NovelToon NovelToon
Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Pewaris Rahasia Tuan Sagara

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / One Night Stand / Cintapertama
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: erma _roviko

Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.

Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.

“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”

Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

“Silakan dicicipi sup asparagusnya, Alisha. Aku meminta koki khusus menambah sedikit krim agar tidak terlalu hambar, seperti kehidupanmu di pesisir dulu.” Suara Raina Sagara terdengar sangat halus di tengah keheningan ruang makan yang mencekam.

Denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen mahal menjadi satu-satunya melodi di ruangan itu. Mansion Sagara malam ini terasa lebih dingin daripada biasanya. Cahaya lampu gantung kristal yang megah memantul pada permukaan meja kayu mahoni yang dipoles mengkilap.

“Terima kasih, Nyonya. Tapi lidahku sudah terbiasa dengan rasa garam dan kejujuran,” jawab Alisha tanpa menyentuh sendoknya.

“Sifat keras kepalamu itu benar-benar tidak berubah selama enam tahun.”

“Beberapa hal memang harus tetap keras agar tidak mudah dihancurkan oleh orang lain.”

Raina hanya tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang tidak pernah mencapai matanya. Ia mengalihkan pandangannya kepada Arka yang duduk dengan tegak di samping Alisha. Bocah itu tidak menyentuh makanan mewahnya. Arka menatap neneknya dengan mata yang dingin dan penuh selidik.

Raina tampak tidak terganggu oleh tatapan tajam cucunya itu. Ia justru menuangkan jus jeruk ke gelas kristal di depan Arka dengan gerakan yang sangat anggun.

“Arka, apakah kau tahu bahwa seluruh gedung tinggi yang kau lihat di Jakarta ini bisa menjadi milikmu?” tanya Raina.

“Aku lebih suka memiliki privasi daripada memiliki gedung yang penuh kamera pengintai, Nenek,” sahut Arka datar.

“Kau sangat cerdas. Kau adalah definisi sempurna dari darah Sagara yang mengalir di nadimu.”

Raina meletakkan serbet sutranya di atas pangkuan. Ia mencondongkan tubuh ke arah Arka dengan tatapan yang memanipulasi.

“Jika ibumu bersedia kembali ke tempat asalnya dan membiarkanmu dididik di sini, aku akan mengumumkanmu sebagai pewaris tunggal Sagara Group besok pagi.”

Alisha mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Amarahnya mendidih mendengar tawaran yang merendahkan itu.

Raina sedang mencoba membeli masa depan cucunya dengan cara membuang ibunya sendiri. Damian yang duduk di ujung meja tetap diam membisu. Wajahnya tampak seperti pahatan batu yang gelap. Damian menyimpan sebuah map tebal di balik jasnya, tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang.

“Ibu benar-benar menganggap manusia bisa ditukar dengan saham,” ujar Damian dengan nada rendah.

“Ini tentang kelangsungan dinasti kita, Damian. Kau harus mulai berpikir realistis.”

“Realitasmu adalah penjara bagi orang lain, Ibu.”

“Jangan emosional. Alisha akan mendapatkan kompensasi yang sangat besar untuk sisa hidupnya.”

Raina kembali memotong daging steaknya dengan gerakan yang sangat presisi. Ia bersikap seolah-olah percakapan ini adalah negosiasi bisnis biasa. Alisha menatap Damian, menanti reaksi pria itu terhadap penghinaan ibunya.

Damian perlahan-lahan meletakkan garpunya ke atas piring perak yang masih penuh dengan makanan. Ia menarik napas panjang, memenuhi paru-parunya dengan udara mansion yang terasa berdebu.

“Aku membawa sesuatu untuk menemani makan malam kita malam ini,” kata Damian sambil merogoh bagian dalam jasnya.

Ia mengeluarkan map cokelat tebal yang diambil dari brankas bank tua siang tadi. Damian meletakkan map itu dengan suara debuman pelan tepat di samping piring perak Raina.

Raina melirik map itu dengan sebelah mata yang meremehkan. Namun, saat melihat segel lilin merah yang sudah pecah di permukaan map, tangan Raina sedikit gemetar.

“Apa ini? Laporan keuangan tahunan yang membosankan?” tanya Raina dengan tawa kecil yang dipaksakan.

“Ini adalah wasiat asli Ayah yang kau sembunyikan selama enam tahun,” jawab Damian tegas.

“Ayahmu tidak meninggalkan wasiat selain apa yang sudah dibacakan pengacara keluarga.”

“Pengacara yang kau bayar untuk berbohong, maksudmu?”

Damian membuka map itu dan menyebarkan isinya di atas meja makan. Kertas-kertas kusam dengan stempel notaris resmi kini berserakan di antara piring-piring mewah. Raina berhenti mengunyah. Matanya melebar saat melihat tanda tangan suaminya yang sangat khas di lembar terakhir. Alisha menatap Raina dengan pandangan penuh kemenangan yang tenang.

“Wasiat ini menyatakan bahwa kekuasaanmu di perusahaan berakhir saat aku menemukan pilihan hatiku,” lanjut Damian.

“Itu hanya coretan orang sakit yang sedang tidak sadar, Damian!” suara Raina naik satu oktavi.

“Ayah sangat sadar saat menulis ini. Ia tahu kau akan mencoba menguasai segalanya setelah dia pergi.”

Suasana di ruang makan itu berubah drastis dari dingin menjadi panas oleh ketegangan yang membara. Arka mengambil satu lembar kertas dan membacanya dengan cepat. Bocah itu kemudian menatap neneknya dengan sorot mata yang penuh dengan penghinaan.

“Nenek memalsukan hasil rapat direksi enam tahun lalu, bukan?” tanya Arka.

“Diam kau, Anak kecil! Kau tidak tahu apa-apa tentang bisnis keluarga ini!” bentak Raina.

“Arka tahu lebih banyak daripada yang kau bayangkan, Ibu,” potong Damian dengan suara menggelegar.

Damian berdiri dari kursinya, membuat kursi kayu jati itu berderit keras di atas lantai marmer. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Raina, menatap langsung ke dalam mata wanita yang melahirkannya itu. Damian merasa seluruh rasa hormatnya telah habis menguap sejak ia membuka brankas di Kota Tua.

“Selama ini aku hidup dalam rasa bersalah karena mengira aku adalah penyebab kematian Ayah,” bisik Damian.

“Ayahmu meninggal karena penyakit jantung kronis. Seluruh dunia tahu itu,” sahut Raina defensif.

“Dunia tahu apa yang kau tulis di siaran pers perusahaan.”

Damian mengeluarkan sebuah foto kecil dari dalam map tersebut. Foto itu menunjukkan seorang pria paruh baya mengenakan seragam asisten medis.

Alisha mengerutkan kening, ia belum pernah melihat foto itu sebelumnya. Damian meletakkan foto itu tepat di atas piring Raina.

“Ibu selalu bilang Ayah meninggal karena serangan jantung mendadak di kamar ini,” ujar Damian.

“Ya, dan itu adalah tragedi terbesar dalam hidupku.”

“Lalu kenapa asisten medis yang menanganinya di malam kematian Ayah sekarang tinggal di rumah peristirahatan milikmu di Swiss?”

Raina terdiam seketika. Wajahnya yang tadinya kemerahan karena marah kini memucat hingga menyerupai warna porselen piringnya. Sendok perak di tangannya terjatuh ke lantai, menimbulkan suara denting yang bergema di seluruh ruangan.

“Namanya Dokter Abian. Dia menghilang dari Jakarta tepat dua hari setelah pemakaman Ayah,” lanjut Damian.

“Aku memberinya pesangon karena dia sudah melayani keluarga kita dengan baik!”

“Pesangon senilai lima juta dolar dan sebuah vila mewah di pegunungan Alpen? Itu terdengar seperti uang tutup mulut, Ibu.”

Alisha merasa mual saat menyadari arah pembicaraan ini. Ia menatap Damian dengan rasa tidak percaya. Rahasia yang mereka temukan di brankas ternyata bukan hanya soal harta, tapi soal nyawa. Raina Sagara bukan hanya seorang manipulator, ia adalah seorang wanita yang sanggup melenyapkan suaminya sendiri demi tahta.

“Ibu mematikan mesinnya, bukan?” tanya Damian dengan suara yang pecah karena kepedihan.

“Kau menuduh ibumu sendiri melakukan pembunuhan?” Raina berdiri dengan napas yang terengah-engah.

“Aku tidak menuduh. Aku sedang menunggu Jimmy membawa Dokter Abian masuk ke ruangan ini.”

Mendengar nama Jimmy disebut, Raina tampak benar-benar goyah. Ia memegang pinggiran meja untuk menjaga keseimbangannya.

Matanya bergerak liar ke arah pintu masuk ruang makan. Damian telah menyiapkan jebakan yang sempurna di rumahnya sendiri.

“Jimmy tidak akan berani melakukan itu padaku,” bisik Raina lemah.

“Jimmy sudah lama menunggu saat ini, Ibu. Dia tidak pernah memaafkanmu karena apa yang kau lakukan pada keluarganya sepuluh tahun lalu.”

Alisha menarik Arka mendekat ke arahnya. Ia menyadari bahwa malam ini adalah akhir dari dinasti Sagara yang lama. Kejahatan yang disembunyikan di balik kemewahan mansion ini akhirnya terseret keluar ke bawah cahaya lampu kristal.

“Perjamuan ini sudah berakhir, Nyonya Sagara,” ujar Alisha dengan nada tenang namun mematikan.

Raina menatap Alisha dengan kebencian yang murni. “Kau pikir kau akan bahagia setelah ini? Kau baru saja menghancurkan nama baik ayah dari anakmu!”

“Nama baik Sagara sudah hancur sejak tanganmu menyentuh tombol ventilator itu,” balas Damian.

Damian memberi isyarat kepada Arka untuk segera meninggalkan meja makan. Alisha menggandeng tangan Arka dan berjalan menuju pintu keluar tanpa sedikitpun rasa ragu. Di belakang mereka, Raina Sagara jatuh terduduk di kursinya, dikelilingi oleh kertas-kertas wasiat yang mengungkap segala dosa masa lalunya.

Saat mereka mencapai lobi utama, Jimmy muncul dari kegelapan lorong sambil memegang sebuah tablet yang sedang menyiarkan rekaman suara dari Swiss. Di dalam rekaman itu, suara Dokter Abian terdengar sangat jelas.

“Nyonya Raina yang memerintahkanku mencabut selangnya, Tuan Damian. Dia bilang itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan Sagara Group dari kebangkrutan.”

1
Diana_Restu
ceritanya seru sekarang mulai satset ga terlalu muter.makasih author.love sekebon🥰
Ranita Rani
bingung bingung q memikirnya,,,,
Imas Atiah
bacanya bikin deg degan tegang
Lianty Itha Olivia
knp cerita ini semakin dibaca kedlm isinya hya perdebatan yg itu2 saja, seolah mengikuti konferensi meja bundar isinya muter2 spt mejanya
erma _roviko: Gak kok kak, bab 33 udah aman
total 1 replies
tia
sekian bab masih belom tau siapa lawan dn siapa temen 🤭
Sri Muryati
seru banget...😍
Imas Atiah
susah ye nenek lampir
tia
ternyata biang kerok selama ini rania,,,
Imas Atiah
Alisha kamu bilang Damian jng smpe kamu kena jebakan clarisa
Sunaryati
Jangan terjebak dengan Clarissa
Ranita Rani
poseng + tegang
Imas Atiah
damian knp kamu duku tak bertanggungjawab mlh mengawasi dari jauh kirain beneran peduli yah ini sih bikin alisha dan arka membencimu
Diana_Restu
terlalu lama teka tekinya jadi jenuh bacanya soalnya masih blm ada titik terang.konfliknya alot.
erma _roviko: Hehe maaf ya kak, aku koreksi kok
total 1 replies
tia
masih abu abu , siapa teman dan siapa lawan 😭
Bonny Liberty
damang hujan lagi ngomongin cinta tapi lagi kasih tau cara dia melindungi orang yg paling penting dalam hidupnya😒
𝐈𝐬𝐭𝐲
alisha terlalu keras kepala...
Imas Atiah
nurut aja alisha ,damian takut kehilanganmu dan arka
Sunaryati
Ah seperti pertarungan mafia, padahal cuma Clarrisa menginginkannya Damian, namun Damian yang tidak bersedia.
Naufal Affiq
lanjut kak
tia
lanjut Thor udah sabar 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!