NovelToon NovelToon
My Dangerous Kenzo

My Dangerous Kenzo

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cintapertama / Playboy
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eka Dinan

Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 - My Dangerous Kenzo

...----------------...

...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...

...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...

...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...

...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...

...Cerita ini fiksi yaa ✨...

...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...

...No plagiarism allowed ❌📝...

...----------------...

Pagi itu Naya terbangun perlahan. Kakinya terasa berat dengan gips yang masih asing, tapi rasa itu sedikit berkurang saat ia melihat Pappi sudah duduk di sisi ranjang.

“Pagi, my little girl,” ucap Pappi lembut.

Naya tersenyum kecil. Ia kemudian sarapan di tempat tidur, disuapi langsung oleh Pappi. Setiap sendok disuapkan dengan sabar, seolah Naya masih anak kecil yang rapuh dan harus dijaga sepenuh hati.

Di seberang sana, Reno sarapan sambil duduk di sofa, matanya sesekali melirik ke arah adiknya.

“Manja banget sih,” Reno bergumam.

“Diem,” jawab Pappi singkat tanpa menoleh, tapi senyumnya samar.

Jam menunjukkan pukul 09.00 saat dokter datang untuk visit. Naya duduk bersandar, sementara Pappi berdiri di sampingnya, tak pernah menjauh.

“Kaki Naya sudah digips sejak kemarin karena ada sedikit retakan,” jelas dokter.

“Untuk penyembuhan penuh, mungkin butuh waktu agak lama. Sekitar satu sampai tiga bulan, tergantung perawatan dan aktivitas.”

Naya menunduk, sedikit kecewa.

“Lama ya, Pappi…” suaranya pelan.

Pappi langsung mengusap kepala Naya.

“Yang penting kamu sembuh, sayang. Urusan waktu, biar Pappi yang nemenin.”

Naya mengangguk. Dadanya terasa hangat.

Di tengah rasa sakit dan keterbatasan itu, ia tahu satu hal—selama Pappi ada di sisinya, ia tidak sendirian.

Reno yang tadinya tiduran santai di sofa tiba-tiba terbangun saat ponselnya bergetar.

Kenzo call.

Kenzo: “Gue baru turun.”

Reno: “Otw.”

Reno langsung bangkit, meraih jaketnya.

“Ke mana, Kak?” tanya Pappi dari samping ranjang.

“Jemput dulu, Ppi,” jawab Reno singkat.

Naya yang bersandar di bantal langsung nyahut, nada manja tapi nyebelin.

“Adek lagi sakit juga, Kak.”

Reno melirik sekilas, senyum jail muncul.

“Pas ketemu orangnya langsung sembuh.”

“Pappiii!” Naya protes, wajahnya memerah.

Pappi menegur sambil mengusap kepala Naya.

“Kakak jangan gitu. Kasian adek.”

“Wlee,” Naya meledek Reno sambil menjulurkan lidah.

Reno terkekeh kecil.

“Berangkat dulu, Ppi.”

“Hati-hati, Kak,” ujar Pappi.

“Oke, Ppi.”

Reno melangkah keluar, meninggalkan Naya yang masih manyun—tapi diam-diam jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.

Sampai di bandara, Reno melambaikan tangan ke arah Kenzo yang baru keluar dari pintu kedatangan.

“Cepet juga baliknya,” ujar Reno.

“Kasian adek lo, galau mulu,” jawab Kenzo sambil nyengir.

Ekspresinya langsung berubah serius.

“Gimana dia?”

“Kaki di gips,” jawab Reno singkat.

Kenzo berhenti melangkah.

“Hah?”

“Lo ngapain adek gue sampe galau begitu?” Reno menyipitkan mata.

“Gak gue apa-apain,” sambung Kenzo datar.

“Gak percaya gue,” Reno mendecak.

“Paling gue kelonin doang,” kata Kenzo santai.

“Gue hajar juga lo,” Reno menoleh tajam.

(Padahal sih memang kenyataan di kelonin tiap Kenzo nginep).

Kenzo malah ketawa kecil.

“Mampir dulu situ.”

Reno nunggu di mobil. Beberapa menit kemudian Kenzo keluar dari toko, tangannya penuh—boneka beruang ukuran sedang dan sebuket mawar merah.

Reno melongo.

“Menyala, Tuan Muda Kenzo.”

“Sialan lo,” Kenzo nyengir.

“Ngapain sih bawa beginian?”

“Buat adek lo,” jawab Kenzo enteng.

“Yaudah, ayo,” Reno menghela napas.

Sampai di rumah sakit.

Pukul dua belas lewat sedikit.

Reno dan Kenzo masuk ke ruangan. Di sana, Pappi duduk di kursi sambil membaca koran. Naya tertidur di ranjang, wajahnya pucat tapi tenang, kaki kanannya tergips rapi.

Kenzo langsung melangkah mendekat.

“Om… Naya gimana, Om?”

Ia meletakkan bunga dan boneka di sofa samping ranjang.

“Ada sedikit retak di kaki, makanya digips,” jawab Pappi tenang.

Kenzo mengangguk.

“Urusan kamu udah beres, Ken?” tanya Pappi sambil menurunkan korannya.

“Udah, Om.”

“Berarti tinggal urusan sama Om yang belum selesai.”

Kenzo mengernyit.

“Maksud Om?”

Pappi menatapnya lurus.

“Dari kapan kamu macarin Naya?”

Reno yang sedari tadi diam malah senyum tipis, nyaris ketawa.

“Hah?” Kenzo reflek.

“Nggak pacaran, Om.”

“Naya sampe cinta banget sama kamu itu gimana ceritanya?” suara Pappi tetap datar, tapi tajam.

Kenzo menarik napas.

“Tante sam Om kan gak bolehin pacaran. Kenzo cuma jagain aja… sampe boleh di pacarin.”

Pappi mengangguk pelan.

“Bagus. Tapi anak saya galau berat, Ken.”

“Yaudah, Om,” Kenzo langsung nyeletuk, “bolehin pacaran. Kenzo langsung pacarin sekarang.”

Reno ngakak pelan.

“Percaya diri banget kamu.”

Pappi menghela napas panjang.

“Ngapain segitu yakinnya?”

“Ngapain nggak yakin,” Kenzo jawab santai tapi mantap.

“Disuruh nikahin sekarang juga, Kenzo nikahin, Om—kalo boleh.”

Pappi menatap Kenzo lama.

“Kamu ini gampang banget ngomongnya.”

“Ya karena faktanya ada,” Kenzo shrug.

“Usaha punya, duit ada, umur cukup, KTP ada.”

Pappi geleng-geleng kepala, antara heran dan gemas.

“Yaudah. Pacaran aja.”

Kenzo langsung senyum lebar.

“Siap, Om. Kenzo pacarin sekarang.”

"Saya gak rela naya nikah muda"

Pappi cuma bisa menghela napas sambil melirik Naya yang masih tertidur.

Astaga…

Kok bisa-bisanya anak saya jatuh cinta sedalam itu sama anak ini.

Naya terbangun dari tidurnya karena suara berisik di dalam ruangan.

“Pappii…” suaranya masih serak, matanya setengah terpejam.

“Hai, my princess,” suara itu langsung bikin Naya melek sempurna.

Kenzo berdiri di samping ranjang, membawa teddy bear dan bunga yang tadi ia letakkan di meja nakas. Senyumnya hangat, matanya penuh rindu.

Tanpa mikir panjang, Naya langsung duduk dan—dengan refleks super cepat—memeluk Kenzo erat.

“Keenn…” suaranya kecil, tapi gemetar.

Kenzo kaget sepersekian detik, lalu membalas pelukan itu. Tangannya menepuk punggung Naya pelan, protektif.

“Aku di sini,” bisiknya.

Pappi yang berdiri tak jauh dari situ langsung terdiam.

Alisnya naik. Dadanya terasa… aneh.

'Astaga…

Biasanya anak ini manja ke gue.

Sekarang?

Begitu bangun tidur, langsung nyemplung ke pelukan cowok lain.'

Pappi menelan ludah, antara geli, cemburu, dan kaget.

Seugal-ugalannya itu anak ke Kenzo…

Kayak gak mikir panjang sama sekali.

Kenzo sedikit menjauh, tangannya masih di bahu Naya.

“Sakitnya gimana?” tanyanya lembut.

Naya menggeleng pelan, tapi tangannya belum mau lepas.

“Lebih sakit pas kamu nggak ada.”

Kenzo tersenyum kecil, matanya melembut.

“Maaf.”

Pappi berdeham keras, sengaja.

“Ehem.”

Naya baru sadar. Kepalanya langsung nengok ke arah Pappi.

Wajahnya memerah.

“Hehe… pappi…”

'Nah, sadar juga kamu punya ayah', batin Pappi.

Tapi di balik ekspresi datarnya, Pappi cuma bisa menghela napas pelan.

'Fix.

Anak gue udah jatuh terlalu dalam'.

Reno yang sejak tadi duduk santai di sofa tiba-tiba ngakak keras.

“HAHAHAHA—”

Semua langsung nengok ke arahnya.

“Naya mau pacaran?” tanya Pappi, nadanya datar tapi matanya tajam mengamati putrinya.

Naya menelan ludah sebentar, lalu mengangguk pelan.

“Iya, pappi…”

Hening sepersekian detik.

Pappi menghela napas, lalu mengangguk pelan.

“Pappi kasih izin,” katanya akhirnya.

Mata Naya langsung berbinar.

“Tapi,” Pappi mengangkat satu jari, “pacaran sehat. Prestasi harus lebih bagus lagi. Jangan malah menurun.”

Naya buru-buru mengangguk lagi.

“Iya pappi, janji.”

Pappi lalu mengalihkan pandangan ke Kenzo. Tatapannya berubah serius. Tangannya terangkat menunjuk tepat ke arah Kenzo.

“Awas kamu kalau macam-macam sama anak saya.”

Reno langsung nyeletuk,

“Tekanan batin tuh, Ken.”

Kenzo berdiri tegak, wajahnya sopan tapi percaya diri.

“Siap, Om.”

Pappi menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk kecil.

“Pegang omongan kamu.”

Naya tanpa sadar langsung memeluk lengan Kenzo, menempel manja seolah dunia aman lagi.

Reno bersiul pelan.

“Resmi yaa… adek gue diambil orang.”

“DIAMBIL KEPALA LO,” balas Naya spontan.

Kenzo tertawa kecil, menunduk ke arah Naya.

“Pelan-pelan, sekarang resmi di bawah pengawasan pappi.”

Pappi mendengus.

“Bukan pengawasan. Ini penjagaan.”

Dan di momen itu, Naya tersenyum lebar—

untuk pertama kalinya, tanpa rasa takut.

...----------------...

...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...

...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...

...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...

...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...

...----------------...

1
tamara this there!
jangan lupa mampir yaa, kita saling dukung😍💪
Dinaneka: Makasih banyak kakaku🙏🙏
total 1 replies
tamara this there!
Cerita yanh baguss
Dinaneka: makasih banyak kakak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!