Lestari Putri hidup dalam keluarga yang hancur oleh hutang dan alkohol. Di usia muda, ia dipaksa menikah demi melunasi hutang ayahnya—sebuah pernikahan yang lebih mirip penjara daripada rumah.
Suaminya, Dyon, bukan pelindung, melainkan sumber luka yang terus bertambah, sementara Lestari belajar bertahan dalam diam.
Ketika kekerasan mulai menyentuh seorang anak kecil yang tak bersalah, Lestari mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya: melarikan diri. Tanpa uang, tanpa arah, hanya membawa sisa keberanian dan harapan yang nyaris padam.
Di tengah kerasnya kota, Lestari bertemu seseorang yang melihatnya bukan sebagai beban atau milik, melainkan manusia. Namun masa lalu tidak mudah dilepaskan.
Pernikahan, hutang, dan trauma terus membayangi, memaksa Lestari memilih—tetap terikat pada luka, atau berjuang meraih kebebasan dan cinta yang sesungguhnya.
Akankah Lestari menemukan kebahagiaan setelah badai? Atau masa lalu kelam akan terus menghantui hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Kabur
Dua minggu setelah kejadian tamparan ke Antoni.
Lestari mulai ngumpulin uang.
Caranya—mengehemat uang belanja.
Setiap hari Wulandari kasih uang dua puluh ribu buat belanja sayur, lauk, bumbu. Lestari harus belanja, terus bawa struk—Wulandari cek struknya, mastiin nggak ada yang dikorup.
Tapi Lestari mulai pinter.
Dia belanja di pasar—bukan di warung. Di pasar lebih murah. Bayam yang di warung lima ribu, di pasar tiga ribu. Tempe yang di warung tujuh ribu, di pasar lima ribu.
Selisih nya disimpen.
Sehari bisa nyimpen dua ribu. Kadang tiga ribu. Kadang cuma seribu.
Tapi tetep disimpen.
Uangnya disembunyiin di tempat yang aman—di dalem kaleng bekas susu Antoni yang udah nggak dipake, ditaruh di kardus paling bawah di kamar gudang, ditimpa kain-kain lusuh.
Dyon nggak pernah masuk kamar gudang. Wulandari juga jarang. Jadi aman.
Sebulan—Lestari bisa ngumpulin lima puluh sampai tujuh puluh ribu. Tergantung seberapa irit dia belanja.
Lima puluh ribu sebulan. Enam ratus ribu setahun.
Lestari ngitung—kalau dia ngumpulin selama setahun, punya enam ratus ribu, cukup nggak buat kabur?
Ongkos ke Jakarta—naik bus ekonomi—seratus ribu buat dua orang, dia sama Antoni. Sewa kamar kontrakan paling murah—tiga ratus ribu sebulan. Makan—dua puluh ribu sehari buat berdua, enam ratus ribu sebulan.
Nggak cukup.
Nggak cukup sama sekali.
"Aku butuh lebih banyak uang. Lebih banyak lagi."
Tapi darimana?
---
Sore itu, Lestari lagi jemur baju di belakang. Antoni main di samping nya—main bola plastik yang udah penyok.
"Ibu, liat! Aku bisa juggling!" Antoni lempar bola ke udara, tangkap, lempar lagi—berhasil tiga kali terus jatuh.
Lestari senyum tipis. "Pinter. Kamu makin jago."
"Nanti aku mau jadi pemain bola kayak Ciro Alves! Terus aku menang piala! Terus aku beliin Ibu rumah gede!"
Lestari matanya berkaca-kaca. "Iya, Nak. Ibu tunggu."
Antoni lari-lari lagi. Lestari lanjut jemur baju.
Tiba-tiba—
"Lestari?"
Suara Bu Ratih dari balik pagar bambu.
"Iya, Bu?" Lestari noleh.
"Sini sebentar. Ibu mau ngomong."
Lestari jalan ke pagar. Bu Ratih berdiri di sana, muka nya serius.
"Ibu... Ibu perhatiin kamu dari beberapa hari ini. Kamu... kamu lagi nyimpen uang ya?"
Lestari kaget. "Bu... Bu tau darimana—"
"Ibu liat kamu belanja di pasar sekarang. Padahal dulu kamu selalu belanja di warung Mak Ijah. Pasti kamu lagi ngirit. Lagi nyimpen uang. Buat kabur kan?"
Lestari diem. Nggak bisa bohong.
Bu Ratih senyum tipis. "Ibu nggak marah. Ibu seneng malah. Berarti kamu serius."
"Aku... aku serius, Bu. Aku udah nggak kuat. Aku harus keluar dari sini. Tapi... tapi aku nggak tau cukup nggak uang yang aku kumpulin... aku takut nggak cukup..."
Bu Ratih ngeluarin napas. "Kalau kamu mau kabur, kamu butuh tempat tujuan. Kamu mau ke mana?"
"Aku... aku mikir ke Jakarta. Kota gede. Gampang nyari kerja. Gampang sembunyi..."
"Jakarta jauh. Kamu kenal orang di sana?"
Lestari menggeleng. "Nggak ada, Bu. Aku nggak kenal siapa-siapa..."
Bu Ratih diem sebentar. Mikir. "Ibu punya saudara jauh di Jakarta. Sepupu Ibu. Namanya Tante Sari. Dia baik. Dia punya kos-kosan kecil di daerah Tanah Abang. Ibu bisa kasih alamat nya. Kamu bisa tinggal di sana sementara. Nanti Ibu telpon Tante Sari dulu, bilang ada kenalan Ibu yang mau ngekos."
Lestari matanya melebar. "Serius, Bu? Bu... Bu mau bantuin aku sebanyak itu?"
"Ibu udah bilang. Ibu nggak tega liat kamu terus menderita. Tapi—" Bu Ratih pegang tangan Lestari—"kamu harus hati-hati. Kamu nggak boleh ketahuan. Kalau Dyon tau... dia bisa... dia bisa bahaya."
Lestari ngangguk cepet. "Aku tau, Bu. Aku bakal hati-hati. Aku janji."
"Besok sore kamu ke rumah Ibu. Ibu kasih alamat Tante Sari. Sama Ibu kasih sedikit uang buat bantu."
"Bu nggak usah kasih uang lagi... Bu udah banyak bantu—"
"Udah. Terima aja. Anggap ini investasi Ibu buat masa depan kamu sama Antoni."
Lestari nangis. Peluk Bu Ratih lewat pagar bambu—pelukan yang canggung tapi... tulus.
"Makasih, Bu... makasih banyak... aku nggak tau harus balas gimana..."
"Kamu hidup bahagia aja udah cukup."
---
Keesokan sorenya, sekitar jam empat, Lestari ke rumah Bu Ratih. Antoni dia tinggal di kamar—lagi tidur siang.
Lestari ketok pintu depan rumah Bu Ratih—rumah yang jauh lebih layak dari rumah Dyon. Tembok nya bersih, cat nya masih bagus, ada pot bunga di teras.
Bu Ratih buka pintu. "Masuk, Neng. Bapak lagi di dalem."
Lestari masuk. Di ruang tamu, Pak Dengklek duduk di kursi kayu—lagi mengupas singkong sambil dengerin radio.
"Pak Dengklek, ini Lestari. Tetangga sebelah," kata Bu Ratih keras—biar kedengeran.
Pak Dengklek noleh. Mata nya yang udah rabun menyipit. "Siapa?"
"LESTARI! TETANGGA!"
"OOOOH! RESTORAN!" Pak Dengklek senyum lebar. "Lagi jualan apa hari ini?!"
Bu Ratih tepok jidat. "Bukan restoran, Pak! LESTARI! TETANGGA SEBELAH!"
"HAH?! TELOR ASIN?!"
"LESTARIIII!"
"Ooooh, Lestari! Iya iya, Bapak inget!" Pak Dengklek ketawa sendiri. "Anak yang suka nangis malem-malem itu kan? Udah nggak nangis lagi?"
Lestari senyum getir. "Udah nggak, Pak..."
"Bagus bagus! Nangis itu nggak baik! Bikin mata bengkak!"
Bu Ratih bisik ke Lestari. "Maaf ya, Bapak lagi kambuh budek nya. Kemarin habis flu, telinga nya kayak kesumbat."
"Nggak papa, Bu. Aku ngerti." Lestari malah senyum—ada sesuatu yang... yang lucu. Di tengah semua kesedihan, ada Pak Dengklek yang polos, yang budek, yang salah denger terus.
"Pak, tolong ambil minum buat Lestari. Di kulkas ada air jeruk," kata Bu Ratih.
"HAH?!" Pak Dengklek berdiri.
"AIR JERUK! DI KULKAS!"
"KERUPUK?!"
"AIIIIR JERUUUUK!"
"Oooh! Kerupuk! Iya iya!" Pak Dengklek jalan ke dapur.
Lima menit kemudian, Pak Dengklek balik. Di tangan nya ada... mangkuk kerupuk.
Bu Ratih melongo. "Pak... Ibu minta air jeruk..."
"Iya ini kerupuk! Ada kok!" Pak Dengklek naruh mangkuk di meja. "Silakan dimakan!"
Lestari nggak nahan—dia ketawa. Ketawa kecil, tapi... ketawa. Pertama kalinya dalam berbulan-bulan dia ketawa.
Bu Ratih geleng-geleng kepala tapi ikutan senyum. "Ya udah deh, Pak. Makasih ya."
Pak Dengklek duduk lagi, lanjut mengupas singkong, senyum-senyum sendiri.
Bu Ratih bisik ke Lestari. "Sini ke kamar Ibu. Ibu kasih alamat nya."
Mereka masuk kamar Bu Ratih. Kamar yang kecil tapi rapi—ada kasur, lemari, meja rias kecil.
Bu Ratih buka laci meja, keluarin kertas sama amplop cokelat.
"Ini alamat Tante Sari. Ibu udah telpon kemarin. Dia setuju kamu tinggal di sana. Kamar nya kecil, tapi bersih. Sewa nya dua ratus ribu sebulan—lebih murah dari kos lain."
Lestari baca alamat di kertas. Tante Sari. Jalan Kebon Jati Nomor dua belas, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
"Dan ini—" Bu Ratih ngasih amplop—"lima ratus ribu. Buat ongkos sama bekal awal."
"Bu... ini... ini kebanyakan—"
"Ambil. Ibu ikhlas. Ibu doain kamu berhasil."
Lestari nangis. Peluk Bu Ratih. "Makasih, Bu... makasih... aku nggak bakal lupa kebaikan Ibu seumur hidup aku..."
"Udah udah. Sekarang kamu fokus ngumpulin uang. Kalau udah cukup, kamu kabur. Jangan bilang siapa-siapa. Pagi-pagi buta, sebelum Dyon bangun. Langsung cabut. Ngerti?"
"Ngerti, Bu."
"Dan jangan kasih tau siapa-siapa kamu mau ke Jakarta. Bahkan Antoni juga jangan tau dulu. Anak kecil nggak bisa simpen rahasia. Nanti kelepasan ngomong, Dyon tau, bahaya."
Lestari ngangguk. "Aku ngerti. Aku bakal hati-hati."
---
Malem itu, Lestari balik ke kamar gudang. Antoni udah bangun, lagi duduk di tikar main mobil-mobilan dari kardus bekas.
"Ibu kemana? Antoni nyari tadi," kata Antoni.
"Ibu ke rumah Bu Ratih sebentar. Ada yang mau diambil." Lestari duduk di samping Antoni. "Kamu udah makan belum?"
"Belum. Perut ku lapar, Bu."
Lestari ke dapur, ambil nasi sama lauk sisa tadi siang—tempe sama tahu goreng. Dibawa ke kamar, kasih ke Antoni.
Antoni makan lahap. Lestari cuma ngeliat—dia sendiri belum makan, tapi nggak papa. Antoni dulu.
Selesai makan, Antoni tidur. Lestari gendong Antoni ke tikar, selimuti.
Lestari duduk di samping Antoni. Ngeliat wajah Antoni yang tidur—wajah polos, tenang.
"Sebentar lagi, Nak. Sebentar lagi kita kabur. Kita bakal hidup baru. Hidup yang lebih baik. Ibu janji."
Dia mengelus rambut Antoni pelan.
"Ibu minta maaf kalau selama ini Ibu nggak bisa kasih kamu hidup yang layak. Tapi nanti... nanti Ibu bakal usaha sekuat tenaga. Ibu bakal kerja keras. Ibu bakal kasih kamu sekolah yang bagus. Kasih kamu makan yang enak. Kasih kamu... kasih kamu senyum."
Air mata nya keluar. Tapi air mata kali ini beda—bukan air mata putus asa. Tapi air mata harapan.
Lestari buka kaleng bekas susu di kardus. Itung uang nya—seratus lima puluh ribu hasil ngumpulin tiga minggu. Plus lima ratus ribu dari Bu Ratih.
Total enam ratus lima puluh ribu.
Masih kurang. Tapi... udah lebih deket.
"Aku harus ngumpulin lagi. Minimal satu juta. Biar aman."
Lestari simpen uang balik ke kaleng. Tutup rapat. Taruh di kardus, timpa kain.
Dia berbaring di samping Antoni. Merem.
Besok pagi dia harus bangun lagi jam setengah empat. Masak. Beresin rumah. Kerja kayak biasa.
Tapi sekarang... sekarang dia punya tujuan. Punya rencana.
Dan itu... itu bikin dia kuat.
Seminggu kemudian. Kamis malem. Sekitar jam sembilan.
Lestari lagi nyuci piring di dapur. Antoni udah tidur di kamar.
Tiba-tiba denger suara dari depan—suara pintu dibuka, suara tawa.
Tawa perempuan.
Lestari berhenti nyuci. Noleh ke arah ruang tamu.
Dari pintu depan—Dyon masuk. Tapi nggak sendirian.
Ada perempuan di samping nya.
Perempuan muda—usia dua puluhan, rambut panjang dicat cokelat, pake baju ketat, rok mini, sepatu hak tinggi. Muka nya menor—makeup tebal, lipstik merah menyala.
Perempuan itu ketawa manja sambil merangkul lengan Dyon. "Mas Dyon rumahnya lucu ya! Kecil gitu!"
Dyon nyengir. "Iya, kecil. Tapi nyaman kok."
Lestari membeku. Jantung nya berhenti sebentar.
Siapa perempuan itu?
Wulandari keluar dari kamar—mata nya berbinar waktu liat perempuan itu.
"SERUNI! Kamu dateng! Masuk masuk! Jangan malu-malu!" Wulandari sambut dengan ramah—ramah yang nggak pernah dia tunjukin ke Lestari.
Seruni.
Nama itu menancap di kepala Lestari kayak paku.
"Makasih, Tante! Wah, Tante baik banget!" Seruni masuk, duduk di sofa—duduk sambil silang kaki, rok nya naik sampe paha.
Dyon duduk di samping Seruni. Tangannya di taruh di sandaran sofa di belakang bahu Seruni—posisi yang... intim.
Lestari masih berdiri di dapur. Ngeliat dari jauh. Dadanya sesak. Napas nya susah.
Siapa Seruni?
Kenapa dia di sini?
Kenapa Wulandari ramah banget sama dia?
"Lestari! Bikin teh manis buat Seruni!" teriak Wulandari.
Lestari gerak—otomatis. Tangannya gemetar waktu nyeduh teh. Air nya tumpah dikit ke lantai.
Dia bawa teh ke ruang tamu. Taruh di meja.
Seruni ngeliat Lestari—ngeliat dari atas sampe bawah—terus menyeringai.
"Oh ini istri nya Mas Dyon? Yang... yang di rumah ya?" Nada nya... nada yang ngeledek.
Lestari nggak jawab. Cuma nunduk.
"Iya, ini istri gue. Lestari," kata Dyon datar. "Dia pembantu rumah tangga di sini."
Pembantu rumah tangga.
Bukan istri.
Pembantu.
"Ooooh..." Seruni senyum lebar. "Pan
tes. Berarti aku nggak ganggu dong?"
"Nggak sama sekali." Dyon ketawa.
Lestari balik ke dapur. Berdiri di sana. Tangan nya gemetar parah.
Siapa Seruni?
Pertanyaan yang terus bergema di kepala.
Dan kenapa... kenapa dadanya sesak kayak gini?
lo yang kerja bukan cewek yang kerja kalo gitu lo pake daster aja biar cocok
istri kerja
Lo pake baju daster daleman bikini 😁