NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Persahabatan / Perjodohan / Gadis nakal
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menerkam

Noah sedang duduk di balik meja kerja mahoninya, kemeja linen putihnya terbuka dua kancing teratas, memperlihatkan aura santai namun tetap terlihat sangat mahal. Namun, begitu sosok Viona muncul di ambang pintu, tablet di tangan Noah nyaris merosot.

Viona berdiri di sana dengan penuh percaya diri. Ia mengenakan bikini set berwarna emerald yang sangat kontras dengan kulit putihnya, dibalut dengan long cardigan berbahan brukat menerawang yang sama sekali tidak menutupi lekuk tubuhnya. Angin dari jendela yang terbuka membuat cardigan itu tersingkap, memamerkan kaki jenjang Viona.

Noah meletakkan tabletnya perlahan. Matanya menggelap, menelusuri setiap inci penampilan istrinya dengan intensitas yang bisa membuat siapa pun salah tingkah.

“Lo yakin pake baju itu?" tanya Noah. Suaranya terdengar lebih rendah dan berat dari biasanya, ada nada peringatan yang terselip di sana.

Viona memutar tubuhnya perlahan, membiarkan kain menerawang itu berkibar. "Yakin dong. Bagus kan? Bawahannya kan bentukannya kaya rok walaupun belahannya tinggi. Namanya juga ke beach club, Noah. Masa gue pake turtleneck?"

Noah berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mendekati Viona. Langkahnya terdengar intimidatif di atas lantai kayu. Ia berhenti tepat di depan Viona, jarak mereka begitu dekat hingga Viona bisa mencium aroma oceanic dari parfum baru Noah.

“Bagus? Terlalu bagus, Vio," bisik Noah sembari menarik ujung cardigan Viona, mencoba menutup bagian paha istrinya yang terekspos, meski ia tahu itu sia-sia. "Gue baru aja kepikiran buat ngebatalin datang ke acara Susan dan ngunci lo di kamar ini seharian."

Viona tertawa kecil, ia berani menyentuh dada bidang Noah dengan ujung jarinya. "Diktatornya kumat, ya? Tadi katanya mau jagain gue dari geng menyebalkan itu. Kalau gue nggak tampil cantik, mereka bakal makin seneng ngerendahin gue."

Noah mendengus, tangannya kini mendarat di pinggang Viona, menariknya sedikit lebih dekat.

"Masalahnya, kalau lo tampil begini, bukan cuma geng itu yang bakal liatin lo. Semua mata di pulau itu bakal tertuju ke lo. Dan gue nggak suka berbagi tontonan."

"Kan ada lo di samping gue. Pakai kemeja yang auranya 'jangan-sentuh-istri-gue' banget begini," goda Viona sambil merapikan kerah kemeja Noah.

Noah terdiam sejenak, menatap bibir Viona yang dipoles lip gloss bening sebelum beralih ke matanya. "Oke. Tapi satu syarat. Cardigan itu nggak boleh dilepas kecuali kalau lo cuma berdua sama gue di kolam pribadi. Mengerti, Nyonya Willey?"

Viona tersenyum menang, ia tahu ia sudah mendapatkan izinnya. "Deal, Pak Dosen."

Noah mengambil kunci mobilnya dengan kasar, berusaha menekan gejolak posesif di dadanya. Ia tahu, malam ini ia tidak akan bisa tenang sedetik pun membiarkan pria-pria di Jeju menatap apa yang seharusnya hanya menjadi miliknya.

———

Noah benar-benar menjalankan perannya sebagai pelindung. Tangannya seolah terpaku di pinggang Viona, tidak membiarkan ada celah sedikit pun bagi pria-pria di sekitar mereka untuk mendekat. Tatapan tajam Noah sudah cukup untuk membuat nyali para pria yang ingin menggoda Viona menciut sebelum sempat menyapa.

Namun, musuh terbesar Noah malam ini bukanlah pria lain, melainkan alkohol dan keras kepalanya Viona.

“Udah cukup ya minumnya, wajah lo udah merah," kata Noah memperingati, mencoba menjauhkan gelas cocktail ketiga dari tangan Viona.

Viona, yang matanya sudah mulai sayu namun terlihat sangat manja, mengerucutkan bibirnya. Ia memegang lengan Noah, memberikan tatapan memohon yang paling sulit ditolak pria itu. "One glass again, please?" rengek Viona dengan suara serak yang terdengar sangat menggoda di telinga Noah.

Noah menghela napas berat, memijat pangkal hidungnya. "Fine. Just one. Setelah itu kita pulang," ucapnya pasrah. Ia tahu, dalam kondisi setengah mabuk begini, Viona akan sepuluh kali lipat lebih keras kepala jika dilarang.

Puncak acara pun tiba. Musik EDM berdentum kencang, dan mesin busa mulai menyemburkan gumpalan putih ke kolam besar yang menghadap langsung ke laut.

"Noah! Ayo ke sana!" Viona menarik tangan Noah dengan antusias.

Noah tidak punya pilihan selain mengikuti langkah sempoyongan istrinya masuk ke dalam kerumunan busa. Di sanalah pertahanan Noah benar-benar diuji.

Kardigan panjang yang tadi menutupi tubuh Viona kini sudah basah kuyup dan menempel ketat, justru semakin mempertegas setiap lekukan bikini emerald di baliknya. Busa-busa putih yang menempel di pundak dan leher Viona membuat pemandangan itu terlihat sangat memabukkan bagi Noah.

Viona tertawa lepas, ia bergerak mengikuti irama musik, tidak menyadari bahwa pakaiannya yang minim itu kini benar-benar memeluk tubuhnya dengan sempurna.

Noah segera menarik Viona ke dalam dekapannya dari belakang, melingkarkan lengannya di perut Viona untuk "menyembunyikan" tubuh istrinya dari pandangan orang lain, sekaligus menjaga agar Viona tidak tergelincir di lantai kolam yang licin.

“Vio, lo bener-bener mau buat gue gila, ya?" bisik Noah tepat di telinga Viona, suaranya berat menahan gejolak yang sedari tadi ia redam.

Viona justru berbalik di dalam pelukan Noah, mengalungkan tangannya ke leher suaminya. Wajahnya yang memerah karena alkohol menatap Noah dengan senyum menantang. "Kenapa? Lo takut nggak bisa tahan diri, Pak Dosen?"

Noah tidak menjawab. Ia hanya mempererat pelukannya, memastikan tidak ada seinci pun jarak di antara mereka di tengah riuh rendah pesta busa itu. Matanya terkunci pada bibir Viona, dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, Noah tidak peduli lagi jika ada teman-teman Viona yang melihat mereka. Baginya saat ini, hanya ada Viona dan keinginan besar untuk segera membawa wanita ini pulang.

———

Viona benar-benar di ambang batas kesadarannya. Efek alkohol dan atmosfer pesta busa tadi membuatnya kehilangan kendali. Ia tertawa kecil, jemarinya yang lentur menarik-narik kerah kemeja Noah, mencoba membuka kancingnya satu per satu dengan gerakan ceroboh yang justru sangat menyiksa bagi Noah.

“Noah... lo ganteng banget kalau lagi marah," gumam Viona dengan suara serak yang mematikan.

Noah tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Pemandangan di depannya benar-benar tidak manusiawi; Viona dengan bikini basah yang masih menempel, rambut yang berantakan, dan aroma manis alkohol yang bercampur dengan parfumnya.

Satu detik kemudian, kendali Noah patah.

Ia menyambar bibir Viona dengan ciuman yang buas dan menuntut. Tidak ada kelembutan di sana, hanya ada ledakan hasrat yang selama ini ia kunci rapat di balik topeng "sahabat" dan "dosen". Noah menciumnya seolah Viona adalah sepotong cake terenak yang sudah lama ia incar dan harus segera ia habiskan sebelum orang lain menyentuhnya.

“Lo bakal marah kalau tahu apa yang gue lakuin sekarang," bisik Noah parau di sela ciumannya, suaranya terdengar seperti sebuah pengakuan dosa yang manis.

Ia memperdalam ciuman itu, menyesap setiap inci rasa dari bibir Viona, menyalurkan semua rasa posesif yang membuncah sejak di beach club tadi. Tangannya merayap turun, menyusuri lekuk tubuh Viona yang lembap, hingga akhirnya jemarinya menyentuh pengait bra bikini di punggung Viona.

Sentuhan kulit yang dingin itu seolah memberikan sengatan listrik ke pusat syaraf Noah. Noah terhenti. Napasnya memburu, dahinya bersandar di dahi Viona yang masih terpejam dengan napas tak beraturan. Matanya menatap wajah istrinya yang terlihat sangat rapuh dan pasrah karena pengaruh alkohol.

Hasrat di bawah sana memang masih berteriak minta dituntaskan, tapi hati kecil Noah menampar ego-nya dengan keras.

“Kalau ngelakuinnya waktu lo mabuk begini... itu nggak adil buat gue, apalagi buat lo," gumam Noah dengan suara yang pecah.

Ia menarik napas panjang, mencoba meredam api yang membakar jiwanya. Dengan sangat lembut, Noah justru menarik kembali cardigan Viona untuk menutupi tubuhnya, lalu menggendong wanita itu menuju ranjang. Ia menyelimuti Viona hingga ke leher, menjauhkan godaan yang hampir membuatnya melintasi garis tanpa izin.

Noah duduk di tepi ranjang, menatap Viona yang mulai terlelap. "Tunggu sampai lo sadar, Vio. Gue mau lo ingat setiap detiknya saat gue bener-bener jadi milik lo," bisiknya sebelum mengecup kening Viona dengan sangat dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!