NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Persahabatan / Perjodohan / Gadis nakal
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis Satu

Pintu otomatis minimarket itu terbuka dengan bunyi ting-tong yang biasanya terasa biasa saja, tapi malam ini terdengar seperti bel peringatan bagi Noah dan Viona. Mereka berjalan menyusuri lorong rak kesehatan dengan langkah canggung, seolah-olah sedang melakukan misi rahasia yang terlarang.

"Vio, cepetan pilih. Gue merasa kayak lagi mau maling," bisik Noah sambil terus mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut toko.

"Sabar! Gue juga malu tahu! Padahal kita legal, tapi kenapa rasanya kayak lagi ketahuan bolos sekolah ya?" balas Viona dengan volume suara yang tak kalah rendah.

Begitu menemukan benda yang dicari, mereka segera menuju kasir. Namun, nasib sial sepertinya sedang senang bermain-main dengan mereka malam ini.

"Loh! Pak Noah!" pekik kasir wanita di depan mereka dengan mata membelalak.

Noah mematung, mencoba mengingat-ingat wajah di balik seragam minimarket itu. Sial. Itu adalah salah satu mahasiswi S1 yang mengambil mata kuliahnya semester ini.

"Wah... kayaknya Bapak sebentar lagi punya debay ya?" goda mahasiswi itu sambil melirik benda kecil di atas meja kasir, lalu beralih menatap Viona dengan tatapan 'oh-jadi-ini-istri-dosen-killer-kita'.

Viona sudah ingin menenggelamkan wajahnya ke dalam rak cokelat di sampingnya. Namun, bukannya menghindar atau bersikap dingin seperti biasanya, Noah justru menegakkan punggungnya. Sisi kompetitif dan sifat "nggak mau kalah"-nya mendadak muncul.

"Mumpung udah ketahuan, sekalian saya tanya. Menurut testimoni pelanggan di sini, testpack mana yang paling bagus? Kalau bisa yang hasilnya paling akurat, atau yang sampai bisa tahu jenis kelaminnya sekalian deh," kata Noah dengan wajah lempeng, seolah sedang menanyakan referensi buku di perpustakaan.

PLAK!

Viona menggeplak lengan Noah dengan keras. "Mana mungkin ada yang kayak gitu, Noah! Lo kira ini USG 4D apa?!"

Mahasiswi kasir itu tertawa geli melihat interaksi mereka. "Aduh, Pak Noah lucu banget kalau lagi panik. Belum ada Pak yang bisa tahu jenis kelamin, tapi yang ini paling sering dibeli karena hasilnya cepat keluar."

Setelah membayar dengan kilat, Noah menarik tangan Viona keluar dari toko.

"Lo malu-maluin banget sih!" gerutu Viona begitu mereka sampai di parkiran.

"Loh, gue kan cuma mau yang terbaik buat calon anak kita, kalau emang ada," bela Noah sambil membukakan pintu mobil untuk Viona.

"Lagian, daripada dia gosip yang aneh-aneh, mending gue sekalian tunjukin kalau gue ini suami yang siaga, kan?"

Viona hanya bisa geleng-geleng kepala. Di balik rasa malunya, ada secercah rasa hangat. Noah yang kaku dan galak di kampus, ternyata bisa menjadi pria yang sebodoh itu demi sebuah alat tes kehamilan.

"Ayo pulang. Gue mau segera tahu hasilnya," ucap Viona pelan.

Malam itu, perjalanan pulang terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Bukan karena mereka canggung, tapi karena keduanya sedang sibuk dengan isi kepala masing-masing: Gimana kalau beneran positif?

———

Drama antara si jenius akademik dan si wanita karier ini benar-benar mencapai level baru. Setelah bertarung dengan rasa malu di minimarket, mereka kini berdiri di tengah kamar mandi yang luas, menatap dua kotak kecil di atas wastafel seolah benda itu adalah bom waktu yang siap meledak.

"Aduh! Gimana sih caranya? Ini dicelupin apa disiram? Petunjuknya ribet banget pakai bahasa medis segala," keluh Viona frustrasi. Ia membolak-balik kertas instruksi yang ukurannya sekecil resep obat itu.

Noah, yang biasanya sanggup membedah teori-teori rumit di depan mahasiswa, kini mengerutkan kening dalam-dalam. Ia mengeluarkan ponselnya, jarinya menari cepat di atas layar mencari bantuan dari "Mbah Google".

"Bentar, jangan asal asalan dulu," gumam Noah serius. Matanya memicing membaca sebuah artikel kesehatan. "Oh... katanya paling bagus itu pakai urin pertama waktu baru bangun tidur. Konsentrasinya lebih tinggi, jadi hasilnya lebih akurat."

Viona menghentikan gerakannya, menatap Noah dengan wajah bingung sekaligus dongkol. "Loh?! Jadi ini gue nggak jadi pakai sekarang?"

Noah menjauhkan ponsel dari wajahnya, lalu mengangguk mantap. "Iya, tunggu besok aja berarti pagi-pagi banget. Kalau sekarang, takutnya hormonnya belum kebaca jelas karena lo tadi udah banyak minum air putih pas makan malam."

Viona menghela napas panjang, ia menyandarkan punggungnya ke pintu kamar mandi. "Gila ya, nunggu semalam aja rasanya kayak nunggu pengumuman kelulusan sidang skripsi."

Noah terkekeh pelan. Ia melangkah mendekat, menyelipkan beberapa helai rambut Viona ke belakang telinga. "Sabar. Lagian kalau hasilnya keluar sekarang dan ternyata positif, gue takut lo nggak bisa tidur saking kagetnya."

"Emang lo bisa tidur?" tantang Viona.

Noah diam sejenak, lalu menggeleng jujur.

"Nggak juga sih. Gue kayaknya bakal begadang buat riset nama bayi dan biaya pendidikan sampai kuliah nanti."

Viona tertawa, ia memukul dada Noah pelan.

"Dih, kejauhan! Belum tentu juga beneran ada."

Noah menarik Viona keluar dari kamar mandi, membimbingnya menuju tempat tidur.

"Whatever the result, malam ini kita istirahat dulu. Besok pagi, kita hadapi kenyataannya bareng-bareng."

Malam itu, mereka tidur dengan perasaan yang aneh. Berbaring berdampingan, namun pikiran masing-masing melayang ke hari esok. Bagi mereka, selembar strip plastik kecil itu bukan sekadar penanda kehamilan, tapi gerbang menuju babak baru yang tidak pernah ada dalam kontrak pernikahan awal mereka.

———

Pagi yang seharusnya tenang itu pecah oleh lengkingan suara Viona dari balik pintu kamar mandi. Noah, yang biasanya butuh waktu untuk mengumpulkan nyawa setelah bangun tidur, langsung melompat dari ranjang. Jantungnya berdegup gila, membayangkan hal-hal buruk terjadi di dalam sana.

"Vio! Ada apa?!" seru Noah sambil menggedor pintu.

Pintu terbuka dengan sentakan kasar. Viona berdiri di sana, masih mengenakan piyama sutranya, tangan kanannya memegang alat tes kecil itu dengan posisi gemetar. Namun, bukannya wajah sedih, wajah Viona justru memancarkan kelegaan yang luar biasa.

"Noah! Garisnya satu! Negatif, kan?!" tanya Viona dengan raut wajah bahagia yang meledak-ledak. Ia menunjukkan strip itu tepat di depan mata Noah seolah itu adalah piala kemenangan.

Noah terdiam. Ia menyipitkan mata, menatap satu garis merah tegas yang berdiri sendirian di sana. Perasaan lega yang diharapkan Noah ternyata tidak datang. Sebaliknya, ada rasa kosong yang tiba-tiba menghantam dadanya.

"Yah... kok negatif sih?" gumam Noah, suaranya terdengar sangat kecewa. Ia mengambil testpack itu dari tangan Viona, membolak-baliknya seolah berharap garis kedua akan muncul jika ia melihatnya lebih lama. "Padahal gue pengen banget positif, Vio."

Viona yang tadinya sedang tersenyum lebar langsung tertegun. Ia menurunkan tangannya, menatap suaminya dengan bingung. "Lo... lo mau banget punya anak sekarang?" tanya Viona pelan.

Noah menghela napas panjang, ia menyandarkan bahunya di bingkai pintu kamar mandi dengan wajah lesu. "Ya lo lihat aja di sekitar, Vio. Dosen-dosen sejawat gue udah pada punya anak, pamer foto anak mereka di grup WhatsApp. Ya kali cuma gue yang nggak ada gendongan kalau lagi kumpul keluarga atau acara kampus," jawab Noah jujur, meskipun ada nada gengsi di balik kalimatnya.

Viona menatap Noah dengan tatapan yang sulit diartikan. "Noah, kita kan baru aja mulai 'baik-baik' aja. Gue pikir lo juga bakal lega karena beban kita nggak nambah secepat ini."

Noah menatap mata Viona, kali ini dengan tatapan yang jauh lebih dalam. "Bagi gue, anak itu bukan beban, Vio. Itu bukti kalau kita ini beneran sebuah keluarga, bukan cuma sahabat yang terjebak status."

Hening sejenak. Viona bisa merasakan ketulusan dari ucapan Noah. Ternyata, di balik sikap dingin dan logisnya, Noah sudah merencanakan masa depan yang jauh lebih serius daripada yang Viona bayangkan.

"Ya udah, jangan sedih gitu dong mukanya," goda Viona sambil mencolek dagu Noah, mencoba mencairkan suasana. "Kan baru sekali nyoba. Masa dosen jenius kayak lo langsung nyerah?"

Noah melirik Viona dengan senyum miring yang mulai muncul kembali. "Oh, jadi lo nantangin nih? Oke, kalau satu kali nggak cukup, berarti kita harus lebih sering 'latihan' ya?"

Viona membelalak, menyadari arah pembicaraan Noah. "Eh, bukan gitu maksud gue! Noah! Gue mau mandi!"

1
deeRa
haii... I found ur story, accidentally 😊
Vha Evha
karya yg bagus porsi nya pas cwe nya gk trlalu lebay dan menye" dan cwo nya meskipun bucin tpi gk kehilangan cool nya, smoga panjang crita nya
Nihayatuz Zain
lanjut kk
Nihayatuz Zain
wah karya bagus kok nggk ketauan pembaca ya
kurang promosi nih
atau judulnya kurang bar bar kk, biyar pada penasaran terus mmpir baca
Sunshine: Wahh makasihh ya kak udah suka karya aku❤️ maybe aku pikirkan dulu judul yg menarik lagi, terima kasih sarannya kak❤️❤️
total 1 replies
Nihayatuz Zain
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!