NovelToon NovelToon
DIINJAK UNTUK BERSINAR

DIINJAK UNTUK BERSINAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Anak Lelaki/Pria Miskin / Romansa / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:647
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Di balik megahnya SMA elit, Satria Bumi Aksara adalah anomali yang dipaksa bertahan dalam kepungan hinaan. Sebagai anak buruh lumpuh yang masuk lewat jalur prestasi, ia menjadi sasaran empuk perundungan; tasnya compang-camping, seragamnya memudar, dan kakinya lecet berjalan kiloan meter. Namun, luka fisiknya tak sebanding dengan remuknya hati saat melihat sang ayah terbaring tanpa daya dan ibunya mencuci puluhan kilo pakaian hingga tangannya pecah-pecah.
​Dunia Satria runtuh saat tahu beasiswa impiannya dikorupsi oleh orang-orang serakah. Di titik nadir itulah, ia menemukan "sinar" pada empat sahabat yang sama-sama terluka. Bersama Vanya, Arjuna, Nareswari, dan Adrian, Satria mempertaruhkan nyawa membongkar busuknya institusi, meski ia harus berlari tanpa alas kaki membawa ibunya yang sekarat ke puskesmas.
​Keteguhan Satria adalah bukti bahwa kemiskinan hanyalah tempaan bagi jiwa yang hebat. Setelah satu dekade penuh air mata, peluh, dan waktu tidur yang terenggut, Satria kembali sebag

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: KEMARAHAN YANG MELEDAK

#

Aku gak bisa tidur malem itu.

Mata melotot ke langit-langit. Tetesan air dari bocoran jatuh ke ember. Tok. Tok. Tok. Suara yang biasanya bikin aku ngantuk, sekarang malah bikin aku makin gak bisa tidur.

Di sebelah, ayah udah tidur. Napasnya pelan. Tapi aku tau ayah juga gak tidur nyenyak. Sesekali dia mengaduh pelan. Sakit di punggungnya yang lumpuh itu kayaknya tambah parah.

Ibu belum pulang. Masih di rumah pelanggan. Nyuci baju sampe malem.

Aku duduk. Aku gak kuat berbaring.

Pikiranku penuh.

Penuh kemarahan.

Penuh kebencian.

Penuh... penuh ketidakadilan yang aku rasain.

"Kenapa? Kenapa mereka bisa seenaknya mainin sistem? Kenapa mereka bisa seenaknya curi masa depan anak-anak kayak aku? Kenapa dunia sejahat ini?"

Bisikku pelan. Tapi di dalem dada, aku pengen teriak. Pengen jerit sekencang-kencangnya.

***

Pagi itu aku berangkat sekolah lebih siang. Jam tujuh kurang seperempat.

Gak ada semangat. Kaki kayak diseret batu gede. Berat banget.

Sampai di gerbang sekolah, aku liat kerumunan di papan pengumuman. Masih ada anak-anak yang liat pengumuman beasiswa kemarin.

Aku jalan lewat sana. Gak mau liat lagi.

Tapi tiba-tiba...

"SATRIA!"

Suara Bu Ratna.

Aku berhenti. Aku toleh.

Bu Ratna lari kecil ke arah aku. Mukanya merah. Marah.

"Satria, kamu lihat pengumuman itu lagi. Sekarang!"

"Bu... aku udah liat kemarin. Nama aku gak ada. Gak usah diliat lagi..."

Bu Ratna pegang pundak aku. Erat. "Satria, dengar ibu. Ibu sudah bicara dengan beberapa guru lain. Kami semua tahu kamu yang paling pintar. Kamu yang paling berhak. Tapi namamu tidak ada di sana. Ini tidak masuk akal!"

Aku diem.

Bu Ratna narik tangan aku. "Ayo. Kita protes. Kita ke ruang wakasek. Kita tanya kenapa kamu tidak lolos."

"Bu... percuma..."

"Tidak ada yang percuma, Satria! Kita harus berjuang! Kita tidak boleh diam saja!"

Bu Ratna narik aku ke arah ruang wakasek di lantai dua.

Di tengah jalan, Adrian ngejar kami.

"Bu Ratna! Satria! Tunggu!"

Adrian lari sambil ngos-ngosan. "Gue ikut. Gue juga mau protes. Ini gak adil!"

Kami bertiga jalan ke ruang wakasek.

Sampai di depan pintu, Bu Ratna ketuk keras.

TOK TOK TOK.

"Masuk!"

Suara Pak Julian dari dalam.

Kami masuk.

Pak Julian duduk di kursi kerjanya. Santai. Minum kopi sambil baca koran.

Dia liat kami. Alisnya naik. "Ada apa, Bu Ratna? Pagi-pagi sudah datang ke sini?"

Bu Ratna melangkah maju. "Pak Julian, saya mau protes tentang hasil seleksi beasiswa kemarin."

Pak Julian taruh korannya. Dia liat Bu Ratna dengan tatapan datar. "Protes apa?"

"Satria Bumi Aksara. Siswa kelas dua belas IPA satu. Nilainya selalu sempurna. Dia yang paling pintar di angkatan ini. Tapi kenapa namanya tidak ada di daftar peserta yang lolos?"

Pak Julian senyum tipis. "Bu Ratna, hasil seleksi itu berdasarkan penilaian tim independen. Bukan saya yang tentukan. Mereka nilai berdasarkan hasil ujian tulis, berkas administrasi, dan kelayakan. Mungkin Satria kurang di salah satu aspek."

"Kurang di aspek mana?!" Bu Ratna suaranya naik. "Nilainya sempurna! Berkasnya lengkap! Dia dari keluarga tidak mampu yang sangat membutuhkan! Dia paling layak di antara semua peserta!"

Pak Julian berdiri. Mukanya mulai berubah. Gak ramah lagi. "Bu Ratna, saya mengerti Ibu membela murid Ibu. Tapi keputusan sudah final. Tidak bisa diganggu gugat."

"Ini tidak adil, Pak! Ini korupsi!"

BRAK!

Pak Julian gebrak meja. "BU RATNA! JAGA UCAPAN IBU! Ibu tidak bisa sembarangan menuduh tanpa bukti!"

Bu Ratna melangkah maju lagi. "Saya punya bukti! Saya tahu sistem di sekolah ini kotor! Saya tahu ada uang suap yang masuk untuk beasiswa ini! Dan Bapak tahu itu!"

Pak Julian melotot. "KELUAR! KELUAR DARI RUANGAN SAYA SEKARANG!"

"TIDAK! SAYA TIDAK AKAN KELUAR SEBELUM BAPAK JELASKAN KENAPA SATRIA TIDAK LOLOS!"

Aku berdiri di belakang Bu Ratna. Tangan mengepal. Gemetaran.

Adrian juga gemetar di sebelah aku.

Tiba-tiba pintu terbuka.

Pak Bambang masuk. Kepala yayasan. Pria gemuk buncit dengan kumis tebal.

"Ada apa ini? Ribut-ribut pagi-pagi?"

Pak Julian langsung ganti muka. Senyum. "Pak Bambang... ini Bu Ratna sedang protes tentang hasil seleksi beasiswa."

Pak Bambang liat Bu Ratna. Liat aku. Liat Adrian. "Protes apa?"

Bu Ratna maju. "Pak, Satria Bumi Aksara, murid terbaik di sekolah ini, tidak lolos seleksi beasiswa. Padahal dia paling berhak. Saya curiga ada kecurangan dalam seleksi ini."

Pak Bambang tertawa. Keras. "Kecurangan? Bu Ratna, ini tuduhan serius. Apa Ibu punya bukti?"

Bu Ratna diem. Mukanya merah. "Saya... saya tidak punya bukti fisik. Tapi saya tahu..."

"Kalau tidak punya bukti, jangan sembarangan menuduh." Pak Bambang duduk di sofa ruangan itu. "Hasil seleksi sudah sesuai prosedur. Tim independen dari universitas yang menilai. Kami hanya fasilitator. Jadi tidak ada kecurangan."

"Tapi Pak..."

"CUKUP!" Pak Bambang berdiri lagi. "Kalau Ibu terus memprotes, saya akan laporkan Ibu ke dinas pendidikan karena menuduh tanpa bukti. Itu pencemaran nama baik."

Bu Ratna terdiam. Mukanya pucat.

Aku gak tahan lagi.

Aku melangkah maju.

"Pak... saya Satria. Saya yang ikut seleksi kemarin. Saya jawab semua soal dengan benar. Saya yakin jawaban saya sempurna. Tapi kenapa nama saya tidak ada?"

Pak Bambang liat aku. Tatapannya... tatapannya merendahkan. Jijik. "Kamu yakin jawaban kamu sempurna? Atau kamu cuma sombong?"

Aku gemetaran. Tapi aku tahan. "Saya tidak sombong, Pak. Saya... saya hanya ingin keadilan."

Pak Bambang ketawa lagi. "Keadilan? Nak, dunia ini tidak adil. Kamu harus terima itu. Kamu tidak lolos berarti kamu memang tidak cukup baik. Sudah. Terima saja. Jangan banyak protes."

Sesuatu di dalam dada aku meledak.

"TIDAK! INI TIDAK ADIL!"

Teriakan aku keras. Memantul di ruangan.

Semua orang kaget. Bu Ratna, Adrian, Pak Julian, Pak Bambang.

Aku gak peduli. Aku terus teriak.

"SAYA JAWAB SEMUA SOAL DENGAN BENAR! KENAPA NAMA SAYA TIDAK ADA?! INI TIDAK ADIL! KALIAN SEMUA TAHU INI TIDAK ADIL!"

Pak Bambang melotot. "KAU! BERANI-BERANINYA KAU TERIAK DI HADAPAN SAYA!"

"SAYA TIDAK PEDULI! SAYA SUDAH CAPEK DIEM! SAYA SUDAH CAPEK DIHINA! SAYA SUDAH CAPEK DIINJAK! INI HAK SAYA! INI MASA DEPAN SAYA! DAN KALIAN... KALIAN CURI ITU DENGAN UANG HARAM KALIAN!"

Pak Julian langsung pegang pundak aku. Keras. "SATRIA! JAGA UCAPANMU!"

Aku lepaskan tangan Pak Julian. Aku jalan keluar ruangan. Aku jalan cepat ke koridor.

Anak-anak pada liat aku. Bingung.

Aku jalan terus. Sampai aku liat papan pengumuman.

Aku berhenti di depan kertas pengumuman itu.

Aku liat nama-nama yang lolos.

Bagas Pradipta.

Keyla Anastasya.

Nama-nama anak orang kaya yang bahkan nilainya jelek.

Sesuatu di dalam aku meledak lagi.

Aku robek kertas pengumuman itu. Sriit! Aku robek jadi dua. Jadi empat. Jadi delapan.

Anak-anak teriak.

"EH! SATRIA ROBEK PENGUMUMAN!"

"GIL

A! DIA NEKAT BANGET!"

Aku lempar potongan-potongan kertas itu ke udara. Jatuh kayak confetti.

"KALIAN SEMUA KORUPTOR! PENCURI! PENCURI MASA DEPAN ANAK MISKIN! KALIAN SEMUA AKAN DAPAT BALASAN! KALIAN AKAN MASUK NERAKA!"

Suaraku bergetar. Air mata jatuh. Tapi aku terus teriak.

Pak Julian dan Pak Bambang keluar dari ruangan. Mukanya merah semua.

"SATRIA BUMI AKSARA! IKUT SAYA KE RUANG BK SEKARANG!"

Pak Bambang teriak sambil jalan cepat ke arah aku.

Tapi sebelum dia sampe...

"MUNGKIN LU SALAH SEMUA, SAT! NGAKU AJA LU BODOH!"

Suara Bagas. Dari kerumunan anak-anak.

Dia keluar sambil ketawa. Keyla di sebelahnya juga ketawa.

"LU EMANG MISKIN DAN BODOH! PANTAS GAK LOLOS!"

Aku gak bisa tahan lagi.

Aku lari ke arah Bagas. Tangan mengepal. Aku mau mukul dia.

"BAGAS!"

Tapi sebelum tangan aku sampe ke muka Bagas...

Adrian dan Bu Ratna pegang aku. Narik aku ke belakang.

"SATRIA! JANGAN! JANGAN!"

Aku berontak. "LEPASKAN AKU! AKU MAU HAJAR DIA! LEPASKAN!"

"SATRIA! STOP! INI BUKAN JALAN YANG BENAR!"

Bu Ratna teriak sambil peluk aku dari belakang.

Aku berhenti berontak. Tenaga aku hilang.

Aku jatuh berlutut. Di tengah koridor. Di depan semua anak sekolah.

Aku nangis. Keras. Gak ditahan lagi.

"Ini... ini tidak adil... ini tidak adil... kenapa... kenapa aku harus begini terus... kenapa..."

Tangisanku memilukan. Semua anak diem. Gak ada yang ketawa lagi.

Pak Bambang berdiri di depan aku. "Satria Bumi Aksara. Mulai hari ini kau diskors dari sekolah selama satu minggu. Kau membuat keributan. Kau merusak properti sekolah. Dan kau menghina pimpinan sekolah. Pulang sekarang. Dan jangan kembali sebelum waktu skorsmu selesai."

Aku angkat kepala. Liat Pak Bambang. "Bapak... bapak yang seharusnya dihukum... bapak pencuri... bapak koruptor..."

Pak Bambang melotot. "PERGI SEKARANG SEBELUM AKU KELUARKAN KAU PERMANEN!"

Bu Ratna bantuin aku berdiri. "Satria... pulang dulu. Tenangkan dirimu. Ibu akan urus ini."

Aku jalan gontai keluar sekolah.

Adrian ikut nganterin.

"Sat... gue ikut pulang. Gue gak bisa ninggalin lu sendirian kayak gini."

Kami jalan keluar gerbang. Satpam ngeliatin kami dengan tatapan heran.

***

Di jalan, aku jalan tanpa arah.

Adrian jalan di sebelah aku. Diem. Gak ngomong apa-apa. Cuma nemenin.

Aku berhenti di tengah jalan. Di pinggir kali yang airnya item dan bau.

Aku duduk di pinggir kali. Adrian duduk di sebelah aku.

"Sat... gue tau lu marah. Gue juga marah. Tapi lu gak boleh kayak tadi. Lu bisa dikeluarin permanen."

Aku liat air kali yang mengalir pelan. "Aku... aku gak peduli lagi, Dri. Aku capek. Aku capek berjuang. Aku capek diinjak. Aku capek... capek hidup."

Adrian pegang pundak aku. "Sat, jangan bilang begitu. Lu masih punya ayah sama ibu yang nunggu lu. Lu masih punya gue. Lu masih punya Bu Ratna. Lu gak sendirian."

Aku nangis lagi. "Tapi aku gagal, Dri. Aku gagal. Ayah dan ibu pasti kecewa. Aku... aku gak bisa kasih mereka kehidupan yang lebih baik. Aku... aku anak yang gak berguna."

Adrian peluk aku. "Lu bukan anak yang gak berguna. Lu anak terkuat yang pernah gue kenal. Lu bertahan di tengah dunia yang kejam ini. Itu udah bukti lu luar biasa."

Kami berdua duduk di pinggir kali. Lama. Sampai matahari naik tinggi.

***

Sore itu aku sampai rumah.

Ibu lagi nyuci di belakang. Dia liat aku. "Satria? Kenapa kamu pulang siang gini? Kok gak sekolah?"

Aku gak jawab. Aku langsung masuk.

Ayah liat aku dari kasur. Mukanya khawatir.

"Satria... kamu kenapa? Mukamu berantakan."

Aku jalan ke arah ayah. Aku jatuh berlutut di sebelah kasur. Aku peluk ayah.

Erat.

Aku nangis di dada ayah yang tulang rusuknya nongol.

"Yah... maafin aku... maafin aku... aku gagal... aku... aku gak bisa kasih ayah kehidupan yang lebih baik... maafin aku..."

Ayah belai rambut aku. Tangannya gemetar. "Satria... kamu tidak gagal... kamu sudah berusaha... kamu sudah berjuang... ayah bangga sama kamu..."

"Tapi aku diskors, Yah... aku diskors dari sekolah gara-gara aku marah... aku teriak ke kepala yayasan... aku robek pengumuman... aku... aku bodoh..."

Ayah peluk aku lebih erat. "Kamu tidak bodoh. Kamu marah karena kamu diperlakukan tidak adil. Itu wajar. Tapi kamu harus belajar mengendalikan amarahmu, Nak. Jangan biarkan kemarahan menghancurkan masa depanmu."

Ibu datang dari belakang. Dia liat kami. Dia langsung nangis.

Dia ikut peluk aku dan ayah.

Kami bertiga nangis. Keluarga yang hancur. Tapi masih punya satu sama lain.

***

Malam itu, aku gak makan. Gak lapar. Perutku mual.

Aku cuma tidur-tiduran di kasur. Mikir.

Mikir tentang masa depan yang gelap.

Mikir tentang gimana caranya aku bisa kuliah tanpa beasiswa.

Mikir tentang...

TOK TOK TOK.

Ketukan pintu.

Aku bangun. Ibu juga bangun.

"Siapa malam-malam gini?"

Ibu jalan ke pintu. Dia buka.

"Permisi... apa ini rumah Satria?"

Suara cewek. Aku kenal suara itu.

Aku berdiri. Aku jalan ke pintu.

Vanya berdiri di depan pintu. Bajunya basah kuyup. Rambutnya acak-acakan. Matanya merah. Napasnya tersengal-sengal. Kayak habis lari jauh.

"Vanya? Kamu kenapa?"

Vanya liat aku. Dia masuk tanpa izin. Dia pegang tangan aku.

"Sat... aku tau siapa yang korupsi beasiswa itu."

Jantungku berhenti.

"Apa?"

Vanya keluarin sesuatu dari tasnya. Amplop cokelat. Tebal.

"Dan aku punya buktinya."

***

*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!