"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."
Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.
Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.
Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.
Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.
Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Bayang-Bayang di Balik Pintu
Bab 11: Bayang-Bayang di Balik Pintu
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah jeruji jendela kecil di kamar bawah tangga, menciptakan garis-garis emas di atas lantai semen yang dingin. Anindya mengerjapkan matanya perlahan. Langit-langit ruangan yang biasanya tampak mengancam, kini terlihat sedikit lebih bersahabat. Rasa pening yang hebat di kepalanya sudah mulai berkurang, menyisakan denyut halus yang sesekali datang saat ia mencoba menggerakkan lehernya.
Hal pertama yang ia rasakan adalah perih di telapak tangan kanannya. Ia mengangkat tangannya dan melihat balutan kain kasa yang bersih namun sedikit kaku. Ia teringat kejadian di gudang itu—suara piring pecah yang memekakkan telinga, wajah Nyonya Lastri yang murka, dan kegelapan yang menelannya.
"Sudah bangun, Nduk?" Suara lembut Mbok Sum terdengar bersamaan dengan derit pintu yang terbuka.
Mbok Sum masuk membawa nampan kayu berisi semangkuk bubur panas dan segelas air putih. Wajah wanita tua itu tampak sangat lega melihat mata Anindya sudah terbuka lebar.
"Mbok... piringnya..." bisik Anindya, suaranya masih parau dan lemah.
"Sudah, jangan pikirkan piring itu. Sudah Mbok bersihkan serpihannya," Mbok Sum duduk di tepi kasur, mengelus rambut Anindya dengan sayang. "Kamu membuat Mbok takut setengah mati semalam. Panas tubuhmu sampai bisa digunakan untuk merebus telur. Beruntung Tuan Wijaya sedang tidak di rumah semalam, jadi Nyonya tidak terlalu banyak mengomel."
Anindya mencoba duduk bersandar pada dinding. "Nyonya... apa dia sangat marah, Mbok? Apa Nin akan dikirim pulang?"
Ada ketakutan yang nyata dalam nada bicara Anindya. Bagi orang lain, pulang ke rumah adalah sebuah kebahagiaan. Tapi bagi Anindya, pulang berarti kegagalan. Pulang berarti Ayahnya akan kembali dihantui oleh penagih hutang yang kejam. Ia lebih memilih sakit di sini daripada melihat Ayahnya menderita di sana.
"Tidak, Nak. Nyonya memang marah, tapi dia tidak berani mengusirmu. Tuan Wijaya sudah memperingatkannya agar menjagamu baik-baik. Sepertinya Tuan tahu kalau kamu itu aset berharga bagi perjanjian mereka," Mbok Sum menyuapkan sesendok bubur ke mulut Anindya.
Bubur itu terasa hambar di lidah Anindya yang masih pahit karena sisa obat, namun ia memaksanya masuk. Ia butuh tenaga. Ia butuh sembuh.
Tiba-tiba, terdengar langkah kaki yang terhenti tepat di depan pintu kamar yang terbuka sedikit. Anindya dan Mbok Sum menoleh secara bersamaan. Di sana, Satria berdiri mematung. Ia mengenakan seragam olahraga sekolahnya, tas ransel tersampir di satu bahu. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak plastik kecil berisi beberapa butir jeruk.
Satria tampak canggung. Ia tidak masuk, tapi juga tidak pergi. "Ini... Ibu menyuruhku memberikan ini," ucapnya bohong. Anindya dan Mbok Sum tahu benar bahwa Nyonya Lastri tidak mungkin memikirkan untuk memberi buah pada pelayannya.
"Letakkan saja di sini, Den Satria," ujar Mbok Sum sambil menunjuk meja kecil di sudut.
Satria melangkah masuk dengan ragu. Matanya tertuju pada tangan Anindya yang dibalut kasa. Ia teringat bagaimana gadis kecil ini masih menggenggam sobekan majalah sains saat pingsan kemarin. Rasa penasaran yang aneh kembali muncul di hatinya. Mengapa seseorang yang hidupnya sesulit ini masih sempat-sempatnya peduli pada bacaan yang membosankan?
"Bagaimana tanganmu?" tanya Satria pendek.
Anindya menunduk, merasa tidak enak hati karena membuat Tuan Mudanya harus mengunjunginya di kamar pengap ini. "Sudah lebih baik, Tuan Muda.
Maaf karena Nin membuat keributan kemarin."
Satria mendengus, mencoba kembali ke sifat angkuhnya, namun gagal. "Kau itu merepotkan. Kalau kau sakit, tidak ada yang menyiapkan susuku pagi-pagi. Cepatlah sembuh."
Satria meletakkan kotak jeruk itu dengan kasar di atas meja, lalu berbalik pergi. Namun, tepat sebelum keluar dari pintu, ia berhenti sejenak. "Oh ya... soal majalah yang kau pegang kemarin. Isinya tentang demam, kan? Kalau kau mau tahu lanjutannya, aku membuang sisa majalahnya di tempat sampah ruang belajar. Cari saja sendiri kalau sudah sembuh."
Setelah Satria benar-benar pergi, Mbok Sum tersenyum penuh arti. "Den Satria itu sebenarnya hatinya tidak jahat, hanya saja dia terlalu sering melihat ibunya bersikap keras."
Anindya tidak menjawab. Ia menatap kotak jeruk pemberian Satria. Ada sebuah pikiran yang melintas di benaknya. Jika Satria tahu dia suka membaca, apakah Satria akan membantunya, atau justru akan mengadukannya pada Nyonya Lastri suatu saat nanti? Ini adalah perjudian yang berbahaya.
Sore harinya, saat Nyonya Lastri sedang pergi keluar, Anindya memaksakan diri untuk bangun. Meskipun kakinya masih sedikit gemetar, ia merangkak menuju lubang di dinding. Ia mengeluarkan buku birunya dan pulpen pemberian Pak Guru.
Ia menuliskan kejadian hari ini. Tentang rasa sakit, tentang bubur Mbok Sum, dan tentang jeruk dari Satria. Menulis baginya adalah cara untuk tetap merasa "ada". Di rumah besar ini, suaranya tidak pernah didengar, pendapatnya tidak pernah ditanya. Maka, kertas-kertas inilah yang menjadi saksi bisu keberadaannya.
Anindya kemudian membuka majalah robek yang ia selamatkan kemarin. Ia membaca bagian tentang peredaran darah. Ia mencoba menghafalkan nama-nama pembuluh darah dengan cara mengejanya berulang kali.
"Vena... Arteri... Kapiler..." bisiknya.
Ia merasa seolah-olah setiap kata baru yang ia pelajari adalah satu langkah kecil menjauh dari kemiskinan. Ia membayangkan suatu hari nanti, ia bisa mengenakan seragam putih seperti yang ia baca di majalah itu—menjadi seorang dokter yang bisa mengobati ayahnya agar tidak perlu bekerja terlalu keras lagi.
Tiba-tiba, ia teringat pesan Satria tentang "majalah sisa di tempat sampah". Dengan hati-hati, Anindya keluar dari kamarnya. Ia berjalan pelan menuju ruang belajar Satria yang biasanya terlarang baginya. Ruangan itu kosong. Bau harum buku dan tinta langsung menyapa hidungnya.
Ia mendekati tempat sampah kayu di sudut ruangan. Benar saja, di sana ada beberapa majalah lama dan koran yang sudah kusam. Anindya segera mengambilnya dan membawanya kembali ke kamar seperti seorang pencuri yang baru saja mendapatkan emas batangan.
Di bawah remang lampu kuning, Anindya mulai membedah "harta karun" barunya. Ada artikel tentang sejarah, tentang geografi dunia, dan tentang matematika tingkat lanjut. Matanya berbinar-binar.
Rasa sakit di tubuhnya seolah menguap begitu saja.
Ia sadar bahwa hidupnya mungkin masih akan penuh dengan cucian baju dan makian. Ia sadar bahwa statusnya masih seorang "istri" yang dibeli dengan hutang. Namun, di dalam kamarnya yang sempit ini, ia adalah seorang penjelajah dunia melalui kata-kata.
"Nin tidak akan kalah..." gumamnya sambil mencatat poin-poin penting di halaman kosong bukunya.
Tanpa ia ketahui, di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Satria berdiri diam memperhatikannya.
Satria melihat bagaimana mata gadis kecil itu bersinar saat membaca, sebuah binar yang tidak pernah ia miliki saat ia dipaksa belajar oleh ayahnya. Satria menyadari bahwa Anindya bukan sekadar pelayan. Ada api besar yang menyala di dalam tubuh kecil itu, api yang suatu hari nanti mungkin akan membakar habis semua kesombongan keluarga Wijaya.
Satria pergi tanpa suara, meninggalkan Anindya dengan dunianya. Babak baru telah dimulai. Bukan lagi tentang Anindya yang hanya mendengarkan, tapi Anindya yang mulai mengumpulkan senjatanya sendiri. Perang melawan kebodohan dan nasib buruk telah ia deklarasikan secara sepihak, dan ia tidak berniat untuk menyerah sebelum garis finis.
Malam itu, Anindya tidur dengan buku-buku bekas di bawah bantalnya. Ia tidak bermimpi tentang piring pecah lagi. Ia bermimpi tentang perpustakaan besar di mana ia bisa membaca sepuasnya tanpa harus takut ketahuan. Dan untuk pertama kalinya sejak ia tiba di rumah ini, ia merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, ada jalan keluar dari kegelapan ini jika ia terus berjalan ke arah cahaya ilmu pengetahuan.