NovelToon NovelToon
Sandi Hati Sang Alpha

Sandi Hati Sang Alpha

Status: tamat
Genre:Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Satu kontrak, dua keluarga, dan ribuan rahasia. Bagi Bhanu Vandana, Selena Arunika adalah aset yang ia beli. Bagi Selena, Bhanu adalah tirani yang harus ia taklukkan. Di aula yang beraroma cendana, mereka tidak memulai sebuah pernikahan, melainkan sebuah peperangan. Saat fajar bertemu dengan matahari yang beku, siapa yang akan bertahan ketika topeng-topeng kekuasaan mulai retak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fajar bagi sang alpha dan janji di balik salju

​Ledakan cahaya dari rahim Selena bukan sekadar peristiwa biologis, melainkan sebuah pernyataan perang terhadap tatanan dunia lama. Cahaya itu diikuti oleh gelombang kejut elektromagnetik (EMP) murni yang meluas dalam radius sepuluh kilometer, membelah udara dingin Himalaya dengan kekuatan yang tak terlihat. Di langit yang tadinya dikuasai oleh besi, helikopter-helikopter tempur The Nephilim mendadak kehilangan jiwanya. Mesin-mesin mereka membeku, sistem navigasi mereka buta, dan satu per satu mereka jatuh seperti batu hitam yang menghantam lereng gunung yang tak kenal ampun. Seluruh sistem komunikasi global milik Dr. Eleanor di area tersebut hangus seketika, meninggalkan keheningan yang sangat dalam dan purba—sebuah kesunyian yang telah menjaga Khun-Lhai selama ribuan tahun sebelum teknologi datang mengotori kesuciannya.

​Di tengah ruangan batu yang kini menghitam karena hangus dan debu statis, terdengar suara yang memecah keheningan itu: tangisan bayi. Namun, suara itu tidak terdengar cempreng atau lemah; ia memiliki nada harmonik yang resonan dan dalam, seolah-olah seluruh frekuensi di alam semesta—dari desis bintang hingga deru samudra—telah menemukan muaranya dalam satu tarikan napas tersebut. Suara itu adalah frekuensi kehidupan baru yang tidak lagi terikat oleh keterbatasan daging semata.

​Bhanu, dengan tangan yang dipenuhi luka bakar akibat lonjakan arus, perlahan mendekat. Ia mengangkat bayi laki-laki itu dari pelukan Dahayu yang kini terkulai lemah bersandar pada pilar batu. Bayi itu memiliki kulit seputih porselen yang seolah memancarkan cahayanya sendiri. Saat ia membuka mata untuk pertama kalinya, dunia seolah berhenti berputar. Iris matanya berwarna emas murni yang berpendar terang, menyimpan rahasia jutaan bit data yang belum terjamah. Namun, saat tatapannya bertemu dengan wajah Bhanu yang berlumuran darah dan debu, pendaran emas itu perlahan memudar, menyisakan sepasang mata hitam kelam yang dalam. Mata itu mengingatkan Bhanu pada cermin jiwanya sendiri, namun dengan binar kecerdasan yang melampaui usia manusia mana pun.

​Selena terbaring lemas di atas meja batu, napasnya tersengal-sengal dan rambutnya basah oleh peluh perjuangan. Namun, wajahnya memancarkan kedamaian yang belum pernah ia miliki sejak hari pernikahannya yang direnggut paksa. "Bhanu... berikan dia padaku..." bisiknya, suara yang tadinya hilang kini kembali seperti aliran air di musim semi.

​Saat Bhanu meletakkan bayi itu di dada Selena, sebuah fenomena ajaib terjadi—sebuah simfoni antara alam dan keajaiban biologis. Luka-luka di tubuh Selena, dari lecet di pergelangan tangan hingga robekan di rahimnya, mulai menutup dengan kecepatan yang bisa disaksikan oleh mata telanjang. Aliran listrik statis yang masih tersisa di udara biara seolah ditarik oleh magnet tak kasat mata, terserap masuk ke dalam tubuh bayi itu. Ia adalah spons yang menyerap energi dunia, menyeimbangkan kembali ketidakteraturan yang diciptakan oleh perang di luar sana.

​"Namanya Altair," bisik Selena, sambil membelai pipi putranya. "Bintang yang terbang tinggi di langit terjauh, yang tidak bisa dijangkau oleh tangan siapa pun yang ingin merantainya."

​Di sudut ruangan, Dahayu tersenyum pahit. Darah biru kehijauannya telah membasahi lantai batu, membentuk pola yang tragis. Ia menatap tabletnya yang sudah hancur berkeping-keping, namun ia tahu misinya telah genap. "Ibu kalah... Dia ingin menciptakan dewa yang bisa ia kendalikan dengan remot kontrol... tapi Altair... dia adalah sistem operasi yang menulis kodenya sendiri. Dia adalah kebebasan yang tidak dipahami oleh mesin."

​Sementara itu, di luar biara, di bawah timbunan salju dan bangkai mesin yang masih mengepulkan asap, Dr. Eleanor berdiri sendirian. Setengah dari wajahnya hancur, menyingkapkan rangka logam di bawah kulitnya akibat ledakan EMP tadi, namun ia tidak menunjukkan rasa sakit. Ia justru tersenyum dengan kegilaan yang murni dan dingin. Ia merogoh sakunya, memegang sebuah medali kuno yang sudah usang—satu-satunya benda di sana yang tidak mengandung teknologi apa pun.

​"Dia lahir," bisik Eleanor ke arah angin badai yang mulai mereda. "Alpha yang akan menghakimi umat manusia. Kalian pikir kalian menyelamatkannya? Kalian baru saja membiarkan kiamat kecil tumbuh di dalam rumah kalian. Kalian memberi nama pada badai, dan kalian akan terkejut saat badai itu menghancurkan atap kalian."

​Bhanu melangkah keluar ke balkon biara yang menggantung di atas jurang, menggendong Altair di dadanya yang bidang. Ia menatap matahari terbit yang membelah kabut Himalaya, mengubah hamparan salju menjadi emas yang berkilauan. Di bawah sana, sisa-sisa pasukan Nephilim mundur dalam kekacauan, seperti semut yang kehilangan ratunya. Bhanu tahu bahwa sejak detik ini, kehidupan mereka tidak akan pernah kembali normal. Altair adalah sebuah harapan yang rapuh, namun ia juga merupakan tanggung jawab yang mengerikan bagi pundak seorang manusia biasa.

​"Kita akan menjaganya, Selena," ucap Bhanu tanpa menoleh, suaranya berat dengan janji yang diikat oleh darah dan salju. "Bukan untuk menjadikannya penguasa dunia, bukan untuk menjadikannya mesin penghancur. Kita akan mengajarkannya untuk mencintai dan merasakan sakit, meskipun seluruh dunia ingin dia tetap dingin dan menghancurkan."

​Di telapak tangan kecil Altair, terdapat sebuah tanda lahir unik—sebuah pola spiral sirkuit mikro yang halus dan transparan, yang berdenyut lembut seirama dengan detak jantung bumi. Sejarah manusia yang baru saja dimulai ini ditulis bukan dengan tinta di atas kertas, melainkan dengan darah pengorbanan, cinta yang melampaui logika, dan kode kehidupan yang tak akan pernah bisa dipecahkan oleh algoritma mana pun.

Tamat.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

Selamat libur guys...

1
Yulianti
bagus bgt kita diajak untuk berimajinasi,ttp aja ketulusan hati mengalahkan segalanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!