NovelToon NovelToon
KEKASIH GELAP WALI KOTA

KEKASIH GELAP WALI KOTA

Status: sedang berlangsung
Genre:POV Pelakor / Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Cinta Terlarang / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:284
Nilai: 5
Nama Author: Wen Cassia

Dalam setiap imaji tentang masa depan, Summer tidak menemukan gambaran selain Denver dan mata cokelat gelapnya yang hangat. Hidupnya dijejali dengan fantasi manis bahwa kehidupan tentram, jauh dari carut-marut dan kutukan, hanya bisa ia dapatkan jika Denver bersamanya.

Namun, Summer lupa satu hal: Obsesi selalu berkelindan erat dengan kemuakan. Denver akhirnya menemukan cara untuk lepas dari tali kekang Summer, mengesampingkan harga yang harus perempuan itu tanggung agar Denver bisa bernapas dengan leluasa.

Sayangnya, kalkulasi Denver agak meleset kali ini. Summer memang terperosok ke penjara lembap dan dingin, namun di tempat itu pula ia menjelma menjadi iblis yang melafalkan syair pembalasan dendam setiap malam. Dan agar bisa berdiri di podium pemenang, tersenyum congkak layaknya mimpi buruk, Summer harus bisa memenangkan hati Archilles Meridian, sang wali kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wen Cassia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 | PERLINDUNGAN JAUH

Pembicaraan dengan Denver semalam lebih dari cukup untuk membuat Allura termenung. Berteman dengan uap teh yang terasa hangat ketika merayau kulit, ia jadi bertanya-tanya apa selama ini ia salah mengartikan perasaannya. Archilles … benarkah dia satu-satunya alasan Allura mati-matian bertahan di sini?

Allura mengesah pelan dan mengusap matanya yang terasa lelah. Semalaman ia tidak tidur, kepalanya disesaki oleh banyak pertanyaan yang hanya berputar-putar tanpa jelas juntrungannya. Ia baru akan menyesap tehnya ketika suara langkah membuatnya segera memalingkan kepala ke samping, menemukan Archilles yang baru tiba di rumah dengan menenteng jas yang dilepas dan tas kerjanya.

Tanpa menunggu lagi, Allura beranjak berdiri, menghampiri Archilles sembari tersenyum lebar. “Selamat pagi. Semuanya berjalan dengan baik?” Ia mengambil alih tas Archilles, berjalan di sisi pria itu.

“Sangat baik.” Archilles membuka kancing lengan kemejanya, terus berjalan menuju kamarnya.

“Mau berendam air hangat? Biar aku siapkan.”

“Tidak, terima kasih. Aku sudah mandi.”

“Baiklah.” Allura menarik napas samar. Kendati Archilles tidak pernah mengatakan hal-hal kejam kepadanya, namun dari cara bicaranya saja sudah jelas ia merentangkan batasan, seolah sedang berbicara dengan rekan kerjanya.

“Archi! Kau pulang!”

Mencapai depan pintu kamar, seruan ceria itu menghentikan mereka. Seorang wanita awal enam puluhan yang terlihat jauh lebih muda dari usia sebenarnya melangkah mendekat dengan senyum lebar.

“Bagaimana kabar Ronan?” tanya Diana, ibu Archilles, begitu sampai di depan putranya.

“Dia masih sama seperti biasanya. Berkutat dengan buku-buku, sesekali berburu dan memancing.”

“Aku benar-benar tidak habis pikir. Pria jompo sepertinya, yang bahkan pinggangnya seperti akan patah dalam satu kali injakan, masih saja keras kepala tinggal di antah berantah padahal bisa hidup dengan nyaman di sini.”

“Ronan punya pilihan dan kehidupannya sendiri, Ibu. Dia menemukan kebahagiaannya di sana, tidak ada yang lebih melegakan dari itu. Biarkan dia menikmati masa senjanya dengan damai,” Archilles berucap dengan gestur tenang meskipun wajahnya sekarang tampak lelah.

Diana cemberut. “Astaga, baiklah, baiklah. Aku memang tidak akan bisa menang bicara denganmu.” Pandangan Diana beralih pada Allura yang masih berdiri di samping Archilles, mendadak memindai penampilannya, sebelum berseru dengan mata melebar, “Hei, kau memakai pakaian murahan lagi?”

Nada penuh penghakiman itu membuat Allura refleks mengamati dress panjangnya. “Saya membelinya di salah satu butik langganan Ibu.”

“Masa?” Diana menjadi tak acuh, pun tidak terlihat merasa bersalah. Ia sekali lagi memindai singkat penampilan Allura, menyeringai merendahkan. “Mungkin masalahnya ada pada kau. Pakaian mahal jadi terlihat murahan jika yang memakai—”

“Ibu …,” Archilles menyela dengan suara tajam penuh peringatan.

“Memangnya aku salah? Dia, kan, memang wanita murahan yang menjebakmu—”

“Hentikan.” Sorot mata Archilles semakin dingin, intonasinya tajam. “Ibu sudah melewati batas.”

Diana mendengus keras. “Ini dia masalahnya. Karena kau memperlakukan mereka dengan baik, kaum rendahan macam ini jadi semakin tidak tahu diri—”

“Kau boleh menyiapkan air hangat untukku,” Archilles memotong perkataan Diana, membuka pintu kamarnya.

Allura mendaratkan pandangan ke lantai, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kabur dari Diana adalah tindakan berisiko. Ibu Archilles itu akan semakin membencinya, hinaan yang akan Allura terima setelah ini pasti akan semakin parah.

“Allura.”

Nada rendah otoritatif Archilles terasa seperti sengatan listrik bagi Allura. Ia tidak bisa membohongi diri sendiri jika memang ingin segera enyah dari sana, tidak tahan dengan Diana. Ia selalu ingin pergi dari wanita itu.

Meremas tas Archilles, akhirnya Allura menunduk sopan ke arah Diana sebelum melangkah masuk ke kamar.

Tatapan Archilles masih membekukan sebelum ia menutup pintu, meninggalkan ibunya yang mengepalkan tangan di sisi tubuh.

“Tetap di sini untuk beberapa saat. Ibu akan pergi yoga sebentar lagi.” Archilles menyampirkan jasnya di kursi.

Allura menggigit bibirnya, lantas mengangkat wajah. “Archi ….”

Archilles menoleh ke arahnya.

“Terima kasih.” Allura memberikan sorot tulus, hangat yang menyenangkan merambat di pipinya.

Iris sewarna malam Archilles tertuju lurus pada Allura, ekspresinya masih tidak terbaca—jenis ekspresi yang bisa diinterpretasikan dengan banyak arti, sekaligus tidak bisa diterjemahkan sama sekali. Allura mulai familiar dengan kontradiksi aneh ini, namun tingkat keberhasilan memahaminya masih nihil. Dalam dua tahun pernikahan mereka, Allura masih tidak tahu apa-apa tentang Archilles.

“Mau pindah dari sini?”

Allura nyaris menjatuhkan tas Archilles saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan dengan nada ringan itu. Geriap menjalar cepat di permukaan kulitnya seiring lengannya yang bergerak merapat ke sisi tubuh. Ia terbelalak menatap Archilles, perutnya mencelus. Mungkin Allura tidak sengaja melepaskan kilat redup kelegaan di matanya, karena Archilles mengangguk pelan.

“Kalau kau tidak nyaman di sini, kita bisa pindah kapan pun kau mau.” Air muka Archilles masih setenang permukaan danau pada musim panas, namun tatapannya sedikit melunak.

Bibir Allura merapat berbarengan dengan matanya yang memanas. Wacana menangis di depan Archilles terasa menggiurkan, namun Allura memilih menahan diri hingga gumpal sesak mendera tenggorokannya.

Kendati selalu bersikap kaku padanya, sejatinya Allura juga tahu jika satu-satunya orang yang melindunginya di rumah besar itu adalah Archilles. Mungkin pria itu hanya bertindak karena kemanusiaan, mungkin juga Archilles terpaksa melakukannya karena status yang mengikat mereka berdua, membuatnya mau tidak mau harus memainkan peran sebagai seorang suami. Namun, apa pun alasan di baliknya, Allura akan menganggapnya sebagai bentuk kepedulian Archilles terhadapnya—sesuatu yang nyaris tidak pernah ia dapatkan dari orang lain.

Kalimat Denver semalam mendadak berjejalan kembali di kepala Allura, membuatnya benar-benar meragukan perasaannya sendiri sekarang.

...****...

“Summer, ada yang mencarimu.”

Gerakan tangan Summer yang sedang memeriksa daging yang baru datang terhenti. Ia menoleh, menemukan Sebastian dengan apron yang menggantung di lehernya.

“Siapa?” tanyanya.

“Tidak tahu. Dia tidak bilang apa-apa.” Sebastian menggulir matanya ke atas, terlihat mengingat-ingat. “Pria. Tinggi. Aku benci mengakuinya—dia tampan, mata biru, rambut pirang—”

“Sial,” Summer sudah memotong, mendengus. Ia tahu siapa yang datang. “Membuat suasana hatiku buruk saja. Sebenarnya apa maunya!” Summer membanting sarung tangannya ke meja.

Ia melirik jam dinding sebentar. Pukul setengah lima sore—Summer mendengus lagi. Masih setengah jam lagi restoran buka, itu artinya paling lama setengah jam ia harus berhadapan dengan orang itu.

“Periksa daging-daging ini, Bas. Aku pergi sebentar.”

Setelah mencuci tangan, Summer melangkah menuju ruangan pelanggan yang sudah dibersihkan dan dirapikan oleh pelayan. Seseorang pria sudah duduk di salah satu kursi. Hari ini ia memakai celana hitam di atas lutut, kaus putih polos berlengan pendek, dan sepatu olahraga, rambutnya yang setengah basah oleh keringat tampak berantakan. Botol minum hijau limau mencolok diletakkan di meja, si pemilik dengan wajah memerah dan napas tersengal merebahkan punggung di sandaran kursi, terlihat kelelahan.

“Astaga, orang akan mengira dia baru bertarung dengan sekawanan gorila—ah, dia bahkan berkelahi dengan saudaranya sendiri? Tata kramanya memang sudah menyedihkan sejak dulu,” gumam Summer, menggelengkan kepalanya setengah miris.

“Hai.” Alkaios melambaikan tangan sambil tersenyum lebar saat melihat Summer di depan pintu dapur.

Summer sengaja melambatkan langkahnya, lalu mengambil jarak yang tidak terlalu dekat dengan Alkaios, bersedekap sambil memasang ekspresi keruh. “Cepat katakan apa maumu dan lekas pergi dari sini.”

“Jangan membuatku canggung dengan berdiri seperti itu.” Alkaios menunjuk kursi di seberangnya. “Perlu kutarikkan kursi itu untukmu?”

Dengusan Summer tidak terelakkan, namun ia akhirnya duduk di seberang Alkaios, mengamati apa saja di ruangan itu selain wajah Alkaios seolah-olah ini pertama kalinya ia ke sana.

Alkaios menyeringai tipis, menautkan jemari di meja, gesturnya tenang. “Apa kau berencana menguasai Archilles sepenuhnya?”

Satu alis Summer terangkat ketika perhatiannya tertuju pada Alkaios. “Apa pentingnya urusanku buatmu?”

“Tentu saja penting.” Alkaios sedikit mencondongkan tubuh ke depan. “Pikirkan baik-baik, karena jawabanmu akan menentukan keseluruhan langkah.”

Summer menelisik Alkaios sangsi. Kendati pria itu membangun citra seperti sedang mengulurkan tangan padanya sebagai sekutu, masih terlalu dini bagi Summer untuk membeberkan rencananya. Alkaios terlalu mencurigakan, datang terlalu kebetulan. Mengungkapkan topengnya kepada pria itu adalah jalan menuju kematian.

Summer membasahi bibirnya, kepalanya penuh dengan kalkulasi. Satu-satunya cara untuk mengetahui niat terselubung pria itu hanya dengan pura-pura memakan umpannya.

“Aku tidak pernah melakukan sesuatu dengan tanggung. Aku menginginkan Archilles secara utuh, bahkan hingga hewan peliharaan dan teman yang sudah dia lupakan.”

Keheningan berdenyut panjang selagi mata Alkaios melebar takjub sementara Summer bertarung dengan diri sendiri, menahan desakan untuk mendengus. Saat kesabaran Summer mencapai ujungnya, mendadak suara tawa renyah menyeruak dari tenggorokan Alkaios seturut dengan mata pria itu yang melengkung tipis.

“Rupanya kau berubah jauh lebih banyak dari yang kuperkirakan, Summer.” Nada Alkaios kedengaran antusias seolah baru menemukan sesuatu yang menarik.

Kali ini Summer membiarkan tubuhnya bereaksi dengan jujur, matanya memutar malas.

Ketika tawanya mereda, Alkaios mengangsurkan sesuatu semacam brosur ke depan Summer, menyeringai. “Informasi tentang sebuah klub menembak. Ibu Archilles, Tante Diana, sudah menjadi anggota klub selama lebih dari enam tahun. Aku akan menjemputmu di sini akhir pekan nanti.”

...****...

1
Amaya Fania
jujur paling suka kalo kian muncul. ketawa mulu kalo lagi berantem sama summer, saling ejek, tapi diem diem sayang adek
Amaya Fania
penasaran lanjutannya, ayo lanjut kak
aspidiske ☆: okaii 😳
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!