Fiora Gabriela adalah definisi nyata dari kesempurnaan. Sebagai putri tunggal dari dinasti bisnis raksasa, kecantikan dan kekuasaannya adalah mutlak. Namun, ada satu hal yang belum bisa ia taklukkan: hati Galang Dirgantara, pria dingin yang menjadi tunangannya demi aliansi bisnis keluarga mereka.
Bagi Galang, Fiora hanyalah wanita arogan yang terbiasa mendapatkan apa pun dengan uang. Ia menutup hati rapat-rapat, sampai akhirnya ia bertemu dengan Mira—seorang gadis dari kalangan bawah dengan hidup penuh kemalangan. Sosok Mira yang rapuh membangkitkan sisi protektif Galang yang belum pernah terlihat sebelumnya. Galang mulai berpaling, membiarkan rasa iba itu tumbuh menjadi cinta yang mengancam status Fiora.
Namun, Galang lupa satu hal. Fiora Gabriela bukanlah wanita yang akan menyerah begitu saja dan menangis dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggung Sandiwara di Meja Makan
Di kantor Dirgantara Group, suasana terasa begitu sunyi bagi Mira karena absennya Fiora. Mira menyadari ini adalah kesempatan emas untuk menarik kembali simpati penuh dari Galang.
Saat Galang berjalan menuju ruangannya, ia melewati meja asisten dan mendengar suara isak tangis yang tertahan. Mira sengaja memposisikan dirinya membelakangi pintu agar terlihat dramatis.
"Kenapa... kenapa aku harus hidup sesengsara ini?" isak Mira dengan suara yang cukup keras agar terdengar sampai ke koridor. "Kenapa aku tak punya satu keluarga pun? Bahkan para preman itu masih sering membuntuti dan mengancamku... aku takut sekali..."
Galang yang mendengar itu langsung menghentikan langkahnya. Rasa iba yang menjadi kelemahannya kembali muncul. Ia mendekat dan menyentuh pundak Mira pelan.
"Mira..." panggil Galang lirih.
Mira tersentak kaget dengan gerakan yang dibuat sealami mungkin, lalu segera menghapus air matanya dengan kasar. "Eh, Pak Galang... sudah lama di situ? Maaf, Pak," ucap Mira terbata-bata sambil menunduk dalam, menyembunyikan senyum tipis di balik wajah sedihnya.
"Kamu sedang memikirkan apa sampai menangis begitu?" tanya Galang dengan dahi berkerut, merasa khawatir jika ancaman preman tempo hari masih berlanjut.
"Maaf saya lancang, Pak. Saya hanya merasa sendirian di dunia ini. Kejadian kemarin membuat saya trauma setiap kali melihat orang asing di jalan," dusta Mira dengan tatapan mata yang sangat sayu pada sore ini.
Galang menghela napas panjang. "Sudah saya katakan, kamu aman di bawah perlindungan saya. Jangan menangis lagi di jam kerja, itu tidak baik untuk kesehatanmu."
"Pak, saya takut... saya benar-benar takut," rintih Mira sambil tiba-tiba menghambur memeluk Galang. Tubuhnya dibuat gemetar hebat agar Galang percaya. "Untung saja waktu hujan itu saya bertemu Bapak. Kalau tidak, saya pasti sudah tidak ada di dunia ini..."
Galang tertegun. Meskipun rasa ibanya besar, bayangan Fiora yang kemarin mencium pipinya dan memanggilnya "Paman" entah mengapa melintas di kepalanya. Galang tidak membalas pelukan itu. Dengan perlahan namun pasti, ia melepaskan tangan Mira dari tubuhnya.
"Tenang, Mira. Saya ada di sini bersamamu. Kamu aman selama bekerja di sini," ucap Galang berusaha menenangkan dengan nada profesional.
"Terima kasih, Pak," jawab Mira sambil menunduk malu-malu, padahal di dalam hatinya ia menyeringai licik. Lihat saja Nona Fiora, saya pasti bisa merebut Pak Galang. Kamu yang amnesia tidak akan bisa bersaing dengan saya, batin Mira jahat.
Di Butik Fiora
Suasana di butik jauh lebih ceria. Fiora sedang sibuk memeriksa beberapa desain baju baru bersama dua sahabatnya.
"Fio, kapan-kapan ajak liburan dong! Penat nih ngurusin stok kain mulu," kata Vanya sambil menyandarkan kepalanya di meja, disetujui oleh anggukan Jojo.
"Iya nih, kapan gais?" tanya Fiora sambil tertawa.
"Terserah lah, yang penting jalan-jalan!" sahut Jojo semangat.
Fiora tampak berpikir sejenak sambil mengetuk-ngetuk dagunya. "Sebenarnya sih gue pengennya gitu. Gimana kalau kita ke kebun binatang aja? Biar para pekerja kita juga bisa ngerasain sensasi yang menyejukkan, liat yang hijau-hijau, terus makan bareng di sana."
Vanya langsung duduk tegak. "Oke juga, Fio! Kebun binatang itu seru, suasananya asri. Lo itu emang Bu Bos paling pengertian, the best lah!"
"Lo itu emang Bu Bos terbaik deh, Fio! Gue langsung booking tempatnya kalau gitu ya?" tambah Jojo girang.
Fiora tersenyum manis. Di hari ini, ia ingin memberikan kebahagiaan bagi orang-orang yang tulus padanya. Namun, di balik senyum itu, otaknya juga sedang berputar. Liburan ke kebun binatang ya? Hmm, sepertinya seru kalau gue ajak 'Paman' Galang juga. Kita liat siapa yang lebih mirip monyet nanti, Mira atau penghuni di sana, batin Fiora kocak.
"Udah, udah, fokus kerja lagi! Nanti kita ke kafe buat makan malam," ucap Fiora sambil menepuk meja pelan agar kedua sahabatnya kembali serius.
"Lo mau traktir kita? Tumben, biasanya kalian para holangkaya lebih pelit," canda Jojo sambil tertawa.
Fiora memutar bola matanya. "Iya, iya, gue bayarin! Puas lo?"
Setelah selesai bekerja dan memastikan laporan butik aman, mereka bertiga pun pergi ke sebuah kafe mewah di pusat kota. Suasananya sangat nyaman dengan lampu temaram yang estetik.
"Kalian mau pesan apa?" tanya Fiora saat pelayan datang.
"Steak aja, yang medium rare," jawab Vanya dan Jojo kompak.
"Oke, steak tiga ya," ucap Fiora memesan makanan mereka.
Saat mereka sedang asyik berbincang menunggu pesanan, pintu kafe terbuka. Fiora spontan melirik, dan jantungnya hampir copot. Di sana, Galang melangkah masuk dengan setelan jasnya, disusul oleh Mira yang berjalan mengekor di belakangnya dengan wajah yang dibuat-buat lemas.
"Aduh, gawat!" Fiora segera menundukkan kepalanya dalam-dalam dan menutupi mukanya dengan tas mahalnya.
"Kenapa sih, Fio?" tanya Vanya bingung.
"Ssttt! Diem! Ada Galang sama si Kuntilanak!" bisik Fiora dari balik tasnya. Ia mengintip sedikit lewat celah tas, matanya menyipit tajam melihat Mira yang sengaja berjalan sangat dekat di samping Galang, seolah-olah ingin menempel.
"Gatel banget tuh cewek dekat-dekat tunangan gue terus, Ges!" gerutu Fiora dengan suara tertahan. Tangannya mengepal kuat. Hatinya panas melihat Galang yang tampak membukakan kursi untuk Mira di meja yang tak jauh dari tempat mereka duduk.
"Tenang, Fio. Jangan sampai lo ketahuan lagi nggak amnesia di sini," bisik Jojo sambil menahan tawa melihat tingkah sahabatnya yang bersembunyi di balik tas pada Senin malam ini.
"Gue harus sabar... tapi beneran ya, tangan gue gatel banget pengen nyiram pake jus jeruk!" batin Fiora penuh dendam.
Di meja seberang, Mira makin menjadi-jadi cari perhatiannya. Dia duduk mepet banget ke Galang, sesekali pura-pura ngerapiin kerah baju Galang dengan gaya paling manis.
"Pak, tak apa saya ikut makan dengan Bapak? Saya takut merepotkan," ucap Mira dengan suara yang dibuat selembut mungkin.
"Tidak apa-apa Mira, makan saja," jawab Galang datar.
Fiora yang ngelihat itu dari kejauhan makin mendidih. Dadanya sesak nahan emosi yang udah di ubun-ubun. "Gue lempar sepatu mahal gue ini bisa-bisa ke mukanya! Gatel banget tangannya mau nempel terus!" gumam Fiora kesal.
"Sabar Fio, sabar... Inget akting lo, jangan sampe ketahuan gara-gara emosi," bisik Vanya mencoba menenangkan sahabatnya itu.
Berbeda dengan Vanya, Jojo justru makin memanas-manasi. Dia nggak tahan liat Mira yang sok polos tapi aslinya licik itu.
"Lo jambak aja tuh rambutnya Fio! Jangan diem aja, nanti dia banyak tingkah tahu! Kalo lo diem terus, dia makin ngerasa jadi permaisuri di depan Galang!" kata Jojo sambil melotot ke arah meja depan.
Fiora makin panas. Dia ngerasa kalau diem aja, si Mira bakal makin melunjak. Akhirnya dia mutusin buat beraksi. Dia bicara pada teman-temannya dengan nada serius tapi tetep waspada.
"Gue nggak tahan! Pura-pura anterin gue ke sana lah. Buat beneran kayak orang amnesia yang kebingungan nemu cowoknya. Oke, oke?" bisik Fiora.
"Oke, siap! Kita dukung totalitas lo!" jawab Jojo dan Vanya kompak.
Jojo dan Vanya langsung berdiri dan memapah Fiora di kiri-kanan. Fiora jalan dengan langkah yang sengaja dibuat lunglai dan tatapan mata yang agak kosong, persis orang yang lagi linglung. Begitu sampe tepat di samping meja Galang, Jojo sengaja bersuara agak keras.
"Eh, pelan-pelan jalannya Fio, lo kan masih pusing!" kata Jojo.
Mendengar suara itu, Galang langsung menoleh dan matanya membelalak kaget. "Fiora? Kamu... kenapa kamu ada di sini?"
Fiora berhenti, dia natap Galang dengan muka polos yang sangat meyakinkan, lalu dia ngerengek manja sambil nunjuk ke arah Galang.
"Pamaaaannn... Pamannn kok ada di sini?" tanya Fiora dengan suara kekanak-kanakan. Terus dia ngelihat ke arah Mira dengan muka takut yang dibuat-buat. Mira langsung membeku, wajahnya merah padam karena dihina di depan umum, sementara Galang langsung berdiri dengan perasaan campur aduk antara panik dan merasa bersalah pada malam ini.