Namaku Kazumi Flora. Dengan tinggi 154 cm, aku mungkin tampak mungil di tengah megahnya Lembah Biru, namun jiwaku seluas dan sedalam danau ini. Sejak kecil, alam adalah rumahku, dan bunga-bunga adalah sahabatku. Setiap helai kelopak, setiap hembusan angin, dan setiap riak air danau menyimpan cerita yang tak pernah usai aku dengarkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 14
Pagi yang sibuk akhirnya berlalu, dan kini matahari sudah mulai condong ke arah barat, menciptakan bayangan panjang di stasiun bus pinggiran kota. Aku berdiri dengan koper di tangan kanan dan tas ransel yang terasa berat di punggung. Tinggiku yang hanya 154 cm membuatku harus berjinjit di tengah kerumunan orang yang juga sedang menunggu keberangkatan.
"Hati-hati di sana, Kazumi," pesan Ayah sekali lagi sambil membantuku menaikkan koper ke bagasi bus.
"Jangan lupa telepon kalau sudah sampai di asrama."
Aku mengangguk, mencoba tersenyum meski ada rasa sesak di dada. Bus kota bermesin tua itu menderu, mengeluarkan asap tipis sebelum pintu lipatnya terbuka. Aku melangkah masuk, mencari kursi di barisan tengah dekat jendela.
Saat bus mulai melaju meninggalkan gerbang Lembah Biru, aku menatap keluar jendela. Lembah itu perlahan mengecil, tertutup kabut pegunungan. Aku menghela napas panjang, meraba liontin di balik bajuku. Dunia lain itu sudah tidak ada, Kazumi. Fokuslah, batinku mengingatkan.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Bus berhenti di sebuah halte besar di perbatasan kota. Dua orang pria naik ke dalam bus. Karena bus sudah cukup penuh, mereka terpaksa berdiri di lorong, tepat di samping kursiku.
Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Bau ini... aroma dingin salju dan kayu cendana.
Aku memberanikan diri untuk menoleh. Mataku membelalak. Pria pertama mengenakan jaket kulit hitam, tubuhnya jangkung dengan rahang tegas dan rambut yang sedikit berantakan. Saat ia memegang pegangan bus, aku melihat matanya. Biru elektrik. Dingin, namun menyimpan kedalaman yang sangat kukenal.Kaelen.
Tapi dia mengenakan pakaian manusia modern. Tidak ada zirah, tidak ada pedang bayangan. Di sampingnya, berdiri seorang pria yang lebih santai dengan tas tabung gambar di pundaknya. Ia memakai kacamata berbingkai bulat dan tersenyum tipis sambil asyik memainkan ponselnya.Ren.
Mereka berdua tampak berbincang sangat akrab, seperti sahabat lama yang baru saja pulang dari perjalanan jauh. Tidak ada tanda-tanda bahwa mereka adalah pangeran kegelapan atau pelukis dimensi.
"Kau yakin kita tidak salah ambil jadwal, Kael?" tanya pria yang mirip Ren itu sambil tertawa kecil.
"Diamlah, Ren. Kita hanya perlu sampai di pusat kota sebelum perpustakaan tutup," jawab pria yang mirip Kaelen itu dengan suara berat yang membuat bulu kudukku berdiri.
Aku terpaku. Suara itu... nada bicaranya... persis seperti yang ada di ingatanku yang "hilang".
Tiba-tiba, bus berguncang keras karena melewati lubang jalan. Aku yang sedang tidak siap hampir saja terlempar dari kursi jika sebuah tangan besar dan dingin tidak menahan bahuku dengan cepat.
"Hati-hati, Nona," ucap pria bermata biru itu.
Ia menatapku. Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Matanya terkunci pada mataku, mencari sesuatu, seolah ia pun sedang merasakan deja vu yang hebat. Ada kilatan pengenalan di sana, sebuah kerinduan yang ia sembunyikan dengan sangat rapi di balik wajah datarnya.
Ren ikut menoleh ke arahku, ia memiringkan kepalanya dan tersenyum lebar. "Wah, Kael, lihat. Bukankah gadis ini terlihat sangat cocok jika dilukis di tengah taman bunga?"
Kaelen tidak melepaskan tangannya dari bahuku selama beberapa saat, seolah ia ingin memastikan bahwa aku benar-benar nyata, bukan sekadar hantu dari masa lalunya.
"Ya," bisik Kaelen pelan, suaranya hanya bisa didengar olehku. "Sangat cocok."
Ia melepaskan tangannya dan kembali berdiri tegak, pura-pura menatap ke depan. Namun, aku bisa melihat genggamannya pada pegangan bus mengeras hingga buku jarinya memutih.
Aku gemetar. Jika dunia itu sudah tidak ada, lalu siapa mereka? Mengapa mereka ada di sini, di bus yang sama denganku, dan tampak seperti manusia biasa yang bersahabat?