Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zayden & Amy
Sore itu, langit berwarna jingga pekat, seolah memberikan peringatan akan adanya pertumpahan darah. Kabar tentang sekolah lawan yang mencegat anggota geng Zayden di jalan lingkar luar sampai ke telinga sang Panglima.
Zayden tidak punya pilihan. Baginya, kesetiaan pada teman adalah harga mati, sebuah prinsip yang ia pegang karena ia tak pernah mendapatkan kesetiaan itu di rumahnya sendiri.
Amy, yang baru saja keluar dari tempat les piano, terjebak di dalam kemacetan tak jauh dari lokasi kejadian. Ia turun dari mobil, berniat mencari jalan pintas, namun langkahnya terhenti saat mendengar suara teriakan dan hantaman besi yang beradu.
Di sana, di sebuah lahan kosong yang berdebu, Amy melihatnya.
Zayden Abbey.
Tapi itu bukan Zayden yang memberinya susu stroberi. Bukan Zayden yang menulis puisi tentang aspal dan rindu. Pemuda di depannya adalah seorang predator.
Zayden bergerak dengan kecepatan yang mengerikan. Ia menghindar dari sabetan ikat pinggang berujung besi, lalu membalas dengan satu pukulan telak yang membuat lawannya tersungkur. Matanya merah, rahangnya mengeras, dan setiap gerakannya penuh dengan amarah yang selama ini ia pendam dari perlakuan ayah dan ibu tirinya.
"Zayden..." bisik Amy, suaranya hilang ditelan kebisingan.
Zayden sedang mencengkeram kerah baju lawan terakhirnya. Tangannya sudah mengepal, siap menghantamkan tinju yang berlumuran darah di sela jemarinya. Namun, sebuah insting membuatnya menoleh ke arah pinggir lapangan.
Waktunya seolah membeku.
Di sana, berdiri Amy. Gadis itu mematung, wajahnya yang biasanya dingin kini tampak pucat pasi. Di mata Amy, Zayden melihat bayangan ketakutan yang mendalam, ketakutan yang sama yang mungkin dirasakan kakaknya sebelum meninggal, ketakutan akan laki-laki yang penuh kekerasan dan tidak terkendali.
Geng Zayden—Dio, Bima, Hendi, dan Gara langsung berhenti saat melihat pemimpin mereka mematung.
"Bos?" panggil Gara pelan.
Zayden perlahan melepaskan kerah baju lawannya. Lawannya terjatuh ke tanah, tapi Zayden tidak peduli lagi. Ia menatap tangannya yang kotor oleh debu dan darah, lalu menatap Amy.
"Amy... gue bisa jelasin," suara Zayden kembali berubah. Bergetar dan rapuh.
Amy tidak menjawab. Ia mundur satu langkah. Trauma masa lalu tentang kakaknya yang hancur karena pergaulan bebas dan laki-laki berandalan menghantam kepalanya seperti godam. Semua kata-kata orang tuanya tentang "laki-laki pemangsa" tiba-tiba terasa sangat nyata di depan matanya.
Amy berbalik dan lari sekencang mungkin menuju mobilnya.
"AMY!" teriak Zayden. Ia hendak mengejar, tapi kakinya terasa berat. Ia sadar, dengan penampilannya yang sekarang, berantakan, berdarah, dan penuh amarah, ia hanyalah perwujudan dari semua hal yang Amy benci.
"Jangan kejar dia sekarang, Bos," Dio menahan bahu Zayden. "Lo lagi jadi monster. Dia nggak bakal dengerin."
Zayden jatuh terduduk di atas tanah yang berdebu. Ia meremas rambutnya sendiri. "Apa Gue baru aja ngerusak satu-satunya hal indah yang gue punya!?"
Hendi mendekat, memberikan sapu tangan kumal. "Tadi lo puitis banget pas berantem, Bos. Tapi kayaknya Amy lebih suka puisi di atas kertas daripada puisi di atas aspal."
Malam itu, Amy mengunci diri di kamar. Tubuhnya gemetar. Ia mengambil bunga matahari pemberian Zayden yang ia letakkan di vas bunga, lalu melemparnya ke tempat sampah. Tapi, sedetik kemudian, ia mengambilnya lagi.
Amy menangis tanpa suara. Ia marah karena ia mulai peduli. Ia marah karena pertahanan Satu Derajat Celcius-nya ternyata bisa ditembus oleh seseorang yang begitu berbahaya.
Di tempat lain, Zayden duduk di depan balkon apartemennya, menatap botol susu stroberi yang belum sempat ia berikan. Ia mengambil pulpennya, tangannya masih sedikit gemetar.
Ia menulis satu baris singkat di buku catatannya:
"Bagaimana cara meyakinkan setangkai bunga, bahwa tangan yang berdarah ini masih sanggup menjaganya dengan lembut?"
Zayden tahu, mulai besok, misinya bukan lagi sekadar membuat Amy tersenyum, tapi menebus kepercayaan yang pecah menjadi serpihan es.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading 🥰😍😍😍