NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️

Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.

Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.

Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.

Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.

Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut

ANTI DAO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Iblis : Triple Pupil

Garis batas di Hutan Kabut Kematian tidak ditandai dengan pagar atau batu perbatasan. Batas itu ditandai dengan suara.

Di pinggiran hutan, kau masih mendengar suara jangkrik, desau angin di dedaunan, dan sesekali auman serigala. Itu adalah suara kehidupan yang berjuang. Namun, begitu kau melangkah melewati mil kesepuluh menuju kedalaman, suara itu mati.

Hutan Dalam tidak berisik. Hutan Dalam itu hening. Keheningan yang berat, menekan, dan penuh dengan pengawasan. Seolah-olah setiap pohon memiliki mata, dan setiap bayangan menahan napas menunggu mangsa lewat.

Lu Daimeng melangkah masuk ke dalam zona ini.

Tubuhnya yang berlumuran darah kering dan lumpur kini tampak menyatu dengan lingkungan sekitar. Dia tidak berjalan di tanah. Karena jalan menuju Hutan Dalam adalah rawa -rawa busuk yang bisa menelan kuda utuh.

Dia berada di atas.

Tangan kanannya—yang kini memiliki kekuatan cengkeram setara catut besi—menancap ke dalam kulit pohon raksasa yang basah. Otot-otot punggungnya berkontraksi, menarik beban tubuhnya ke atas dengan gerakan yang senyap dan efisien.

Dia tidak menggunakan teknik meringankan tubuh. Dia tidak memiliki Qi untuk melayang. Ini adalah panjat tebing murni, hanya saja tebingnya adalah organisme hidup setinggi seratus meter.

"Pohon Ironwood Hitam," gumamnya dalam hati, mengenali tekstur kulit kayu yang sekeras logam itu.

Pohon ini memiliki diameter sepuluh meter, menjulang setinggi seratus empat puluh meter menembus kabut, seperti pilar penyangga langit yang telah membusuk. Cabang-cabangnya setebal jalan raya, tertutup lumut parasit yang bersinar ungu redup.

Ini adalah benteng yang sempurna.

Lu Daimeng terus memanjat. Napasnya teratur. Keringat yang keluar dari tubuhnya segera menguap, menyisakan bau samar yang kini telah berubah. Bau manusianya telah hilang, tertutup oleh bau darah kultivator yang merendamnya kemarin, dan bau kematian hutan itu sendiri.

Dia mencapai dahan tertinggi, sekitar seratus dua puluh meter dari tanah. Di sini, kabut menipis, memperlihatkan langit kelabu yang suram.

Namun, dia tidak sendirian.

Tepat saat kepalanya muncul di atas dahan besar itu, sebuah pekikan tajam memecah keheningan.

KRAAAK!

Angin berhembus keras, membawa bau amonia dan racun.

Seekor burung raksasa bertengger di sana. Gagak Racun Hitam (Black Poison Crow). Bentang sayapnya mencapai empat meter. Bulunya berminyak, meneteskan cairan hitam yang mendesis saat menyentuh kayu. Matanya kuning, dengan pupil vertikal yang memancarkan kecerdasan jahat.

Ini adalah Binatang Iblis tingkat Pembentukan Qi Tahap 2. Ia bisa terbang. Ia memiliki racun. Dan ia adalah penguasa pohon ini.

Lu Daimeng membeku. Dia tergantung dengan satu tangan di sisi dahan, kakinya mencari pijakan di kulit kayu yang licin. Posisi yang sangat tidak menguntungkan.

Gagak itu menatapnya. Ia tidak melihat manusia. Ia melihat seekor kera tak berbulu yang tersesat.

Gagak itu membuka paruhnya, dan semburan kabut hitam meluncur ke arah wajah Lu Daimeng.

Lu Daimeng melepaskan pegangan tangan kanannya, membiarkan tubuhnya jatuh bebas sejauh tiga meter, lalu tangan kirinya mencengkeram tonjolan akar parasit di bawahnya.

Wusss.

Kabut racun itu melewati tempat kepalanya berada sedetik yang lalu. Kayu di sana langsung menghitam dan lapuk dalam sekejap.

"Korosif," Terkejut, Lu Daimeng, tergantung dengan satu tangan. "Jika kena kulit, dagingku akan meleleh."

Gagak itu marah karena meleset. Ia mengepakkan sayapnya, melompat turun dari dahan untuk mengejar mangsa yang jatuh itu.

Ini adalah kesalahan.

Di udara terbuka, burung adalah raja. Tapi di antara jalinan dahan pohon yang rapat, bentang sayap empat meternya adalah beban.

Lu Daimeng melihat gagak itu terjun. Dia tidak lari ke bawah. Dia mengayunkan tubuhnya, menggunakan momentum untuk melontarkan dirinya ke atas, kembali ke arah dahan tempat gagak itu tadi bertengger.

Dia mendarat di dahan besar itu, berguling, dan mencabut pedang kultivator yang terselip di punggungnya.

Gagak itu menyadari mangsanya kini berada di atasnya. Ia mencoba memutar balik, mengepakkan sayapnya dengan keras untuk naik.

Tapi Lu Daimeng tidak menunggunya naik.

Lu Daimeng melompat turun dari dahan, menerjang ke arah gagak yang sedang berjuang melawan gravitasi dan sempitnya ruang gerak.

"Gravitasi adalah senjata orang lemah," desis Lu Daimeng.

Dia jatuh tepat di punggung gagak itu.

BRUK!

Berat badannya, ditambah momentum jatuh, menghantam tubuh unggas itu. Tulang berongga gagak itu berderak. Mereka berdua jatuh bebas, menabrak dahan-dahan kecil, daun, dan ranting.

Gagak itu memekik panik, mematuk liar ke arah punggungnya. Paruhnya yang tajam merobek bahu Lu Daimeng. Darah muncrat. Rasa panas racun menjalar.

Lu Daimeng tidak peduli. Dia mengunci leher gagak itu dengan kakinya—teknik kuncian gulat primitif—dan dengan tangan kanannya, dia menghujamkan pedang baja itu.

Bukan sekali.

Jleb! Jleb! Jleb!

Dia menusuk pangkal sayap kanan gagak itu berulang kali, memutus otot terbangnya.

Mereka menabrak dahan besar di ketinggian lima puluh meter.

BAM!

Gagak itu mendarat duluan, menjadi bantalan bagi Lu Daimeng. Tulang dada burung itu hancur.

Gagak itu menggelepar, mencoba menyemburkan racun lagi. Tapi Lu Daimeng sudah bergerak. Dia membuang pedangnya, dan menggunakan kedua tangannya—tangan yang telah berevolusi menjadi alat pembunuh—untuk mencengkeram leher gagak itu.

Dia memutar dengan sentakan brutal.

Krak.

Leher gagak itu patah.

Lu Daimeng terbaring di atas bangkai burung raksasa itu, napasnya memburu. Bahunya terbakar oleh racun paruh gagak. Kulitnya melepuh, nanah mulai keluar.

Tapi dia tertawa.

"Kau punya sayap," bisiknya pada mata kuning yang kini redup itu. "Tapi kau memilih bertarung di kandangku."

Dia tidak membuang waktu. Dia merobek dada gagak itu dengan tangan kosong. Jantung burung itu masih hangat. Di sebelahnya, ada sebuah kristal kecil berwarna hitam keruh.

Inti Binatang (Beast Core).

Ini adalah sumber energi murni bagi binatang iblis. Bagi kultivator manusia, memakan ini mentah-mentah adalah bunuh diri karena energi liarnya akan meledakkan meridian.

Lu Daimeng tidak punya meridian untuk diledakkan.

Dia memasukkan kristal itu ke mulutnya. Menelannya.

Lalu dia memakan jantungnya.

Lalu dia memakan daging dadanya.

Dia membawa tubuh gagak itu sambil memanjat pohon, dan makan di atas pohon setinggi seratus meter dari tanah, seperti macan tutul yang menikmati hasil buruannya.

Sensasi dingin menyebar dari perutnya. Ketiadaan di dalam tubuhnya berputar, melahap energi racun dari inti itu. Bukannya mati, Lu Daimeng merasakan luka di bahunya berhenti melepuh. Nanah itu mengering, digantikan oleh jaringan baru yang berwarna sedikit keputihan.

Tubuhnya sedang beradaptasi. Dia sedang mengasimilasi sedikit sifat racun itu ke dalam darahnya.

Setelah kenyang, Lu Daimeng menyeret sisa bangkai itu ke celah dahan yang tersembunyi. Ini akan menjadi stok makanannya untuk beberapa hari ke depan.

Dia duduk di puncak pohon, menatap hamparan kabut yang tak berujung. Dia aman di sini. Sekte Awan Putih tidak akan bisa melacaknya saat ini, di antara bau busuk gagak dan kekacauan aura Hutan Dalam.

Tiga hari berlalu.

Lu Daimeng menjadi bagian dari pohon itu. Dia tidak bergerak kecuali perlu. Dia tidur dengan mata setengah terbuka. Dia mengamati.

Hingga pada hari keempat, dia melihat sesuatu yang tidak wajar di jalan setapak yang ada di sebelah hutan di kejauhan—sebuah jalur perdagangan tua yang sudah ditinggalkan berabad-abad lalu karena terlalu berbahaya.

Sebuah kereta.

Kereta itu terbuat dari Kayu Cendana Merah, dihiasi dengan ukiran naga emas yang pudar. Ada bendera kecil yang berkibar lemah di atapnya: Lambang Matahari Terbit dengan satu garis retak.

"Kekaisaran Yuan," Lu Daimeng mengenali lambang itu dari buku-buku sejarah yang pernah dia baca di perpustakaan Keluarga Lu.

Itu adalah kekaisaran kecil di perbatasan selatan. Wilayahnya bahkan lebih kecil dari yurisdiksi Keluarga Lu. Sebuah kerajaan boneka yang hidup dari sisa-sisa sekte besar.

Tapi kenapa kereta kekaisaran kecil ada di sini? Di jalur bunuh diri ini?

Mata Lu Daimeng menyipit, fokusnya menajam seperti elang.

Kereta itu dikawal oleh sepuluh prajurit berbaju zirah perak yang sudah penyok dan berdarah. Kuda-kuda mereka berbusa. Mereka sedang melarikan diri.

Tiba-tiba, dari balik semak belukar, bayangan-bayangan hitam melesat keluar.

Wusss! Wusss!

Anak panah yang diselimuti Qi meledak, menghantam para pengawal.

"SERGAP!" teriakan terdengar.

Sekelompok perompak hutan—bukan bandit biasa, tapi kultivator liar yang menjadi tentara bayaran—muncul. Mereka mengenakan topeng besi. Gerakan mereka terkoordinasi. Ini bukan perampokan harta. Ini adalah pembunuhan berencana.

"Lindungi Tuan Putri!" teriak pemimpin pengawal. Dia adalah kultivator Pembentukan Qi Tahap 5, tapi dia sudah terluka parah.

Pertempuran pecah. Darah muncrat ke segala arah. Kepala terpenggal, kuda meringkik kesakitan.

Lu Daimeng menonton dari ketinggian seratus meter, wajahnya tanpa ekspresi.

"Konflik internal," analisisnya. "Kakak membunuh adik. Atau paman membunuh keponakan."

Pintu kereta terbuka.

Dua sosok melompat keluar.

Seorang wanita dewasa mengenakan jubah tempur hijau—seorang pelindung, kultivator Pembentukan Qi Tahap 6. Dan seorang anak perempuan.

Anak itu berusia sekitar dua belas tahun. Dia mengenakan gaun sutra putih yang kini kotor oleh lumpur. Wajahnya cantik, namun pucat pasi karena teror.

Tapi yang menarik perhatian Lu Daimeng bukan kecantikannya.

Saat anak itu menoleh ke belakang dengan ketakutan, Lu Daimeng melihat matanya.

Mata itu aneh.

Di dalam satu bola mata, terdapat tiga pupil yang saling bertumpuk, berputar pelan dengan cahaya mistis.

Mata Tiga Pupil (Triple Pupil Eyes).

Jantung Lu Daimeng berdetak satu kali lebih keras.

Dia pernah membaca tentang ini. Legenda kuno. Sebuah anomali genetik yang sangat langka, dikatakan sebagai tanda seseorang yang dicintai oleh Dao Kuno. Pemilik mata itu bisa melihat aliran Qi, melihat kelemahan formasi, dan bahkan—dalam legenda—melihat sekilas masa depan.

"Kakak laki-lakinya pasti sangat iri," bisik Lu Daimeng, merasakan Hukum Iri Hati-nya sendiri bergetar setuju. "Siapa yang tidak ingin membunuh saudara yang memiliki mata dewa?"

Wanita pelindung itu menarik tangan si anak. "Lari, Tuan Putri! Jangan menoleh!"

Tapi saat mereka berlari, sebuah anak panah hitam melesat dari bayangan.

Jleb.

Panah itu menancap di punggung wanita pelindung itu. Dia terhuyung. Darah hitam langsung menyebar di jubah hijaunya. Racun kalajengking.

"Uhuk!" Wanita itu memuntahkan darah hitam, tapi dia tidak berhenti. Dia memaksakan tenaga dalamnya, membakar esensi darahnya untuk lari lebih cepat, menyeret anak itu masuk ke dalam hutan lebat.

Para perompak sibuk membantai sisa pengawal. Mereka tidak menyadari bahwa ada satu pasang mata lagi yang mengikuti target mereka.

Lu Daimeng turun dari pohon di dekat mereka.

Dia meluncur turun seperti tetesan air hujan, tanpa suara. Dia tidak mendekati pertempuran. Dia memotong jalan, bergerak paralel dengan arah pelarian wanita dan anak itu.

Dia menjadi bayangan di dalam bayangan.

Dua mil dari lokasi penyergapan.

Wanita pelindung itu akhirnya ambruk. Kakinya menyerah. Racun itu telah melumpuhkan saraf motoriknya.

Mereka berada di sebuah celah sempit di antara dua bukit batu. Tempat yang sepi.

"Bibi!" Anak perempuan itu menangis, berlutut di samping pelindungnya. "Bangun, Bibi! Jangan tinggalkan aku!"

Wanita itu gemetar, wajahnya sudah ungu. Napasnya pendek-pendek.

"Tuan... Putri..." bisiknya lemah. "Lari... sembunyi... jangan biarkan Pangeran Ketiga... membunuhmu..."

"Bibi Tidak! Jangn tinggalkan aku sendirian!" Anak itu menangis histeris. Mata Tiga Pupil-nya berputar liar, memancarkan cahaya kacau karena emosi yang tidak stabil.

Di balik semak belukar, hanya lima langkah dari mereka, Lu Daimeng berdiri.

Dia melihat pemandangan menyedihkan itu. Drama keluarga kerajaan. Pengorbanan. Cinta.

Hal-hal yang tidak berguna.

Mata Lu Daimeng tertuju pada anak itu. Lebih tepatnya, pada matanya.

Jika aku mengambil mata itu... pikirnya, dingin dan kalkulatif. Apakah aku akan mendapatkan penglihatannya? Atau apakah ketiadaanku akan menghapusnya dan memberiku intisari persepsi?

Ini adalah eksperimen yang harus dilakukan.

Wanita pelindung itu menghembuskan napas terakhirnya. Kepalanya terkulai. Mati.

Anak perempuan itu menjerit tertahan. Dia mundur, memeluk lututnya sendiri, gemetar hebat. Dia sendirian di hutan yang penuh monster dan pembunuh.

Krek.

Lu Daimeng melangkah keluar.

Anak itu tersentak. Dia mendongak, melihat sosok pemuda tinggi seperti tarzan dengan rambut panjang liar, mengenakan kain perca, dan memegang pedang yang masih meneteskan darah.

Namun, di mata anak yang polos dan putus asa itu, Lu Daimeng tidak terlihat seperti iblis. Dia terlihat seperti manusia. Dan manusia berarti harapan.

"Tolong..." ucap anak itu. Air mata mengalir dari mata ajaibnya. "Tolong aku... Kakak... Orang-orang jahat mengejarku..."

Lu Daimeng tidak langsung menyerang. Dia membiarkan pedangnya turun. Dia memasang wajah yang sedikit lebih lembut—topeng yang dia gunakan untuk menipu.

"Kasian sekali?" tanya Lu Daimeng. Suaranya rendah, terdengar tenang di tengah kekacauan hutan.

"Tolong, ... Bibi pengawal meninggal..." tangis Anak itu menunjuk mayat di sebelahnya. "Tolong bawa yu'er keluar dari sini... Ayah yu'er adalah Kaisar... dia akan memberi kakak emas... ayah akan memberi kakak apa saja..."

Anak itu mulai merasakan sedikit kelegaan. Pemuda ini tidak memakai topeng perompak. Dia tidak menyerang. Mungkin dia adalah pemburu yang kebetulan lewat. Mungkin dia adalah penyelamat yang dikirim takdir.

Lu Daimeng melangkah mendekat. Dia berlutut di depan anak itu, sehingga mata mereka sejajar.

Dia menatap dalam-dalam ke Mata Tiga Pupil itu. Indah. Mempesona. Sebuah karya seni biologis yang melampaui logika.

"Matamu..." kata Lu Daimeng lembut. "Apakah kau bisa melihat kematianmu di sana?"

Anak itu terdiam. Senyum harapan di wajahnya membeku. Dia melihat sesuatu di mata hitam Lu Daimeng. Sesuatu yang hampa. Sesuatu yang lebih lapar daripada serigala mana pun.

"Apa...?" Air mata anak itu menetes.

Lu Daimeng tersenyum. Senyum itu tenang, sopan, namun mematikan.

"Jangan khawatir. Rasa takut hanya akan merusak kualitas darahmu."

Sebelum anak itu sempat berteriak dan air matanya belum sempat terjatuh dari dagunya, tangan kanan Lu Daimeng bergerak.

Sreeett.

Bukan tusukan kasar. Itu adalah tebasan horizontal yang cepat, bersih, dan efisien.

Pedang baja itu memisahkan kepala anak itu dari lehernya dengan presisi tinggi.

Tidak ada teriakan. Hanya suara basah dari daging yang terpisah dan thud pelan saat tubuh kecil itu jatuh ke tanah.

Mata Tiga Pupil itu masih terbuka, membeku dalam ekspresi kebingungan abadi.

Lu Daimeng berdiri. Dia tidak melihat mayat itu sebagai manusia. Dia melihatnya sebagai alat.

Dia tidak merasa bersalah. Dia tidak merasa jahat. Dia hanya merasa... itu perlu.

"Dunia ini kejam, Nak," bisiknya pada kepala yang tergeletak itu. "Setidaknya di tanganku, kau menjadi sesuatu yang berguna. Di tangan kakakmu, kau hanya akan menjadi trofi."

Dia membungkus kepala itu dengan kain jubah luar milik wanita pelindung yang sudah mati. Lalu, dia mengangkat tubuh kecil anak itu—tubuh yang masih hangat dan penuh dengan darah berharga dari garis keturunan kekaisaran.

Dia tidak mengambil harta wanita pelindung itu. Dia tidak menyentuh senjata mereka. Itu hanya akan meninggalkan jejak.

Dia menggendong mayat anak itu di bahu kirinya, dan kepala yang terbungkus di tangan kanannya.

Seperti hantu yang membawa persembahan untuk dewa kegelapan, Lu Daimeng berbalik dan kembali ke arah pohon raksasanya.

Dia punya pekerjaan yang harus dilakukan. Dia harus membedah. Dia harus bereksperimen.

Untuk berevolusi ke tahap selanjutnya.

Bersambung...

1
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Ini bukan cerita tentang protagonis yang menyelamatkan dunia, ini adalah kisah villain yang berhasil melahap dunia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!