, cacing di perut Queen sudah keroncongan, mereka sedang melakukan konser rock karena belum diisi!"
Luca menghela napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang.
"Minta saja pada pelayan atau Bobby. Aku sedang sibuk."
"Tidak mau! Pokoknya Luca harus menyuapi Queen sebagai hukuman karena membiarkan Queen menunggu sampai lumutan!" seru Queen dengan nada mutlak yang tidak bisa dibantah.
"Apa? Menyuapimu? Tidak mau! Makan sendiri, kau punya tangan, kan?" tolak Luca mentah-mentah. Bayangkan saja, seorang calon penguasa klan Frederick menyuapi bocah sambil membuat suara pesawat terbang? Reputasinya bisa hancur berkeping-keping.
"Ish, ayo cepat! Jangan banyak alasan!"
Tanpa permisi, Queen menyambar jemari kanan tangan Luca dan menariknya paksa menuju ruang makan.
Saat kulit mungil yang halus itu bersentuhan dengan tangan besarnya yang kasar, Luca membeku. Sebuah sensasi aneh, seperti sengatan listrik statis namun lebih hangat, menjalar dari ujung jarinya langsung menuju ke ulu hati.
Luca tersentak, namun anehnya, ia tidak melepaskan tarikan tangan kecil itu.
"Apa ini? Perasaan aneh apa ini? Tidak, tidak! Aku bukan om-om pedo yang doyan anak kecil! Ini pasti karena aku belum sarapan! Ya, ini efek gula darah rendah!" teriak Luca dalam hati.
Di ruang makan, Bobby yang sedang asyik mencicipi kopi hampir saja menyemburkan minumannya saat melihat Luca duduk dengan wajah kaku sementara Queen sudah siap dengan serbet yang diikatkan di lehernya.
"Suapi, Luca! Ayo!" Queen menunjuk piring berisi nasi goreng dan potongan ayam krispi di depannya.
"Cepat lakukan, Luc. Jangan biarkan Tuan Putri menunggu," goda Bobby sambil menahan tawa sampai bahunya berguncang.
"Diam kau!" desis Luca. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mengambil sendok. "Buka mulutmu."
"Aaaaa!" Queen membuka mulutnya lebar-lebar.
Luca memasukkan sesendok nasi dengan canggung.
"Enak?"
"Kurang banyak ayamnya! Luca tidak ikhlas ya menyuapi Queen?" gerutu Queen dengan mulut penuh makanan.
"Kau ini benar-benar..." Luca menggeram, namun ia tetap mengambil potongan ayam dan mengarahkannya ke mulut Queen. "Nah, makan yang banyak supaya kau cepat besar dan berhenti menyusahkanku."
Queen mengunyah dengan semangat, matanya berbinar-binar.
"Kalau Queen cepat besar, nanti Queen mau jadi pacar Luca saja, supaya Luca tidak galak lagi."
Uhuk!
Kali ini Bobby benar-benar tersedak kopinya. Sementara Luca? Ia merasa dunianya baru saja terbalik. Sendok di tangannya hampir saja terjatuh.
"J-jangan bicara sembarangan!" seru Luca panik.
"Makan saja nasi itu! Jangan bicara soal pacar-pacaran, kau bahkan belum tahu cara mengeja kata komitmen!"
"Queen tahu! K-O-M-I-T-M-E-N! Gampang sekali," sahut Queen enteng.
Alena di dalam hati tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Luca yang seperti orang ingin pingsan. Menjahili remaja ini ternyata menyenangkan.
"Sudahlah, Luc. Terima saja takdirmu." Bobby menepuk bahu Luca sambil berlalu pergi, tak sanggup lagi menahan tawanya.
Setelah sesi suap-menyuap yang melelahkan bagi mental Luca itu selesai, Queen akhirnya tertidur di kursi makannya karena kekenyangan.
Luca menatap wajah damai bocah itu. Ia memperhatikan detail wajah Queen, bulu matanya yang panjang, hidung mungilnya, dan pipi yang masih bersemu merah.
Luca menghela napas. Ia teringat kembali kata-kata ibunya. Siapa tahu kalian berjodoh?
"Sialan," gumam Luca pelan. "Bagaimana bisa aku merasa berdebar hanya karena ditarik tangannya oleh bocah lima tahun? Apa kepalaku terbentur saat penyerangan kemarin?"
Ia tahu ada yang tidak beres. Queen bukan anak biasa. Cara bicaranya, cara dia menatap, dan kemampuannya mengendalikan situasi sama sekali tidak mencerminkan anak kecil.
Namun, di sisi lain, kehangatan yang Luca rasakan saat berada di dekat Queen adalah sesuatu yang belum pernah ia dapatkan selama bertahun-tahun di lingkungan Frederick yang dingin.
"Aku harus mencari tahu siapa kau sebenarnya, Queen," bisik Luca sambil mengusap kepala Queen dengan lembut. "Tapi untuk sekarang biarlah kau menjadi kelinci pink penguasa villa dan juga hatiku ini."
Luca kemudian menggendong Queen menuju kamarnya.
ternyata Sean juga manusia biasa😌