Kisah seorang gadis muda bernama hazel lyra raven, anak konglomerat dari seorang kepala rumah sakit ternama. Rumah sakit swasta raven medika. pada awalnya dia di jodoh kan oleh seorang dokter bedah terkenal.
Pharma Andrian, justru perjodohan itu malah membawa petaka??, seorang wanita asing yang mengaku dirinya adalah istri sang dokter pharma pada pernikahan mereka??
kedatangan wanita misterius itu membawa petaka. konflik di mulai, tapi sayangnya wanita itu memiliki ide busuk!!..ia mendorong lyra dari lantai 20??. tapi saat terbangun. lyra malah bangun di di 3 tahun sebelum kejadian??, Dan malah bertemu laki laki lain yang dapat membantu nya!!
Tapi terbangun nya lyra ke 3 tahun sebelumnya bukan hanya untuk mengubah takdir nya, tanpa ia sadari..masalah ternyata yang datang lebih besar
Organisasi misterius yang melakukan perdagangan barang gelap mengintai rumah sakit megah, mereka telah menanam bom besar yang terpasang tepat di bawah rumah sakit itu..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 21
[Lokasi: Delphi Hospital, Malam Anniversary]
Lampu-lampu kristal Delphi bersinar terang, memantulkan kemewahan yang menutupi sejarah gelap gedung itu.
Ratchet dan Lyra hadir di sana, berdiri di tengah kerumunan dokter elit.
Pharma berjalan mendekati mereka dengan segelas anggur, wajahnya tampak berseri-seri, tipikal orang yang baru saja memenangkan perang reputasi.
Pharma: "Dokter Ratchet, senang melihatmu di sini. Aku harap kehadiranmu berarti Raven Medika dan Delphi bisa kembali bersinergi tanpa ada... kecurigaan yang tidak perlu."
Ratchet hanya mengangguk kaku, sementara Lyra mencoba tersenyum sopan walau batinnya tidak tenang.
[Lokasi: Kantor Polisi Pusat,Ruang Taktis]
Di sisi lain kota, suasana kantor polisi jauh lebih suram. Jazz sedang bersandar di kursinya sambil melempar-lempar bola kasti ke dinding. Rodi sibuk main game di ponselnya, sementara Cade dan Driki lagi asyik debat soal pesanan martabak mereka.
Magnus keluar dari ruangannya, menatap meja Paul yang kosong.
Magnus: "Paul ke mana? Dia belum lapor sejak shift sore."
Jazz: "Palingan ke Delphi, Bos. Lu tahu kan, otaknya Paul isinya cuma satu: 'Gimana cara nangkep Pharma'."
Rodi: (Tanpa nengok dari HP) "Bisa kena skors dia kalau ketahuan ganggu acara resmi Pharma. Apalagi status Pharma sekarang kan 'pahlawan' yang difitnah Grayson."
Cade: "Paul itu keras kepala. Selama dia nggak nemu bukti kalau Pharma itu DJD, dia nggak bakal berhenti. Padahal Grayson udah ngaku semua."
[Kembali ke Delphi Hospital – Sisi Gelap Koridor]
Paul benar-benar ada di sana. Dia tidak masuk lewat pintu depan.
Memakai jaket hitam polos dan topi yang ditarik rendah, Paul bergerak di bayangan koridor lantai dua yang sepi, mengawasi area pesta dari balkon dalam.
Dia melihat Pharma yang sedang tertawa bersama ayahnya dan adiknya.
Hati Paul perih. Dia merasa sendirian di dunia ini yang percaya bahwa Pharma adalah orang baik.
Tiba-tiba, Paul melihat sesuatu yang aneh.
Dua orang pria dengan pakaian pelayan keluar dari lift service. Mereka tidak membawa nampan makanan, melainkan koper hitam kecil yang berat. Mereka bergerak cepat menuju sayap kiri gedung area laboratorium tertutup.
Paul: (Berbisik ke mic di kerahnya) "Jazz, Rodi... kalian masuk?"
Hening. Hanya suara kresek-kresek.
Suara Jazz di earpiece: "Paul? Lu gila ya? Kalau Magnus denger, lu bisa didepak dari tim. Kita dilarang nyentuh Delphi malam ini."
Paul: "Gue liat pergerakan mencurigakan. Ada orang bawa koper hitam ke lab. Grayson mungkin dalangnya, tapi Grayson nggak punya akses ke lab ini tanpa izin Pharma."
Jazz: "Paul, balik sekarang. Itu perintah halus dari gue sebelum Magnus ambil alih radio ini."
[Di Lantai Pesta]
Pharma tiba-tiba berbisik pelan ke arah Lyra sambil tersenyum manis ke arah kamera wartawan yang memotret mereka.
Pharma: "Lyra, kau tahu? Kebenaran itu seperti pisau bedah. Kalau kau tidak hati-hati memegangnya, kau malah bisa melukai orang-orang yang kau sayangi... seperti kakakmu, Paul."
Lyra tersentak. "Apa maksudmu?"
Pharma: "Firasat ku merasakan dia sedang mencoba masuk ke tempat yang seharusnya tidak dia masuki. Katakan padanya, Lyra... rasa penasaran bisa membunuh kucing."
"apa maksud mu pharma?"
"Ah tidak, lupakan."
Pharma lalu berbalik dengan santai, meninggalkan Lyra yang mendadak pucat pasi.
[Lokasi: Delphi Hospital – Lab Steril Lantai Bawah Tanah]
Paul melangkah pelan melewati lorong kaca yang dingin. Ruangan ini berbeda dari bagian rumah sakit lainnya lebih sunyi, lebih gelap, dan aromanya bukan antiseptik biasa, tapi kimia tajam yang menusuk hidung.
Dia melihat koper-koper hitam yang tadi dibawa pelayan tergeletak di atas meja operasi. Saat Paul mendekat untuk membukanya, tiba-tiba...
Clang!
Suara pintu baja pneumatik menutup di belakangnya. Paul refleks berbalik dan menarik senjatanya, tapi terlambat. Pintu itu tidak punya gagang di bagian dalam. Hanya ada panel digital merah yang menyala: LOCKED.
Paul: (Menekan earpiece) "Rodi! Rodi, lu denger gue? Gue terkunci di Lab Steril Sektor B. Rodi?"
Hanya ada suara statis. Ruangan itu kedap sinyal sebuah Faraday cage yang sempurna. Paul mendengus kasar, dia sadar dia terlalu meremehkan betapa cepat Pharma bisa bereaksi.
[Lokasi: Lantai Pesta Anniversary]
Di tengah denting gelas dan suara musik klasik, Pharma berdiri di balkon dalam yang menghadap ke lobi. Dia memegang ponsel kecil di telapak tangannya. Sebuah notifikasi muncul: Sector B-4 Secured.
Pharma tersenyum tipis, lalu menghampiri Lyra yang sedang berdiri sendirian di dekat meja prasmanan.
Pharma: "Lyra, wajahmu terlihat tegang. Apa kau mencari seseorang? Paul, mungkin?"
Lyra: "Dia tidak datang, Dok. Dia... sedang ada urusan di kantor."
Pharma: "Ah, syukurlah. Paul sering terlalu bersemangat dalam bekerja. Kadang, orang yang terlalu bersemangat butuh waktu untuk 'istirahat' sebentar di tempat yang tenang, kan?"
Lyra mengernyit, merasa ada nada ancaman di balik suara Pharma yang lembut. Namun, Pharma langsung mengalihkan pembicaraan dengan menyapa tamu VIP lain, meninggalkan Lyra dalam kebingungan.
[Lokasi: Kantor Polisi Pusat]
Rodimus sedang duduk dengan kaki di atas meja, bermain game di konsol genggamnya. Dia sesekali melirik monitor GPS tim, di mana titik Paul sudah menghilang.
Rodi: (Bicara sendiri) "Si Paul... bener-bener matiin GPS-nya. Palingan lagi nongkrong di warung depan Delphi sambil ngawasin parkiran. Dasar orang nggak bisa santai."
Jazz lewat sambil membawa tumpukan laporan.
Jazz: "Paul masih nggak bisa dihubungin?"
Rodi: "Tadi sore dia konfirmasi ke gue mau 'off-grid' bentar. Lu tau lah dia, paling males denger Magnus ngomel soal prosedur kalau dia lagi pengen investigasi mandiri."
Jazz: "Oke, asal dia nggak bikin keributan aja. Magnus lagi sensitif hari ini."
[Kembali ke Lab Steril. Paul]
Paul mencoba memecahkan panel pintu dengan pisau lipatnya, tapi sebuah suara menggema dari speaker di sudut langit-langit.
Suara Pharma (via Interkom): "Paul, Paul... Kau tahu, oksigen di lab steril itu dikontrol secara digital. Untuk menjaga spesimen tetap segar, aku biasanya menurunkan kadarnya hingga 15%."
Paul berhenti bergerak. Dia mulai merasakan dadanya sedikit sesak.
Suara Pharma: "Nikmatilah waktumu di sana. Grayson mungkin sudah tertangkap, tapi karyanya di koper-koper itu... harus tetap berlanjut. Dan kau, kakak iparku yang terhormat, baru saja memberikan dirimu sebagai pengawas yang paling setia."
Paul menatap koper hitam di depannya. Dia membukanya paksa dengan tendangan. Isinya bukan organ... tapi tabung-tabung berisi cairan kuning dengan label "Project DJD - Synthesis".
Situasi Sekarang:
***
Pesta peringatan hari jadi Rumah Sakit Delfi dipenuhi oleh jajaran elit dunia medis, meskipun beberapa nama besar seperti Senator Revan absen karena urusan di Jerman dan Sho Wayne rekan sesama anggota DJD yang menjebak Pharma juga tidak menampakkan sehelai rambutnya.
Kenzo, Dokter muda yang ambisius ini tampak sangat lincah berpindah dari satu kelompok investor ke kelompok lainnya, mencoba membangun koneksi di bawah bayang-bayang kesuksesan Pharma.
Aira Arania. lmuwan spesialis riset eksperimental ini berdiri di sudut ruangan dengan senyum samarnya yang licik. Tatapannya sesekali tertuju pada pintu menuju area laboratorium, seolah ia mengetahui sesuatu tentang "Project DJD" yang sedang terjadi di bawah sana.
Ceptor Rakha. Ilmuwan muda sekaligus dokter yang seumur dengan Lyra ini tampak tenang dan serius. Namun, matanya yang penuh rasa ingin tahu terus mengamati interaksi antara Pharma dan keluarga Ratchet dengan saksama.
Velorie Resta. Dokter enerjik ini tampak tetap ramah menyapa kolega-koleganya, kontras dengan aura tegang yang menyelimuti para tamu dari Raven Medika.
Loen Watson & Iva Resna. Mereka duduk di area yang agak belakang, tetap sibuk memperhatikan gerak-gerik atasan mereka dan mencatat detail-detail penting dari pertemuan malam itu.
Aidil Revta.Mewakili pihak Raven Medika bersama Ratchet, Aidil tidak bisa menyembunyikan ketegangannya. Wajahnya tampak kaku saat melihat Pharma menyapa para tamu dengan begitu arogan.
Peringatan yang Terabaikan
Di tengah kemegahan pesta, Pharma tetap menjadi pusat perhatian sebagai kepala rumah sakit Delfi yang arogan. Ia merasa di atas angin karena berhasil menjebak Paul di lab steril tanpa ada yang menyadari, terutama saat Lyra baru saja memasuki ruangan pesta dan langsung mendapatkan lirikan tajam darinya.