Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: BERTEMU PAK HARTO SI RENTENIR
#
Pagi itu Bayu bangun dengan kepala penuh rencana. Dia butuh uang. Banyak. Bukan cuma buat hidup. Tapi buat... operasi besar.
Ketemu Bu Ratna butuh uang. Buat bayar orang yang ngawasin dia. Buat nyogok satpam mansion. Buat nyewa tempat aman kalau Bu Ratna setuju jadi saksi.
Uang dari tarung... nggak cukup.
Dia butuh investor. Tapi bukan investor biasa. Investor yang nggak peduli dari mana uang datang. Yang nggak tanya banyak. Yang... gelap.
Dan Pak Guntur udah kasih nama.
Pak Harto.
Rentenir paling kejam di wilayah pelabuhan. Punya uang miliaran. Didapat dari hutang berbunga gila yang dia kasih ke pedagang kecil, nelayan, buruh. Kalau nggak bayar? Dia sita rumah. Bakar warung. Bahkan... bunuh.
Tapi dia punya uang.
Dan Bayu... butuh uang itu.
***
Kantor Pak Harto di gang sempit dekat pasar ikan. Bangunan dua lantai cat hijau kusam. Cat-nya udah pada ngelupas. Di depan, papan nama kayu lusuh: "Pinjaman Dana Harto Jaya."
Bayu berdiri di depan pintu. Napas dalam. Ini bahaya. Tapi dia nggak punya pilihan.
Dia masuk.
Di dalam, ruangan sempit penuh asap rokok. Ada meja kayu besar di tengah. Di belakang meja, duduk seorang pria gemuk. Umur mungkin lima puluhan. Botak. Kumis tebal. Baju batik norak. Cincin emas di hampir semua jarinya. Mata sipit tapi tajam. Seperti ular yang lagi ngintai tikus.
Dua preman berdiri di sudut ruangan. Tubuh besar. Tato penuh. Tongkat baseball di tangan.
Pak Harto menatap Bayu dari atas ke bawah. Lalu tersenyum. Senyum yang bikin bulu kuduk merinding.
"Wah... anak muda. Jarang ada anak muda yang dateng ke sini dengan kaki sendiri." Suaranya berat. Serak. Seperti orang yang kebanyakan ngerokok. "Biasanya yang dateng itu yang udah desperate banget. Atau... yang udah ditangkep debt collector gue."
Bayu berdiri tegak. Nggak nunjukin rasa takut meski jantungnya berdegup keras. "Gue nggak butuh pinjaman."
Pak Harto mengangkat alis. "Oh? Terus lu mau apa?"
"Gue mau tawarkan... investasi."
Hening sebentar.
Lalu Pak Harto tertawa. Tawa keras yang bikin preman di sudut ikut nyengir.
"Investasi? Lu? Anak muda yang bau amis arena underground mau nawarin investasi ke gue?" Pak Harto ngisap rokok dalam-dalam. "Lu pikir gue bodoh?"
Bayu menatapnya datar. "Kalau Bapak bodoh, Bapak nggak bakal punya uang miliaran cuma dari rentenir. Pasti ada bisnis lain. Bisnis yang... lebih gelap."
Senyum Pak Harto luntur. Matanya menyipit berbahaya.
"Hati-hati sama mulut lu, bocah. Gue bisa potong lidah lu sekarang."
Salah satu preman mulai gerak. Tapi Pak Harto angkat tangan. Preman itu berhenti.
"Tapi... gue penasaran." Pak Harto condong ke depan. "Investasi apa?"
Bayu menarik napas. Ini momen penting. Kalau dia salah ngomong... dia bisa mati di sini.
"Bisnis pembersihan masalah."
Pak Harto mengernyit. "Pembersihan masalah?"
"Bapak pasti punya banyak musuh. Orang yang berani nggak bayar hutang. Orang yang berani lawan. Tapi Bapak nggak bisa bunuh mereka semua sendiri. Terlalu riskan."
Bayu melangkah maju sedikit. "Gue bisa... bersihin mereka. Tanpa jejak. Tanpa ribut."
Pak Harto menatapnya lama. Sangat lama. Mencari tanda-tanda bohong.
Tapi Bayu nggak kedip. Menatap balik dengan mata yang... dingin.
Mata pembunuh.
Pak Harto melihat itu. Dan entah kenapa... dia percaya.
"Lu... pernah bunuh orang?"
Bayu ngangguk pelan. "Lebih dari satu."
Pak Harto tersenyum tipis. "Menarik."
Dia matiin rokoknya di asbak penuh puntung. Nyalain yang baru.
"Tapi kenapa gue harus invest ke lu? Gue bisa bayar pembunuh bayaran profesional."
"Karena gue murah. Karena gue... punya skill yang mereka nggak punya." Bayu menatapnya tajam. "Gue bisa masuk sistem. Gue bisa hapus data. Gue bisa bikin pembunuhan kelihatan kayak kecelakaan. Atau bunuh diri."
Pak Harto terdiam. Jari-jarinya mengetuk-ketuk meja. Mikir.
"Berapa yang lu butuhin?"
"Dua ratus juta."
"PFFT!" Pak Harto hampir keselek asap rokok. "Lu gila?! Dua ratus juta?!"
"Bapak punya lebih dari itu."
"Punya bukan berarti gue mau buang-buang!" Pak Harto berdiri. Tubuhnya besar. Mengintimidasi. "Lu pikir duit gue dari langit?!"
Bayu nggak mundur. "Gue tau duit Bapak dari darah orang miskin. Dari air mata janda yang suaminya bunuh diri gara-gara nggak bisa bayar hutang. Dari anak-anak yang nggak bisa sekolah karena uang orang tuanya abis buat bayar bunga."
Wajah Pak Harto jadi merah. "LU..."
"Tapi gue nggak peduli." Bayu memotong. Suaranya dingin. "Gue nggak peduli dari mana duit Bapak. Gue cuma... butuh modal. Dan Bapak... butuh orang kayak gue."
Mereka saling tatap. Tegang.
Preman-preman di sudut udah siap gerak. Tangan mereka udah di tongkat baseball.
Tapi Pak Harto... tersenyum.
Senyum yang aneh. Seperti ketemu seseorang yang satu frekuensi.
"Lu... berani juga, bocah." Dia duduk lagi. "Oke. Gue tertarik. Tapi... gue nggak suka rugi."
"Gue nggak akan bikin Bapak rugi."
"Buktiin dulu." Pak Harto ambil kalkulator. Hitung-hitung. "Dua ratus juta. Bunga lima puluh persen per bulan. Lu bayar seratus juta setiap bulan selama empat bulan. Total empat ratus juta. Deal?"
Bayu menggeleng. "Bukan pinjaman. Investasi. Bapak jadi partner gue. Tiga puluh persen dari setiap job yang gue dapet."
Pak Harto tertawa lagi. "Lu pikir gue bodoh? Tiga puluh persen dari apa? Kalau lu nggak dapet job, gue nggak dapet apa-apa!"
"Kalau gue nggak dapet job, Bapak bisa ambil nyawa gue."
Hening total.
Pak Harto berhenti ketawa. Menatap Bayu serius.
"Lu... yakin?"
"Gue yakin."
Pak Harto menghisap rokoknya dalam-dalam. Asap keluar pelan dari hidung.
"Empat puluh persen."
"Tiga puluh lima. Final."
Pak Harto mikir lama. Jari-jarinya ngetuk-ngetuk meja lagi. Ritme lambat. Seperti jam yang lagi hitung mundur.
Lalu... dia ulurin tangan.
"Deal. Tiga puluh lima persen. Tapi... kalau lu gagal dapet job dalam tiga bulan pertama..." Dia menyeringai. "Nyawa lu jadi jaminannya. Gue jual organ lu satu-satu."
Bayu menatap tangan itu. Tangan gemuk penuh cincin emas. Tangan yang udah menghancurkan ribuan keluarga.
Tapi... ini satu-satunya cara.
Dia jabat tangan itu. "Deal."
Pak Harto tersenyum lebar. "Bagus!"
Dia buka laci meja. Keluarin tumpukan uang. Seratus ribuan. Rapi. Diikat karet.
"Dua ratus juta. Tunai. Kayak yang lu minta."
Dia dorong uang itu ke arah Bayu.
Bayu menatap uang itu. Banyak banget. Lebih banyak dari uang yang pernah dia pegang.
Tangannya gemetar sedikit saat ambil uang itu. Masukin ke tas ransel yang dia bawa.
"Satu lagi," kata Pak Harto sambil nyalain rokok baru. "Gue mau... bukti. Bukti kalau lu beneran bisa."
Bayu menatapnya. "Bukti apa?"
"Ada orang. Namanya Joko. Debt collector gue yang paling senior. Dia... ngemplang uang gue. Lima puluh juta. Terus dia kabur." Pak Harto menatap Bayu tajam. "Temuin dia. Ambil uang gue. Kalau dia nolak... bunuh."
Bayu menelan ludah. Ini... ini bukan cuma investasi. Ini test.
Test pembunuhan.
"Di mana dia?"
Pak Harto kasih kertas. Ada alamat di sana. "Dia sembunyi di rumah pacarnya. Daerah pinggiran. Jauh dari sini."
Bayu ambil kertas itu. Baca. Hapalin. Lalu sobek. Buang ke asbak. Bakar pakai korek api Pak Harto.
"Kapan lu mau bukti?"
"Tiga hari. Kalau lu nggak balik dalam tiga hari dengan uang atau bukti kematian Joko..." Pak Harto tersenyum dingin. "Gue anggap lu kabur. Dan gue... akan cari lu. Sampai dapat."
Bayu mengangguk. "Tiga hari. Cukup."
Dia berdiri. Bawa tas ransel penuh uang.
"Oh, satu lagi, bocah."
Bayu menoleh.
Pak Harto berdiri. Berjalan mendekat. Tingginya hampir sama dengan Bayu tapi tubuhnya dua kali lebih besar.
Dia bisik pelan. Tepat di telinga Bayu.
"Gue udah bunuh tiga puluh dua orang dalam hidup gue. Semuanya yang berani bohong atau nipu gue." Napasnya bau rokok dan kopi. "Jangan jadi yang ketiga puluh tiga."
Bayu menatap matanya. Mata yang dingin. Mata pembunuh sejati.
Tapi Bayu nggak takut.
Karena dia juga udah jadi pembunuh.
"Gue nggak akan bohong."
Pak Harto tersenyum. Lalu tepuk bahu Bayu keras.
"Bagus. Gue suka lu, bocah. Lu... punya nyali."
Bayu keluar dari kantor itu. Keluar ke gang sempit yang bau ikan busuk.
Napasnya baru keluar panjang. Baru sadar dia nahan napas sejak tadi.
Tangannya gemetar. Bukan karena takut. Tapi karena... dia baru aja masuk lebih dalam ke dunia gelap.
Dua ratus juta di tas.
Tapi harganya... nyawa orang bernama Joko.
"Gue... gue harus bunuh dia."
Bisikan itu keluar pelan.
Bayu menatap langit yang mendung. Awan hitam berkumpul. Kayaknya mau hujan.
"Maaf, Joko. Lu salah pilih musuh."
Dia jalan menjauh. Masuk ke kerumunan pasar. Hilang di antara orang-orang.
Dan di kepalanya...
Cuma satu pikiran.
Bertahan hidup.
Apapun caranya.