Seorang pemuda dari dunia modern yang sangat mengidolakan Portgas D. Ace terbangun di tubuh Ace, tepat beberapa saat sebelum ia bertemu dengan Shirohige.
Mengetahui nasib tragis yang menantinya di Marineford, ia bertekad untuk menjadi lebih kuat, menguasai Mera Mera no Mi melampaui batas alaminya, dan mengumpulkan pengikut (serta orang-orang tercinta)
untuk mengubah sejarah Grand Line.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CONQUEROR'S AWAKENING
Satu minggu tersisa sebelum Marine datang.
Tujuh hari untuk menguasai Conqueror's Haki—kekuatan yang bahkan orang berbakat butuh bertahun-tahun untuk kontrol dengan sempurna.
Tapi kami tidak punya bertahun-tahun. Kami cuma punya tujuh hari.
"Conqueror's Haki berbeda dari Observation dan Armament," Yamamoto menjelaskan sambil duduk bersila di depan kami. "Dua Haki itu bisa dilatih dan dipelajari oleh siapapun yang cukup tekun. Tapi Conqueror's adalah manifestasi dari kehendak murni—ambisi, tekad, dan kualitas pemimpin yang lahir, bukan dibuat."
Dia menatap kami dengan serius.
"Kalian berdua punya kualitas itu. Makanya Conqueror's terbangun. Tapi punya kekuatan dan bisa kontrol kekuatan itu adalah dua hal berbeda."
"Conqueror's yang tidak terkontrol akan keluar saat emosi tinggi—marah, takut, excited. Dan akan mempengaruhi SEMUA orang di sekitar yang kehendaknya lebih lemah dari kalian. Teman, musuh, tidak peduli. Semua akan kena."
Itu bahaya besar. Bayangkan sedang bertarung lalu tiba-tiba Luffy atau Dadan pingsan karena aku tidak bisa kontrol Conqueror's.
"Lalu bagaimana cara kontrol?" aku bertanya.
"Pertama, kalian harus pahami 'trigger' yang bikin Conqueror's keluar. Biasanya emosi kuat. Maka kalian harus belajar kontrol emosi bahkan di tengah pertempuran."
"Kedua, kalian harus visualisasi Conqueror's sebagai sesuatu yang bisa dikontrol. Aku biasa visualisasi sebagai pedang—bisa disarungkan, bisa ditarik, bisa dikontrol kekuatannya. Kalian harus cari visualisasi sendiri yang cocok."
"Ketiga, latihan. Aktifkan dan deaktifkan berulang-ulang sampai jadi reflex. Sampai kalian bisa kontrol bahkan tanpa mikir."
Kedengarannya simple tapi pasti sangat sulit dalam praktik.
"Sekarang coba. Aktifkan Conqueror's kalian dengan sengaja. Fokus pada kehendak untuk dominasi—keinginan untuk menundukkan musuh dengan presence murni."
Aku menutup mata. Fokus pada keinginan itu. Keinginan untuk jadi lebih kuat dari siapapun. Keinginan untuk melindungi keluarga dengan kekuatan mutlak.
Aura mulai memancar dari tubuh. Tekanan spiritual menyebar—
"Terlalu kuat! Kurangi intensitas!" Yamamoto berteriak.
Aku coba kurangi tapi aura malah membesar. Tidak terkontrol sama sekali.
"STOP! Tarik kembali!"
Dengan susah payah, aku tarik aura kembali ke dalam tubuh. Napas terengah-engah dari usaha mental.
"Kau terlalu paksa. Conqueror's bukan soal kekuatan brute. Conqueror's soal kontrol halus. Seperti..."
Yamamoto mengangkat tangan. Aura Conqueror's keluar dari tubuhnya—tapi sangat terkontrol. Hanya mengelilingi tubuhnya seperti mantel tipis. Tidak menyebar kemana-mana.
"Lihat? Aku kontrol dengan presisi. Tidak buang energi ke area yang tidak perlu. Semua fokus di sekitar tubuhku."
Lalu dia ubah lagi—aura menyebar tapi dengan intensitas rendah. Seperti tekanan ringan yang cukup untuk intimidasi tapi tidak sampai bikin pingsan.
"Dan ini—intensitas paling rendah. Cukup untuk buat musuh merasa tidak nyaman tapi tidak lebih."
Lalu dia lepaskan penuh—
WHOOOOSH!
Tekanan luar biasa menghantam kami. Aku dan Sabo harus aktifkan Haki penuh untuk tidak terpengaruh. Pohon-pohon di sekitar bergetar. Burung-burung terbang panik.
Lalu langsung hilang. Seperti tidak pernah ada.
"Kontrol penuh dari nol sampai maksimal. Itu yang harus kalian capai dalam seminggu."
"Kau bilang kau bukan user Conqueror's!" aku protes—ingat Yamamoto pernah bilang dia tidak punya.
"Aku bohong. Aku punya. Tapi aku jarang pakai karena..." dia terdiam sejenak. "Karena dulu aku kehilangan kontrol dan tidak sengaja bikin seluruh base Marine pingsan—termasuk teman-teman dekatku. Sejak itu aku belajar kontrol dengan sangat hati-hati."
Cerita yang berat. Dan peringatan buat kami.
"Maka kalian harus sangat berhati-hati. Jangan sampai ulangi kesalahanku."
Kami mengangguk serius.
Latihan dimulai. Berulang-ulang mencoba aktifkan dan deaktifkan Conqueror's. Mencoba kontrol intensitas. Mencoba fokuskan ke area tertentu.
Hari pertama—gagal total. Setiap kali aktifkan, aura keluar tidak terkontrol dan menyebar kemana-mana. Anak buah Dadan harus evakuasi jauh-jauh supaya tidak pingsan.
Hari kedua—sedikit lebih baik. Bisa kontrol durasi tapi belum bisa kontrol intensitas atau arah.
Hari ketiga—breakthrough. Aku berhasil visualisasi Conqueror's sebagai api yang bisa kukontrol—sama seperti Mera Mera no Mi. Dengan visualisasi itu, kontrol jadi jauh lebih mudah.
Sabo visualisasi sebagai angin—bisa ditiup kencang atau pelan, bisa diarahkan kemana-mana.
Hari keempat—kami berdua sudah bisa aktifkan dan deaktifkan dengan lumayan konsisten. Tapi kontrol intensitas masih belum sempurna.
Hari kelima—Yamamoto kasih latihan baru. Sparring melawan dia sambil coba gunakan Conqueror's dalam pertempuran.
"Conqueror's bukan cuma untuk intimidasi! Bisa digunakan untuk memperkuat serangan! Bahkan bisa clash dengan Conqueror's musuh untuk test siapa yang kehendaknya lebih kuat!"
Dia menyerang dengan pedang dilapisi Conqueror's Haki—aura hitam dengan kilatan merah mengelilingi blade.
Aku block dengan Hinokami yang juga kulapisi Conqueror's—
CLANG!
Benturan menciptakan gelombang shock yang menghancurkan tanah di sekitar kami. Petir hitam-merah muncul di titik benturan—visualisasi dari clash dua Conqueror's Haki.
"BAGUS! Itu yang namanya Conqueror's Coating! Teknik tingkat paling tinggi!"
Tapi aku langsung kehabisan energi setelah satu benturan. Jatuh berlutut dengan napas terengah-engah.
"Wajar. Conqueror's Coating menguras energi spiritual jauh lebih banyak dari Armament biasa. Tapi dengan latihan, akan jadi lebih efisien."
Sabo juga mencoba—berhasil coat Ryuseikon dengan Conqueror's tapi hanya bisa maintain tiga detik sebelum kehabisan energi.
"Dua hari lagi. Kalian harus bisa maintain Conqueror's Coating setidaknya tiga puluh detik. Itu minimum untuk bertarung melawan Rear Admiral."
Dua hari. Waktu yang sangat singkat.
Tapi kami tidak punya pilihan selain berhasil.
Hari keenam, pagi-pagi sekali, aku terbangun karena merasakan presence yang sangat kuat mendekat dari arah laut.
Bukan satu. Tapi banyak.
Aku lompat dari kasur dan berlari keluar. Sabo juga sudah bangun—dia juga merasakan dengan Observation Haki-nya.
"Mereka datang lebih cepat..." Yamamoto sudah berdiri di luar dengan wajah serius. "Satu hari lebih cepat dari prediksi."
Di cakrawala, kapal Marine besar terlihat mendekat. Bendera dengan lambang Marine berkibar di tiang utama.
Dan aura dari kapal itu... sangat kuat. Jauh lebih kuat dari Captain Nezumi atau Marine biasa.
"Itu Rear Admiral level..." Yamamoto bergumam. "Dan bukan yang lemah. Presence-nya hampir setara Vice Admiral."
Jantungku berdetak kencang. Ini dia. Pertempuran sebenarnya.
"Berapa lama sampai mereka berlabuh?" Sabo bertanya sambil ambil Ryuseikon.
"Maksimal tiga puluh menit. Kalian harus siap sekarang."
Aku kembali ke kamar dengan cepat—pakai baju pertempuran yang sudah disiapkan. Hinokami di pinggang. Vivre Card Shanks disimpan aman di saku dalam—kalau situasi benar-benar desperate, mungkin bisa minta bantuan.
Tapi aku berharap tidak sampai itu. Aku ingin hadapi ini dengan kekuatan sendiri.
Saat keluar lagi, Dadan sudah berkumpul dengan semua anak buah di depan gubuk. Wajah semua orang terlihat khawatir.
"Ace... Sabo... ini berbahaya..." Dadan berkata dengan suara bergetar. "Kalian masih anak-anak. Tidak perlu bertarung melawan Marine—"
"Dadan-san," aku memotong dengan lembut. "Kalau kami lari sekarang, Marine akan terus kejar. Akan ganggu desa. Akan ganggu kalian semua. Lebih baik kami hadapi sekarang dan selesaikan."
"Tapi—"
"Percaya pada kami. Kami sudah latihan keras. Kami bisa hadapi ini."
Dadan menatapku lama. Air mata mulai berkumpul di sudut mata tapi dia tahan.
"Kalian... sudah besar ya... tidak terasa..."
Dia memeluk kami erat. "Menang dan pulang dengan selamat. Itu perintah!"
"Kami janji."
Luffy tiba-tiba berlari keluar dengan topi jerami di kepala—mata berkaca-kaca.
"Ace-nii! Sabo-nii! Jangan pergi! Luffy takut kalian tidak balik!"
Aku berjongkok di depannya. "Luffy. Kakak akan balik. Pasti. Ini janji."
"Tapi orang jahat itu kuat kan? Bagaimana kalau—"
"Tidak ada bagaimana kalau. Kakak akan menang. Karena kakak punya alasan kuat untuk menang—untuk melindungi Luffy dan semua orang yang kakak sayang."
Aku melepas kalung kecil yang biasa kupakai—hadiah dari Dadan saat ulang tahun. Memasangkan di leher Luffy.
"Ini jaminan kakak akan balik. Jaga ini sampai kakak pulang."
Luffy megang kalung erat sambil mengangguk—masih menangis tapi mencoba kuat.
"Luffy tunggu! Luffy percaya Ace-nii pasti menang!"
"Good boy."
Kami berjalan menuju pantai. Yamamoto ikut—tidak untuk bertarung tapi untuk observasi dan intervene kalau situasi benar-benar berbahaya.
Di pantai, kapal Marine sudah berlabuh. Plank diturunkan.
Dan turun dari kapal adalah sosok yang membuat aku reflex tegang.
Pria tinggi besar—hampir tiga meter—dengan otot seperti pahatan batu. Seragam Marine dengan coat "JUSTICE" berkibar. Wajah keras dengan bekas luka di dahi. Dan yang paling mengerikan—aura yang memancar dari tubuhnya sangat pekat sampai terlihat seperti kabut putih tipis.
"Rear Admiral Doberman," Yamamoto berbisik. "Salah satu Rear Admiral paling kuat di Marine. Ahli pertempuran jarak dekat dan master Rokushiki."
Rokushiki. Enam teknik tempur khusus Marine—Geppo untuk lompat di udara, Soru untuk kecepatan tinggi, Tekkai untuk pertahanan, Rankyaku untuk slash udara, Shigan untuk tusukan kuat, dan Kami-e untuk kelincahan.
Di belakang Doberman, turun dua puluh Marine dengan senjata lengkap. Tapi presence mereka tidak ada apa-apanya dibanding Doberman.
Doberman berjalan dengan langkah berat. Setiap langkah membuat tanah sedikit bergetar.
Dia berhenti sepuluh meter dari kami. Mata tajamnya menatap aku dengan intensitas mengerikan.
"Portgas D. Ace. Anak berusia sembilan tahun dengan bounty lima puluh juta berry. Pengguna Devil Fruit Logia tipe Api. Tercatat telah mengalahkan beberapa kelompok bajak laut termasuk Kurohige no Daiki."
Suaranya berat seperti genderang perang.
"Atas perintah Headquarters, kau ditangkap atas tuduhan membahayakan keamanan East Blue dan potensi ancaman di masa depan. Menyerah sekarang atau aku akan paksa dengan kekerasan."
"Bagaimana kalau aku tolak?" aku bertanya sambil pegang gagang Hinokami.
Doberman tersenyum tipis—senyum predator yang sudah lama tidak bertarung dengan lawan kuat.
"Maka aku akan tunjukkan kenapa aku dijuluki 'The Iron Fist of Justice'."
Aura Haki meledak dari tubuhnya—Armament Haki pekat menyelimuti kedua tangan sampai jadi hitam mengkilap seperti logam.
Ini dia.
Pertempuran melawan Rear Admiral dimulai.
Dan aku tidak boleh kalah.
Tidak peduli seberapa kuat dia.
Karena terlalu banyak yang bergantung pada kemenangan ini.
Aku tarik Hinokami dari sarung. Api menyala di blade—oranye terang yang perlahan berubah jadi biru.
Sabo berdiri di sampingku dengan Ryuseikon siap. Observation Haki aktif maksimal.
"Dua bocah melawan Rear Admiral?" Doberman berkomentar. "Kalian berani atau bodoh. Tapi tidak masalah. Aku akan tunjukkan perbedaan level antara kalian dan officer sejati Marine."
Dia ambil stance—kedua tangan di depan, kaki selebar bahu.
Lalu—
SORU!
Dia menghilang.
Muncul di depanku dalam sekejap dengan tinju sudah terkepal.
Cepat! Terlalu cepat!
Tapi aku sudah aktifkan Observation Haki sejak awal—prediksi gerakan!
Aku dodge ke kanan dengan jarak sejengkal.
Tinjunya melewati—dan gelombang angin dari pukulan itu cukup kuat untuk menebang pohon di belakangku.
"Oh? Observation Haki? Bagus untuk anak seusiamu!"
Dia menyerang lagi—kombinasi jab cepat yang hampir tidak terlihat.
Aku block dengan Hinokami dilapisi Armament. Sabo serang dari samping dengan thrust ke arah pinggang Doberman.
TEKKAI!
Tubuh Doberman mengeras—thrust Sabo dipantulkan seperti nabrak besi solid.
"RANKYAKU!"
Kick Doberman menciptakan slash udara berbentuk bulan sabit—terbang ke arah kami dengan kecepatan tinggi.
"Sabo! Pisah!"
Kami lompat ke arah berlawanan—slash melewati di tengah dan memotong tanah jadi alur dalam sepuluh meter.
Kekuatan destruktif luar biasa.
"Kalian cepat. Tapi tidak cukup cepat!"
GEPPO!
Doberman lompat ke udara—menapak udara seolah ada pijakan invisible.
Dia turun dari atas dengan tinju dilapisi Haki penuh—
"METEOR FIST!"
Aku tidak bisa dodge—terlalu cepat. Harus block!
Aku angkat Hinokami dengan kedua tangan dilapisi Armament dan Conqueror's Haki sekaligus—
BOOOOMMMM!
Benturan menciptakan kawah besar. Tanah retak dalam radius dua puluh meter. Gelombang shock menyebar kemana-mana.
Aku terlempar dua puluh meter ke belakang—mendarat dengan susah payah tapi kaki tertanam dalam tanah sampai lutut karena kekuatan benturan.
Tangan gemetar. Hinokami hampir lepas dari pegangan.
Kuat. Sangat kuat.
Ini level yang benar-benar berbeda dari semua musuh yang pernah kuhadapi.
"Bertahan dari serangan penuhku? Impressive!" Doberman memuji sambil landing dengan sempurna.
Tapi dia belum selesai.
"Tapi masih level bocah. Sekarang aku serius sedikit!"
Aura Haki di sekitar tubuhnya semakin pekat. Intensitas naik drastis.
Dan untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai—
Aku merasakan takut.
Takut sungguhan.
Ini bukan lawan yang bisa dikalahkan dengan mudah.
Ini monster sejati.