NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️

Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.

Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.

Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.

Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.

Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut

ANTI DAO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konsepsi Tujuh Dosa

Kertas itu ada di tangannya, namun beratnya tidak masuk akal. Secara fisik, benda itu seringan bulu, teksturnya rapuh seperti kulit ular yang telah lama ditinggalkan pemiliknya dan mengering di bawah matahari gurun. Namun, bagi kesadaran Lu Daimeng, kertas itu memiliki massa seberat dosa seluruh manusia.

Hanya dari memegang kertas tersebut rasa bersalah sudah ada dibenaknya, hatinya seperti dipaksa untuk menjadi iblis buas tanpa empati sedikitpun.

Di atas kertas tersebut tidak ada tinta.

Tidak ada sapuan kuas kaligrafi agung.

Saat mata Lu Daimeng terfokus pada permukaan kasar itu, diagram-diagram dan tulisan yang ada di sana tidak "dibaca" oleh matanya. Mereka merayap. Mereka adalah konsep 'Tiada' yang melompat dari serat selulosa, menjalar melalui saraf optiknya, dan menanamkan diri langsung ke dalam materi abu-abu otaknya.

Rasanya bukan seperti mempelajari sesuatu yang baru. Rasanya seperti mengingat sesuatu yang telah dilupakan secara paksa.

“Ah…” desis Lu Daimeng, suara napasnya terdengar kering di gua yang sunyi itu.

Rasa sakit dari luka gigitan Kelinci Iblis di lengan dan kakinya masih ada, berdenyut seirama dengan detak jantungnya yang lemah. Namun, rasa sakit itu kini terasa berjarak. Seolah-olah tubuh yang terluka itu hanyalah pakaian usang yang kebetulan sedang dia kenakan, sementara "dia" yang sebenarnya sedang duduk di ruang teater dalam kepalanya, menonton layar yang menampilkan memori purba tentangnya.

Informasi itu meledak dalam keheningan benaknya. Bahasa yang digunakan bukanlah bahasa manusia, bukan bahasa dewa, juga bukan bahasa iblis. Itu adalah bahasa konseptual. Bahasa yang ada sebelum cahaya pertama dinyalakan di alam semesta ini.

Lu Daimeng menutup matanya. Dalam kegelapan itu, dia melihat dirinya sendiri. Bukan sebagai pemuda tujuh belas tahun yang dibuang, melainkan sebagai sebuah konstruksi.

Sebuah pertanyaan mengerikan merambat naik, dingin dan licin seperti ular es: Apakah aku pernah benar-benar ada?

Ingatan masa kecilnya berputar. Wajah ibunya yang samar—wanita yang meninggal saat melahirkannya. Tatapan ayahnya yang selalu dingin. Kegagalan demi kegagalan dalam menyerap Qi.

Selama ini, dia berpikir dia adalah produk gagal. Sebuah kesalahan genetik.

Tetapi catatan di kepalanya mengatakan sebaliknya. Dia bukan gagal. Dia didesain untuk gagal dalam standar dunia ini.

"Siapa aku?," bisik Lu Daimeng, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang mengandung ironi paling gelap. "Kenapa aku merasa aku adalah wadah yang belum dibuka."

Entitas itu—Abysselizarch, nama itu muncul begitu saja di benaknya, sebuah getaran suara yang berarti 'Avatar dari Palung Terdalam'—tidak memilihnya secara acak di hutan ini. Pertemuan ini bukanlah kebetulan.

Lu Daimeng merasa seolah-olah entitas itu telah menanamkan benih di rahim ibunya tujuh belas tahun yang lalu. Atau lebih gila lagi, mungkin Lu Daimeng adalah entitas itu sendiri, yang memotong sebagian kecil dari eksistensinya, memasukkannya ke dalam siklus reinkarnasi manusia, dan membiarkannya tumbuh dalam penderitaan untuk mematangkan wadahnya.

Dia adalah avatar. Dia adalah perpanjangan tangan. Dia adalah alien di kulit manusia.

Perasaan asing ini seharusnya membuat seseorang gila. Mengetahui bahwa hidupmu, emosimu, dan identitasmu mungkin hanyalah rekayasa genetik kosmik adalah horor eksistensial tingkat tinggi.

Namun, Lu Daimeng tidak menjadi gila. Sebaliknya, dia merasakan ketenangan yang absolut.

Jika dia adalah makhluk kosmik, maka itu menjelaskan segalanya. Itu menjelaskan mengapa dia tidak pernah merasa terhubung dengan saudara-saudaranya. Mengapa dia bisa melihat kemunafikan dunia dengan begitu jernih. Mengapa dia tidak menangis saat dia disakiti keluarganya.

"Manusia takut pada monster," gumamnya pelan. "Tapi monster tidak pernah takut pada dirinya sendiri."

Dia mengalihkan fokusnya pada esensi ajaran yang kini terukir di korteks serebralnya.

Tujuh Hukum Kekejian.

Dunia kultivasi ortodoks mengajarkan untuk memurnikan hati, membuang keinginan duniawi, dan menyatu dengan Dao Langit. Mereka menganggap emosi negatif sebagai "Iblis Hati" yang harus dikalahkan.

Metode Abysselizarch berbeda. Metode ini tidak meminta untuk mengalahkan Iblis Hati. Metode ini mengajarkan cara menjadi Iblis itu sendiri, namun dengan cara yang sangat spesifik dan kontradiktif.

Tujuh Hukum itu adalah fondasi. Tujuh lubang yang harus dibuka, bukan dengan memanjakan emosi, tapi dengan mengosongkannya dari aspek manusiawinya.

Lu Daimeng membaca daftar itu dalam benaknya.

Hukum Kemarahan (Wrath)

Hukum Kerakusan (Gluttony)

Hukum Nafsu (Lust)

Hukum Keserakahan (Greed)

Hukum Kemalasan (Sloth)

Hukum Kesombongan (Pride)

Hukum Iri Hati (Envy)

Bagi manusia biasa, ini adalah dosa. Bagi kultivator iblis, ini adalah bahan bakar yang meledak-ledak dan tidak stabil.

Tapi bagi dirinya ini adalah Hukum.

instruksi di kepala Lu Daimeng sangat dingin dan presisi:

“Untuk memegang Amarah Sejati, kau harus membuang rasa panas dari dada. Amarah yang membakar adalah ketidakbergunaan. Amarah Sejati adalah penghancuran mutlak tanpa perlu merasakan kebencian.”

“Untuk memegang Kerakusan Sejati, kau harus membuang rasa lapar dari perut. Lapar adalah kelemahan biologis. Kerakusan Sejati adalah penyerapan materi tanpa hasrat untuk menikmati rasa.”

Lu Daimeng terdiam. Konsep ini... ini adalah antitesis dari kemanusiaan.

Jika seseorang membunuh karena marah, dia masih manusia. Dia masih budak dari emosinya.

Jika seseorang membunuh karena itu harus dilakukan, tanpa detak jantung yang naik, tanpa adrenalin, murni sebagai tindakan maka itu adalah Iblis. Tapi kertas tersebut juga memerintahkan untuk tidak menjadi iblis.

"Jadi..." Lu Daimeng menatap telapak tangannya yang berlumuran darah kering. "Aku harus merasakan segalanya, lalu membunuh perasaan itu, dan hanya menyisakan tindakannya."

Ini adalah strategi psikologis tingkat tinggi terhadap diri sendiri. Dia harus melakukan lobotomi emosional secara sadar.

Dia memperbaiki posisi duduknya. Kakinya yang terluka dipaksa menyilang dalam posisi lotus. Rasa sakit kembali menyengat, tajam dan menuntut perhatian.

Biasanya, seorang pemuda akan meringis. Dia akan membiarkan rasa sakit itu memicu rasa kasihan pada diri sendiri, atau memicu kemarahan pada ayahnya yang menyebabkan ini.

Lu Daimeng menarik napas dalam. Udara gua yang apek dan dingin mengisi paru-parunya.

"Langkah pertama," bisiknya.

Dia memejamkan mata. Dia masuk ke dalam meditasi—bukan untuk menyerap Qi alam, karena Qi alam akan menolaknya—tapi untuk melihat ke dalam, ke ruang hampa di mana Dantian seharusnya berada.

Di sana, di pusat perutnya, tidak ada lautan energi emas atau pusaran spiritual. Hanya ada kegelapan.

Dia memanggil Hukum Pertama: Kemarahan.

Seketika, bayangan ayahnya muncul di benaknya. Wajah dingin sang Patriark di atas tebing. Suara tawa saudara-saudaranya. Hinaan para pelayan.

Dada Lu Daimeng sesak. Panas. Jantungnya berpacu. Adrenalin membanjiri sistem sarafnya.

Benci. Aku benci mereka. Aku ingin merobek leher mereka. Aku ingin melihat mereka terbakar.

Itu adalah reaksi manusiawi. Reaksi Lu Daimeng yang lama.

“Jangan,” suara insting barunya berbisik dingin. “Itu adalah amarah hewan. Aku bukan hewan. Itu membuat semuanya sia-sia. Dan Itu membuat strategimu hancur.”

Lu Daimeng mengertakkan gigi. Dia tidak menekan amarah itu, dia membedahnya.

Dia membayangkan dirinya memegang pisau bedah mental. Dia melihat gumpalan emosi merah menyala bernama "Kebencian" itu. Dia melihat bagaimana emosi itu membuatnya ingin berteriak.

Hapus teriakannya, perintah pikirannya.

Dia memotong bagian yang membuatnya ingin berteriak.

Hapus panas di dada.

Dia memotong bagian yang membuat darahnya mendidih.

Hapus rasa sakit hati karena dikhianati.

Dia memotong bagian yang membuatnya merasa menjadi korban.

"Aku memang sampah! Lantas kenapa?"

"Aku memang layak mati! Lantas kenapa?"

Perlahan, visualisasi wajah ayahnya di benaknya tidak lagi memicu reaksi panas. Wajah itu hanya menjadi objek. Sebuah target. Sebuah halangan yang harus dipindahkan dari status "hidup" ke status "mati".

Keringat dingin mengucur deras dari dahi Lu Daimeng. Proses ini menyakitkan secara mental. Rasanya seperti menguliti jiwa sendiri. Dia membuang bagian dari dirinya yang membuat dia menjadi "manusia".

Apa yang tersisa dari Amarah setelah emosinya dibuang?

Ketetapan Hati. Niat yang Murni.

Itu adalah Kemarahan Dingin. Itulah keputusan tenang bahwa Ayah harus mati, sama tenangnya dengan keputusan bahwa matahari harus terbit di timur. Tidak ada drama. Tidak ada dendam yang meledak-ledak. Hanya kepastian eksekusi.

Di dalam kegelapan tubuhnya, titik singularitas itu bergetar. Sedikit.

Bagus, pikir Lu Daimeng. Napasnya mulai stabil, sangat lambat, hampir seperti mayat yang bernapas.

Dia beralih ke Hukum Kedua: Kerakusan.

Dia fokus pada rasa sakit di tubuhnya. Tubuhnya sekarat. Dia kehilangan darah. Sel-selnya menjerit meminta energi. Dia lapar. Dia haus. Dia ingin hidup.

Rasa lapar adalah insting dasar makhluk hidup. Keinginan untuk melahap dunia agar diri sendiri tetap ada.

Lu Daimeng menatap rasa lapar itu. Dia melihat betapa menyedihkannya rasa itu. Rasa yang membuatnya mengemis, membuatnya lemah.

“Lubang hitam tidak lapar,” logika Abysselizarch bergema. “Ia hanya memiliki gravitasi. Ia menyerap karena itulah sifat alaminya, bukan karena ia membutuhkannya.”

Lu Daimeng mengubah pola pikirnya. Dia berhenti merasa "ingin" sembuh. Dia berhenti merasa "ingin" makan.

Dia menanamkan konsep bahwa tubuhnya adalah Lubang. Bahwa energi di sekitarnya adalah miliknya secara hakiki, bukan sesuatu yang harus dia ambil.

Dia tidak menarik napas untuk hidup. Dia menarik napas karena udara berhak untuk dia ambil.

Dia tidak menyerap untuk kenyang. Dia menyerap untuk menghilangkan keberadaan hal lain.

Meditasi itu berlanjut. Waktu di dalam gua menjadi tidak relevan.

Lu Daimeng masuk ke Hukum Kesombongan.

Dunia membuangnya. Dia adalah sampah. Itu fakta sosial. Biasanya, kesombongan muncul sebagai kompensasi. Seseorang menjadi sombong untuk menutupi rasa rendah diri.

“Itu kesombongan palsu,” pikir Lu Daimeng.

Dia menghancurkan egonya sendiri. Dia mengakui bahwa dia lemah saat ini. Dia mengakui bahwa kelinci pun bisa membunuhnya. Dia tidak menyangkal kenyataan.

Tapi kemudian, dia menanamkan perspektif kosmik.

“Ketiadaan adalah akhir dari segalanya. Alam semesta lahir dari ketiadaan dan akan kembali ke ketiadaan.”

Itu bukan lagi kesombongan yang berteriak "Lihat aku!". Itu adalah Arogansi Diam. Keyakinan absolut bahwa dia dapat berdiri di puncak rantai makanan, Semut boleh menggigit kaki raksasa, tapi raksasa tidak perlu merasa terhina oleh semut. Raksasa hanya perlu melangkah.

Senyum Lu Daimeng kembali muncul dalam meditasinya. Kali ini, senyum itu tidak sinis. Senyum itu tenang. Sangat, sangat tenang.

Satu per satu, dia membedah tujuh sifat itu.

Hukum Nafsu diubah dari keinginan daging menjadi hasrat untuk mendominasi realitas.

Hukum Keserakahan diubah dari menumpuk harta menjadi menumpuk kemungkinan strategis.

Hukum Iri Hati diubah dari menginginkan milik orang lain menjadi analisis objektif tentang kekurangan diri sendiri untuk diperbaiki.

Hukum Kemalasan diubah dari inersia menjadi efisiensi energi—hanya bergerak saat kemenangan sudah pasti.

Di luar gua, malam berganti pagi, dan pagi berganti malam lagi.

Tubuhnya semakin kurus, mulai kekurangan asupan nutrisi.

Laba-laba kecil mulai merayap di bahu Lu Daimeng, mengira dia adalah batu. Debu menempel di rambutnya.

Di dalam tubuhnya, sesuatu yang menakutkan mulai terbentuk.

Titik singularitas di perutnya, yang tadinya diam, kini mulai berputar. Bukan searah jarum jam seperti kultivator Qi.

Ia berputar tidak jelas dan sangat acak sepertu ketidakteraturan.

Ia tidak memancarkan cahaya. Ia menarik cahaya.

Udara di sekitar Lu Daimeng mulai berubah. Suhu turun drastis. Partikel debu yang melayang di dekatnya tiba-tiba lenyap, masuk kedalam kulitnya.

Luka-luka gigitan di tubuhnya tidak sembuh dengan cara regenerasi normal di mana daging baru tumbuh berwarna merah muda. Tidak. Luka-luka itu tertutup oleh jaringan berwarna putih pucat, seolah-olah ditambal.

Dia tidak menyerap Qi Langit dan Bumi. Dia memakan keberadaan kecil di sekitarnya untuk menstabilkan wadahnya.

Tiba-tiba, mata Lu Daimeng terbuka.

Tidak ada kilatan cahaya emas. Tidak ada aura yang meledak menghancurkan gua.

Matanya hanya... hitam pekat untuk sesaat, sebelum iris mata manusianya kembali terlihat. Namun, tatapan itu berbeda. Itu adalah tatapan seorang iblis surgawi yang baru saja terbangun.

Dia menghembuskan napas panjang. Udara yang keluar dari mulutnya berwarna abu-abu tipis—sisa kotoran dari tubuhnya yang telah "dihapus".

"Tujuh Hukum Dasar," gumamnya. Suaranya terdengar lebih dalam, lebih resonan. "Aku belum menguasainya. Aku baru saja mengenali bentuk kuncinya."

Dia mencoba menggerakkan tangannya. Rasa sakit masih ada, tapi sekarang dia bisa mengabaikannya sepenuhnya. Bukan karena dia tahan sakit, tapi karena dia bisa memisahkan sinyal saraf "Sakit" dari respon otaknya karena ketidakpeduliannya.

Mengingat prinsip hidupnya. Kekuatan ini... ini bukan untuk dipamerkan.

Dia menunduk melihat kertas di lantai. Tulisan di sana perlahan memudar, seolah tugasnya sudah selesai. Kertas itu hancur menjadi abu halus, lalu lenyap sepenuhnya.

Lu Daimeng berdiri. Sendi-sendinya berbunyi krek.

Dia merasa lapar. Tapi bukan lapar akan nasi atau daging. Dia merasakan "kehadiran" di luar gua. Kehadiran samar dari Qi yang berdenyut di dalam makhluk hidup.

"Dunia kultivasi ini penuh dengan energi yang terbuang sia-sia," ucapnya pelan, berjalan menuju mulut gua. Langkahnya tidak lagi terseok-seok. Langkahnya senyap tanpa suara.

Dia berhenti di batas bayangan dan cahaya remang hutan kabut.

Di kejauhan, dia bisa mendengar gemerisik semak. Sekelompok Kelinci Iblis Bertandung Besi sedang mencari makan. Mungkin kelompok yang sama yang hampir membunuhnya kemarin.

Sebuah senyum tipis terukir di wajah Lu Daimeng.

"Kalian tidak mau memakanku karena aku tidak punya rasa," bisiknya pada angin yang beracun. "Ironisnya, aku tidak peduli bagaimana rasa kalian."

Dia tidak terburu-buru keluar karena tidak tahu apapun tentang beladiri saat ini. Itu tindakan bodoh dan kasar. Apalagi dia masih lemah secara fisik. Satu serangan langsung dari kelinci itu masih bisa merobek lehernya.

Otaknya, yang kini jernih tanpa gangguan emosi ketakutan, mulai berputar menyusun skenario.

Dia melihat lingkungan sekitarnya. Tanaman merambat yang kuat tapi kering. Batu-batu tajam. Posisi angin. Kontur tanah yang menurun ke arah gua.

Dia bukan petarung. Dia adalah manipulator.

"Mari kita lihat," gumamnya, matanya memindai setiap detail dengan kalkulasi dingin. "Bagaimana cara membunuh lima ekor monster dengan tenaga seminimal mungkin, dan keuntungan semaksimal mungkin."

Dia mengambil sebuah batu tajam seukuran kepalan tangan. Dia tidak berniat melemparnya. Dia menggoreskannya ke dinding gua, menciptakan bunyi ngilu yang berfrekuensi tinggi.

Skreeeekk.

Bunyi itu memecah keheningan hutan. Telinga-telinga panjang di kejauhan berkedut. Mata-mata merah menoleh.

Lu Daimeng mundur kembali ke dalam kegelapan gua, menyatu dengan bayangan di sudut yang sempit. Dia sengaja meninggalkan jejak darahnya yang kering di pintu masuk. Umpan.

Dia tahu kelinci itu tidak suka dagingnya. Tapi dia juga tahu sifat dasar Hukum Kerakusan yang ada pada binatang buas: Keingintahuan dan dominasi wilayah. Mereka akan datang untuk memeriksa gangguan suara di wilayah mereka.

Lu Daimeng menunggu. Napasnya ditahan hingga titik nol. Detak jantungnya ditekan hingga hampir berhenti—aplikasi praktis dari Hukum Kemalasan (efisiensi total).

Dia menjadi batu. Dia menjadi kegelapan. Dan di dalam kegelapan itu, dia tersenyum.

Langkah pertama menuju legenda besar dan berdarah telah dimulai. Bukan dengan ledakan kekuatan dewa, tapi dengan manipulasi dan pembantaian.

Bersambung...

1
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Ini bukan cerita tentang protagonis yang menyelamatkan dunia, ini adalah kisah villain yang berhasil melahap dunia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!