"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDML 6: PERTEMUAN YANG TAK TERELAKKAN
Pesan dari Laras itu mengambang di layar ponsel Rafa seperti ultimatum.
"Aku ingin ketemu dia. Ketemu Aisha. Hari ini."
Tiga kalimat pendek. Padat. Penuh dengan segala emosi yang tidak tertulis: amarah, rasa ingin tahu, sakit hati, dan mungkin juga sebagian kecil rasa ingin memahami.
Rafa menatap layar, jarinya membeku di atas keyboard. Apa yang harus ia balas? "Tidak, jangan"? Itu akan membuat Laras semakin curiga dan marah. "Baik, aku atur"? Itu berarti mempertemukan dua dunia yang seharusnya tidak pernah bersentuhan.
"Ayah, kenapa?" tanya Arka dari tempat tidur, memperhatikan ekspresi Rafa yang berubah.
"Tidak apa-apa, sayang. Cuma... kerjaan." Rafa memaksakan senyum, menyimpan ponselnya. Tapi matanya mencari Aisha, yang sedang melipat baju bersih di sudut ruangan. Dia harus memberi tahu.
Beberapa menit kemudian, saat Arka tertidur lagi karena efek obat, Rafa mendekati Aisha. "Kita perlu bicara. Di luar."
Aisha mengangguk, dengan firasat buruk. Mereka keluar ke koridor, berjalan ke area taman kecil di lantai dasar yang biasanya sepi.
"Apa yang terjadi?" tanya Aisha begitu mereka duduk di bangku kayu yang dingin.
"Laras... istriku. Dia ingin bertemu kamu. Hari ini."
Dua kalimat itu membuat wajah Aisha pucat. Ia membayangkan seorang wanita cantik, terhormat, marah menghadapinya, menuntut penjelasan mengapa ia merusak kehidupan pernikahan mereka. Dan ia tidak punya pembelaan. Karena memang ia yang merusak.
"Kamu... setuju?" tanya Aisha, suara kecil.
"Aku tidak punya pilihan. Jika aku menolak, dia akan datang ke sini sendiri. Lebih baik kita atur tempat dan waktu yang terkendali."
Aisha menarik napas dalam, menatap daun-daun kering yang berguguran di taman rumah sakit. Ini konsekuensi. Ia tahu ini akan datang. Tapi tidak secepat ini. "Kapan? Di mana?"
"Kafe di lantai dasar rumah sakit ini. Jam 1 siang. Arka biasanya tidur siang saat itu. Kita bisa... bicara."
"Bicara tentang apa, Rafa?" Aisha menatapnya, matanya penuh ketakutan. "Tentang bagaimana aku menghancurkan hidupmu? Tentang bagaimana aku egois? Aku tahu semua itu. Aku tidak perlu diingatkan lagi."
"Ini bukan tentang menyalahkan," kata Rafa, meski suaranya tidak yakin. "Ini tentang... dia butuh penjelasan. Butuh melihat siapa kamu. Butuh memahami mengapa aku melakukan ini."
"Dan setelah dia tahu, lalu apa? Dia akan mengizinkan kamu mendonorkan ginjalmu? Atau justru sebaliknya dia akan melarang, dan kita semua kehilangan harapan?"
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka. Rafa tidak punya jawaban. Ia tidak tahu apa reaksi Laras. Delapan tahun pernikahan, ia mengenal istrinya sebagai wanita yang kuat, penyayang, tapi juga sangat melindungi keluarganya. Dan sekarang, Aisha dan Arka adalah ancaman bagi keluarga itu.
"Kita harus mencoba," akhirnya Rafa berkata. "Untuk Arka."
Untuk Arka. Itu selalu menjadi alasannya. Alasan yang mengalahkan segalanya.
---
Pukul 12.45.
Aisha sudah berganti baju, baju terbaiknya: kemeja kotak-kotak biru tua yang sudah pudar dan celana jeans hitam yang sudah tipis. Ia menyisir rambutnya, memandangi dirinya di cermin kamar mandi rumah sakit. Wanita 27 tahun dengan mata lelah, garis-garis halus di sudut mata, dan senyum yang sudah lama tidak tulus. Bukan saingan bagi seorang istri yang terhormat seperti Laras.
Arka sedang tertidur pulas, dipenuhi obat penenang ringan agar tidak gelisah saat mereka tidak ada. Rafa menunggu di luar ruangan.
"Aku siap," bisik Aisha pada bayangannya sendiri.
Mereka berjalan menuju kafe di lantai dasar. Setiap langkah terasa berat. Kafe itu nyaris kosong hanya ada beberapa keluarga pasien yang terlihat lelah. Dan di sudut paling belakang, dekat jendela yang menghadap ke taman, seorang wanita duduk sendiri.
Laras.
Rafa mengenalinya dari postur tubuhnya yang tegap, rambut hitam lurus yang diikat rapi, dan aura ketegangan yang memancar sekalipun dari jarak jauh. Dia memegang segelas air mineral, tidak disentuh. Matanya menatap ke arah mereka.
"Mari," desis Rafa, menuntun Aisha.
Semakin dekat, Aisha semakin bisa melihat detailnya. Cantik. Jauh lebih cantik dari yang ia bayangkan. Kulit cerah, mata tajam, dan ada martabat dalam caranya duduk, caranya memandang. Wanita yang pantas menjadi istri Rafa. Wanita yang pantas mendapatkan kehidupan yang tidak pernah Aisha miliki.
"Laras, ini Aisha," kata Rafa, suara tegang.
Laras mengangguk sekali, tajam. Tidak tersenyum. "Silakan duduk."
Aisha duduk di seberangnya. Rafa duduk di sampingnya, tapi kursinya agak ditarik ke belakang posisi netral, tidak di pihak siapa-siapa.
Diam yang menyiksa mengisi ruang di antara mereka. Hanya suara mesin kopi dari belakang dan langkah perawat yang lewat di koridor.
"Aku akan langsung ke intinya," Laras akhirnya berbicara, suaranya datar, terkendali, tapi ada getaran marah di bawahnya. "Siapa kamu, dan apa yang kamu inginkan dari suami dan keluargaku?"
Pertanyaan langsung, frontal, tanpa basa-basi. Aisha menelan ludah. "Nama saya Aisha. Dan saya... tidak menginginkan apa pun dari Rafa kecuali... bantuan."
"Bantuan? Ginjalnya maksudmu?" Laras menyeringai, tidak bisa menyembunyikan sikap sinisnya. "Kamu pikir ginjal adalah seperti pinjam uang? Bisa dikembalikan?"
"Laras..." Rafa mencoba menengahi.
"Diam, Rafa. Aku ingin mendengar dari mulutnya sendiri."
Aisha menarik napas. "Saya tahu ini terdengar... tidak masuk akal. Dan egois. Dan saya minta maaf untuk itu. Tapi anak saya... Arka... dia sekarat. Dan Rafa adalah harapan terakhirnya."
"ANAKMU?" Laras menekankan kata itu. "Atau ANAK KALIAN BERDUA?"
"Anak... kami berdua," akui Aisha, suara hampir tak terdengar.
Laras tertawa pendek, pahit. "Jadi delapan tahun. Delapan tahun kamu menyembunyikan anak itu. Delapan tahun kamu membiarkan Rafa menjalani hidupnya, menikah denganku, punya anak bersamaku... dan sekarang, ketika anakmu sakit, kamu muncul dan menuntut GINJALNYA?"
"Itu bukan..."
"Bukan apa? Bukan rencanamu? Kamu pikir aku bodoh?" Laras menatapnya tajam. "Kamu tahu, aku sudah cek latar belakangmu. Aisha, 27 tahun, tinggal di rusunawa Mawar, kerja sebagai buruh cuci, single parent. Hidup susah. Dan sekarang, dengan satu penyakit anak, kamu tiba-tiba punya kesempatan untuk dapatkan sesuatu dari mantan kekasihmu yang sekarang sukses. COINCIDENCE YANG SANGAT BAGUS, bukan?"
Tuduhan itu seperti tamparan. Aisha membelalak. "Saya tidak... saya tidak menginginkan uangnya! Atau hidupnya! Saya hanya ingin anak saya hidup!"
"Tentu saja! Dan untuk itu, kamu rela menghancurkan keluarga orang! Kamu rela membuat suamiku mengambil risiko hidup dengan satu ginjal! Kamu rela membuat anak perempuanku tumbuh tanpa ayah yang sehat!" Suara Laras mulai meninggi, emosi yang tertahan mulai meluap.
"Laras, cukup," kata Rafa tegas. "Aisha tidak seperti itu."
"KAMU YANG TIDAK TAHU RAF!" Laras berbalik padanya, mata berkaca-kaca. "Kamu hanya melihat wanita lemah dengan anak sakit! Kamu tidak melihat kemungkinan lain! Bahwa ini bisa jadi skema! Bahwa ini bisa jadi cara untuk masuk kembali ke hidupmu!"
"Aku kenal Aisha! Dia tidak seperti itu!"
"KENAL? KAMU KENAL DIA DELAPAN TAHUN YANG LALU! KAMU TIDAK TAHU ORANG MENJADI APA SETELAH DELAPAN TAHUN HIDUP SUSAH!"
Perdebatan mereka mulai menarik perhatian. Beberapa pengunjung kafe melirik. Aisha merasa malu, kecil, dan bersalah sekaligus marah. Marah karena dituduh seperti itu. Marah karena memang terdengar seperti itu.
"Dengarkan saya," Aisha berbicara, suaranya tiba-tiba lebih keras dari yang ia kira. Kedua pasangan itu terdiam, menatapnya. "Saya tidak meminta Rafa untuk meninggalkan Anda. Saya tidak meminta uangnya. Saya tidak meminta apa pun selain... kecocokan jaringan. Jika dia cocok, dan jika dia masih mau... saya meminta satu ginjalnya. Hanya itu."
"HAH! 'HANYA ITU'?" Laras mengetuk meja. "Kamu menyebut ginjal 'hanya itu'? Kamu tahu tidak, setelah donor, hidupnya tidak akan sama? Risiko hipertensi, gangguan fungsi ginjal di kemudian hari, pembatasan aktivitas? Kamu tahu tidak, itu akan mempengaruhi kemampuan kami punya anak lagi? MEMPENGARUHI HIDUP NADIA?"
Aisha terdiam. Ia tidak memikirkan itu. Ia hanya memikirkan Arka.
"Dan yang paling penting," Laras melanjutkan, air matanya akhirnya jatuh. "Kamu tahu tidak... bahwa dengan melakukan ini, kamu akan selamanya menjadi bagian dari hidup kami? Kamu dan anakmu akan selamanya ada di latar belakang keluarga kami? Setiap kali Rafa periksa ginjal, setiap kali ada masalah kesehatan, kami akan ingat kamu? Itu yang kamu mau? Menjadi hantu dalam pernikahan kami?"
Pertanyaan itu jujur. Dan menyakitkan. Aisha melihat Rafa. Apakah itu yang ia inginkan? Apakah ia ingin menjadi bayangan yang mengganggu kebahagiaan orang lain?
"Tidak," jawab Aisha, tulus. "Saya tidak ingin itu. Saya ingin... setelah ini selesai, jika Arka sembuh... saya akan pergi. Jauh. Tidak akan mengganggu lagi."
"Janji yang mudah diucapkan," bisik Laras, menyeka air matanya. "Tapi sulit ditepati. Karena anak itu akan selalu menjadi penghubung. Dan Rafa... dia sudah terikat sekarang. Aku bisa lihat di matanya."
Laras menatap suaminya. Dan dalam tatapan itu, ada pengakuan yang menyakitkan: Dia tahu Rafa sudah membuat pilihan. Dia tahu pertempuran ini mungkin sudah selesai sebelum dimulai.
"Laras," kata Rafa pelan, mencoba meraih tangannya, tapi Laras menariknya. "Aku tidak ingin menyakitimu. Aku mencintaimu. Aku mencintai Nadia. Tapi Arka... dia anakku. Dan dia sekarat. Bisakah kamu memahami itu? Sedikit saja?"
Laras menatapnya lama, seperti melihat orang asing. "Aku memahami, Raf. Tapi siapa yang memahami aku? Siapa yang memahami Nadia? Kenapa kami yang harus membayar untuk kesalahan masa lalumu? Kenapa ginjalmu, kesehatanmu, keluarga kita... menjadi taruhan?"
Tidak ada jawaban yang memuaskan. Karena memang tidak adil. Tidak ada yang adil dalam situasi ini.
"Jika... jika tes menunjukkan cocok," kata Laras akhirnya, suara hancur. "Dan jika kamu tetap bersikeras melakukan ini... maka ada syaratku."
Rafa dan Aisha sama-sama menegakkan badan. "Syarat apa?" tanya Rafa.
"Pertama, perjanjian hukum. Aisha harus menandatangani bahwa dia tidak akan menuntut apa pun lagi dari kamu tidak uang, tidak hak asuh, tidak apa pun. Kedua, setelah operasi, tidak ada kontak lagi. Kamu bisa bantu biaya pengobatan Arka sampai dia benar-benar sembuh, tapi setelah itu... selesai. Ketiga..." Laras menatap Aisha. "Kamu harus bertemu Nadia. Jelaskan padanya. Karena dia akan tahu. Dan aku tidak ingin dia berpikir ayahnya punya rahasia lagi."
Syarat-syarat itu keras. Tapi adil. Melindungi keluarganya. Memastikan ini benar-benar berakhir.
Aisha mengangguk, meski hatinya sakit. Tidak ada kontak lagi. Artinya Arka akan kehilangan ayahnya untuk kedua kalinya. Tapi Arka akan hidup.
"Setuju," kata Aisha.
Rafa melihat istrinya, lalu Aisha. Dia terjepit. Harus memilih antara kenyamanan keluarga dan nyawa anak. Dan keduanya mengharuskannya kehilangan sesuatu.
"Baik," akhirnya Rafa berkata. "Kita buat perjanjian itu."
Laras berdiri. "Aku akan pulang. Aku butuh waktu sendiri." Dia mengambil tasnya, lalu berhenti di depan Aisha. "Aku tidak akan pernah memaafkanmu untuk ini. Tapi... aku harap anakmu sembuh. Karena dia tidak bersalah."
Dan dengan itu, dia pergi. Langkahnya tegas, tapi bahunya agak merosot. Wanita kuat yang terluka.
Aisha menunduk, menangis diam-diam. Dia baru saja menghancurkan sebuah keluarga. Dan itu membuatnya merasa seperti monster.
Rafa duduk di depannya. "Dia... dia sebenarnya baik. Hanya terluka."
"Aku tahu," bisik Aisha. "Dan aku yang melukainya. Seperti aku melukaimu dulu."
---
Ketika mereka kembali ke ruangan Arka, anak itu sudah bangun, sedang dibacakan cerita oleh perawat. Wajahnya cerah ketika melihat mereka.
"Ayah! Bunda! Kemana aja?"
"Cuma ngobrol, sayang," kata Aisha, memaksakan senyum.
"Tadi ada bunda cantik nengok di pintu," kata Arka polos. "Tapi dia cuma lihat-lihat, terus pergi. Teman Ayah ya?"
Rafa dan Aisha saling pandang. Laras. Dia sudah melihat Arka.
"Bunda cantik itu... istri Ayah," kata Rafa pelan pada Arka. "Namanya Bunda Laras. Dan dia punya anak perempuan, namanya Nadia. Itu adikmu."
Arka mengernyitkan dahi, mencerna informasi baru itu. "Jadi Arka punya adik? Keren! Bisa main sama nanti?"
Rafa merasa dadanya sesak. Tidak, Arka. Tidak bisa. Karena syarat ibunya adalah tidak ada kontak lagi. Tapi dia tidak bisa mengatakan itu sekarang.
"Mungkin nanti, kalau Arka sudah sembuh," kata Rafa, berbohong dengan pahit.
Aisha memalingkan wajah, supaya Arka tidak melihat air matanya.
---
Sore hari, hasil tes awal datang. Golongan darah cocok. Langkah pertama berhasil. Tapi masih ada tes HLA yang lebih rumit.
Saat dokter memberi kabar, Aisha merasa sedikit lega. Tapi kemudian ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal.
"Ibu Aisha? Ini dari laundry tempat Ibu kerja. Kami terpaksa memutuskan kerjasama. Ibu sudah absen terlalu banyak. Maaf."
Pekerjaan hilang. Penghasilan hilang. Dunia semakin sempit.
Rafa yang mendengar percakapan itu, langsung berkata: "Aku yang akan tanggung semua biaya. Jangan khawatir."
"Tidak, aku tidak bisa menerima..."
"Ini bukan untukmu. Ini untuk Arka."
Dan sekali lagi, untuk Arka menjadi alasan yang mengalahkan segala harga diri, segala penolakan.
---
Malam itu, saat Aisha sendirian di ruangan menunggu Arka tertidur, ponselnya berdering lagi. Pesan dari Laras.
"Aku lihat anak itu. Dia mirip sekali dengan Rafa. Aku mengerti sekarang kenapa Rafa tidak bisa berkata tidak. Tapi ketahuilah: jika sesuatu terjadi pada suamiku karena ini, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Tidak pernah."
Aisha membaca pesan itu berulang kali. Ancaman? Atau sekadar pernyataan rasa takut seorang istri?
Dia membalas: "Saya mengerti. Dan saya minta maaf. Untuk segalanya."
Tidak ada balasan. Mungkin tidak akan pernah ada.
Aisha memandang Arka yang tertidur. Anak ini adalah segalanya baginya. Tapi untuk menyelamatkannya, ia harus melukai begitu banyak orang. Apakah ini sepadan?
Tidak ada jawaban. Hanya detak monitor yang terus berbunyi, mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, dan pilihan-pilihan berat harus terus dibuat.
---
(Di rumah Rafa, Laras sedang memeluk Nadia yang tertidur. Di mejanya, draf perjanjian hukum yang dibuat oleh pengacaranya sudah terbuka. Dan di hatinya, pertanyaan yang sama: "Apakah ini sepadan?")