NovelToon NovelToon
Cinta Yang Terbuang

Cinta Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Percintaan Konglomerat / Cintapertama / Berbaikan / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Kau pikir kau mencuri masa depanku malam itu, Nick? Tidak. Kau hanya memberi saya alasan untuk menikmati Rasa sakit di masa depan." — Nedine.

Di balik gemerlap statusnya sebagai putri dari seorang ibu tunggal yang sukses, Nadine Saville menyimpan rahasia yang menghancurkan dirinya secara perlahan. Sejak bangku SMA hingga memasuki dunia kampus yang liar di Amerika, ia terikat dalam hubungan gelap dengan Nickholes Teldford.
Bagi dunia, mereka adalah orang asing. Namun di balik pintu tertutup, Nadine adalah pelampiasan nafsu Nickholes yang tak pernah puas. Terjebak dalam kenaifan dan cinta yang buta, Nadine rela dijadikan alat pemuas demi mempertahankan pria yang ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Layar ponsel itu seolah membakar netra Nadine. Kalimat dari Clarissa adalah bukti konkrit bahwa Nickholes tidak hanya membagi ciuman, tapi juga telah membagi ranjang yang selama ini Nadine anggap sebagai tempat mereka. Nick tidak hanya membohonginya, dia telah menginjak-injak harga diri Nadine tepat di hadapan kenaifannya sendiri.

Nadine tidak lagi menangis. Kesedihan itu telah menguap, berganti menjadi kemarahan yang dingin dan bergetar.

Nadine menyambar ponsel itu dan melemparnya ke dada Nickholes yang tengah tertidur. "Bangun, kau bajingan!" teriaknya dengan suara yang pecah.

Nickholes tersentak bangun, matanya yang merah karena kurang tidur menatap Nadine dengan bingung. "Nadine? Apa-apaan kau—"

"Siapa yang semalam sangat luar biasa, Nick? Aku atau Clarissa?" Nadine melemparkan ponsel itu ke arah wajahnya. "Kau baru saja keluar dari kamarnya sebelum kau memintaku datang ke sini, bukan? Kau menggunakan tubuhku untuk membersihkan sisa-sisa dirinya dari ingatanmu!"

Nickholes meraih ponselnya, membaca pesan itu, dan wajahnya berubah dari terkejut menjadi sangat dingin dalam hitungan detik. Ia tidak mencoba meminta maaf. Sebaliknya, ia justru bangkit dari tempat tidur dengan santai, memperlihatkan tubuh atletisnya tanpa rasa malu sedikit pun.

"Lalu kenapa kalau iya?" Nick bertanya dengan nada yang sangat datar, seolah hal itu tidak berarti apa-apa.

"Aku pria, Nadine. Aku punya kebutuhan. Clarissa ada di sana, dan dia tidak banyak menuntut sepertimu."

Tamparan keras mendarat di pipi Nickholes. Suara telapak tangan Nadine yang menghantam kulit Nick menggema di ruangan sunyi itu.

"Aku bukan alat, Nick! Aku manusia!" Nadine berteriak, napasnya tersengal. "Selama ini aku merahasiakan kita karena aku percaya pada cintamu yang palsu. Tapi sekarang? Aku tidak punya alasan lagi untuk diam."

Nadine mulai memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai, mengenakannya dengan tangan gemetar. Nickholes hanya memperhatikan dengan senyum sinis yang meremehkan.

"Kau mau apa, Nadine? Menangis pada ibumu?" ejek Nick.

Nadine berhenti bergerak. Ia menatap Nickholes dengan tatapan yang belum pernah pria itu lihat sebelumnya, tatapan seorang wanita yang sudah kehilangan segalanya dan tidak takut lagi pada apa pun.

"Bukan hanya menangis pada ibuku, Nick," ucap Nadine dengan suara yang sangat tenang dan mematikan. "Aku akan pergi ke gedung rektorat. Aku akan memberi tahu semua orang tentang apa yang terjadi selama ini. Tentang hubungan rahasia kita sejak di bawah umur, tentang bagaimana kau memanipulasiku. Aku akan menghancurkan reputasi bintang kampus yang kau banggakan itu."

Senyum di wajah Nickholes menghilang. Ia tahu betapa ketatnya peraturan moral di universitas ini, dan ia tahu siapa ibu Nadine, Victoria Saville bisa menghancurkan karier ayahnya dalam semalam jika ia tahu putrinya dilecehkan secara emosional seperti ini.

Nickholes melangkah maju, mencoba mencengkeram bahu Nadine. "Kau tidak akan berani, Nadine. Kau terlalu pengecut untuk merusak namamu sendiri."

"oh ya!???," tantang Nadine, menghempaskan tangan Nick. "Aku sudah hancur, Nick. Tidak ada lagi yang tersisa untuk kulindungi. Tapi kau? Kau punya banyak hal yang bisa hilang."

Nadine melangkah menuju pintu, meninggalkan Nickholes yang kini berdiri terpaku di tengah ruangan, menyadari bahwa ia baru saja membangunkan "monster" dari seorang gadis yang selama ini ia anggap sebagai mainan paling penurut.

Kesalahpahaman itu menjadi racun yang paling mematikan. Nickholes, dengan egonya yang setinggi langit, lebih memilih membiarkan Nadine percaya pada kebohongan yang menyakitkan daripada mengakui bahwa ia sedang dipermainkan oleh Clarissa.

Kenyataannya, Nickholes memang brengsek karena mencium Clarissa, namun ia tidak pernah tidur dengan gadis itu. Pesan "semalam sangat luar biasa" dari Clarissa hanyalah taktik manipulasi gadis itu—dia hanya menerima kiriman anggur mahal dari Nick sebagai ucapan terima kasih karena telah membantunya dalam sebuah acara kampus, dan dia sengaja mengirim pesan ambigu itu karena tahu Nadine mungkin akan melihatnya.

Namun, Nick yang merasa terpojok justru membalas dengan kekejaman verbal yang tidak perlu.

Di kantor Victoria Saville yang berdinding kaca dan menghadap langsung ke gedung-gedung pencakar langit Manhattan, Nadine berdiri dengan wajah pucat. Ia menunggu ibunya selesai menelepon.

Saat Victoria menutup teleponnya, ia menatap putrinya dengan dahi berkerut.

"Nadine? Kenapa kau di sini pagi-pagi sekali dengan mata sembap dan pakaian yang berantakan?"

Baru saja Nadine hendak membuka mulut untuk menumpahkan segalanya, pintu kantor terbuka. Asisten Victoria masuk dengan wajah tegang.

"Maaf mengganggu, Madam. Tuan Marcus Teldford sudah tiba untuk pertemuan darurat mengenai penggabungan aset."

Nadine membeku. Ayah Nickholes. Pria yang selama ini menganggap Nadine hanya sebagai anak teman baik istrinya kini melangkah masuk dengan setelan jas seharga ribuan dolar.

"Ah, Nadine! Senang melihatmu," sapa Marcus dengan senyum ramah yang sangat kontras dengan kepahitan yang dirasakan Nadine. "Victoria, putrimu ini benar-benar aset yang berharga. Nick selalu bilang betapa pintarnya Nadine di kampus."

Nadine merasa mual. Nick bilang aku pintar? Di hadapan ayahnya, Nick memujinya, tapi di ranjang, Nick menghancurkannya.

"Nadine baru saja ingin membicarakan sesuatu yang penting, Marcus," ucap Victoria, matanya yang tajam beralih ke Nadine. "Apa itu, Nadine? Katakan saja, keluarga Teldford bukan orang asing bagi kita."

Nadine menatap Marcus, lalu beralih ke ibunya. Di saat yang sama, ponselnya di saku bergetar hebat. Nickholes menelponnya berkali-kali. Nick panik. Dia tahu jika Nadine bicara sekarang, bukan hanya hubungannya yang berakhir, tapi kerjasama bisnis bernilai jutaan dolar antara dua keluarga ini akan meledak.

Nadine mengeluarkan ponselnya di bawah meja, hanya untuk melihat satu pesan teks dari Nickholes yang masuk dengan cepat:

"Nadine, kumohon jangan katakan apa pun. Clarissa berbohong, aku tidak tidur dengannya! Anggur itu... aku hanya mengirim anggur! Jika kau bicara pada ibumu, ayahku akan bangkrut dan aku akan dikirim ke pangkalan militer. Tolong, aku mencintaimu."

Nadine menatap kata-kata "aku mencintaimu" itu. Kata-kata yang selama ini ia dambakan, kini terasa seperti alat tawar-menawar yang murah. Nickholes tidak jujur karena cinta, dia jujur karena takut kehilangan fasilitas mewahnya.

Victoria berdeham. "Nadine? Kami menunggu."

Nadine menatap pesan singkat Nick yang penuh keputusasaan itu. Untuk pertama kalinya, ia melihat retakan pada topeng besi Nickholes.

Pria itu ketakutan. Bukan hanya karena harta, tapi karena dia sadar bahwa dia baru saja kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mengenalnya di balik semua sandiwara kampus ini.

Di ruang kantor yang dingin itu, Victoria dan Marcus menunggu jawaban. Nadine menarik napas panjang, menekan semua rasa sakitnya ke dasar hati.

"Aku..." Nadine menjeda, matanya menatap Marcus Teldford dengan tajam.

"Aku hanya ingin meminta izin pada Ibu untuk mengambil magang di firma hukum di luar kota semester depan. Aku merasa... suasana di kampus ini mulai membuatku sesak."

Victoria mengerutkan kening, namun tampak lega karena itu bukan masalah besar. Marcus tertawa kecil. "Ah, anak muda butuh tantangan baru. Aku akan bicara pada Nick, mungkin dia bisa membantumu mencari tempat di sana."

Setelah meninggalkan kantor ibunya, Nadine menemukan Nickholes sudah menunggu di samping mobilnya di parkiran bawah tanah. Wajahnya kacau, rambutnya berantakan, dan matanya merah. Tidak ada lagi bintang kampus yang angkuh di sana.

"Nadine," panggil Nick, suaranya pecah saat ia melangkah mendekat.

Nadine berhenti, namun tetap menjaga jarak. "Kau hampir menghancurkan segalanya, Nick. Bukan hanya aku, tapi keluargamu."

"Aku tidak tidur dengannya, Nadine! Aku bersumpah demi apa pun!" Nick mencengkeram kepalanya sendiri dengan frustrasi.

"Ciuman itu... mereka terus mengejekku, bertanya kenapa aku tidak pernah menyentuh gadis populer mana pun. Aku hanya ingin mereka berhenti bertanya agar mereka tidak mulai mencurigai kita. Aku ingin kau tetap aman, tetap menjadi putri CEO yang sempurna, bukan pacar dari pria brengsek sepertiku."

Nadine tertawa getir, air mata kembali menggenang. "Jadi ini caramu melindungiku? Dengan menjadikanku simpanan sementara kau berakting sebagai kekasih orang lain? Kau pikir aku ini apa, Nick? Sebuah piala yang harus kau simpan di lemari tertutup agar tidak berdebu?"

"Aku mencintaimu!" teriak Nick, suaranya menggema di parkiran yang sepi.

"Hanya kau yang pernah kusentuh. Clarissa tidak berarti apa-apa. Semua wanita itu hanya cover agar orang-orang tidak tahu betapa lemahnya aku di hadapanmu. Aku takut jika mereka tahu aku mencintaimu, mereka akan menggunakanmu untuk menjatuhkanku."

Nick melangkah maju dan menarik Nadine ke dalam pelukannya. Kali ini, tidak ada nafsu yang menuntut. Hanya ada getaran tubuh Nick yang sedang menangis di bahu Nadine. Untuk pertama kalinya sejak SMA, posisi mereka berbalik. Nick yang kuat kini memohon di kaki Nadine yang ia anggap naif.

"Bawa aku keluar dari rahasia ini, Nick," bisik Nadine di dada pria itu. "Atau biarkan aku pergi selamanya. Aku tidak bisa lagi bernapas dalam kegelapan ini."

Nick melepaskan pelukannya, menatap wajah Nadine dengan dalam. Dia tahu, mengakui hubungan ini berarti menghancurkan citra playboy-nya, menghadapi kemarahan ibunda Nadine, dan risiko sosial di kampus.

Namun melihat kehancuran di mata Nadine, dia sadar bahwa melindungi Nadine dengan cara ini adalah kesalahan terbesarnya.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰😍😍🥰

1
Endang Sulistia
bagus...ceritanya ringan
Lutfiah Tunnissa
semangat kkk
Lutfiah Tunnissa
hadir kk ceritanya bagus up terus yaa💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!