Plakkk
"Kau berhutang budi seumur hidupmu! Karena kau mencuri nutrisi milik Aurora sewaktu didalam rahim Mommy mu! Hingga menyebabkan Aurora mempunyai fisik yang lemah dan selalu sakit-sakitan sedari kecil, jangan pernikahan ini bahkan nyawamu pun tak cukup untuk membayarnya!" Teriak Arga sang Ayah dari 5 bersaudara.
"Alasan itu lagi, apakah Bintang bisa mencuri! Kalian pikirkan sewaktu itu aku masih berupa segumpal darah, lalu janin yang bahkan tidak mampu untuk melindungi dirinya sendiri!" Sahut Bintang dengan tersenyum getir.
"Akan aku ambil semua yang telah aku berikan pada kalian dengan tanganku sendiri!!! Bahkan jikapun aku harus mati! Aku tidak akan rela membiarkan kalian menikmati hasil keringat dan kerja kerasku!" Ucap Bintang sambil
menggerakkan samurai ditangannya dengan lincah membantai seluruh keluarga Miller walaupun dirinya tahu jika dirinya telah diracun oleh Aurora.
"Jika ada kehidupan selanjutnya, aku tidak ingin berhubungan lagi dengan keluarga ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhiy08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Pria misterius
Kleekkkk
"Kak! Hei... Apa yang sedang kalian lakukan?!" Teriak Axel terkejut.
Saat Axel mendorong pintu, Axel melihat pemandangan yang sangat mengejutkannya.
Disana, dibalik meja itu, tampak posisi wajah Bintang yang hanya berjarak sejengkal dari wajah Xavier karena tarikan lembut dari tangan kekar itu, dan dengan tangan Xavier yang tampak mencubit pipi cabi Bintang, Posisi yang ambigu itu akan membuat siapa saja menjadi salah paham jika melihatnya.
Bintang dan Xavier menoleh bersamaan saat mendengar suara Axel, dan saat itu mereka tersadar jika posisi itu bisa membuat Axel menjadi salah paham.
Bintang yang gugup langsung menunduk untuk mengambil sendok yang terjatuh, dan Xavier yang terkejut langsung berdiri, dan karena mereka sama-sama gugup membuat Bintang maupun Xavier tidak memperhatikan posisi mereka.
Dan disaat yang bersamaan, bibir Bintang mendarat di pipi Xavier dengan lembut, dan membuat suasana ruangan itu kembali canggung, dan untuk beberapa saat keduanya membeku dengan mata yang melotot dan berkedip-kedip cepat, sebelum sama-sama menarik diri.
Bintang dengan cepat langsung memungut kembali sendoknya dan melarikan diri dari sana dengan tergesa-gesa, tanpa menghiraukan kakinya yang tersandung kaki meja.
Xavier yang tampak melotot tajam menatap Axel kesal, Axel yang masih terkejut dengan mata yang melotot dan mulut yang terbuka lebar langsung berubah menjadi meringis, lalu dengan cepat langsung berbalik dan pergi dari ruangan yang suasananya sudah memanas.
Xavier terdiam sambil menyentuh pipinya bekas bibir pink Bintang, lalu menatap tangannya yang mencubit pipi Bintang.
"Lembut... Akh Ada apa dengan jantungku?" Bisik Xavier dan tanpa disadarinya sudut bibirnya tertarik pelan, menyunggingkan senyum tipis dengan wajah yang mulai merona.
#####
"Bodoh... Hanya membawa jalang lemah itu saja kalian tidak becus!" Teriak Dewa, putra sulung kelurga Miller.
"Lagi pula mengapa kalian sampai terlibat dengan keluarga Moses," Sambungnya lagi sambil mengacak-acak rambutnya.
Sedangkan Kalla dan Saka hanya menundukkan kepalanya diam, mereka tidak bisa menyangkal setiap ucapan Dewa.
Karena semua ucapan Dewa itu memang benar, mereka berdua memang bodoh dan ceroboh hingga tidak bisa menangkap Bintang.
"Maaf Kak, lain kali kami akan lebih berhati-hati lagi." Sahut Saka dan Kalla bersamaan.
"Kak Dewa, apa kakak tahu, jika saja Rora bisa menghentikan mereka tepat waktu, jika tidak entah apa yang akan terjadi dengan keluarga kita." Aurora berkata dengan kesal dan wajah masam.
'Di kehidupan gue dulu, mereka bahkan tidak pernah menyapa, jangankan menyapa, menatap saja seolah jijik, apa yang sudah jalang itu berikan hingga mereka semua bisa berputar bisa berputar disekelilingnya.' Kesal Aurora sambil menghentakkan kakinya dengan kasar.
"Kalian harus berterima kasih pada Aurora, karena jika bukan karena dirinya kalian pasti sudah berurusan dengan keluarga Moses." Ucap Dewa sambil mengelus lembut pucuk kepala Aurora yang duduk tepat disampingnya.
"Jangan sungkan, Rora melakukan ini untuk kebaikan kita semua, lagi pula bukankah kita semua satu keluarga," Sahut Aurora penuh kepalsuan.
Lalu, dengan patuh Saka dan Kalla mengucapkan terima kasih sambil mengelus lembut kepala Aurora yang mereka perlakuan bak ratu, sedangkan Aurora tampak tersenyum palsu dengan hati yang menyimpan kesal.
*
*
*
"Ayo cepatlah... Hari ini ada pelatihan khusus untuk sekolah kita, dan Kita harus tiba tepat waktu..." Ucap Axel sambil menarik lembut tangan Bintang.
"Baik... Baik... Sabar Kak..." Sahut Bintang sambil tersenyum melihat Axel yang tampak tidak sabar.
"Kak Axel... Tunggu sebentar, Bintang ingin ke toilet sebentar..." Ucap Bintang pelan sambil menarik tangannya yang berada dalam genggaman tangan Axel.
"Akh... Kau ini, sudah sana cepat..." Sahut Axel lalu melepaskan genggaman tangannya sambil menggelengkan kepalanya melihat Bintang yang tampak berlari menuju toilet.
Bruukkk
Karena sedang tergesa-gesa saat kembali menuju kelapangan, hingga membuat Bintang tidak sadar menabrak seseorang saat berada ditikungan koridor sekolah, membuat barang bawaan pria itu berjatuhan.
"Maaf, Bintang tidak sengaja..." Bintang berkata dengan wajah bersalah dan membantu mengumpulkan barang bawaan pria itu dengan cepat.
Dengan cepat pria itu menyambar barang yang ada ditangan Bintang, lalu tanpa satu katapun pria itu bergegas pergi dari tempat itu tanpa menatap kearah Bintang lagi. Bintang hanya menatap punggung pria itu dengan dahi yang berkerut, karena pria itu mengenakan pakaian serba tertutup dengan raut wajah datar.
"Akh... Sudahlah... Semoga saja aku tidak terlambat..." Monolog Bintang kembali melanjutkan berlari menuju lapangan.
Dor!
"Akh!!!"